
Tiga hari setelah kedatangan Pak Satya malam itu, kedua orang tua Dewa kembali datang mendatangi rumah orang tua Mimin untuk membicarakan dan membahas soal rencana resepsi pernikahan Dewa dan Mimin.
Sempat terjadi perbedaan pendapat tentang tempat pelaksanaan resepsi. Bu Dewi dan Pak Satya menginginkan resepsi diadakan di Jakarta. Sementara Abah dan Mami menginginkan resepsi dilaksanakan di tempatnya. Hingga kemudian disepakati resepsi dilaksanakan dua kali di kota Serang dan Jakarta. Dan hasil dari pertemuan itu disepakati pula bahwa resepsi pernikahan akan dilaksanakan bulan depan.
"Kenapa bulan depan sih Mah, Pah? Kenapa ga besok atau lusa aja sih," protes Dewa.
Ia merasa kesal karena Mama Papa serta Mami dan Abah seolah tak mengerti perasaannya. Bukan, lebih tepatnya mereka tidak mengerti bagaimana penderitaannya menahan adek kecilnya yang selalu meronta-ronta setiap kali melihat Mimin, istrinya.
"Kamu pikir ini urusan beli cilok!" lontar Pak Satya menanggapi keberatan Dewa.
"Sayang ... resepsi pernikahan itu ga bisa buru-buru seperti itu. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Satu bulan saja itu sudah paling cepat loh," sahut Mama.
Akhirnya mau tak mau, suka tak suka Dewa menurut saja pada keputusan para orangtua. Bersabar sedikit lagi untuk kemenangan. Kemenangan hasratnya.
"Kamu mau ngasih mas kawin apa sama Mina?" tanya Mama.
Dalam pembahasan itu juga disepakati untuk mengulang akad nikah seperti permintaan Mami. Mengingat waktu itu mereka menikah dengan penuh tekanan dan keterpaksaan. Bukan niat tulus menikah karena Allah dan karena rasa cinta di antara mereka.
"Emmm... Apa ya, Mah?"
"Mas kawinnya berlian aja kali ya," usul Mama.
"Berapa harga berlian itu kira-kira, Mah?" tanya Dewa.
"Tergantung karatnya. Yang satu karat aja ga papa. Harganya yang sekitar seratus juta juga ada," sahut Mama.
Dewa menarik napas panjang demi mendengar harga berlian. Uang tabungannya pun sudah tinggal beberapa lembar lagi uang berwarna merah dan biru. Sebab sudah terpakai untuk membayar biaya rawat rumah sakit Mimin tempo hari. Mana mungkin ia memiliki uang sebanyak itu dalam waktu cepat.
"Enggak deh, Mah. Nanti Dewa beli mas kawin yang terjangkau sama kantong Dewa aja," ujar Dewa yang tak menyetujui usulan mamahnya.
"Beli mas kawinnya pakai uang papahmu dong Sayang," sahut Mami.
"Enggak ah, Mah. Dewa maunya kalau mas kawin itu pakai uang Dewa sendiri, hasil keringat Dewa sendiri. Ini aja Dewa udah malu karena biaya resepsi pernikahan ditanggung Mama sama Papa."
"Loh, gak apa-apa dong. Kamu 'kan anak Mama dan Papa."
"Dewa mau beli mas kawin pakai uang Dewa sendiri aja ya, Mah."
Bu Dewi tersenyum menatap Dewa. Ia terharu dengan keinginan putranya itu.
"Memangnya kamu punya uang berapa?" tanya Mama.
"Kurang dari dua juta, Mah." Dewa menjawab jujur. Ia bahkan sudah menghitung sisa uangnya. Dan begitulah adanya uang yang ia miliki tak sampai dua juta rupiah.
"Uang segitu mau dibelikan apa untuk mas kawin?" Bu Dewi tak habis pikir dengan perubahan Dewa. Dulu bagi putra-putranya uang dua juta dianggap angin lalu. Namun kini dengan nominal sekecil itu Dewa malah memiliki keinginan yang besar untuk membeli mahar pernikahan.
