
Praaangg....
Sebuah nampan berisi tiga cangkir teh itu meluncur jatuh ke lantai, terlepas dari genggaman.
Mimin yang hendak menyuguhkan minuman dikejutkan dengan reaksi ayah mertua yang di luar ekspektasi. Seketika Mimin merasa lututnya melemas. Tubuhnya merapuh. Genggaman tangannya melemah hingga menjatuhkan nampan berisi minuman yang sedianya akan disuguhkan kepada suami dan mertuanya. Lalu dengan hati yang merana segera berlari ke dalam kamarnya.
Dewa yang semula menatap tajam papanya sebab merasa berang atas ucapan sang papa di depan sang mertua, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mimin sesaat setelah istri cantiknya itu menjatuhkan nampan beserta isinya. Ia berniat hendak menyusul Mimin yang berlari ke kamar. Namun urung karena reaksi Mami yang juga tak kalah mengejutkan.
"Dewa...! Mami ga menyangka ternyata kamu seperti itu," tukas Mami tajam.
"Itu fitnah, saya eng...." bantah Dewa. Ia berusaha untuk menjelaskan, namun ucapannya segera dipotong oleh Mami.
"Cukup...! Kalian itu keterlaluan! Keluar kalian semua dari rumah ini!" Mami yang merasa geram, mengusir keluarga Dewa.
"Mami, Abah... Sa-saya...." Dewa kembali berusaha menjelaskan.
"Keluar kalian dari rumah kami!" tegas Mami.
"Tentu, dengan senang hati saya dan keluarga akan keluar dari rumah ini," sahut Pak Satya seraya bangun dari posisi duduknya.
"Ayo, Mah, Wa. Kita pulang." Pak Satya menggiring anak dan istrinya keluar dari rumah.
Ingin sekali Dewa berbicara banyak untuk menjelaskan masalah yang terjadi sebenarnya kepada Abah, Mami dan terutama kepada Mimin. Namun demi melihat reaksi Mami yang penuh amarah, ia memilih untuk menundanya. Akan percuma jika berbicara dengan orang yang tengah dikuasai amarah. Sehingga ia pun menuruti perintah papanya untuk keluar dari rumah itu.
"Papa keterlaluan!" geram Mami setelah keluar dari rumah Haji Zaenudin.
"Mau Papa apa sih?!" keluh Dewa dengan rasa hati yang campur aduk.
"Mau papa, kamu menikah dengan Clara!" sahut Pak Satya.
"Enggak...!!" pekik Dewa.
"Nurut sama Papa!" salak Pak Satya.
"Pah... Dewa mohon, sekali aja Papa mengabulkan keinginan Dewa," ujar Dewa memelas.
"Dewa... Ada juga kamu, yang sekali saja menuruti keinginan Papa," "sahut Pak Satya.
Dewa menghela nafas lalu membuangnya kesal. Memang percuma berbicara dengan papanya itu. Dirinya akan selalu salah dan disalahkan.
"Ayo, kita pulang!" "seru Pak Satya yang sudah membuka pintu mobil.
"Dewa gak mau pulang!" bantah Dewa.
"Papa bilang pulang ya pulang!" salak Pak Satya.
"Enggak!" sahut Dewa lalu ngeloyor pergi.
"Dewa...!" pekik Pak Satya.
__ADS_1
"Papa...! Kalau papa terus paksa Dewa, mama juga akan pergi!" ancam Bu Dewi. Lalu bergegas pergi mengejar Dewa dan meninggalkan suaminya.
"Dewa... tunggu Mama!" seru Bu Dewi sembari berlari kecil mengejar Dewa.
Dewa yang tengah mengayun langkah cepat pun menghentikan langkahnya.
"Mama ikut kamu aja, Wa. Mama udah ga tahan dengan keegoisan papamu," ujar Bu Dewi setelah berhasil mensejajari posisi Dewa.
Dewa menatap mamanya dan menggenggam kedua tangan mamanya. "Mama pulang aja sama Papa. Dewa mau di sini dulu mau menyelesaikan masalah Dewa."
"Mama udah ga tahan sama papamu. Makanya dulu Mama memilih bercerai sama Papa karena begini ini kelakuan papamu. Kalau seperti ini Mama mau pisah aja sama papamu."
"Ssst... Mama ga boleh ngomong begitu. Perceraian adalah hal yang dibenci Allah. Mama harus banyak-banyak sabar menghadapi Papa," tutur Dewa.
"Super sekali anak Mama ini," ujar Bu Dewi lalu memeluk putranya. "Anak soleh mama," imbuhnya.
"Sekarang Mama pulang aja ya sama Papa. Dan doakan Dewa semoga Dewa bisa menyelesaikan masalah ini," tutur Dewa.
"Mama akan selalu doakan kamu, Sayang." Kemudian Bu Dewi melepaskan pelukannya. Lalu kembali menghampiri suaminya untuk turut pulang bersama ke Jakarta. Sementara Dewa memilih pergi ke masjid di kampung Cibening.
Usai menunaikan salat Isya berjamaah di masjid, Dewa memilih untuk berlama-lama duduk tafakur di masjid. Merenungi masalah yang menderanya. Dan memanjatkan doa kepada Sang pemilik kuasa, semoga diberikan kemudahan untuk menyelesaikan masalahnya.
