
Jejed menepikan motornya di depan rumah sederhana di pinggiran Jakarta. Meskipun ia sudah mendengar kabar bahwa Dewa telah bertemu dengan Deka, namun ia tetap ingin menjalankan misinya. Mencari informasi tentang kehamilan Clara.
Ia mengenal Jono teman SMP-nya yang juga adalah tangan kanan Clara, kalau tidak mau disebut kacung. Jono kini telah berganti nama menjadi Jenny. Entahlah mengapa bisa seperti itu, padahal dahulu Jono adalah cowok tulen, tak tercium aroma kemayu pada dirinya.
Langkah Jejed telah sampai di depan pintu berwarna putih lalu ia mengetuknya.
Tok... Tok... Tok... Tok... Tok... Tok...
(Banyak banget tok-nya... Sengaja ngejar supaya seribu kata😂😂)
"Assalamualaikum."
"Sepada."
"Sampurasun."
"Anybody home?"
"Sillyehamnida."
Ia berkali-kali mengetuk pintu dan berteriak mengucap salam dalam berbagai macam bahasa, namun tak sekalipun terdengar sahutan dari dalam rumah. Ia mendesah kecewa seraya membalikkan tubuhnya, berniat untuk pulang.
Ia baru saja akan mengayun langkah kakinya ketika terdengar suara decit pintu terbuka disusul suara seorang wanita. "Cari siapa?"
Mendengar sahutan itu, ia segera berbalik badan. Mulutnya yang setengah terbuka menjadi bungkam seketika menatap seorang gadis yang berdiri di gawang pintu. Gadis manis dengan pipi penuh totol berwarna kemerahan, totol bekas jerawat. Sumpah demi apa, gadis itu adalah gadis berjerawat paling manis yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Begitu kesimpulan batinnya.
"Nyari siapa?"
"Nyari... perhatian kamu."
Jawaban Jejed sukses membuat gadis dengan pipi berjerawat itu tersenyum tersipu. Menyadari kesuksesannya yang telah membuat gadis itu tersipu, ia melemparkan senyum terbaiknya. Senyum termanis yang ia miliki hingga menampilkan lesung pipi yang membuat ia semakin menawan.
Jika ditilik lebih teliti sesungguhnya ada tetes-tetes ketampanan dalam wajah Jejed. Hanya sayang, banyak jerawat hadir di sana. Jerawat oh jerawat kamu sungguh keparat, hilang satu tumbuh empat, hilang di jidat tumbuh di pan*tat. Begitu rasa kesal Jejed terhadap jerawatnya.
"Saya cari Jono, ada?" tanyanya kemudian.
"Oh, Om Jono. Ada... silakan masuk," jawab gadis itu.
"Makasih," ucap Jejed seraya melemparkan senyum.
"Silakan duduk. Sebentar saya panggilkan Om Jono dulu." Gadis itu berbalik badan dan hendak masuk ke dalam rumah untuk memanggil seseorang yang dicari Jejed.
"Tunggu Nona!" seru Jejed.
"Ya," sahut gadis itu berbalik badan dan menatap Jejed.
"Kalau boleh tau nama Nona siapa?"
"Saya Mila."
"Mila... pasti panggilannya Raisa, kan?"
Gadis bernama Mila itu menggelengkan kepalanya. "Bukan."
"Kirain panggilannya Raisa. Soalnya kamu mirip Raisa Andriana."
Mila menautkan kedua alisnya. "Masa sih?!"
"Iya. Raisa pas lagi datang bulan... jerawatan." Jejed tersenyum nyengir setelah mengucapkan kalimat itu. Berbanding terbalik dengan Mila yang justru menampilkan raut cemberut.
"Tapi sungguh nih ya, sumpah juga boleh. Kehadiran jerawatmu tidak mengurangi pesona cantikmu loh. Beneran. Sungguh. Sumpah." Jejed mengeluarkan jurus menggombal.
Mendung di wajah Mila sebab kesal dengan ucapan Jejed sebelumnya, berubah cerah kembali karena ucapan Jejed berikutnya.
__ADS_1
"Tunggu, Raisa!" Seruan Jejed menghentikan kembali langkah Mila yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Apa lagi?!"
"Aku kan belum sebutin nama aku. Namaku Bima Sakti Bambang Pamungkas." Jejed menyebutkan nama lengkapnya.
Mila mengulum senyum menahan tawa. Itu nama dua orang 'kan? Ga konsisten nih orang tuanya, jadi mereka mengidolakan siapa, Bima Sakti atau Bambang Pamungkas. Batinnya terkekeh sendiri.
"Kenapa? Bingung yah mau manggilnya apa? Namaku Bima Sakti Bambang Pamungkas... tapi panggilannya Sayang," ujar Jejed diakhiri dengan nyengir kuda.
"Ih." Mila balas nyengir kuda.
