Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Menikah


__ADS_3


Ini visual Dewa ya versi author. Kalau ga cocok silakan visualkan dengan versi kalian masing-masing.



 


Ini visual Mimin nih. Sayang ga ada yang pake kerudung merah.



Nah ini kalau Mimin pas lagi di dalam rumah, pas ga pake kerudung. Cantik banget kan Mimin, so wajar ya Dewa klepek-klepek.


Selamat membaca 🙏🙏🙏


*****


"Kisanak... Apakah kamu bersedia menikahi Mimin malam ini??" tanya Haji Zaenudin dengan raut wajah serius.


"Sa-saya... Ta-tapi..." Dewa tergagap-gagap. Sungguh ia tidak tahu harus menjawab apa.


Pertanyaan Haji Zaenudin bagai embusan  angin surga yang membelai mesra sekujur tubuhnya. Mungkin ia pria paling beruntung sebab ditawari menikahi wanita cantik, baik, solehah. Penggambaran dari sosok bibit unggul yang sempurna.


Namun tawaran menikahi Mimin bagai soal fisika terumit yang tak mudah dijawab. Tentu saja, ia ingin menjawab "Ya" dan tak akan pernah ada keraguan di dalamnya. Tapi kenyataannya sepanjang perkenalan dengan Mimin, yang ia rasakan justru cintanya bertepuk sebelah tangan. Apakah mungkin Mimin akan menyetujui pernikahan ini? Begitu pertanyaan dalam benaknya.


"Kisanak... Abah tanya sekali lagi. Apakah kamu bersedia menikah dengan Mimin?"


"Saya rasa semua pria akan bersedia jika ditawari menikah dengan Mimin... termasuk saya. Saya pun sudah menyukai Mimin sejak awal berjumpa. Tapi... Mimin kan tidak mencintai saya, Bah," tutur Dewa.


"Kalau soal itu... tidak usah khawatir Kisanak. Abah yang akan bicara dengan Mimin," ujar Haji Zaenudin sambil menepuk bahu Dewa. "Tunggu sebentar di sini, Abah mau menemui Mimin," sambungnya.


Kemudian Haji Zaenudin pergi menuju kamar Mimin.


"Nak Dewa... pakai baju Abah dulu nih," ujar Mami seraya menyerahkan baju koko dan sarung.


Dewa menerima baju koko dan sarung dari tangan Mami. "Terima kasih, Mih," ucapnya.


"Bu... punya es batu?" tanya Sol kepada Mami.


"Ada. Oh, iya kamu pasti ingin minum ya Nak Dewa. Nanti Mami ambilkan ya," kata Mami.


"Ga usah Mih, tadi saya sudah banyak minum," tolak Dewa.


Eh, gue yang nanya malah Dewa yang ditawari minum. Beruntung banget si Dewa udah ditawari menikah sama Mimin, ditawari minum lagi. Nah, gue ngejogrog dari tadi ga ditawari apa-apa. Padahal seandainya ditawari nikah sama Opi juga gue pasti mau. Keluh Sol dalam hati.


"Saya sih Bu yang haus," ucap Sol sambil cengengesan.


"Oh, kamu haus Sol. Ambil sendiri sana. Udah jangan sungkan-sungkan ambil sendiri aja," ujar Mamih.


Ee, kalau gue malah suruh ngambil sendiri. Tadi mah si Dewa mau diambilin. Gumam Sol.


"Sekalian tolong ambilkan es batu di kulkas ya Sol! Buat ngompres luka lebam wajah Dewa," titah Mamih.


"Iya, Bu. Siap."


Beruntung nasib lo Wa. Apes nasib lo Sol. Gumam Sol dalam hati.


Saat Sol di dapur untuk mengambil minum. Ia melihat Opi yang duduk termenung di kursi meja makan dengan wajah sendu.


“Opi lo kenapa??” tanya Sol.


Opi menggelengkan kepalanya.”Gak kenapa-kenapa.”


"Kok tumben diam kalem begitu... biasanya selalu ceria. Wajah lo juga kelihatan sedang bermuram durja. Lo lagi dapet ya," gurau Sol.


Opi menyambar sebuah gelas kosong yang ada di hadapannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seolah mau melemparnya. "Diem lo! Gue timpuk nih!"


"Nah ini baru namanya Opi... Sangar!! Kabuuuuuurr..." ledek Sol sembari lari tunggang langgang.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Haji Zaenudin mengetuk pintu kamar Mimin. "Teh... Teteh... Ini Abah!" seru Abah.


Tak berselang lama, Mimin membuka pintu kamarnya.


"Hiks... Hiks... Hiks... Abah...." Mimin menghambur ke pelukan Abah masih dengan terisak.


Abah mengusap kepala putrinya. "Maafkan Abah ya... karena Abah terlambat pulang," ucapnya.


