Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kepergian Opi part 2


__ADS_3

"Apa aku boleh minta nomor telepon kamu??” tanya Dewa.


Mimin menyodorkan ponsel miliknya. "Ini... Kamu misscall nomor kamu pakai hp aku," titahnya.


Dewa menerima ponsel dari tangan Mimin lalu menekan deretan angka yang merupakan nomor ponselnya kemudian melakukan misscall.


Sebuah senyuman terbit dari bibirnya meski samar karena khawatir Mimin merasa tak nyaman dengan senyuman penuh pesona miliknya.


Akhirnya ia bisa mendapatkan nomor pujaan hatinya... ralat... istrinya. Sebuah pencapaian luar biasa, bukan. Remarkable.


"Kita cari Opi sama-sama yuk. Apa kamu tahu rumah salah satu temannya?" tanya Dewa.


Mimin mengangguk ragu. "Aku cuma kenal Mia teman sekolah Opi yang lumayan akrab," ujarnya.


"Ok, kita cari Opi ke rumah Mia. Kamu tahu rumahnya kan?" tanya Dewa.


Mimin menganggukkan kepala. Dewa membalas dengan melengkungkan bibirnya.


Setelah berhasil mendapatkan nomor telepon Mimin, kini Dewa sedang mengendarai motornya bersama dengan Mimin yang duduk di boncengannya.


Ini bukan kali pertama ia membonceng Mimin, pernah sekali sebelumnya saat pulang dari pasar. Bedanya dulu Mimin menerapkan social distancing ketika dibonceng Dewa. Menjaga jarak semaksimal mungkin asalkan tidak sampai terjengkang ke belakang.


Dan kini yang Dewa rasakan justru kebalikannya. Tubuh Mimin merapat ke tubuhnya, hingga ia merasa salah satu bagian tubuh Mimin menyentuh punggungnya.


Ada apa ini? Apakah dikarenakan status hubungan yang sudah sah sebagai suami istri hingga Mimin.... Dan menginginkan....


Baru saja Dewa hendak mengembangkan senyum tentang sikap tidak biasa yang ditunjukkan Mimin. Dari kaca spion, ia melihat Mimin menyilangkan tangannya lalu mengusap kedua lengannya yang tertutup baju dan kerudung, seperti orang yang sedang kedinginan. Oh, maaf... tebakan liarnya salah ternyata.


Dewa menghentikan motornya. Lalu melepaskan jaket denim yang sedang dipakainya.


Ia menoleh ke belakang. "Dingin ya? Kamu pakai ini aja, lumayan untuk mengurangi rasa dingin," ujarnya seraya menyerahkan jaket denim miliknya.


Mimin menerima jaket denim itu lalu segera memakainya sebab benar ia merasa sangat kedinginan. Tak terbiasa keluar malam apalagi naik motor seperti ini.


"Terima kasih," ucapnya setelah berhasil memakai jaket itu dengan sempurna.


"Sama-sama," balas Dewa dan tentu saja diiringi senyum penuh pesona.


(Please... Bang Dewa tolong jangan sering-sering melempar senyum penuh pesona seperti itu, nanti emak-emak di sini bisa klepek-klepek)


Mimin mendesah kecewa tatkala tak menemukan keberadaan Opi di rumah Mia. Kini mereka sudah kembali ke rumah. Raut wajah kecemasan nampak jelas di wajah cantiknya.


"Ini sudah malam... sebaiknya kamu istirahat saja," saran Dewa.


"Tapi... Opi..." desah Mimin karena mengkhawatirkan Opi.


"Aku yang akan cari Opi."


"Cari ke mana?"


"Ke mana saja di seluruh sudut kota ini. Opi ga mungkin pergi dari kota ini, kan."


"Tapi..."


"Saya akan cari Opi sekarang. Kamu masuk saja ya. Nanti aku kabari kalau sudah menemukan Opi," ucap Dewa yakin.


Mimin mengangguk lalu masuk ke dalam rumah dengan jaket denim milik Dewa yang masih terpakai nyaman di tubuhnya. Memeluk hangat tubuhnya. Tanpa ia sadari.


Dewa menatap sukacita langkah Mimin dengan jaket terbalut sempurna di tubuh wanita pujaannya, hingga Mimin masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Semoga jaketku bisa menghangatkanmu dan mengurangi kecemasanmu. Doanya dalam hati.


Dewa pun masuk ke dalam kontrakan menemui Sol. Semula ia berencana mengajak Sol dalam pencarian Opi, namun sejurus kemudian ia teringat pada sosok Fahri. Fahri adalah warga kampung ini. Tentu Fahri  mengenal Opi. Begitu pikirnya.


"Terus gue bantu apa nih Wa?" tanya Sol.


"Lo bantu doa aja ya. Biasanya doa dari orang susah kaya lo lebih didengar sama Allah," seloroh Dewa.


"Lo kira gue orang yang terdzolimi," sungut Sol.


