
Allahul kafi robbunal kafi
Qasadnal kafi wajadnal kafi
Likulli kaafi kafanal kafi
Wanimal kafi alhamdulillah
Alunan solawat Allahul kafi robbunal kafi dari alarm ponsel Mimin telah tiga kali berdering. Namun si empunya ponsel dan pasangan halalnya itu seakan tak terusik dengan bunyi alarm tersebut. Mereka masih terlelap tidur saling berpelukan. Sebab rasa lelah yang diakibatkan pergelutan sepuluh ronde semalam.
Allahul kafi robbunal kafi
Qasadnal kafi wajadnal kafi
Likulli kaafi kafanal kafi
Wanimal kafi alhamdulillah
Mimin membuka matanya ketika alarm solawat itu berdering untuk keempat kalinya. Saat ia membuka mata, wajah tampan Dewa yang pertama kali dilihatnya. Dewa tengah memeluknya.
Ia tersenyum karena mengagumi ketampanan suaminya. Dan baru menyadari jika suaminya itu terlihat sangat tampan jika dilihat dalam jarak sedekat ini.
"Aa, bangun." Mimin mengusap pipi suami tampannya. Namun tak ada respon, suaminya itu masih menutup matanya dengan raut wajah kelelahan.
Mimin merasa geli sendiri ketika mengingat kegiatan mereka semalam. Benar-benar menguras energi. Namun tak dapat dipungkiri kegiatan semalam itu sangat mendebarkan dan ... menyenangkan.
Sekali lagi Mimin mengusap pipi dan mengguncang tubuh Dewa. "Aa bangun ih!" serunya.
Dewa tetap anteng tidur. Sampai kemudian Mimin mengecup bibir Dewa. Dan benar saja cara itu cukup ampuh untuk membuat suaminya terbangun.
Dewa segera membuka matanya ketika merasakan kecupan lembut Mimin di bibirnya. Segera saja tak mau membuang kesempatan, ia langsung menyergap bibir ranum semanis madu itu. Dan menciumnya dengan lembut di awal dan rakus di akhir. Sampai-sampai tubuhnya menghimpit tubuh Mimin.
"Neng, lagi yuk," ajak Dewa setelah melepas ciumannya.
"Enggak ah, sumeh. Udah kesiangan ini, udah hampir jam setengah enam," kilah Mimin. (Sumeh dalam bahasa Serang artinya malas, atau ga mau, atau emoh)
"Iye keh?!" timpal Dewa meniru logat Upin Ipin seperti yang dilontarkan Mimin ketika ia terus saja menjelaskan bahwa laki-laki pun merasa perih saat terenggut keperjakaannya.
"Udah cepat mandi sana!" Mimin mendorong tubuh Dewa. "Nanti habis dulu waktu subuhnya," ujarnya lagi.
Dewa melirik jam dinding di hadapannya.
"Astagfirullah, kesiangan." Dewa yang tengah berada di atas tubuh Mimin lalu beringsut bangun. Tak lupa untuk memberikan sebuah kecupan di bibir Mimin sebelum ia benar-benar bangun dari posisinya.
"Aa kenapa jalannya kayak begitu?!" tegur Mimin seraya mengerutkan keningnya.
Pasalnya, Dewa turun dari tempat tidur dengan posisi kaki yang terbuka lebar (mengangkang) dan ia berjalan mengangkang persis seperti posisi kaki ketika berjoget Bang Jali.
Dewa menoleh kepada Mimin. "Soalnya udah ga perjaka, Neng. Hihihihihi...." sahutnya seraya terkekeh. "Gegara ulah Neng." Dewa mengerlingkan matanya.
Mimin mencebikkan bibir mendengar jawaban konyol suaminya.
"Ayo, Neng mandi bareng!" ajak Dewa.
"Enggak mau," tolak Mimin.
"Nanti habis loh waktu subuhnya," ujar Dewa.
"Iya, makanya Aa cepetan mandi. Aa duluan nanti gantian," sahut Mimin yang belum beranjak dari posisinya.
__ADS_1
"Udah bareng aja biar lebih efisien." Dewa menghampiri Mimin lalu menggendongnya.
"Ih, enggak mau. Turunin A." Mimin meronta-ronta seraya memukul pelan dada Dewa.
"Turunin ih. Aku ga pake kerudung!" seru Mimin.
Tepat di belakang pintu, Dewa menurunkan Mimin untuk membuka pintu kamar. Sementara tangan satunya masih erat menggenggam tangan Mimin. Setelah pintu terbuka, ia kembali menggendong Mimin.
"Aa, Neng ga pake kerudung!" Karena di lantai dua ini juga ada kamar Deka, tentu ia mencemaskan soal auratnya.
"Gak papa, ga ada orang kok. Jam segini belum ada yang bangun." Dewa terus menggendong Mimin sampai ke kamar mandi. Dan mereka pun mandi bersama. Benar-benar mandi tanpa ada drama horor lanjutan karena khawatir tertinggal waktu subuh.
*****
"Neng Mina duduk aja ya, ga usah bantuin Bibi," ujar Bi Siti ketika Mimin membantunya membuat sarapan.
"Gak apa-apa kok Bi," sahut Mimin yang sedang memanggang roti dengan toaster (alat pemanggang roti).
