
Dua tahun kemudian
Banyak hal yang telah terjadi selama dua tahun ini. Tentang Hana dan Haqi yang menikah, lima bulan setelah pernikahan Mimin dan Dewa. Dan kini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Tentang Rahma yang kini tengah hamil muda anak kedua. Tentang Sol yang telah menikah dengan Mida, tiga bulan yang lalu. Dan seminggu berselang, Jejed pun menikah dengan Mila.
Tentang Fahri yang mendapatkan program beasiswa S-2 dari Kemenag dan kini masih menempuh pendidikannya di Kairo, Mesir. Awalnya Fahri sempat ragu. Ia ingin membatalkan beasiswa tersebut karena khawatir dengan perekonomian keluarganya, mengingat ia adalah tulang punggung dalam keluarga. Namun, berkat dukungan Abah yang berjanji akan menanggung perekonomian keluarganya, juga Dewa yang meminta bantuan papahnya untuk menanggung biaya hidup Fahri selama menempuh pendidikan di Kairo, maka Fahri pun membulatkan tekadnya untuk mengambil beasiswa tersebut.
Sementara Opi kini telah menjadi mahasiswi semester empat jurusan arsitektur di universitas negeri ternama di Jakarta. Menjadi arsitek adalah cita-cita Opi yang sejak kecil hobi menggambar dan sangat menyukai pelajaran matematika. Dan ia bahagia dan juga bangga karena bisa diterima di universitas ternama seperti impiannya.
Tak ada hal signifikan yang terjadi dalam pernikahan Mimin dan Dewa selain soal pekerjaan. Setelah menikah, Dewa tak lagi bekerja di bengkel Haji Hamid. Ia membuka usaha distro bertajuk D&M clothing dan sesekali masih mengamen di Baretos Cafe meski hanya sebagai penyaluran hobi. Sementara Mimin memutuskan untuk berhenti bekerja saat setahun usia pernikahannya.
Rumah tangga Mimin dan Dewa selalu harmonis dan penuh cinta. Tidak pernah terjadi keributan dan permasalahan yang berarti. Hanya sekedar percekcokan kecil sewajarnya selayaknya pasangan suami istri lainnya.
Permasalahan yang dihadapi mereka adalah tentang Mimin yang tak kunjung hamil di usia dua tahun pernikahan mereka. Sebenarnya Dewa tak mempermasalahkan hal itu. Seandainya mereka ditakdirkan untuk tak memiliki anak sekali pun, Dewa tak mempermasalahkannya. Baginya, bisa menjalani hidup bersama dengan Mimin saja sudah membuatnya sangat bahagia.
Ada seseorang lagi yang hidupnya tak banyak berubah, dialah Deka. Ia masih betah dengan kesendiriannya. Kendatipun karirnya semakin cemerlang, namun kehidupan asmaranya tak berbanding lurus dengan kesuksesan karirnya.
"Neng, es krimnya mau rasa apa? Rasa coklat, rasa susu atau rasa yang terdalam?" kelakar Dewa sembari memilih es krim dari freezer es krim di Betamart.
"Rasa cinta berbalut rindu, ada??" Mimin balas berkelakar seraya mengulas sebuah senyum kepada suami tampannya itu.
"Adanya rasa cintaku padamu yang tak pernah ada habisnya." Dewa menowel dagu Mimin.
"Gombal." Mimin mencebikkan bibirnya.
"Tau enggak, BMG (Badan Meteorologi Geofisika) akan berubah nama menjadi OMG setelah melihat paras cantik Neng Mina, istrinya Aa Dewa," kelakar Dewa seraya mencubit mesra pipi kemerah-merahan Mimin.
"Udah cepetan, es-nya yang mana," putus Mimin yang merasa jengah karena beberapa pengunjung memperhatikan keuwuan mereka.
"Gimana kalau untuk Neng yang rasa PISYANG, dan untuk Aa yang rasa SYUSYU," seloroh Dewa dengan menekan kata pisang dan susu, serta mengganti huruf 'S' dengan 'Syin'. Ia berucap sambil menaik-turunkan alisnya.