"Terdzolimi kejombloan wkwkwwk...." kelakar Dewa.


"Waataaaw...." Sol berjurus ala Bruce Li.


"Ciyaaaaat...." Dewa balas berjurus ala Jet Lee.


Kemudian Dewa segera pergi ke rumah Fahri. Sesampainya di rumah Fahri ia mengetuk pintu dan seorang ibu muda membukakan pintu untuknya. Ia menanyakan keberadaan Fahri, namun ternyata Fahri sedang tidak ada di rumah.


"Memangnya ada apa Ding? Tunggu saja, sebentar lagi juga Fahri pulang," ujar seorang ibu muda yang adalah tetehnya Fahri.


"Saya boleh minta nomor handphone Fahri, Teh?"


"Oh, boleh... duduk dulu Ding. Teteh ambil hape dulu... soalnya ga hapal nomornya."


"Iya makasih Teh," ucapnya lalu duduk di atas sofa usang berwarna biru di ruang tamu.


Tak berselang lama ibu muda itu keluar dan menyebutkan sederet angka nomor telepon Fahri. Dan Dewa dengan sigap menyimpan dalam nomor kontaknya.

__ADS_1


*****


Opi sedang duduk terkantuk-kantuk di sebuah halte pinggiran kota, masih mengenakan kemeja putih lengan panjang dan rok panjang abu-abu yang adalah seragam sekolahnya. Kerudung putihnya sudah ia lepas dan tersimpan di dalam tas.


Saat berangkat sekolah tadi pagi, ia sudah berencana untuk tidak pulang ke rumah. Ia mempersiapkan diri dengan membawa 2 stel baju salin. Serta pergi ke sekolah dengan menggunakan angkot. Sebab jika ia pergi ke sekolah menggunakan motor, khawatir orang rumah akan meneleponnya, menyuruh untuk segera pulang dengan alasan motor akan dipakai.


"Opi, cepetan pulang. Motornya mau dipakai si Sarip." Atau


"Opi, cepetan pulang. Anterin mama belanja."


Opi yang tomboi tidak banyak memiliki teman perempuan. Kebanyakan temannya adalah laki-laki. Ia berencana untuk menginap di rumah Mia teman sebangkunya dan juga satu-satunya teman perempuan yang paling akrab.


Namun justru hari ini Mia absen tak datang ke sekolah karena sedang ke luar kota bersama orang tuanya. Menggagalkan rencananya untuk tak pulang ke rumah. Dan tidak mungkin kalau dia menginap di rumah sahabat laki-lakinya seperti Dimas, Arya, Bayu, atau Jojo. Apa kata dunia kalau seorang wanita menginap di rumah pria. Meski tomboi dan cuek, ia masih memahami tentang adab dan akhlak.


"Emang lo mau kabur gitu Pi?" tanya Jojo.


"Hemmm...."


"Kenapa lo? Pasti karena dimarahin Abah ya gara-gara lo mukulin anak orang lagi," tukas Dimas.


"Eee... Enak aja gue mukulin anak orang juga karena ada alasannya tau... karena anak itu mau nyolong si Jago," kilah Opi.


"Terus lo mau nginep di mana Pi?" tanya Arya. 


Opi mengedikkan bahunya. "Tau deh..."


"Lo nginep di rumah gue aja, Pi," saran Bayu.


"Emangnya nanti ga dimarahin sama bokap nyokap lo?" tanya Opi.


"Enggak kayaknya sih... paling nanti kita dikawinin. Aseeek..." gurau Bayu.


"Huuuuu.... Itu sih maunya lo Yu..." sorak teman yang lainnya.


"Eh gimana kalau kita kemping aja," usul Jojo.


"Mau kemping di mana coba?"


"Di gunung santri, keramat."


"Wadiadaw ogah ah gue mah... takut digondol wewe.... Hiiiiii.... takut."


Begitu obrolan Opi bersama para sahabat yang semuanya adalah laki-laki saat jam istirahat sekolah. Selebihnya ia menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca buku, tapi untuk sekedar memejamkan mata lalu tertidur karena tak kuasa menahan kantuk akibat tak tidur semalaman.


Namun tekad Opi telah bulat. Rencananya untuk tak pulang ke rumah harus tetap berjalan. Minimal selama dua hari ia tak ingin melihat rumah... melihat Teh Mimin... dan melihat... Dia.


Dan di sinilah ia sekarang. Di sebuah halte yang sudah tak berfungsi sebagai halte. Akibat pemerintah setempat dahulu telah merombak jalur lintas bus sehingga tak melewati tempat ini.


Rasa kantuk yang menggelayut berat memaksa kedua kelopak matanya untuk terpejam. Tanpa ia sadari ada tiga orang pria yang juga berada di halte itu sedari tadi sedang memperhatikan dirinya.


Opi tersadar bangun ketika tas sekolah yang semula berada di pangkuannya terjatuh. Dan ia menatap ngeri ketiga pria dengan wajah sangar yang berada di dekatnya. Tenang Opi. Keep Calm. Batinnya menenangkan diri.


