Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Extra part 1


__ADS_3

"Ya Allah, darahnya ngucur," ucap Mimin panik menatap darah yang keluar dari kening Dewa.


"Opi, jagain Syad dulu. Teteh mau bawa A Dewa ke klinik."


Mimin meraih sebuah kaos yang tersampir di jemuran, entah kaos siapa, lalu menempelkannya pada kening Dewa. "Aa pegang begini, biar darahnya ga ngucur," titahnya.


Setelahnya, dengan langkah gegas Mimin masuk ke rumah untuk mengambil kunci motor, menyalakannya, lalu melajukannya dengan Dewa duduk di boncengan belakang.


Kurang dari sepuluh menit, motor sampai di depan klinik, tempat yang sama saat Mimin mengalami hal yang serupa pada keningnya karena ulah Dewa.


"Sus, tolong suami saya," ujar Mimin begitu masuk ke dalam klinik.


Perawat itu menatap Dewa, kaos yang dipegangi Dewa untuk menutupi lukanya telah berlumuran darah. "Langsung masuk aja, Bu. Langsung ke kamar tindakan."


"Makasih, Sus." Mimin menggenggam tangan Dewa dan menuntunnya ke ruang tindakan. Tak perlu bingung mencari di mana ruang tindakan karena mereka pernah datang ke sini sebelumnya.


"Neng, Aa takut." Dewa menahan langkahnya.


"Takut kenapa, A?"


"Aa takut jarum suntik, Neng."


"Jarum suntiknya ga gigit kok, A."


"Eh, Neng malah bercanda. Ini seriusan, Aa takut disuntik."


"Jangan takut, ada Neng di sisimu," sahut Mimin mengulum senyum. "Lagipula belum tentu bakal disuntik," sambungnya.


Mengetuk pintu dan mengucap salam, mereka masuk ke ruang tindakan. Ada seorang dokter di sana yang langsung memeriksa luka Dewa.


"Ini lukanya lumayan dalam jadi harus dijahit," kata dokter.


"Ja-jangan dijahit, Dok," sahut Dewa gemetar.


"Ini harus dijahit loh, Mas. Untuk menghentikan pendarahan dan mencegah sobekan luka semakin dalam, juga untuk menghindari terjadinya infeksi," tutur dokter.


"Ta-tapi saya takut. Ja-jangan dijahit," sahut Dewa dengan raut ketakutan. Semakin erat menggenggam tangan Mimin.


"Terus kalau ga dijahit, diapain atuh, A?"


"Ditiup 'kan bisa, Neng."


"Balon kali ditiup."


"Ga papa ya, Mas. Ga sakit kok, percaya deh," ujar dokter seraya mengulum senyum. Merasa lucu dengan tingkah Dewa.


"Jangan takut, A. Neng, temenin." Mimin berusaha menenangkan. Mengelus tangan Dewa yang dalam genggamannya.


"Udah, Dok. Gak papa, dijahit aja," kata Mimin kepada dokter.


Dokter mulai mempersiapkan hecting set atau alat-alat yang digunakan untuk tindakan penjahitan luka seperti jarum, benang dan gunting. Setelahnya ia menghampiri Dewa untuk mulai melakukan tindakan.


Mata Dewa membulat sempurna ketika melihat gunting, jarum dan teman-temannya dalam nampan yang dibawa dokter. Dalam penglihatannya gunting dan teman-temannya itu bak monster menyeramkan dengan kuku tajam dan gigi runcing yang siap mencabik-cabik dirinya. Membuat tubuhnya semakin gemetar hebat. Kini bukan hanya darah yang bercucuran, peluh ketakutan pun turut mengucur di sekujur tubuhnya. Lalu sedetik kemudian ....


Bruuuuk ... Dewa pingsan tak sadarkan diri.


*****


"Teh ...! Makan yuk!" seru Opi dari depan pintu kamar Mimin yang tertutup.

__ADS_1


"Nanti, sebentar lagi!" sahut Mimin.