Baru saja Mimin akan menyahut selorohan mesum Dewa, ketika sesaat kemudian seseorang yang berdiri di samping Mimin yang juga tengah memilih es krim di freezer yang lainnya, memanggil namanya. "Mimin 'kan?!" sapa wanita itu.
Mimin menolehkan kepalanya kepada seseorang yang menyapanya tadi.
"Mimin 'kan?!" ulang wanita itu lagi.
"Iya, betul. Kamu...." Mimin berusaha mengingat wanita itu. "Kamu Kokom ya?" lontarnya setelah berhasil mengingat wanita itu.
"Iya, saya Kokom teman waktu SMP dulu. Mimin gimana kabarnya?" Lalu, keduanya bersalaman dan bercipika-cipiki.
"Alhamdulilah sehat. Kokom sendiri gimana kabarnya?" balas Mimin.
"Alhamdulilah sehat juga." Wanita bernama Kokom itu melirik Dewa.
"Min, itu suami kamu?" tanya Kokom dengan berbisik di telinga Mimin.
Mimin mengangguk. "Iya."
"Kasep e sih (gantengnya sih)," sahut Kokom.
"Mak arep sing iki ya es e," (Mak, mau yang ini ya es-nya) kata seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun sembari menarik baju Kokom.
__ADS_1
"Wih aje sing iku geh, larang iku mah. Sing telungewu bae tukune!" (Wih, jangan yang itu dong, mahal itu mah. Yang tiga ribuan aja belinya!) sahut Kokom kepada anak kecil itu.
"Anakmu, Kom?" tanya Mimin.
"Iya, Min ... anak saya," jawab Kokom sembari mengambil es pilihan anaknya dan mengembalikannya ke dalam freezer. "Aje sing iki!" (Jangan yang ini).
"Kom, gak apa-apa, kasih aja nanti aku yang bayar." Mimin mengambil kembali es krim merek 'Mangum' dari tangan Kokom lalu memberikannya pada anak itu.
"A tolong bayarin es krim ini untuk anak temen aku," titah Mimin kepada Dewa seraya menambahkan tiga es krim lagi untuk anak itu.
"Siap," sahut Dewa lalu beranjak menuju kasir.
"Min, ngerepotin. Makasih loh," ujar Kokom.
"Iya, gak apa-apa." Mimin mengurai sebuah senyuman.
"Ngomong-ngomong Mimin udah punya anak berapa?" tanya Kokom.
Deg...
Sejujurnya itu adalah pertanyaan yang paling tak disukainya.
"Emm, belum." Mimin tersenyum kaku.
"Belum? Wah, kalau saya anaknya udah tiga, Min."
"Oya. Tadi itu anak yang keberapa?" tanya Mimin.
"Tadi yang kecil. Yang pertama udah kelas enam SD. Yang kedua udah kelas tiga SD. Yang tadi yang kecil, umurnya lima tahun," terang Kokom.
"Saya 'kan cuma tamat SMP, Min," ujar Kokom, seolah mengetahui dengan apa yang dipikirkan Mimin. "Saya juga hamil duluan," bisiknya di telinga Mimin.
"Oooh." Mimin mangut-mangut.
"Kalau Mimin udah berapa lama menikahnya?"
"Udah dua tahun," jawab Mimin lugas.
"Wah, sayang banget ya, Mimin cantik, suaminya juga ganteng. Kalau punya anak pasti cantik-canyik dan ganteng nih," lontar Kokom.
"Makasih, Kom. Doakan aja ya," timpal Mimin dengan tersenyum.
"Amin. Semoga Mimin cepat punya anak ya."
"Amin," ucap Mimin mengamini doa.
Sementara dari meja kasir, Dewa memperhatikan istrinya itu. Hatinya turut mencelos jika ada yang bertanya soal anak. Bukan karena ia begitu menginginkan anak. Akan tetapi karena tak kuasa melihat gurat kesedihan di raut wajah Mimin jika membahas soal anak.