Mimin melepas pelukan. "Hiks... Hiks... Hiks... Mereka jahat, Bah... Hiks... Hiks..."


"Udah... Teteh jangan nangis." Haji Zaenudin mengusap pipi Mimin yang basah bekas air mata. "Semua sudah beres. Tadi Kisanak sudah menjelaskan semuanya kepada warga tentang kesalahpahaman ini. Mereka sudah meminta maaf sama Abah dan Kisanak," tutur Abah. Ia menghela nafas sejenak dan menjeda ucapannya. "Abah mau ngobrol sebentar sama Teteh... boleh?" sambungnya.


Mimin mengangguk. Abah membimbing Mimin untuk duduk di tepi tempat tidur. Sementara Abah duduk di kursi meja rias di hadapannya.


Abah menghela napas panjang. "Kejadian ini sebenarnya berhubungan sama Abah."


Mimin mengerutkan keningnya. "Maksud Abah? Kenapa berhubungan sama Abah?"


"Abah sudah mendengar tentang ini sejak lama. Sepertinya ini adalah bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan Abah. Ada yang mau mengkudeta Abah."


Mimin tersenyum mesem. "Memangnya Abah presiden apa.... Hihihihihi." Ia terkikih geli.


"Presiden aja punya haters. Apalagi Abah yang hanya seorang RW. Mereka mau menggulingkan Abah sebagai ketua RW."


Mimin tertawa kecil. " Hehehe... Siapa Bah orang yang mau menggulingkan Abah dari jabatan RW? Kenapa gak Abah kasih aja tuh jabatan RW. Biar Abah ga terlalu sibuk ngurusin warga. Dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sama Mamih. Lagian jadi RW juga ga ada gajinya, kan."


"Abah juga sudah berpikir seperti itu. Abah mau mundur saja jadi ketua RW, tapi hasil keputusan rapat warga malah tidak menyetujui keputusan Abah untuk mundur. Mereka mau Abah menyelesaikan jabatan ini hingga akhir periode. Kata mereka, lebih banyak yang mendukung daripada yang tidak mendukung. Katanya Abah ga boleh gentar."


Mimin tersenyum lagi. "Teteh mah mendukung aja, apa keputusan Abah. Semangat!!" ucap Mimin seraya mengangkat lengan dan mengepalkan tangan layaknya gestur orang menyemangati.


"Apakah Teteh juga mendukung keputusan Abah... yang ingin menikahkan Teteh sama Kisanak??"


Pertanyaan Abah membuat mata Mimin membeliak. "Ma-maksud Abah??"


"Teh... Mereka orang-orang yang tidak menyukai Abah akan terus mencari celah untuk menjelekkan keluarga kita. Mungkin saat ini kita selamat, Abah bisa mengatasinya. Tapi Abah tidak tahu kalau lain hari nanti. Apalagi dengan adanya kesalahpahaman ini. Mereka akan terus menggoreng cerita ini. Teteh sama Kisanak akan jadi bahan gibahan warga," tutur Abah.


"Mami juga berpikir begitu... sama dengan Abah," ujar Mami yang baru datang lalu duduk di sebelah Mimin. Rupanya Mami tadi mendengarkan obrolan antara Mimin dan Haji Zaenudin.


Mami meraih tangan Mimin dan menggenggamnya. "Tapi Teteh tidak mencintai Dewa. Teh... Mami juga dulu waktu menikah sama Abah ga ada perasaan cinta. Tapi setelah dijalani, cinta itu hadir sendiri," tutur Mami.


"Iya sampai akhirnya lahirlah si Opi, itu kan buah cinta Abah sama Mami. Sekarang malah cintanya berlebihan. Abah sedikit telat pulang aja udah diteleponin," ujar Abah.


"Aih aih... Jadi Abah teu hoyong diteleponan ku Mami, kitu?" sewot Mami. (Jadi Abah ga mau diteleponin Mami, begitu?)


"Eh, bukan begitu Mih... maksud Abah... Abah bangga bisa menaklukan hati Mami."


"Eh... meni..."


"Mami, Abah... malah berantem sih!!" tegur Mimin.


"Iya Mami nih." Mata Abah melirik Mami.


"Jadi, gimana Teh. Menurut Abah, Teteh harus menikah dengan Kisanak malam ini juga. Tadi Abah sudah bertanya sama Kisanak dan dia setuju. Abah percaya Kisanak itu anak yang baik. Kisanak juga bilang kalau dia sudah menyukai Teteh sejak awal berjumpa," tutur Abah.


Kalimat terakhir Abah melemparkan ingatannya pada saat kali pertama bertemu dengan pria menyebalkan itu.


