Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Belajar Gitar


__ADS_3

Mimin dan Rahma tengah menyantap mi ayam bakso ketika pria dengan penampilan memukau itu datang menghampiri mereka. Tak lain tak bukan dialah Deka.


"Aku ga terlambat, kan?" tanya Deka.


Mimin menggeleng. "Enggak, Pak... silakan duduk," ucapnya.


Deka menarik kursi lalu duduk tepat di posisi satu garis di hadapan Mimin.


"Mas... saya mi ayam ya," ucapnya kepada pelayan yang sedang mengantarkan pesanan di meja sebelahnya.


"Mi ayam pakai bakso, Ka?" tanya Pelayan.


"Iya."


"Pakai bakso apa, Ka?"


"Samakan dengan yang ini." Deka menunjuk mangkok Mimin. "Minumnya juga samakan ya," sambungnya.


"Siap, Ka." Pelayan itu pun pergi untuk membuatkan pesanan Deka.


"Ehem..." Rahma berdehem, membuat Mimin menoleh dan menatap Rahma. "Ciye ciye..." Rahma menggoda Mimin lewat isyarat mata. Mimin membalas dengan memelototi Rahma.


"Ehem..." Deka berdehem. Membuat Mimin dan Rahma menoleh ke arahnya. Deka menyunggingkan senyum penuh pesona.


 


****


 


Rahma kini sedang berada di kamar Mimin. Menikmati sepiring puding lezat buatan Mami.


Sepulang dari kedai bakso tadi, Rahma yang mengantar Mimin sampai rumah akhirnya turun dan mampir karena tergiur tawaran Mami.


"Rahma sini masuk dulu! Mami bikin puding dan bolu pisang loh," seru Mami.


"Asiiyap... Mami," jawabnya.


Rahma menyuapkan sesendok puding yang sudah hampir habis ke dalam mulutnya.


"Deka itu baik banget ya. Kita yang berencana ngebakso malah dia yang bayarin," ujar Rahma.


"Iya. Aku jadi ngerasa ga enak deh. Tadi siang dia sudah traktir makan siang aku sama teman-teman. Eh, sorenya dia juga traktir bakso. Padahal ini hari pertama dia kerja di kantor aku loh," tutur Mimin.


"Udah baik, tampan, mapan pula...." kata Rahma dengan tatapan menerawang.


"Dan hangat lagi. Ga dingin seperti batu es kaya cerita CEO di novel. Hihihihihi..." sambungnya diiringi ringkikan tawa.


Mimin ikut tertawa. Dan di dalam hatinya, ia menyetujui pernyataan Rahma tentang Deka. Walau baru sehari bekerja, Deka begitu hangat berbaur dengan Mimin dan teman-temannya.


"Kelihatannya ... dia suka sama kamu, Min," kata Rahma.


"Sok tahu kamu, Ma."


"Iya beneran. Dari tatapan matanya itu loh terpancar jelas pancaran cahaya cinta yang mem...." Mimin membekap mulut Rahma, membuat Rahma tak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Rahma... Udah dong!" sungut Mimin.


"Hihihihihi...." Rahma terkekeh melihat reaksi malu-malu Mimin. Dan kemudian keduanya tertawa bersama.


Menjelang azan magrib, Rahma berpamitan pulang.


 


*****


Malam harinya


Mimin sedang mencuci piring dan peralatan bekas makan malam keluarganya di wastafel dapur. Telinganya mendengar percakapan dari ruang tamu. Percakapan antara Opi dan Abah. Opi sedang meminta persetujuan pada Abah untuk belajar bermain gitar kepada Dewa.


"Boleh ya Bah... belajar gitar," bujuk Opi.


"Iya boleh," jawab Abah yang sedang serius menonton siaran TV Two yang sedang menayangkan acara Apa Kabar Negeri.


"Asyik... love you, Abah," ucap Opi dengan sumringah.


"Hemmm..." Abah menjawab dengan ber-hemm.


Dengan riang Opi mengayun langkah menuju kontrakan Dewa.

__ADS_1


 


*****


 


Dewa dan Sol sedang duduk di teras kontrakan. Menikmati langit malam yang bertabur bintang. Dewa memetik gitarnya, menyanyikan sebuah lagu. Namun bukan lagu rock yang menjadi pilihannya. Ia sedang ingin menyanyikan lagu yang sesuai dengan suasana hatinya.


Petikan gitar mengiringi sebuah lagu Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi dari grup musik bergenre pop, HIVI.


Meski bibir ini tak berkata


Bukan berarti 'ku tak merasa


Ada yang berbeda di antara kita


Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena


Diriku tak mampu untuk bicara


Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku.


(Sepenggal lirik lagu Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta lagi. By. HIVI).


"Ih, Ka Dewa bagus banget suaranya," ujar Opi yang tiba-tiba nongol di hadapannya sambil bertepuk tangan.


"Hai Opi... belum tidur nih," sapa Sol.


"Belum lah Ka... masih sore," jawab Opi. Ia mendudukkan bokongnya di teras kontrakan, bergabung bersama Dewa dan Sol.


"Ka Dewa, Opi ajarin main gitar dong," kata Opi.


"Boleh," sahut Dewa masih dengan memetik gitar.


"Nih, Opi udah punya bukunya." Opi menunjukkan sebuah buku berjudul Mahir Bermain Gitar Untuk Pemula. "Tapi lebih enak belajar langsung sama Ka Dewa deh," sambungnya.


"Sini ... mumpung gue ga ada kerjaan," ujar Dewa.


