
Satu tahun kemudian
"Halo anak ibu. Assalamualaikum ... udah bangun, ya." Mimin mencium gemas putranya yang hari ini usianya tepat satu tahun. Batita lucu itu terkikik kegelian karena diciumi ibunya.
"Salam sama Ayah dulu, yuk." Mimin menggendong bayi lucu itu.
"Assalamualaikum. Hai, Ayah. Syad sekarang udah umur satu tahun, loh. Ayah kapan pulang?" Mimin berbicara pada foto Dewa yang tergantung di dinding kamarnya. Hal yang selalu dilakukannya setiap hari, memperkenalkan Syad pada ayahnya meski hanya dengan sebuah foto.
"Yayayayaya." Syad yang berusia satu tahun belum bisa berbicara benar, baru bisa mengoceh saja. Setiap kali melihat foto Dewa, ia akan mrngoceh seperti itu, "yayayaya" mungkin maksudnya adalah ayah.
"Cadat...!" Opi masuk ke kamar Mimin dan merengkuh ponakannya itu dalam pelukan.
"Happy milad Cadat, barakalllah fii umrik. Mmmuach ... Mmmuach." Opi mencium bertubi-tubi keponakan kecilnya yang ia panggil Cadat.
"Mana kadonya!" todong Mimin.
"Tenang, tenang. Nanti kadonya menyusul. Hehehehe."
"Teh, Cadat cepet dimandiin sono! Daddy-nya Cadat udah datang tuh," kata Opi.
"Bang Deka udah datang? Suruh tunggu dulu aja ya, Teteh mandikan Syad dulu."
Mimin gegas membawa Syad ke kamar mandi lalu memandikannya. Usai mandi, ia mendandani Syad dengan pakaian terkeren. Tidak lupa mengoleskan minyak telon dan menaburkan bedak bayi pada tubuh serta wajahnya sampai cemong.
Hari ini Mimin akan membawa Syad ke rumah Oma Opanya. Mama dan papa mertuanya berencana akan membuat pesta ulang tahun untuk Syad. Meskipun Mimin kurang setuju soal pesta ulang tahun, tak apalah untuk kebahagiaan bersama.
Deka sedang berbincang akrab dengan Abah saat Mimin menemuinya di ruang tamu. Ia segera bangkit berdiri ketika melihat kehadiran Mimin dan keponakan yang sangat disayanginya.
"Hai, anak Daddy. Daddy kangen banget. Mmmuach ... Mmmuach...." Deka mengambil alih Syad ke dalam gendongannya lalu mencium bocah kecil itu bertubi-tubi.
Deka sangat menyayangi Syad dan hubungan keduanya sangat dekat. Deka sering datang ke Serang hanya untuk menemui Syad karena rindu.
"Siap berangkat sekarang?" Menggendong Syad, Deka melemparkan pandangannya pada Mimin.
"Sebentar, aku siap-siap dulu." Mimin meninggalkan ruang tamu untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta.
"Opi, udah siap?" Mimin masuk ke kamar Opi.
"Udah, nih." Opi menutup resleting tas, ia baru selesai berkemas.
"Yuk, berangkat!"
"Ayo." Opi yang sedang pulang ke Serang, kembali ke Jakarta dengan menumpang mobil Deka bersama Mimin dan Syad.
Mereka berangkat setelah berpamitan pada Abah dan Mami.
Mereka sampai di Jakarta sekitar dua jam kemudian. Mama dan Papa menyambut riang kedatangan mereka, terutama Syad, cucu pertama yang sangat mereka sayangi.
Besoknya, saat langit sore menampakkan kecerahannya. Secerah senyum bahagia Syad yang merekah. Mereka semua berangkat menuju salah satu tempat makan elit di Jakarta. Tempat makan yang memiliki area kids playground yang luas itu berada di daerah Kemang. Di sana ada ruangan private yang khusus disewakan untuk acara ulang tahun. Pesta ulang tahun Syad dirayakan di tempat itu.
"Sayang, ini semua Deka loh yang mengurusnya untuk Syad," ujar Mama.
Mimin menanggapinya dengan sebuah senyuman.
"Deka sayang banget sama Syad," ujar Mama kemudian.
