Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
GBM Season 3


__ADS_3

Usai sarapan, Mimin berkemas untuk kepulangannya. Sementara Dewa hanya rebahan dengan posisi tengkurap dan tangan menopang dagu sembari memperhatikan Mimin berkemas. Tak akan pernah merasa jemu memandang wajah istrinya yang cantik itu.


"Neng."


"Hemmm."


"Neng, bagaimana kalau Bang Deka kita jodohkan aja," usul Dewa.


"Dijodohin sama siapa?" tanya Mimin tanpa menghentikan aktivitas berkemas.


"Gimana kalau kita jodohin Bang Deka sama ... Hana," cetus Dewa.


Mimin menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Dewa. "Kok Aa bisa kepikiran untuk menjodohkan Bang Deka sama Hana?!"


"Iya kenapa enggak. Bang Deka jomblo, Hana juga jomblo jadi ga ada yang salah 'kan? Siapa tahu mereka jodoh," sahut Dewa.


"Enggak," ucap Mimin. Ia melanjutkan kembali kegiatan berkemasnya.


"Enggak salah' kan maksudnya??"


"Enggak bisa!"


"Kok enggak bisa??" Dewa sontak bangun dari posisinya karena menerima jawaban Mimin yang tak sesuai harapannya.


"Iya, enggak bisa aja," sahut Mimin.


Dewa meraih tubuh Mimin yang masih sibuk berkemas lalu mengarahkannya untuk duduk di pangkuannya.


"Sayang, kenapa enggak bisa?"


"Karena aku sama Rahma udah sepakat mau menjodohkan Hana dengan Haqi."


"Haqi siapa??"


"Ustaz Haqi, temannya Fahri."


Dewa menyelipkan helai rambut Mimin di telinga. "Bang Deka 'kan abangku dan sekarang jadi abang Neng juga dong. Bisa lah diatur supaya Hana dijodohin sama Bang Deka aja," seloroh Dewa.


Mimin menghela napas sebelum menjawab ucapan suaminya itu.


"Ada waktunya nanti laki-laki baik bertemu dengan wanita baik. Maka biarkan Bang Deka memperbaiki kualitas dirinya dahulu sebelum nanti bertemu wanita yang baik," tutur Mimin bijak.


"Seperti kita ini, Neng?"


Mimin yang duduk di pangkuan Dewa, menangkup kedua pipi suaminya itu. "Aa mah memang udah baik," pujinya.


"Neng, jangan ucapkan kalimat 'kamu terlalu baik buat aku' ya," sahut Dewa.


"Kenapa?" Mimin mengerutkan keningnya.


"Karena itu kalimat penolakan paling halus kalau nembak wanita."


Mimin melepaskan tangannya dari pipi Dewa lalu dengan raut cemberut berucap, "Iya sih, yang banyak mantan pacarnya!"


"Eh, enggak ah."


"Iya...!"


"Enggak...!"


"Iya...!"


"Enggak...!"


"Jangan bohong!"


"Siapa yang bilang sih?!" Dewa menggaruk kepalanya.


"Iya 'kan, ngaku!"


"Neng cemburu ya?" balas Dewa.


Mimin mengerucutkan bibirnya. "Eh, enggak ah."


"Iya...!"


"Enggak...!"


"Iya...!"


"Enggak...!" Jika tadi Mimin keukeuh dengan jawaban 'iya' dan Dewa dengan jawaban 'enggak' kini justru kebalikannya.

__ADS_1


"Jangan bohong!"


"Enggak...!"


"Iya...!"


Dan akhirnya perdebatan 'iya' dan 'enggak' itu terhenti. Karena Dewa telah membungkam bibir Mimin dengan ciuman panas membara. Hanya ciuman saja karena sebentar lagi Mama akan mengajak mereka untuk menemaninya berbelanja. Mama berniat membeli oleh-oleh untuk Abah dan Mami.


*****


Sebuah lagu berjudul Truly Madly Deeply dari Savage Garden mengalun dari radio mobil yang dikendarai Dewa.


I’ll be your dream, I’ll be your wish, I’ll be your fantasy


I’ll be your hope, I’ll be your love, be everything that you need


I’ll love you more with every breath, truly, madly, deeply do


Dewa turut medendangkan lagu bergenre pop rock itu sembari mengetukkan jarinya di setir mobil. Suara bariton Dewa memang cocok untuk menyanyikan semua lagu dari genre musik apapun. Mungkin genre dangdut pun jika ia yang menyanyikan akan terdengar asyik dan asoy geboy.


