
Sofia Adriana gadis remaja yang akrab dipanggil Opi, siswi kelas XII di salah satu SMA favorit di kota ini sudah berdiri di depan bengkel tempat Dewa bekerja. Masih mengenakan seragam putih abu-abu tanpa kerudung karena kerudungnya sudah ia simpan di dalam tas.
Ini bukan kali pertama Opi datang ke bengkel tempat Dewa bekerja. Karena kebetulan tempat bimbel Opi yang berdekatan dengan bengkel, ia kerap kali datang menemui Dewa sepulang mengikuti bimbel untuk kemudian pulang bersama berboncengan menggunakan motor Opi.
Saat awal kali Opi datang ke bengkel, Dewa terkejut karena merasa belum pernah memberitahu ia bekerja di mana. "Opi tahu dari Abah. Kata Abah, ka Dewa kerja di bengkel Haji Hamid. Kebetulan deketan sama tempat bimbel Opi. Jadi Opi datang ke sini aja. Mau pulang bareng sama ka Dewa," tutur Opi kala itu.
Bahkan terkadang meski tidak bimbel pun, Opi datang menjemput Dewa. Tentunya dengan melempar beberapa alasan yang masuk akal agar tidak terlalu kentara begitu menggebunya Opi pada Dewa.
“Kebetulan habis kerja kelompok di Rumah Memei. Tuh, rumahnya di belakang bengkel." Atau "Kebetulan habis nganterin orderan katering pelanggan Mami dekat sini." Begitu beberapa alasan Opi.
"Ka Dewa!" seru Opi begitu melihat Dewa berjalan beriringan dengan Mida.
"Eh, Opi. Dari tadi Pi?" tanya Dewa.
"Enggak kok... barusan," jawab Opi.
"Opi... Kenapa sih lo rajin banget jemput Dewa!" rungut Mida dengan raut wajah kesal. Karena persahabatan kedua ayah mereka, antara keluarga Haji Zaenudin dan keluarga Haji Hamid memang sudah saling mengenal.
"Ye... Suka-suka gue dong! Masalah buat Lo!" sahut Opi dengan ekspresi raut wajah sama persis dengan Mida. Raut wajah kesal.
"Mulai besok lo ga usah jemput Dewa lagi! Karena Dewa besok udah punya motor sendiri," omel Mida.
"Ih, ngapain lo ngatur gue!" sungut Opi.
"Lo masih kecil udah gretel!" geram Mida.
"Lo tuh ya...." Opi mencak-mencak dan sudah maju dua langkah mendekati Mida.
"Udah udah. Mida ... aku pulang duluan ya." Dewa berinisiatif untuk menengahi. Jika kedua gadis itu berlama-lama dalam satu garis waktu dan tempat yang sama dikhawatirkan akan terjadi percekcokan berliur yang sama gawatnya dengan pertumpahan berdarah.
Dewa menarik tangan Opi." Udah kita pulang yuk, Pi!" serunya.
"Dewa tunggu....!" seru Mida. Ia mengambil sebuah wadah kotak plastik merek terkenal yang sudah terbungkus kantong plastik Betamart dari paper bag yang ditentengnya.
"Aku bikin puding coklat buat kamu. Tadi, ramai banget customer-nya jadi ga sempat kasih ke kamu." Mida menyerahkan wadah kotak plastik merek terkenal yang berisi puding coklat buatannya. "Bawa aja sama wadahnya," imbuhnya.
"Terima kasih, Mida," ucap Dewa setelah menerima sekotak puding dari Mida lalu memasukkannya ke dalam tas miliknya.
"Sama-sama," balas Mida. Tak lupa menampilkan seulas senyum.
"Ngatain orang gretel... padahal sendirinya pun gretel," gerutu Opi.
"Eh, lo tuh ya!" Kini giliran Mida yang mencak-mencak.
"Sudah sudah. Mida aku pamit pulang ya." Dewa berpamitan sambil menggiring Opi agar menjauh dari Mida. Dua gadis itu sungguh membuat pening kepalanya.
"Pi... Lo laper ga? Gue traktir ya," ujar Dewa seraya memasang helm di kepalanya. Tadi pagi saat berangkat sekolah, Opi memang sengaja membawa dua helm karena ia sudah berencana untuk pulang bersama Dewa.
"Ka Dewa mau makan? Ayo Opi temenin. Tapi Opi bayar sendiri aja, ga usah ditraktir," ujar Opi.
Dewa tersenyum sambil mengacak rambut puncak kepala Opi. "Gua ga se-kere itu Pi. Nih, barusan gue gajian," ucapnya.
Opi tersipu merona. Perasaan gede rasa alias ge-er menggelayut di relung hatinya. Sumpah demi apa yang diacak rambut aku tapi yang berantakan hati aku. Ea ea. Gumam Opi dalam hati.
__ADS_1
"Mau makan apa, Pi?" tanya Dewa. Opi bergeming. Ia masih meresapi keterkejutannya akibat perlakuan manis Dewa. Sangat manis.
"Pi... Opi...!"seru Dewa.
"Eee... I-iya. Tadi Kakak ngomong apa?" tanya Opi gelagapan. Pastinya tadi ia tidak menyimak apa yang diucapkan Dewa karena sedang dalam mode ge-er.
"Enaknya kita makan apa ya?" tanya Dewa lagi.
"Ee... Emmm... Mi ayam aja yuk," jawab Opi.
"Ok. Mi ayam yang di mana?" tanya Dewa seraya memakaikan helm di kepala Opi. Membuat hati Opi yang terlanjur berantakan menjadi semakin porak poranda. So sweet.
