Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Perdebatan


__ADS_3

Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya


Jika kami berpesta, hening akan terpecah


Aku, dia dan mereka memang gila, memang beda


Tak perlu berpura-pura, memang begini adanya


Dan kami di sini


Akan terus bernyanyi


Dan jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya


Musik akan menghentak, anda akan tersentak


Dan kami tahu engkau bosan dijejali rasa yang sama


Kami adalah kamu, muda, beda dan berbahaya


(Jika Kami Bersama. SID)


*****


Kedua pria tampan kakak beradik itu berjalan beriringan sepanjang koridor Rumah Sakit. Hampir saja terjadi perkelahian bahkan jotos-jotosan sebab perdebatan di antara mereka, jika saja Abah dan Mami tak segera datang melerai keduanya. Mami yang merasa geram lalu mengusir kedua pria tampan itu dikarenakan telah menciptakan keributan di dalam ruangan bahkan di depan putri kesayangannya yang tengah terbaring lemah.


Dewa mengayun cepat langkahnya mengimbangi langkah Deka yang tergesa. Dewa menautkan erat lengan kanannya ke lengan kiri kakaknya itu seolah tak mau melepaskan. Maklum saja beberapa hari ini telah bersusah payah mencari keberadaan kakaknya itu. Bahkan hampir saja, mungkin dua atau tiga jam lagi ia sudah terbang ke Bali guna mencari kakaknya itu. Begitu rencananya semula.


"Lepasin tangan lo! Malu dilihat orang!" hardik Deka sambil berusaha melepaskan tangannya dari tautan adiknya itu.


"No no no. Gue ga mau ambil resiko, nanti lo kabur lagi!" tukas Dewa.


Deka berdecak. "Ck... Tuh lihat orang-orang ngeliatin kita," bisiknya tepat di telinga adiknya itu dan tanpa menghentikan langkahnya.


"Biarin aja sih, ga usah pedulikan orang lain! Lo ga tau aja kepala gue hampir meledak gara-gara nyari lo!" sahut Dewa tanpa menoleh ke arah Deka. Tatapannya lurus ke depan ke arah pintu keluar yang beberapa langkah lagi akan dilewati keduanya.


"Memangnya gue kakek tua jompo yang harus dituntun kayak gini," sebal Deka.


"Bukankah abang adik itu harus selalu bergandengan tangan, hidup akur, rukun, bersatu hati, berseia dan bersekata," sahut Dewa yang justru semakin mengeratkan tautan lengannya.


Dan kini keduanya telah melewati pintu keluar. Mereka melangkah menuju tempat parkir mobil. Dewa melepaskan tautan lengannya ketika langkah mereka hampir sampai ke tempat mobil warna putih milik Deka terparkir.


"Bang, gue mohon lo pulang. Selesaikan urusan lo sama Clara," pinta Dewa persis seperti yang ia ucapkan tadi di dalam ruangan kamar inap tempat Mimin dirawat.


"Gue udah bilang...BUKAN GUE YANG HARUS TANGGUNG JAWAB!!!" salak Deka. Reaksinya ini sama seperti saat menjawab permintaan Dewa di depan Mimin di ruang inap tempat Mimin dirawat.


"Lalu... GUE YANG HARUS TANGGUNG JAWAB, GITU?!" geram Dewa.


"Sumpah gue baru sekali itu berhubungan dengan Clara! Dan itu diluar kendali gue. Gue masih waras. Gue ga mungkin nidurin pacar adik gue sendiri dengan sengaja!" ungkap Deka lantang.


Dewa tak terkejut mendengar pengakuan Deka, sebab sebelumnya ia pernah membaca sebuah surat tulisan tangan Deka yang isinya secara garis besar menerangkan seperti yang diungkapkan kakaknya itu barusan.

__ADS_1


"Lo kan pacarnya Clara, udah lama juga lo pacaran sama dia. Apa mungkin...." tukas Deka meski ragu.


"Enggak mungkin!" potong Dewa sebelum kakaknya itu menuntaskan tuduhan kepada dirinya.


"Gue ga pernah sekalipun melakukannya, dengan Clara ataupun cewek lainnya," sanggah Dewa.


"Gue bukan cowok brengsek kayak Abang yang dengan mudahnya celup sana celup sini. Gue masih perjaka ting ting. Gue hanya akan melakukannya dengan wanita yang gue cintai dan gue halali," tegas Dewa.


"Justru itu karena gue udah expert soal wanita. Gue yakin Clara sudah hamil saat berhubungan sama gue. Gue merasa dijebak," tukas Deka.


"Dijebak?? Jebakan Batman?? Atau... jebakan enak maksud lo?!" cibir Dewa.


Deka tak menggubris cibiran Dewa dan memilih melangkah cepat menuju mobil yang tinggal lima langkah lagi di depannya. Kemudian Deka membuka pintu mobil dan duduk di jok depan di belakang kemudi. Setelahnya, ia menutup pintu mobil cukup keras. Tanpa Deka sadari, Dewa juga mengikutinya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan bersebelahan dengan Deka.


"Loh, lo mau ngapain di sini??" tanya Deka begitu menyadari adiknya itu telah duduk manis di sebelahnya.