Fahri yang kebetulan malam ini menjadi imam, datang menghampiri Dewa ketika melihat sahabatnya itu duduk bersila dan tertunduk dengan raut menyimpan sejuta masalah. Sedangkan jamaah masjid lainnya telah pulang.
"Assalamualaikum, Akhi," sapa Fahri.
"Waalaikum salam, Fahri," balas Dewa.
"Tumben roker soleh, berwajah mendung malam ini," gurau Fahri.
Dewa tersenyum menanggapi gurauan Fahri.
"Biasalah roker juga manusia punya rasa punya hati," seloroh Dewa.
"Kalau mau... curhat dong. Ana siap menggantikan Mama Dedeh," gurau Fahri kembali.
"Hahahaha... Iye Ustaz Fahri."
"Aish... Jangan panggil Ustaz ah."
"Mohon doanya Sahabat, semoga aku bisa menyelesaikan masalah yang aku hadapi. Dan semoga Allah meridhoi harapan dan keinginan dari seorang hamba-Nya yang kerdil ini," tutur Dewa.
"Allahuma Yassir wala tu'assir. Ya Allah permudahkanlah urusanku, jangan dipersulit," imbuhnya.
"Amin, insyaallah. Ada sebuah hadits Rasulullah begini bunyinya 'Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran' Hadits riwayat al Bukhari No 1469," tutur Fahri.
"Yassaranallahu fii kulli umurin. Semoga Allah memudahkan kita dalam segala urusan," samhungnya.
"Amin. Allahumma amin," balas Dewa dengan penuh pengharapan.
__ADS_1
*****
Mimin tengah duduk di atas tempat tidur, bersandar pada headboard ranjang. Hatinya berderai perih. Ia menangis terisak, tersedu. Setumpuk rindu yang telah membuncah berbalas oleh sebuah kenyataan yang sama sekali tak pernah diduganya.
" Mantan pacar Dewa itu sekarang sedang hamil.
Dan Dewa harus bertanggung jawab atas kehamilan mantan pacarnya. Dewa akan saya nikahkan dengan mantan pacarnya!”
Hatinya kini sedang berperang dengan kegalauan. Antara harus mempercayainya atau tidak. Logika mengatakan bahwa dirinya yang tak mengenal pribadi serta kehidupan masa lalu sang suami seakan mendorongnya untuk percaya. Di sisi lain, rasa cinta yang baru mulai mekar bersemi kepada sang pencuri hati seakan tegas membantahnya.
Sementara dari dalam kamar, ia mendengar luapan kekecewaan Mami dan penghakiman kepada suaminya.
"Ternyata si Dewa itu seperti itu. Benar kata Haris dong, kalau dia itu pria brengsek," tukas Mami yang merasa sangat kecewa.
"Ga nyangka Ka Dewa seperti itu," sahut Opi.
"Jangan suudzon dulu, tidak baik," ujar Abah berusaha meredam tuduhan istrinya kepada sang menantu.
"Siapa yang suudzon, Bah. Sudah jelas ayahnya sendiri yang mengatakan begitu. Dia ayah kandungnya 'kan, mana mungkin ada orang tua yang memfitnah anaknya," sanggah Mami.
"Tapi kita kan belum mendengar penjelasan dari Dewa, Mih."
"Penjelasan apalagi, Bah. Sudah jelas seperti itu. Ayahnya ingin memutuskan hubungan Dewa sama si Teteh karena si Dewa itu ternyata sudah menghamili pacarnya!" berang Mami.
"Mami ga rela dunia akhirat kalau si Teteh dapat jodoh pria seperti itu," lanjut Mami berapi-api.
"Mami harus bicara sama si Teteh," kata Mami.
Kemudian Mami mengetuk pintu kamar Mimin. Mimin yang tengah menangis segera mengusap cairan bening nan deras yang keluar dari pelupuk matanya. Dan menyusut cairan yang keluar dari hidungnya. Pelan-pelan ia turun dari tempat tidur lalu melangkah meraih gagang pintu dan membukanya.
"Teh... Menurut Mami, lebih baik Teteh pisah aja sama Dewa!"
Mimin yang terpegun berdiri seketika merasa pandangannya buram, nafasnya tersengal, dadanya sesak, tubuhnya lemas, lelah, lunglai lalu ambruk terjatuh tak sadarkan diri.
"Teteh....!!!" teriak Abah, Mami dan Opi panik.
.
.
.
.
Mohon maaf sahabat semuanya karena update ku yang tersendat.
Saya di dunia nyata hanyalah manusia biasa yang memiliki setumpuk masalah, beban hidup, serta kewajiban. Kewajiban sebagai istri dari seorang suami yang tulus mencintai. Kewajiban sebagai ibu dari dua orang putra, anak-anakku yang soleh. Serta kewajiban sebagai anak dari orang tua yang sudah sepuh dan kesehatannya mulai menurun.
Poin yang terakhir ini yang beberapa bulan terakhir, dan puncaknya beberapa hari ini menyita konsentrasi dan perhatian saya. Menjaga orang tua yang kesehatannya tengah menurun. Sehingga membuat tersendat dalam update. Mungkin untuk ke depan pun masih tersendat.
__ADS_1
Saya mohon maaf sebesar-besarnya terutama yang sudah memberikan dukungan luar biasa kepada saya dengan mengirim koin, vote, dan hadiah. Namun malah update saya ga lancar. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih untuk segala-galanya.
Love U