Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Wejangan Hana


__ADS_3

Dewa merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk mewah di dalam kamarnya. Kamar yang jauh berbeda dengan kamar di kontrakannya. Tak ada nyamuk, meski tanpa obat nyamuk. Ditambah hawa sejuk dari mesin pendingin ruangan kian memberikan kenyamanan sebagai tempat mengurai rasa lelah.


Kamar khas cowok dengan cat bernuansa hitam putih dengan ornamen rock menghias di beberapa sudut kamar. Ada untaian lampu hias yang membentuk kalimat Rock Star tergantung di dinding, beberapa poster superstar idolanya yang menempel di dinding, beberapa koleksi gitar yang tertata rapi di atas sebuah meja panjang di sudut kamar, sebuah rak susun kecil yang berisi aksesoris roker, sebuah TV LED serta perangkat audio dan CD player juga melengkapi isi kamarnya.



Ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya jauh melayang pada istri cantiknya. "Mina, sabar yah. Semoga aku bisa menyelesaikan masalah ini," lirihnya.


Ia memejamkan mata, mencoba melukis wajah cantik istrinya untuk kemudian membawanya ke alam mimpi. Mimpi indah tentang dirinya dan Mimin. Sebagai pelipur dari keruwetan masalah yang menderanya.


*****


Sunguh subuh ini terasa berbeda bagi Mimin. Biasanya ia akan tersenyum dan memfokuskan indra pendengarannya saat kumandang azan menggema untuk meresapi suara merdu yang mengalun dari sang Muazin yang tak lain adalah suami tampannya. Namun subuh ini, terdengar suara Sarip sang marbot yang mengumandangkan azan. Seakan semangatnya subuh ini berkurang kadarnya.


Ia kembali meraih ponselnya berharap ada pesan masuk dari Dewa. Namun lagi-lagi ia harus menelan rasa kecewa ketika apa yang diharapkan tak sesuai harapan. Tak ada pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Dewa. Bahkan, pesan terakhir yang dikirimkan olehnya masih tetap dalam status yang sama centang dua abu-abu.


Pun saat wanita cantik itu melakukan rutinitas subuh menyapu halaman. Tak ada lagi bayang-bayang pria tampan berbaju koko dan memakai sarung yang berjalan beriringan bersama Abah dan Sol sepulang menunaikan salat Subuh dari masjid. Dan berulang kali ia menatap pintu kontrakan nomor satu yang sepi tak berpenghuni. Tak ada lagi suara gelak tawa canda penghuni kontrakan itu. Sungguh hampa terasa.


Pagi ini sebelum berangkat bekerja, Mimin berencana menemui Hana untuk membicarakan masalah di antara mereka. Sejak insiden terciduk saat ciuman pertamanya dengan Dewa beberapa hari yang lalu, ia belum menemui Hana kembali. Sempat berusaha datang ke rumah Hana untuk menjelaskan sesaat setelah kejadian itu, namun saat itu Hana enggan menerima kedatangannya. Dan pagi ini ia berharap semoga Hana telah melunak hatinya dan mau menerima kedatangannya.


"Assalamualaikum, Hana," sapa Mimin yang sudah duduk di ruang tamu rumah Hana. Ia berdiri untuk menyambut kehadiran Hana.


"Waalaikum salam. Silakan duduk, Min," jawab Hana yang tampak kaku, tak seperti biasanya saat sebelum kejadian itu.


"Apa kabar Ukh?" tanya Mimin.


"Alhamdulillah baik. Oya, mau minum apa Min?"


"Enggak usah." Mimin melirik penunjuk waktu bergambar kaligrafi yang menempel di dinding ruang tamu Hana. "Aku gak lama... sebentar lagi harus berangkat kerja," sambungnya.


Kemudian kedua sahabat itu saling terdiam. Aroma canggung hadir mengisi kebisuan keduanya. Beberapa detik keheningan tercipta di antara mereka.


"Aku...."


"Aku...."


Keduanya mengucap kata itu bersama.


"Kamu dulu aja...."


"Kamu dulu aja...."


Kembali mereka kompak menyahut.


"Ok, aku dulu ya Han," ucap Mimin akhirnya.


Hana mengangguk setuju.


"Aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Yang mungkin... sangat melukai kamu," tutur Mimin ragu.


"Aku yang seharusnya minta maaf," jawab Hana. "Qadarullah, dia memilihmu Ukhti. Tak ada yang bersalah atau harus disalahkan. Tak seharusnya meminta maaf atau pun memaafkan," sahutnya kemudian.


Mimin tersenyum. "Terima kasih, Hana. Terima kasih untuk cinta kasih dalam persahabatan kita," ucapnya.

__ADS_1


Hana balas tersenyum. "Percayalah, bukan pengkhianatan yang akan bisa menyudahi persahabatan namun pertemanan abadi yang akan menemani kita hingga akhir hayat," tuturnya. Yang diamini oleh sebuah anggukan dari Mimin.


"Boleh aku berpesan padamu Min?" tanya Hana.


"Tentu saja Hana. Pesan seorang sahabat selalu berarti bukan?"


"Meski pesanku adalah tentang Iyan??" tanya Hana kembali.


Mimin mengangguk. " Iya, boleh."


"Jika semua orang berkata buruk tentangnya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang berkata baik tentangnya. Jika semua orang meragukannya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang mempercayainya. Jika semua orang menyangkalnya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang membenarkannya," tutur Hana.


Mimin terdiam sejenak mencoba memahami pesan yang Hana sampaikan. "Akan selalu kuingat pesanmu, Hana," ucapnya kemudian.


"Kamu mau berangkat kerja, Min?"


"Iya."