Opi mendekat ke Dewa. Mereka duduk berdekatan. Dewa mulai mengajarkan dari kunci atau cords sederhana seperti kunci A, B, C, D, E dan F lengkap dengan penjelasan dan cara memetik senar. Lalu melanjutkan dengan cord lainnya. Kemudian ia mengajarkan Opi memainkan lagu dengan cord sederhana secara perlahan dan bertahap. Dimulai dari memainkan lagu dengan tempo pelan kemudian naik ke tempo sedang.


 


*****


Setelah seharian melakukan aktivitas produktif, malam hari adalah saatnya untuk menghilangkan penat barang sejenak. Ia membuka ponsel dan memilih untuk membuka sosmed. Dan matanya seketika memicing ketika melihat foto Opi sedang memegang gitar duduk berdekatan dengan Dewa. Sepuluh menit yang lalu Opi meng-upload fotonya bersama Dewa sedang belajar bermain gitar di akun Facebook miliknya.


Mimin segera keluar kamar lalu mencari Opi di kamar, dapur serta kamar mandi.


"Teteh lagi nyari apa sih?" tanya Mami yang melihat Mimin mondar-mandir.


"Opi ke mana, Mi?" tanya Mimin.


"Paling juga di kontrakan sebelah, Teh," jawab Mami.


Setelah mendapat jawaban dari Mami, Mimin segera beranjak pergi.


"Teteh mau ke mana?!" tanya Mami.


"Ke sebelah sebentar, Mih," sahut Mimin sambil berlalu.


 


******


Saat Mimin menuju kontrakan berniat menyuruh Opi untuk  pulang. Sayup-sayup terdengar Dewa sedang mengalunkan lagu diiringi petikan gitar. Mimin menunda niatnya lalu memilih duduk di kursi teras mendengarkan sampai Dewa berhenti bernyanyi.


Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu


Aku yang pernah terluka, kembali mengenal cinta


Hati ini kembali temukan senyum yang hilang


Semua itu karena dia


Oh Tuhan kucinta dia


Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku

__ADS_1


Hanya padanya, untuk dia


Jauh waktu berjalan kita lalui bersama


Betapa di setiap hari, kujatuh cinta padanya


Dicintai oleh dia kumerasa sempurna


Semua itu karena dia


Oh Tuhan kucinta dia


Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya, untuk dia


Oh Tuhan kucinta dia


Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya, untuk dia


Hanya padanya, untuk dia


(Dia. Penyanyi Anji)


"Kalau mau belajar gitar, di mulai dari lagu dengan tempo seperti ini... pelan dan chord-nya mudah," ujar Dewa setelah selesai menyanyikan lagu Dia milik Anji.


"Terus saja berlatih..." Dewa memetik gitarnya. "Nanti lama-lama bakalan bisa, terus jadi mahir," sambungnya.


"Suara Ka Dewa bagus... kenapa ga jadi penyanyi aja?" tanya Opi seraya tersenyum menatap Dewa.


"Masa sih... cuma lo deh kayaknya yang bilang suara gue bagus," jawab Dewa masih sembari memetik gitar.


"Ka Dewa cocok deh kalau jadi vokalis ... soalnya Ka Dewa ganteng apalagi Ka Dewa juga jago main gitar," ujar Opi masih sembari tersenyum.


"Opi... pulang!!" Pekikan Mimin membungkam mulut Dewa yang hendak menjawab pernyataan Opi.


"Apa sih Teh! Opi lagi belajar gitar," sungut Opi.


"Memangnya penting belajar gitar itu??"


"Penting ga penting yang jelas Opi mau belajar gitar!"


"Seharusnya kamu belajar pelajaran sekolah, Opi!" seru Mimin.


Dewa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal karena melihat perdebatan dua kakak beradik itu. Sementara Sol, mulutnya mangap menganga melihat Mimin yang tidak seperti biasanya. Mimin yang dilihatnya selalu bersikap lembut ternyata bisa berdebat dan keras juga.


"Opi tadi sore udah bimbel Teh, berarti Opi sudah belajar kan? Pulang bimbel tadi Opi juga udah kerjain PR. Opi udah mengerjakan semua kewajiban Opi. Salah kalau sekarang Opi mau belajar gitar??"


"Tapi ga baik kalau..." Mimin belum menuntaskan kalimatnya.


"Sudah sudah...." Dewa berdiri menengahi keduanya.


"Opi, lo pulang ya, udah malam. Whoooam....” Dewa pura-pura menguap selebar mungkin.


”Gua juga udah ngantuk... mau tidur,” sambungnya.


“Terus belajar gitarnya bagaimana?” tanya Opi dengan nada kecewa.


“Nanti kalau gue ada waktu, kita belajar lagi. Nih, lo bawa aja gitar gue.” Dewa menyerahkan gitar miliknya kepada Opi. “Belajar sendiri dulu pake buku,” sambungnya.


Opi yang sempat kecewa lalu tersenyum sumringah karena Dewa meminjamkan gitarnya. “Terima kasih, Ka Dewa,”ucapnya.


Dewa membalas dengan menganggukkan kepala. Lalu setelahnya menatap Mimin. Mimin balas menatapnya, meski tatapannya tidak setajam saat di kedai bakso sore tadi. Namun jelas terlihat ini bukan tatapan hangat yang diharapkan Dewa.


Opi dan Mimin beranjak pulang ke rumah.


“Teteh.”


“Hemm.”


“Teteh itu kenapa sih kayaknya ga suka kalau Opi dekat-dekat dengan Ka Dewa?”


Mimin sudah membuka mulutnya hendak menjawab. Namun seketika terbungkam karena Opi melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Teteh cemburu ya lihat Opi dekat-dekat Ka Dewa??!”


__ADS_2