Apa?? Dia menyukaiku sejak awal berjumpa. Sungguh bertolak belakang. Aku malah sebal dengannya sejak awal berjumpa. Gumam Mimin dalam hati.


"Jadi gimana Teh?" tanya Abah dan Mami berbarengan.


Mimin menatap keduanya bergantian. Dan mengangguk lemah. "Ya sudah... kalau itu yang terbaik menurut Abah sama Mami. Teteh setuju aja," ujarnya.


"Alhamdulillah," ucap Abah dan Mami kembali berbarengan, serempak.


"Tapi... Setelah akad nanti, Teteh ga mau tinggal serumah dulu. Teteh belum mengenalnya," ujar Mimin.


"Yang penting menikah saja dulu dan sah menurut agama. Adapun setelah menikah bagaimana, kita akan bicarakan lagi nanti," pungkas Abah.


 


*****

__ADS_1


Dewa sudah berpakaian rapi. Mengenakan baju koko warna putih dan sarung motif kotak milik Haji Zaenudin. Meski bajunya agak sedikit kekecilan, namun tidak mengurangi kadar ketampanannya. Ia duduk di hadapan Haji Zaenudin dengan raut wajah tegang. Tangannya memegang sebuah kalung emas lengkap dengan liontin inisial huruf M yang akan dijadikan sebagai mas kawin. Kalung itu adalah kalung peninggalan neneknya yang bernama Mira, yang selalu ia simpan sebagai kenang-kenangan sejak kepergian sang Nenek ke hadirat Ilahi.


Beruntung kalung itu tidak sampai terjual dalam petualangannya meninggalkan rumah dan hidup mandiri seperti saat ini. Ia merasa bersyukur karena masih bisa bekerja hingga dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Apalagi sekarang ia memiliki side job sebagai pengamen di Baretos Cafe. Kedua pekerjaan itu adalah hobinya. Dan tak disangka tak diduga, dalam hitungan detik ia akan menikahi wanita impiannya, Mimin. Wanita cantik berkerudung merah dengan kening sehalus pualam yang lecet akibat ulahnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. (Surah Ar Rahman).


“Sudah siap Kisanak?” tanya Haji Zaenudin usai Dewa selesai membaca dua kalimat syahadat.


“Insyaallah siap, Abah. Bismillah,” jawab Dewa yakin.


Setelah mengucap basmalah dan kalimat syahadat, Haji Zaenudin menjabat tangan Dewa lalu mengucapkan lafal ijab.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Syadewa Argian bin Satya Nugraha dengan anak saya yang bernama Jasmina Zahra binti Zaenudin dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Jasmin Zahra.... “


“Ulangi... salah. Bukan Jasmin tapi Jasmina, ada huruf ‘A’  nya. Jasmina Zahra,” kata Haji Zaenudin.


Dewa yang baru mengetahui nama lengkap Mimin malam ini hanya manggut-manggut.


“Ok, kita ulangi lagi. Siap, Kisanak.”


“Siap, Bah."


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Syadewa Argian bin Satya Nugraha dengan anak saya yang bernama Jasmina Zahra binti Zaenudin dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Jasmina Zahra binti Zaenudin dengan mas kawin tersebut tunai.” Dewa berhasil membaca lafal kabul dengan lancar dalam satu helaan nafas.


“Bagaimana semuanya... Apakah sah??”


“Saaaahhhhh....” ucap seluruh warga serempak.


“Alhamdulillah.”


.


.


.


.


Wah selamat ya Dewa, sah aja dulu.


Dan selamat berjuang ya Kisanak. Berjuang untuk menaklukan hati Mimin agar bisa menjadi istri yang seutuhnya. Semangat!!


"Thor up nya jangan lama-lama dong."


"Thor up nya kok dikit sih."


"Up setiap hari dong thor."


Wah terima kasih loh sudah memberikan semangat luar biasa untuk diriku ini.


Namun... Aku hanyalah author remahan remukan astor yang masih merasa kesulitan saat menulis. Perlu konsentrasi yang tinggi dalam menulis.


Saat baru mau mulai menulis, si Bocil... "Ma... Cucu."


Saat baru dapat beberapa kata, si Sulung... "Ma... makan."


Saat baru duduk lagi untuk berkonsentrasi menulis, Misua... "Kopi... Kopi.. Kopi..."


Saat malam ketika sudah selesai beraktivitas dan anak-anak sudah tidur, Misua toel toel... Oalah....


Sambil menunggu up boleh dong baca karya pertamaku Suami Bayaran. Genre romantis komedi yang dijamin seru juga. Meski tulisannya buruk belum sempat aku revisi.


Btw makasih untuk semua dukungan sahabat semuanya yang sudah Like, komen, hadiah, n vote. Terima kasih banyak. 🙏🙏🙏😘😘😘


 


 

__ADS_1


__ADS_2