"Ayo bareng aku aja. Tapi, aku cuma bisa mengantar sampai depan gang saja. Hari ini aku tidak ada jadwal ke kampus," ujar Hana.


"Boleh, Hana. Gak papa sampai depan saja, nanti aku bisa naik angkot," sahut Mimin.


Kedua sahabat itu pun berjalan beriringan keluar menuju motor Hana. Sebelumnya mereka berpamitan dulu kepada orang tua Hana.


*****


Mimin tengah berdiri di sisi jalan menunggu angkot hendak menuju kantornya ketika sebuah mobil warna putih milik Deka berhenti tepat di hadapannya.


Deka turun dari mobil, kemudian melangkah menghampiri Mimin.


"Pagi Pak Deka," balas Mimin.


"Jasmin, hayuk ikut. Kita berangkat ke kantor bareng," ajak Deka.


"Pak Deka, mohon maaf saya naik angkot saja," tolak Mimin.


"Kenapa? Bukankah tujuan kita sama, mau ke kantor. Ayolah ikut Jasmin," bujuk Deka lagi.


"Maaf Pak, saya naik angkot saja," balas Mimin sesopan mungkin.


"Kenapa sih, kamu selalu menolak aku? Apakah aku terlalu menakutkan bagi kamu?" gerutu Deka.


Ini bukan kali pertama Mimin menolaknya, hampir setiap saat Mimin selalu menolak ajakannya. Meski sekedar ajakan makan siang bersama, pulang bersama, atau seperti saat ini, berangkat ke kantor bersama.


"Ah, tidak Pak, bukan begitu. Tapi...."


"Tapi kenapa Jasmin?"


"Tapi memang sudah seharusnya saya menolak. Tidak pantas wanita yang sudah menikah berduaan bersama laki-laki lain, bukan?"


"Maksud kamu??" Deka mengerutkan keningnya tak memahami ucapan Mimin.


"Pak Deka maaf, saya sudah menikah. Saya sudah bersuami," ujar Mimin jujur.

__ADS_1


"Kamu bercanda 'kan?"


"Tidak, Pak. Saya memang sudah menikah. Memang belum ada resepsi, tapi insyaallah semoga dalam waktu dekat kami bisa mengadakan resepsi."


Apa? Jadi Jasmin benar sudah menikah dengan si Batik itu. Astaga, buruk sekali seleramu. Aku tak akan pernah menyerah untuk melepaskanmu dari pria semacam itu, Jasmin. Batin Deka bergumam.


Pernyataan Jasmin sukses membuat Deka patah hati untuk sesaat. Sebab, tak ada kata "patah hati" dalam kamus kehidupan asmaranya. Dalam hati ia bertekad akan membuat Jasmin berpaling dari si Batik, pria yang ia sangka adalah suami Mimin.


*****


Pagi ini Dewa tengah bermain bersama kura-kura kesayangannya, Michael Angelo di kolam belakang rumahnya.


"Hai Micky, apa lo kangen gue, Hah?!" ujar Dewa berbicara dengan si Michael Angelo.


"Gue juga kangen lo tapi lebih kangen sama Mina sih, hehehehe...." Dewa mengelus kepala si Micky.


"Nanti gue kenalin lo sama Mina. Tapi... awas jangan sampai lo naksir Mina ya!" serunya.


"Sayang, Mama mau berangkat ke butik dulu ya," ujar Mama yang baru datang menghampirinya.


Dewa yang sedang menggendong Michael Angelo, mengalihkan pandangannya kepada Bu Dewi. "Terus Papa gimana, Mah?" tanya Dewa melanjutkan pembahasan semalam.


"Sabar ya, Sayang. Papamu kan keras kepala. Agak susah untuk membujuknya."


"Udah lah biarin aja kalau Papa ga setuju. Yang penting, Mama ikut Dewa ke Serang, menemui mertua Dewa. Orang tua Mina, baik kok. Mereka pasti akan mengerti kalau Dewa belum sanggup untuk menyelenggarakan resepsi," tutur Dewa.


"Iya, nanti Mama ikut ke sana. Mama kan ingin lihat, secantik apa istrimu itu," goda Mama.


"Cantik lah, Ma. Ayo sekarang saja kita ke sana!"


"Jangan sekarang atuh Wa. Mama udah janji sama Bu Inge pelanggan setia butik Mama yang mau memesan baju kebaya untuk pernikahan anaknya," tutur Bu Dewi.


"Terus kapan dong, Ma? Besok ya?" rengek Dewa.


"Ya sudah nanti Mama lihat dulu jadwal Mama. Kalau besok ga ada janji, besok kita berangkat ke sana," janji Bu Dewi.


"Bener ya Mah," sahut Dewa dengan sorot mata berbinar ceria.


"Iya. Mama berangkat dulu ya, Sayang. Kamu jangan lupa sarapan," pesan Bu Dewi. Lalu memberikan sebuah kecupan manis di pipi putra bungsunya itu.


"Siap Mah!"


Bu Dewi pun berlalu meninggalkan Dewa. Sementara Dewa melanjutkan kegiatan bermain bersama Michael Angelo.


.


.


.


.


Ada beberapa yang komen, katanya Kok Sol ga ngasih tahu Mimin sih kalau hp Dewa ilang.

__ADS_1


Author menjawab: Memang Sol belum tahu kalau hp Dewa ilang. Sol kan ga ikut ke Jakarta, karena harus jaga toko. Dia hanya mengantar Dewa sampai terminal dengan menggunakan mobil Abah. Sementara Dewa dan Jejed pulang naik bus dan keduanya jadi korban jambret hp. Sehingga praktis terputus komunikasinya dengan Mimin. Sebab Dewa dan Jejed sama-sama tak mengingat nomor ponsel orang-orang yang ada di kampung Cibening.


__ADS_2