"Nanti akan Dewa bicarakan berdua sama Mina," sahut Dewa.
Bu Dewi mengelus kepala Dewa yang duduk di sampingnya. "Mama bangga sama kamu, Sayang," ucapnya tulus.
*****
"Mimin...!!!" pekik ketiga gadis teman kantor Mimin itu hampir memekikkan telinga.
Irna, Devi dan Susi menghambur memeluk Mimin. Hingga membuat Mimin gelagapan dan hampir terjengkang ke belakang.
"Mimin nih diam-diam menghanyutkan. Sadis!" seru Devi.
"Eh, aku? Aku kenapa?" kata Mimin bingung.
"Ga kelihatan punya pacar tau-tau mau nikah," sahut Irna.
__ADS_1
"Ngeduluin kita-kita ya," timpal Susi.
"Ho oh." Irna dan Devi kompak mangut-mangut.
Mimin memang sudah membicarakan perihal rencana pernikahannya kepada Rizal. Rizal pun sudah menyampaikannya kepada Pak Bambang, CEO perusahaan ini. Sehingga berita tentang rencana pernikahan Mimin segera saja tersebar ke seantero kantor tempat Mimin bekerja.
"Kebetulan saja, dekat sama jodohnya," ujar Mimin. Ia sendiri pun sebenarnya tak menyangka secepat itu mendapatkan jodoh mengingat dirinya yang super duper kuper.
"Min, kenalin dong sama kita-kita calon suami kamu itu," ujar Devi.
"Iya kita pengen lihat, Min. Pengen kenal juga. Kenalin dong," timpal Irna.
"Ganteng ga, ganteng ga, cakep ga, cakep ga?" Susi menarik-turunkan alisnya tampak sangat antusias.
Mimin hanya tersenyum menanggapi reaksi ketiga sahabat di kantornya itu.
"Min, gantengan mana sama Pak Deka?" tanya Devi.
"Si Mimin pantesan nolak Pak Deka ternyata memang udah punya calon dia," sahut Susi.
"Jangan-jangan Pak Deka resign gara-gara ditolak Mimin nih, patah hati dia," timpal Irna yang membuat Mimin mengerutkan keningnya.
"Eh eh eh, Pak Deka lagi ada di sini loh," tutur Devi.
"Masa, Serius loh?!" Irna dan Susi tampak antusias mendengar penuturan Devi.
Begitu pula dengan Mimin. Terakhir ia bertemu dengan Deka adalah di Rumah Sakit saat drama pertemuan Deka dan Dewa yang hampir menciptakan perkelahian waktu itu. Dan selanjutnya ia bahkan lupa untuk sekedar bertanya kepada Dewa tentang kabar Deka.
"Iya. Tadi pagi ke sini mau ketemu Pak Bambang katanya," terang Devi.
Para gadis itu tengah kisruh menggibahi si cogan Deka tentang ketampanannya, kejombloannya, kebaikannya serta apa kira-kira penyebab Deka mengajukan resign dari kantor ini. Tanpa ada yang menyadari bahwa pria tampan itu sesungguhnya tengah berada di dekat mereka. Hingga Deka pun menghampiri para gadis itu.
"Ehem...." Deheman Deka membuat para gadis itu sontak berhenti menggibah.
"Idih, kalian ini pake kangen segala. Tapi maaf Pak Deka ga kangen sama kalian," seloroh Devi.
"Hahahahaha." Semuanya tertawa.
"Kangennya pasti sama Mimin nih," goda Susi.
"Ih, Susi!" ringis Mimin.
"Pak Deka .... Mimin mau nikah loh, Pak," kata Irna.
"Iya. Saya sudah tau."
"Tenang Pak, kita-kita masih jomblo kok," sahut Devi.
"Hahahahaha." Semuanya tertawa termasuk Mimin dan Deka.