"Lah, obrolan kita kan belum tuntas, belum ada titik temu," sahut Dewa.


"Harus berapa kali gue bilang, kalau gue itu...."


"Please, Bang. Jangan mempersulit urusan ini," potong Dewa cepat.


"Kalau lo memang meyakini benih yang dikandung Clara itu bukan anak lo, lo bisa tes DNA untuk membuktikannya. Gue akan bantu lo, Bang. Gue akan bantu lo ngomong sama bokapnya Clara. Atau gue akan temenin lo cari cowok yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan Clara. Gue akan bantu lo." Kedua pria tampan kakak beradik itu saling bertatapan.


"Yang penting lo pulang dulu, selesaikan urusan lo sama Clara," lanjut Dewa.


"Pria sejati adalah pria yang bertanggung jawab dan tak melarikan diri dari masalah yang menimpanya. Terlahir sebagai laki-laki itu masalah kelahiran. Jadi pria sejati itu keputusan," sahut Dewa seraya menatap kakak tampannya itu.


Jawaban Deka membuat Dewa mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya "Alhamdulillah," ucapnya penuh rasa syukur.


"Tapi gue harus ke kantor dulu, menyelesaikan pekerjaan," sahut Deka. Ia mulai menyalakan mesin mobil lalu melajukannya keluar dari area parkir Rumah Sakit.


Mobil yang dikendarai Deka sudah jauh meninggalkan area Rumah Sakit, dan mulai menyusuri jalan raya.


"Nanti sore bisa pulang kan Bang, bareng gue?" tanya Dewa menoleh pada Deka yang tengah fokus menyetir.


"Tergantung... kalau gue dapat izin," jawab Deka tanpa menoleh.


"Usahakan Bang."


"Nanti Sabtu aja sih nunggu gue libur."


"Ga bisa Bang. Kepulangan Abang sangat berarti untuk masa depan gue," sahut Dewa menatap Deka yang terus fokus menyetir.


Deka melirik sekilas ke arah Dewa lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. "Maksudnya??"


"Maksudnya Abang harus pulang sore ini, please," mohon Dewa.


"Diusahakan," jawab Deka singkat.


Selanjutnya keheningan yang tercipta di dalam mobil itu. Hanya sejenak. Hingga akhirnya Deka mengingat kembali momen pertemuan dengan adiknya itu di ruang rawat inap Jasmin, wanita pujaannya. Menghadirkan sebuah tanya yang ingin dilontarkan .

__ADS_1


"Tadi, kamu nengokin Jasmin juga?" tanya Deka penasaran. Meskipun ia tahu pasti, jawaban dari pertanyaannya itu. Tentu saja adiknya itu sedang menengok Mimin, sebab Dewa pasti bukanlah tenaga kesehatan yang kehadirannya di sana adalah untuk memeriksa kondisi pasien.


Terlebih, Deka sebelumnya pernah membuntuti Dewa dan mengetahui tempat tinggal Dewa bersebelahan dengan Mimin yaitu di kontrakan milik ayah Mimin.


"Iya," jawab Dewa singkat.


"Apa benar Jasmin sudah menikah?" Deka yang belum seratus persen mempercayai pengakuan Mimin tentang statusnya yang katanya telah menikah, merasa mendapat celah untuk mengorek informasi tersebut dari Dewa yang sepengetahuannya adalah bertetangga dengan Mimin.


"Iya. Makanya gue mohon sama Bang Deka untuk segera menyelesaikan urusan Abang dengan Clara. Agar masalah kalian berdua itu ga mengganggu hubungan pernikahan gue," terang Dewa.


"Maksudnya?"


"Gue udah nikah Bang."


"Hah" Deka pura-pura terkejut mendengar pengakuan adiknya itu. Padahal ia pernah mendengar kabar tentang Dewa yang sudah menikah dari Samsul teman adiknya itu saat di Baretos Cafe.  Meskipun ia belum tahu siapa wanita yang telah dinikahi oleh Dewa.


"Kamu menikah sama siapa?" tanyanya penasaran.


"Sama ... Jasmina Zahra."


"Apa?!"


"Awas Bang...!!" pekik Dewa.


Ciiit...


Jawaban Dewa yang tak pernah disangka dan diduga memecah konsentrasi Deka dalam menyetir. Hampir saja menubruk mobil yang berhenti di depannya karena lampu lalu lintas yang menyala merah.


"Hati-hati Bang. Gue ga mau istri gue jadi janda!" sewot Dewa.


"Ka-kamu suaminya Jasmin?"


"Iya."


"Bagaimana bisa?"


"Bisa lah. Itu yang namanya jodoh. Laki-laki baik untuk wanita baik-baik," ujar Dewa bangga.


.


.


.


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.


Terima kasih banyak untuk yang masih menunggu cerita ini. Maaf karena sangat lama menunggu.


Tiga hari setelah HIATUS, ibuku meninggal dunia.


Ini belum 40 hari kepergiannya. Perasaan hati saya yang sedang tak baik ini jujur mengganggu mood saya untuk menulis. Tapi semoga saya masih bisa menulis.

__ADS_1


Terima kasih banyak dukungannya. Terima kasih telah membaca karya ini. ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2