"Bibi senang deh, Den Dewa berjodoh dengan gadis seperti Neng Mina ... cantik dan solehah," seloroh Bi Siti yang sedang sibuk membuat nasi goreng.
"Bibi bisa aja." Mimin tersenyum menanggapi pernyataan Bi Siti.
"Oya, Bibi sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Mimin. Kini ia sedang membuat jus jeruk untuk melengkapi menu sarapan.
"Udah lama banget. Dari sejak Bibi masih gadis, Bibi udah kerja sama Bu Dewi," terang Bi Siti.
"Berarti Bibi tau A Dewa waktu kecil dong?!" sahut Mimin antusias.
"Tau banget dong. Dulu waktu kecil, Den Dewa itu Bibi yang mandiin," sahut Bi Siti.
"Berarti Bibi tahu dong, dulu Dewa banyak pacarnya ga?"
Jujur saja jawaban Bi Siti cukup membuat hatinya sesak untuk beberapa saat.
"Loh loh, Mina sayang kenapa repot-repot di dapur," tegur Mama yang baru tiba di dapur.
"Iya nih, Bu. Saya tadi udah bilang jangan dibantuin, si Neng malah kekeuh pengen bantuin," timpal Bi Siti.
"Ga papa, Mah. Daripada ga ada kerjaan," sahut Mimin.
"Dewa mana?" tanya Mama.
"Di kamar, Mah."
"Dewa belum bangun?"
"Udah bangun, terus tidur lagi." Usai mandi bersama lalu salat Subuh berjamaah bersama Mimin, mereka kembali melakukan kegiatan menguras energi dan hasrat dua ronde sekaligus. Kemudian Mimin memilih untuk segera mandi lalu membantu Bi Siti. Sementara Dewa yang kelelahan memilih untuk tidur kembali.
"Uh, pengantin baru sih. Hihihihihi...." Mama menggodanya sampai terkikik-kikik.
"Sana panggil Dewa, suruh sarapan dulu," titah Mama kemudian.
"Iya, Mah." Mimin mengangguk dengan wajah merona.
"Sekalian Deka juga tolong panggilkan ya, kita sarapan bareng-bareng!" seru Mama ketika Mimin sudah melangkahkan kakinya.
"Iya, Mah," sahut Mimin dan melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua.
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
Mimin sedang mengetuk pintu kamar Deka ketika sejurus kemudian Dewa memeluk tubuhnya dari belakang. Dewa baru saja selesai mandi, mandi untuk yang kedua kalinya.
Dengan handuk yang masih terlilit di perutnya, ia memeluk Mimin dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada pipi kemerahan itu.
"Aa lepas, ih!" seru Mimin. Namun Dewa tak menggubrisnya. Ia malah membalikkan tubuh Mimin lalu mencangkum wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Mimin.
Dewa tengah memperdalam ciumannya ketika tiba-tiba Deka membuka pintu kamar. Dan melihat Dewa tengah memberikan sebuah ciuman lembut, hangat dan romantis di bibir Mimin di depan pintu kamarnya. Sontak Mimin mendorong tubuh Dewa dan melepas paksa ciumannya.
"Bang Deka, sarapannya sudah siap," ujar Mimin dengan gestur kikuk sebab merasa jengah dengan ulah suaminya barusan.
"Hemmm."
"Kata Mama, kita sarapan bareng."
"Kalian ga ikut sarapan?" tanya Deka.
"Ikut, Bang," jawab Mimin.
"Ayo A, pake baju!" Mimin menggenggam tangan Dewa dan menyeretnya ke kamar.
*****
"Selamat pagi, Sayang," sapa Mama kepada Dewa dan Mimin ketika keduanya baru bergabung untuk sarapan.
"Pagi, Mah. Pagi, Pah. Pagi, Bang," sapa Dewa menyapa semuanya.
"Ciye, anak mama wajahnya ceria banget sih," goda Mama.
"Namanya juga pengantin baru, Mah," timbrung Pak Satya.
"Iya pengantin baru itu cerianya rupa-rupa warnanya. Hihihihihi...." Bu Dewi masih menggoda pasangan pengantin baru tersebut.
"Rupa-rupa warnanya?! Memangnya balonku ada lima," sahut Dewa.
"Kamu 'kan belum memberikan kontribusi pada keluarga. Sekarang waktunya kamu berkontribusi pada keluarga, cepat beri kami cucu," lontar Pak Satya.
"Siap, Pah. Laksanakan!" sahut Dewa.
Dewa menoleh pada Mimin yang duduk di sampingnya. "Tuh 'kan Neng. Kita harus produksi tiap hari biar Papa dan Mama cepat dapat cucu," ujarnya.
"Deka, kamu juga cepat cari jodoh. Segera menikah!" seru Pak Satya.
Deka hanya tersenyum sumir menanggapi ucapan papahnya.
"Iya, Deka kamu cepat menikah. Menikah itu enak loh, iya kan 'Wa?" lontar Mama melirik Dewa.
"Enak banget, Mah. Iya 'kan Neng? Ya ya ya" lontar Dewa yang menatap Mimin sembari menaik-turunkan alisnya.
Mimin tertunduk dengan pipi merona merah menanggapi ucapan suaminya.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1