"Kalau gak mau panggil sayang, panggil Bebas aja ga papa."
"Panggil bebas gimana?"
"Jadi kamu kalau panggil aku Beb, kependekan dari Bebas. Hehehehe...."
"Idih." Mila mencebikkan bibirnya.
"Usiaku 25 tahun 11 bulan 29 hari. Zodiak Pisces. Kelebihan, bisa bikin sayang tapi gak pake ninggalin kalau udah disayang, ea ea."
Mila tersenyum meski tak lebar karena sengaja menahannya agar tak tersenyum lebar-lebar.
"Motto hidup, banyak-banyaklah menebar kebaikan kepada sesama... kalau ada manfaatnya buat kita, hehehehe....
Cita-cita waktu TK jadi polisi. Cita-cita waktu SD jadi pilot. Cita-cita waktu SMP jadi pemain bola. Cita-cita waktu SMA jadi coverboy."
"Coverboy majalah apa?"
"Majalah apa aja. Coverboy majalah Satwa juga boleh. Asal jangan jadi coverboy... buku Yasin. Belum siap soalnya. Hehehehe..."
"Terus." Mila mulia tertarik dengan kelucuan si Jejed.
"Ehem ...!!" Suara deheman seseorang menghentikan aksi jurus jitu merayu yang dilemparkan Jejed.
"Om, Mila permisi masuk dulu ya," pamit Mila pada Jejed.
"Iya, Raisa eh Mila." Jejed melemparkan senyumnya seraya mengangguk ramah.
"Eh, apa tadi... Om?! Dia panggil gue Om?!" sungut Jejed yang baru menyadari Mila memanggil dirinya "Om" ketika Mila sudah melenggang pergi meninggalkannya.
"Iya lah Om. Dia kan keponakan gue. Dia manggil gue Om... jadi ya mesti manggil lo Om juga. Lo kan temen gue," sahut Jono yang tadi berdehem dan telah hadir di hadapannya.
"Tadi ponakan lo, Jon?" Jejed menghempaskan bokongnya di sofa, meski si Tuan rumah belum mempersilakannya.
"Iya." Jono turut menghempaskan bokongnya di atas sofa di seberang Jejed.
"Manis banget ponakan lo. Cocok banget sama gue."
"Iya cocok. Sama-sama peternak jerawat."
"Haish... Biar gue jerawatan tapi gue mah beda."
"Beda gimana?"
"Beda... kayak ada manis-manisnya."
"Idih... kayak ada sepet-sepetnya baru bener. Jerawat kok numpuk gitu, kayak dosa," sahut Jono.
"Iya kayak dosa lo yang numpuk. Lagian muka tumbuh jerawat mah maklum, kalau tumbuh jerapah dan teman-temannya baru aneh."
"Hahahaha."
__ADS_1
"Jon, kok tampilan lo cowok begini sih? Udah insyaf lo?!" tanya Jejed yang menyadari perubahan Jono alias Jenny.
"Kalau di rumah gue memang jadi Jono, kalau di luar, baru gue jadi Jenny. Hihihihihi...."
"Dasar bunglon labil lo."
"Suka-suka gue. Btw lo mau ngapain ke sini?"
"Gue mau tanya tentang Clara."
"Clara??"
"Iya. Lo tau ga kalau sekarang Clara hamil?"
"Hamil??"
"Iya."
"Terus Clara maksa Dewa untuk tanggung jawab, gitu kan?"
"Iya. Lo berarti tahu kalau itu ... bukan Dewa."
*****
Setelah satu jam berbincang dengan Jono, Jejed pulang ke rumah. Hatinya puas karena telah berhasil menyelesaikan misinya, mengorek informasi tentang Clara.
Dan ada satu lagi rasa yang terselip di hatinya ketika mengingat keponakan Jono yang baru saja dikenalnya. Rasanya ia ingin menari di bawah guyuran hujan sambil menggosokkan punggung di batang pohon rindang seperti di film India. Bahagia penuh suka.
Setelah sampai rumah, Jejed meraih ponselnya untuk menghubungi Dewa. Tak menunggu lama, Dewa menjawab teleponnya.
"Assalamualaikum." Suara Dewa di ujung telepon.
"Waalaikum salam."
"Iya, Jed."
"Wa, gue udah dapat info tentang Clara. Gue baru aja menemui Jono."
"Jono??"
"Maksudnya Jenny." Ralat Jejed karena Dewa mengenal sosok bunglon itu sebagai Jenny.
"Oh ya, terus?"
"Gue udah tahu Clara hamil anak siapa."
.
.
.
.
Maafkan sedikit ya. 🙏🙏
Semoga bisa menghibur. 😊😊
Terima kasih sudah membaca karya ini. Terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️❤️❤️
Fb: Yeni Eka
IG: yeni_eka_30
__ADS_1