"Eee... Emmm... Di deket sini aja. Ada yang enak di samping tempat bimbel aku. Mi ayam Mas Bakar. " Semburat rona merah menghias wajah Opi. Tanpa Dewa menyadarinya. Ah, pria itu memang tidak peka kalau urusan wanita. Selain Mimin tentunya.
"Sip. Ayo naik Pi."
Opi pun naik dan mendaratkan bokongnya di jok belakang motor. Lalu Dewa melajukan motornya membonceng Opi.
Mereka sudah duduk manis di kedai mi ayam dan bakso Mas Bakar. Di atas meja sudah terhidangkan dua mangkok mie ayam baso dan dua teh dalam botol beserta dua gelas es batu. Mie ayam ditambah bakso telor pilihan Opi dan mi ayam bakso urat pilihan Dewa.
Mereka mulai menikmati lezatnya mie ayam dan bakso di kedai yang tak pernah sepi pengunjung ini. Bahkan mereka sempat tak kebagian tempat duduk, dan harus menunggu pengunjung lain selesai menikmati mi ayam bakso di kedai ini.
"Enak ya mi ayamnya. Pantesan rame," ucap Dewa sambil menikmati suapan mie.
"Ho oh. Di sini ga pernah sepi, selalu rame," ujar Opi.
"Pi, gue boleh nanya ga?" tanya Dewa.
"Opi...!"
"Emmm... Boleh dong, masa ga boleh," jawab Opi. Ia menyesap satu sedotan es teh dalam botol untuk mengurangi rasa gugup yang seketika timbul. "Mau nanya apa?" sambungnya.
"Lo sama Mimin itu benaran kakak beradik? Benar saudara kandung?" tanya Dewa.
Opi menghela nafas panjang. Dikira mau nanya apa. Batinnya.
"Kenapa Ka Dewa nanya begitu? Karena kami gak mirip ya? Karena Teh Mimin lebih cantik dari Opi," tukas Opi.
"Eh, bukan begi...." Dewa hendak menjelaskan maksud pertanyaannya. Namun keburu Opi memotong ucapannya.
"Saudara sebapak tapi lain ibu."
Dewa tercengang mengetahui fakta yang baru diketahuinya. "Jadi Abah Haji poligami? Punya istri dua?"
"Eee, bukan begitu. Sembarangan kalau ngomong." Opi mendorong pelan bahu Dewa.
"Ibunya Teh Mimin sudah meninggal sejak Teh Mimin masih bayi." Opi menyuapkan sesendok mi ke dalam mulutnya. "Terus Abah nikah sama Mami," sambungnya.
Dewa meneguk es teh dalam botol langsung dari gelas tanpa sedotan. Glek... Glek... Glek...
"Pantesan Mami sama Abah Haji kelihatan beda jauh usianya," kata Dewa.
"Waktu nikah sama Abah... Mami masih gadis. Sedangkan Abah sudah punya anak tiga," tutur Opi.
__ADS_1
"Hah, Abah haji sudah punya anak tiga. Terus kemana anak-anak yang lainnya?" tanya Dewa penasaran.
Saking penasaran Dewa menghentikan aktivitas makannya sejenak. Memperhatikan Opi yang juga menjeda aktivitas makannya karena fokus bertutur.
"Kalau anak yang pertama namanya Kang Haris sekarang sudah berkeluarga, tinggalnya di kota ini juga. Dia yang meneruskan usaha Abah," tutur Opi.
"Gue belum pernah lihat Kang Haris. Berarti kakak laki-lakinya Mimin kan?"
"Iya... kakak gue juga kali," protes Opi.
"Iya maksudnya kakak laki-laki kalian berdua," ralat Dewa.
"Belakangan jarang datang ke rumah mungkin lagi sibuk."
"Terus saudara yang lainnya?"
"Katanya sih Teh Mimin punya kakak perempuan tapi sudah meninggal dari sejak bayi."
"Oooh."
"Jadi di pernikahan dengan Mami, Abah Haji punya anak satu yaitu lo?!"
"Iya."
"Oh, begitu."
Dewa melanjutkan kembali aktivitas makannya menggulung mie dengan garpu lalu memotongnya, dan kemudian menyuapkannya ke dalam mulut. Opi yang duduk di hadapan Dewa tersenyum memperhatikannya makan, tanpa Dewa menyadarinya. O,emji Ka Dewa ganteng banget sih. Batinnya.
"Tapi Mami kelihatannya menyayangi Mimin seperti anak sendiri ya... ga kelihatan seperti ibu tiri." Dewa kembali membuka obrolan setelah beberapa saat hanya fokus menikmati mie ayam bakso nan lezat.
"Katanya sih justru Mami mau menikah sama Abah karena Mami sayang banget sama Teh Mimin. Mami itu masih sepupuan sama almarhumah ibunya Teh Mimin." Bibir Opi sudah jontor karena kepedasan. Tadi ia menambahkan lima sendok sambal ke dalam kuah mie ayam bakso.
"Oh, begitu." Dewa mangut-mangut sambil mengunyah bakso di dalam mulutnya.
"Mimin sudah punya pacar belum Pi?" tanya Dewa kemudian sambil meneguk minuman untuk melegakan kerongkongan yang terasa panas karena sesendok sambal yang ia tambahkan ke dalam semangkok mi ayam bakso yang sedang ia santap.
"Udah."
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Jawaban Opi sukses membuat Dewa tersedak sampai batuk-batuk.
.
.
.
.
Untuk yang baru baca karyaku. Sambil menunggu up boleh baca karya pertamaku Suami Bayaran. 😊😊.
Jangan lupa untuk selalu Like ya. Komen selalu ditunggu. Hadiah selalu dinanti. Vote selalu diharapkan.
__ADS_1