Sebenarnya perut Mimin sudah lapar, namun Dewa menahannya. Masih ingin berlama-lama berdua di dalam kamar katanya, mumpung Syad tidur. Selepas magrib tadi Syad rewel, ternyata sudah mengantuk ingin tidur.


"Teh, Opi duluan makan ya!" Sejak selepas magrib hingga selepas isya menunggu tetehnya untuk makan malam bersama. Opi tak tahan lagi. Harus makan sekarang, kalau lewat jam makan malamnya khawatir menimbulkan penumpukan lemak. Begitu risaunya.


"Iya!"


"Mumpung Syad tidur, kita makan yuk," ajak Mimin.


"Nanti, sebentar lagi. Aa mau puas-puasin peluk Neng. Sudah berapa lama waktu yang terbuang untuk kebersamaan kita." Dewa memeluk Mimin dalam dekapannya.


"Maafin Aa karena sudah meninggalkan kalian lama sekali. Maaf karena Aa ga menepati janji untuk pulang cepat dan menggagalkan rencana untuk belanja perlengkapan bayi, padahal itu hal yang paling kita nanti-nantikan." Tenggorokannya tercekat saat memohon maaf, mengurai penyesalannya. Menahan pilu yang tak terbendung.


"Gak papa, itu bukan salah Aa. Allah punya rencana lain." Mimin menyentuhkan telapak tangannya di pipi Dewa. "Yang penting sekarang, kita bisa bersama lagi."


"Maaf karena Aa ga ada pas si Oton lahir. Ga bisa menemani Neng berjuang mengantarkan si Oton ke dunia." Dada Dewa terasa sesak saat membayangkan bagaimana Mimin berjuang sendiri melahirkan Syad.


"Maafin Aa." Mata yang sedari tadi telah berkabut itu kini menumpahkan setitik air. Dewa mendekap Mimin lebih erat, membenamkan ke dadanya, lalu mengecup puncak kepalanya dalam kecupan yang sangat dalam.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Mimin juga tak dapat menahan isak tangisnya. "Aa jangan ngomong kayak gitu. Neng jadi sedih lagi kalau inget saat itu," keluhnya.


Dewa melonggarkan pelukannya agar dapat menatap Mimin. Tangannya mengusap butir bening di sudut mata Mimin. "Maaf, Aa ga akan pernah menumpahkan air mata Neng lagi. Terima kasih karena sudah setia menunggu Aa. Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita. Terima kasih sudah menjaga dan merawatnya dengan baik. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih."


Mimin mengangguk. "Terima kasih juga karena Aa sudah kembali," ucapnya.


"Setelah ini kita akan merawat Syad bersama-sama. Dan mari kita buat adik yang banyak untuk Syad." Dewa melepas satu kancing teratas baju Mimin.


Lalu ...


Krucuk ... Krucuk ... Krucuk ... Cacing di perut Mimin yang sudah kelaparan melayangkan protes. Tak merelakan jika harus menunggu si pemilik perut menuntaskan hasrat.


"Iya. Dari tadi juga Neng udah laper, Aa." Sejak memiliki Syad, Mimin tak pernah lagi telat makan. Status sebagai ibu menyusui membuatnya banyak makan dan selalu lapar.


"Ya udah, kalau begitu, ayo kita makan," ajak Dewa.


"Ayo."


Mereka beranjak menuju dapur. Di dapur mereka bertemu dengan Opi yang baru saja selesai makan.


"Udah kangen-kangenannya?" seloroh Opi.


"Namanya juga lama ga ketemu, Pi," sahut Dewa.


"Garan geh garan, mengane aje adoh-adoh, ning berimah be kuh mengan mah," ujar Opi seraya meloyor pergi menaruh bekas piring makan di wastafel. Dewa mengerutkan kening karena tak memahami ucapan Opi yang menggunakan bahasa Serang.


(Makanya kalau main itu jangan jauh-jauh, di belakang rumah aja tuh mainnya)


"Biar teteh yang cuci piringnya nanti sekalian. Opi jagain Syad aja takut bangun," ujar Mimin.


"Asiyaap," sahut Opi. Kemudian berlalu meninggalkan Mimin dan Dewa yang tengah menyantap makan malam.