Hati Opi merasa lega ketika netranya menangkap bayangan sebuah angkot yang mendekat. Ia buru-buru berdiri lalu melambaikan tangan ke bawah sebagai tanda menyetop angkot. Angkot pun berhenti dan ia pun naik. Tak disangka ketiga pria itu pun turut naik ke dalam angkot yang ditumpangi Opi. Dan celakanya dalam angkot itu hanya ada dirinya dan ketiga pria dengan raut wajah sangar.


Opi mencoba bersikap setenang mungkin dan bersikap pura-pura tak takut serta tetap waspada. Kendatipun mempunyai basic juara pencak silat pada PORCAM namun tetap terselip rasa was-was di hatinya sebab ketiga pria sangar itu memiliki postur tubuh yang tinggi besar melebihi postur tubuhnya.


“Stop pak... Kiri,” titah Opi kepada supir angkot.


Angkot pun menepi lalu berhenti. Opi turun dan membayar ongkosnya. Ketiga pria itu pun turut turun. Merasa ini tidak beres, ia memilih untuk berlari sekuat tenaga. Dan ketiga pria itu pun berlari mengejarnya.


Karena beban pikiran yang menjejali, membuat Opi tak dapat berkonsentrasi. Malah berlari menuju tempat gelap, sepi dan sunyi.


“Mau ngapain lo!!” hardik Opi.


“Malam-malam ketemu cewek manis... Asyik nih,” ucap salah seorang dari ketiga pria sangar itu.


“Jangan berani macam-macam sama gue atau gue hajar lo!!” ancam Opi.


“Wah gadis kecil cantik ini garang rupanya... Kita suka yang garang ya,” kata seorang yang berkulit paling hitam legam di antara mereka.


“Yang garang lebih asyikkk," sahut Pria bertato di seluruh lengannya.


“Hahahahaha.... “ ketiga pria itu tertawa menakutkan.


Salah seorang dari mereka hendak menyergap Opi namun dengan tempaan ilmu bela diri yang ia pelajari sejak kecil dari gurunya yaitu Rizal. Ia berhasil mendaratkan sebuah tendangan sabit yang mampu melumpuhkan dan membuat lawan terjatuh.


“Ckckckck... Gadis ini luar biasa garang ternyata. Ayo kita sikat aja!!”


Pria yang tadi terjatuh akibat tendangan Opi bangun lalu berdiri dan bersama kedua temannya maju menyerangnya.


Sempat terjadi perlawanan sengit dari Opi. Sekuat tenaga ia mengeluarkan segala jurus yang pernah dipelajarinya. Namun kekuatan mereka bertiga yang bermain keroyokan membuatnya tak dapat mengimbangi lalu akhirnya jatuh kalah.


“Hahahaha... Kalah juga kan kamu!!”


“Ayo kita sikat!!”

__ADS_1


“Jangan...!! Saya mohon jangan apa-apakan saya!!” Opi berusaha memohon semoga ketiga pria itu menggugurkan niat buruknya terhadap Opi.


“Hahahaha... Tadi garang sekarang lembek," kata Pria berkulit hitam legam.


“Jangan... Huuu... Huuu...” tangis Opi mengiba namun tak dihiraukan oleh ketiga pria sangar itu. Dan ketiganya sudah bersiap menangkap Opi.


Dan...


“Lepaskan dia!!! “ Suara seorang pria mengejutkan ketiganya.


.


.


.


Siapakah yang menolong Opi???


.


.


.


.



 


Ini visual Fahri ya.



Fahri manis kan?



 


Ini Opi yang tomboi.



Opi manis juga kan.


.


.


.


Kenapa sih visualnya orang indo bkn artis korea atau artis luar kaya novel novel lainnya. Karena agar lebih masuk ke ceritanya. Ini kan ceritanya di Indonesia. Dan mereka tokoh di novel ini asli orang Indonesia. Jadi menurut aku yah ga cocok aja kalau visualnya orang luar.


Tapi kalau tidak suka, silakan visualkan sesuai versi masing-masing ya.


Btw aku mau say thanks to sahabat penulis aku yang kerap membantu.




Ka Aricha... terima kasih sudah membuatkan covernya dan selalu memberikan votenya buatku setiap pekan karena dia sedang libur menulis. Semoga sehat yah ka, dan menulis lagi.




Ka Ayu (Ayaya) ... terima kasih untuk visual Dewa dan Mimin. Terima kasih juga dukungannya.




Ka Ros... terima kasih untuk visual Fahri dan Opi. Terima kasih juga dukungannya serta sharing soal PUEBI nya.




Ka Najwa Aini... terima kasih untuk sharing dan dukungannya. Aku pernah bertanya bedanya Anta dan antum yah ka.



__ADS_1


Juga sahabat penulis yang lainnya.


Love U all.


__ADS_2