Dan ia menyadari jika belakangan ini, semenjak berjumpa Mimin hatinya mendadak menjadi melankolis romantis. Ditambah lagi ketika mengamen di Baretos Cafe, pengunjung biasanya me-request lagu-lagu dari band pop rock romantis. Jarang sekali bahkan hampir tidak ada yang merequest lagu rock metal.


Saat ini Dewa tengah menyupiri dua wanita yang dicintainya, Mama dan Mimin. Sementara di jok belakang, kedua wanita berbeda generasi itu tengah bercengkerama santai dan hangat. Mama yang tak memiliki anak perempuan, begitu antusias dan sangat bahagia memiliki menantu yang cantik seperti Mimin.


Mereka sampai di sebuah Pusat Perbelanjaan elit di Jakarta. Mama berjalan sambil menggandeng tangan Mimin. Sementara Dewa berjalan mengekor di belakangnya.


"Sayang, ini tas cantik banget." Mama mengangkat tangannya menunjukkan sebuah tas lalu memberikannya kepada Mimin.


Mimin menatap tas itu, dan ia membelalakan matanya demi membaca harga yang tertera pada label harga di tas tersebut.


"Apalagi kalau Mina yang make, makin cantik jadinya. Mama beliin untuk kamu ya, Sayang," ujar  Mama.


"Enggak, Mah ... jangan." Mimin menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Emm, harganya mahal."


"Ini termasuknya murah loh, Sayang. Belasan juta aja, yang di atas harga ini juga ada, yang em eman juga ada," terang Mama.


Mimin juga mengetahui hal itu, namun ia tak biasa membeli atau memakai barang branded dengan harga selangit. Harga tas termahal yang pernah dibelinya adalah tas merek "Sophi Entin" seharga empat ratus ribu. Itu pun ia harus berulang kali menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya.


"Mah, jangan ajari Mina untuk beli barang-barang mewah kayak gitu," protes Dewa.


"Khawatir memberatkan Dewa. Kerjaan Dewa aja belum jelas," lanjutnya.


Mimin tersenyum menatap suaminya, ia menyetujui ucapan suaminya.


"Makanya kamu kerja yang bener biar bisa membahagiakan anak dan istrimu," omel Mama.


Baru saja Dewa akan menyahut ucapan Mama, tiba-tiba datang seorang wanita menghampirinya.


"Dewa...!" Wanita itu langsung menghambur memeluk Dewa.


Mmuach ... Mmuach...


Tanpa rasa risih wanita berpakaian kurang bahan itu langsung saja mencium pipi kanan dan kiri Dewa. Dan celakanya, Dewa tak sempat mengelak.


Hati Mimin mencelos melihat adegan itu. Ia bahkan beristighfar dalam hati.


"Apa kabar lo, Wa? Ih, Dewa makin keren aja." Wanita itu mencubit dagu Dewa.


"Dewa emang begitu. Kalau jalan sama Dewa, Mama juga pusing karena banyak banget cewek yang menyapanya," ujar Mama kepada Mimin.


"Tapi, tenang aja. Semua wanita itu ga ada yang istimewa. Dewa ga pernah ingat sama nama mereka," lanjut Mama menenangkan Mimin.


"Sorry Jessica ...."


"Gue bukan Jessica!" protes wanita itu.


"Oh, ya Cindy."


"Gue bukan Cindy!"


"Amel??"


"Bukan!!"


"Sherly?"


"Bukan!!"

__ADS_1


"Maya??"


"Hampir."


"Hampir?? Emmm, berarti Mayat dong?!"


"Ih, bukan!" protes wanita itu kesal. "Gue Luna," lanjutnya.


"Oh, ya ampun. Soalnya ingatan gue selalu buruk tentang wanita," kilah Dewa.


"Tuh bener 'kan ingatannya selalu buruk kalau sama wanita. Kecuali sama wanita yang dicintainya. Yaitu kamu, Sayang," tutur Mama. Lalu membimbing Mimin untuk melanjutkan langkah dan melihat-lihat berbagai model tas yang menyilaukan mata.