"Kalian mau aku traktir ga?" tawar Deka.
"Mau mau mau," sahut ketiga gadis itu riang.
"Ok. Tapi kalau siang ini aku gak bisa. Aku masih ada sedikit urusan sama Pak Bambang. Bagaimana kalau traktirannya nanti malam aja. Nanti malam kayaknya aku masih ada di sini," ujar Deka.
"Mau mau mau." Ketiga gadis itu kompak menjawab. Hal baik yang paling menonjol dari Deka adalah keroyalannya. Begitu yang mereka nilai dari Deka selama ini.
"Kita ke mana nanti malam?" tanya Devi.
"Gimana kalau ke Baretos Cafe," sahut Deka.
__ADS_1
"Sip. Mau mau mau," sahut ketiga gadis itu sumringah.
"Mimin ikut ya, Min," ujar Irna.
"Iya, Min. Ikut ya ikut ya," timpal Susi.
"Pak Deka, Mimin boleh ikut 'kan?" tanya Devi.
"Boleh, kalau suaminya mengizinkan."
"Tuh Min, izin dulu sama calon suami kamu," ujar Devi.
"Ikut ya, Min," bujuk Irna.
"Insyaallah," sahut Mimin seraya tersenyum.
"Udah sana kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Apa kalian mau kena SP dari Pak Bambang."
"Enggak enggak. Yuk lah kita kembali ke alam kita masing-masing."
"Hahahaha." Ketiganya tergelak seraya melangkah pergi menuju meja kerja masing-masing meninggalkan Mimin dan Deka.
"Pak Deka, saya...."
"Jangan panggil Pak!" potong Deka cepat untuk memberikan protes.
"Saya kakaknya Dewa. Jadi sekarang saya kakak kamu juga. Panggil Abang aja," titah Deka.
Mimin tersenyum menanggapi ucapan Deka. "Abang, terima kasih ya," ucapnya.
Deka mengernyitkan keningnya. "Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih untuk semuanya," ujar Mimin.
"Dewa itu anaknya bergajulan, ga bisa diatur, berandalan. Tapi, aku yakin dia itu anak yang baik. Dewa sangat pantas mendapatkan kamu," tutur Deka.
"Terima kasih. Bang Deka juga orang baik. Semoga Bang Deka juga segera dipertemukan dengan wanita yang baik," ucap Mimin tulus.
Deka menatap wanita pertama yang pernah menggugah hatinya itu beberapa detik. Wanita yang kini telah menjadi adik iparnya. Jika ditanya bagaimana hatinya saat ini. Tentu saja ia patah hati selayaknya orang yang kehilangan cinta. Namun ia bukan pria ambisius yang tak dapat menggunakan nurani dan logika. Ia memilih untuk merelakan semuanya.
Deka yang masih menatap Mimin kemudian menerbitkan seutas senyum. "Semoga kalian bahagia selamanya," ucapnya tulus lalu pergi meninggalkan Mimin.
.
.
.
.
Terima kasih sahabat semua atas dukungannya. Karena dukungan sahabat semua kemarin GBM masuk list ranking vote loh. Kemarin dapat ranking 65. Wow luar biasa.
Biasanya sih kalau aku update hari senin memang masuk daftar ranking juga tapi ranking ke seratus sekian gitu. Tapi senin siang biasanya udah ilang dan terlempar dari daftar ranking vote.
Tapi hari ini, saat aku nulis ini alhamdulillah GBM masih ada di daftar ranking vote, ranking ke 148. Bagiku ini luar biasa loh, dua hari berada di daftar itu. Semoga besok dan seterusnya masih bertahan di situ.
Terima kasih tak terhingga untuk semuanya. Terutama untuk yang sudah memberikan vote sehingga GBM masuk ke ranking itu.
Apalah aku mah otor remahan, segitu aja udah senang bukan main.
__ADS_1
Love yang banyak buat semuanya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️