*****
Malam harinya Mimin dan Dewa tengah menonton televisi bersama. Mimin merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Kepalanya bertopang pada paha Dewa yang ia jadikan sebagai bantal.
__ADS_1
Mereka kini tinggal di rumah milik Deka. Rumah yang dulu ditinggali Deka saat bekerja di kota ini. Di tahun pertama pernikahan, mereka tinggal di pondok mertua indah bersama Abah dan Mami. Pada tahun kedua, mereka memutuskan pindah ke rumah ini berbarengan dengan keputusan Mimin untuk berhenti bekerja. Dengan harapan semoga di tempat tinggal yang baru, mereka bisa segera mendapatkan momongan.
Awalnya Mami keberatan jika Mimin dan Dewa pindah tempat tinggal, karena rumah akan sepi nantinya. Sebab Opi juga tengah menempuh pendidikan S-1 di Jakarta. Namun dengan bijak Abah memberikan pengertian kepada Mami.
"Suami merupakan imam dan pemimpin bagi wanita yang telah menikah. Istri salihah adalah ia yang mengikuti perkataan suaminya. Lagi pula biarkan si Teteh tetirah*, siapa tahu kalau pindah Teteh bisa segera hamil. Mami, ga merasa apa kalau Teteh sering terlihat sedih karena belum juga hamil," tutur Abah bijak.
"A..."
"Hemmm." Dewa mengusap kepala Mimin yang berada di pangkuannya. Membelai lembut rambut hitam bak mayang terurai itu.
"Bagaimana jika seandainya aku ga hamil juga?" Mimin menatap Dewa dari posisinya rebahan.
"Enggak bagaimana-bagaimana lah," sahut Dewa datar. Ia masih mengelus-elus kepala Mimin.
"Terus?" Mimin tak puas dengan jawaban suaminya.
Dewa menghela napas berat. Sesungguhnya pertanyaan ini sering kali dilontarkan Mimin dan jujur ia tak menyukai jika Mimin kembali membahas soal itu. Karena ujung-ujungnya istrinya itu akan membahas soal poligami. Namun jika tak dijawab, istrinya itu akan merajuk.
Begitulah wanita, dijawab ujung-ujungnya salah, gak dijawab makin salah. Begitu pendapat Dewa tentang wanita, termasuk istrinya.
"Neng gak usah mikirin itu. Semakin Neng pikirkan, Neng akan semakin stres dan malah semakin sulit untuk kita mendapatkan anak. Santai saja, ga usah dipikirin," ujar Dewa.
"Aa gak mau kaw...."
"Enggak!" potong Dewa tegas. Ia tahu pasti Mimin akan mengatakan 'Aa gak mau kawin lagi?'
"Neng, dengerin Aa ya! Satu ... jangan pernah berpikir Aa akan kawin lagi lah atau apa lah. Cintaku dan semua rasaku itu sudah habis untuk kamu, gak tersisa untuk orang lain, jadi Aa ga mungkin kawin lagi, TITIK!!
Dua ... kalau kita memang ditakdirkan untuk gak memiliki anak, ya sudah ga papa. Aa tetap bahagia walau ga punya anak, yang penting bisa menjalani hidup berdua sama Neng Mina, TITIK!!
Ketiga ... please jangan bahas masalah ini. Daripada kita membahas masalah ini lebih baik kita banyak-banyak berikhtiar!"
Dewa langsung saja mengangkat kepala Mimin yang tengah berada di pangkuan pahanya. Lalu ia berdiri dan membopong tubuh Mimin menuju kamar.
"Ayo kita berikhtiar sekarang!" seru Dewa.
"Ee, nanti dulu A, drakornya belum selesai," protes Mimin sembari mengguncangkan kakinya. "Turunin ih!"
Dewa tak menghiraukan protes yang dilayangkan Mimin. Yang ada di pikirannya hanya satu, berikhtiar sebanyak-banyaknya.
Lihat saja berapa ronde nantinya. Gumamnya sambil tersenyum menyeringai.
*****
*tetirah \= pergi ke tempat lain dan tinggal sementara waktu (untuk memulihkan kesehatan dsb)
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️❤️❤️