"Segitunya lo ga inget gue." Wanita bernama Luna itu mengerucutkan bibirnya.


"Memang begitu adanya. Ingatan gue selalu buruk tentang wanita kecuali dengan wanita yang kucinta," tutur Dewa.


"Siapa?"


"Tuh, gadis berkerudung merah yang cantik dan solehah." Dewa menunjuk Mimin yang tengah berbincang dengan Mama sambil melihat-lihat barang-barang incaran Mama.


"Siapa dia?"


"Istri gue dong."


"Hah, istri?!" Wanita bernama Luna itu sampai melongo dan menganga karena tak menyangka Dewa memilih gadis berkerudung yang menjadi istrinya.


*****


"Neng, kenapa sih?" tanya Dewa. Pasalnya sepulang dari mall tadi, ia melihat murung di wajah istrinya.


"Gak kenapa-kenapa," sahut Mimin tanpa menatap Dewa. Ia sedang membereskan oleh-oleh pemberian dari Mama untuk keluarganya.


"Lihat Aa dong, Neng!" seru Dewa.


Mimin tak menggubris seruan Dewa. Ia menyibukkan diri dengan aktivitasnya. Memanjangkan waktu berkemas agar terlihat sibuk.


"Ga kenapa-kenapa kok cemberut gitu?!" tukas Dewa.


"...." Mimin diam saja tak menjawab.


"Soal cewek yang tadi ketemu di Mall itu ya?" tebak Dewa.


"...." Mimin tetap diam.


"Neng jangan salah paham dulu. Anak sini memang begitu. Cewek cowok kalau ketemu cipika-cipiki itu udah biasa," tutur Dewa.


"Jadi, menurut Aa, tadi itu biasa??" Mimin kini menatap Dewa.


"Enggak begitu juga sih. Dulu sih aku juga begitu, tapi sekarang tentu enggak seperti itu lagi. Tapi, sumpah tadi itu di luar kendali," ujar Dewa.


"Tapi, seneng 'kan?!" cecar Mimin.


"Enggak lah. Masa seneng sih. Yang seneng itu kalau ehem ehem sama Neng," elak Dewa seraya mengerlingkan matanya.


"Aa dulu banyak pacarnya kan, hayo ngaku!" tukas Mimin.


Dewa berjongkok dengan bertumpu pada lututnya di hadapan Mimin yang tengah duduk di tepi ranjang. Lalu ia meraih tangan Mimin dan menatapnya. Mimin pun mau tak mau membalas menatap Dewa.


"Semua yang ada di dunia ini adalah berpasangan. Ada malam, ada siang. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada suka, ada duka. Ada awalan dan ada akhiran. Kalau aku boleh memilih, maka aku pilih yang akhiran. Bukankah hakikatnya setiap muslim menginginkan akhir yang baik. Dan bagiku kamu adalah akhir yang baik itu. Yang akan menuntunku menapaki hidup hingga mencapai husnul khotimah dan menuju Jannah," tutur Dewa lalu mengecup tangan Mimin.


Dada Mimin terasa sesak mendengar pernyataan tulus Dewa. Menyesali setiap tuduhan dan dugaan yang sempat terbesit di relung hatinya. Mengapa hatinya bisa sekerdil ini. Seharusnya ia tak lagi mempermasalahkan masa lalu suaminya. Sekali lagi, tak ada orang baik yang tak punya masa lalu. Dan tak ada orang jahat yang tak punya masa depan.


"Maafin Neng yah A." Mimin memeluk tubuh Dewa sambil terisak. Tak terasa butiran bening menitik di pipinya.


.


.


.


.


.


Terima kasih telah membaca cerita ini. Terima kasih dukungannya.


Ada yang bertanya bolehkah Suami istri mandi bersama. Saya yang kerdil ilmu agama ini mencoba untuk menjawab, sepengatahuan saya, jawabnya adalah boleh. Dan ada hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah melakukannya.


Aisyah juga berkata, “Aku mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu tempayan (yang diletakkan) antara kami berdua, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, “Sisakan air buatku, sisakan air buatku”. Dan mereka berdua dalam keadaan junub. (HR Muslim I/257 no 321).


Mohon yang lebih paham tentang agama, koreksi nya khawatir saya salah.

__ADS_1


__ADS_2