Mimin baru saja selesai mencuci piring kotor bekas makan ketika deru suara mobil terdengar dari halaman rumah.


"Kayaknya Abah udah pulang, A. Lihat yuk!" ajak Mimin.


Dewa yang tengah duduk di kursi dapur menemani Mimin mencuci piring, bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Mimin.


"Teh Ririn ...!" seru Opi gembira ketika melihat Ririn turun dari mobil bersama orangtuanya. (Karena Pipit sudah ada bersama keluarga kandungnya, maka aku menyebutnya dengan nama Ririn)

__ADS_1


Aki dan Nini menyuruh Ririn untuk ikut dan tinggal bersama keluarga kandungnya. Ririn mencemaskan kelakuan Jefri yang kerap mengganggunya. Sehingga memutuskan untuk menuruti saran Aki dan Nini untuk tinggal di Serang bersama keluarganya. Abah dan Mami sangat gembira dengan keputusan Ririn.


"Opi ...!" Ririn menghampiri dan langsung memeluk Opi.


"Rin, aku senang kamu ikut ke sini, tinggal bersama kami di sini," ucap Mimin seraya mendekati Ririn.


"Aku juga senang bisa berkumpul bersama keluargaku." Kedua wanita berparas cantik dan serupa itu saling berpelukan.


"Hai, Pit," sapa Dewa.


"Asep eh Dewa. Aku sekarang panggil Dewa dong, karena ingatan kamu udah kembali," sahut Ririn.


"Kalau begitu, aku juga panggil Ririn aja, ya," ujar Dewa yang ditanggapi sebuah senyuman dari Ririn.


"Oh iya, Aki sama Nini sehat 'kan?"


"Alhamdulillah sehat. Salam dari kamu udah saya sampaikan. Mereka juga balas titip salam buat kamu."


"Waalaikum salam."


Tak berselang lama mobil Pak Satya berhenti di halaman rumah. Setelah pulang dari klinik tadi, Mimin menghubungi orangtua dan mertuanya. Mengabari tentang Dewa yang ingatannya telah kembali. Pak Satya dan Bu Dewi sebelumnya berencana akan pulang ke Jakarta setelah mengunjungi keluarga Ririn, namun karena mendapat kabar gembira dari Mimin, mereka memilih untuk kembali ke Serang menemui Dewa.


"Dewa ...!" Mama menghambur memeluk Dewa.


Ibu dan anak itu saling berpelukan.


"Kamu udah ingat semuanya, Sayang?" Mama melepas pelukan menatap Dewa.


Dewa mengangguk. "Iya, Mah. Maafin Dewa, ya."


"Mama bahagia sekali. Anak mama telah kembali. Mama kangen kamu, Sayang."


Sejurus kemudian pandangan Bu Dewi tertuju pada kening Dewa yang diplester perban. "Kening kamu kenapa, Sayang?"


"Justru karena keningnya ketimpuk kaleng minuman ini, ingatan kakak ipar kembali, Tan." Tangan Opi memegang kaleng bekas minuman yang tadi siang mendarat di kening Dewa.


"Loh, jadi, kamu kena timpuk ini." Mama mengernyitkan kening. Ternyata bukan dokter spesialis saraf terbaik yang mampu mengembalikan ingatan Dewa, melainkan sebuah kaleng bekas minuman bersoda.


"Kok, ceritanya mirip kayak si Teteh. Dulu Teteh juga kepalanya pernah kena timpuk kaleng sampai harus dijahit. Katanya yang nimpuk itu orang gila," timpal Mami.


Apa? Orang gila? Jadi si Neng bilang kalau yang nimpuk orang gila. Berarti gue dong orang gila itu. Gumam batin Dewa.


Dewa melemparkan pandangannya pada Mimin. Istri cantiknya itu meringis. Meminta maaf melalui isyarat mata.


Gak papa. Aa 'kan memang gila. Gila karenamu.


.


.


.


.


Karena aku lagi kangen sama A Dewa dan Neng Mimin.


Terima kasih


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2