"Mungkin sayang sama ibunya juga," gumam Mama seraya berbalik badan. Gumaman yang mirip sebuah bisikan, tapi mampu ditangkap baik oleh indra pendengarnya. Mimin mendengkus menanggapinya.
Acara ulang tahun Syad dihadiri kerabat dari keluarga Papa dan Mama. Deka juga sepertinya mengundang beberapa temannya yang kebetulan mempunyai balita. Terlihat dari gestur Deka yang begitu akrab menerima tamu yang kemungkinan adalah teman-temannya.
__ADS_1
"Wih, gua ga denger kawinnya, udah punya anak aja lo," celetuk seseorang yang pastinya adalah teman Deka.
"Iya dong. Ganteng ga, ganteng ga, anak gue?" lontar Deka yang hari ini memakai kostum superhero Ironman. Tema pesta ulang tahun Syad adalah superhero. Syad sendiri memakai kostum Batman. Beruntung Deka tak memintanya untuk berkostum Wonderwoman atau Catwoman.
Mama juga mengundang beberapa sahabat sosialitanya yang mempunyai cucu balita. Hal yang membuatnya mangkel adalah saat terdengar beberapa sahabat Mama tengah membicarakan dirinya.
"Istrinya Dewa belum menikah lagi?"
"Belum," jawab Mama.
"Kenapa gak dijodohkan sama Deka aja. Deka belum menikah 'kan?"
"Iya, bener. Daripada mantan istri Dewa menikah sama laki-laki lain, kasian sama anaknya. Khawatir papa tiri cuma sayang emaknya, bukan anaknya."
"Iya, Jeng. Mantan istri Dewa suruh naik ranjang aja, kawin sama Deka."
Dan beberapa lontaran serupa yang intinya adalah menyarankan untuk menjodohkan dirinya dengan Deka.
Lontaran seperti ini, bukanlah yang pertama ia dengar. Banyak orang yang menyarankan hal yang sama. Bahkan Mami salah satunya.
"Teteh kenapa ga menikah sama Deka aja. Deka sayang banget sama Syad. Daripada Teteh menikah sama orang lain, lebih baik menikah dengan salah seorang keluarga Dewa yang pasti akan menyayangi Syad. Seperti Mami menikah dengan Abah, Mami 'kan adik sepupu ibumu. Jadi, Mami menyayangi Teteh seperti anak Mami sendiri. Lagi pula kelihatannya Deka itu sayang sama Teteh juga loh." Begitu yang pernah dikatakan Mami.
Dan saat itu ia tegas menolak." Teteh ga akan menikah dengan siapa pun. Teteh ini masih istrinya A Dewa. Teteh akan tetap menunggu A Dewa pulang sampai kapan pun!"
Pesta ulang tahun berjalan meriah. Syad, si bocah menggemaskan dengan ketampanan di atas rata-rata itu tampak ceria. Membuat hati mangkel Mimin sedikit terobati.
Esok hari, Mimin masih berada di Jakarta. Ia memang berencana untuk menginap dua atau tiga hari, memberi waktu yang panjang kepada Mama dan Papa untuk melepas rindu pada cucu kesayangannya.
"Jasmin, kamu masih menginap di sini 'kan?" Deka sudah berpakaian rapi, duduk bersama menikmati sarapan.
"Iya, Bang," kata Mimin sembari menyendokkan sesuap nasi ke mulutnya.
Mimin mengangguk.
"Syad belum bangun?"
"Belum."
"Hari ini aku gak bisa menemani Syad, karena mau meninjau proyek di luar kota," terang Deka.
Biasanya, jika Syad berkunjung ke Jakarta, Deka akan meliburkan diri tak bekerja untuk bermain sepanjang waktu bersama Syad.
"Proyek yang di mana?" tanya Papa yang juga sedang menyantap menu sarapan.
"Proyek pemugaran pasar tradisional yang di Subang itu, Pah," jawab Deka.
"Kamu mau ke Subang?? Jangan, Deka! Mama mohon. Suruh orang lain aja yang meninjau proyeknya. Jangan kamu!" Mendengar kata Subang, Mama langsung bereaksi. Kota itu memberikan trauma sendiri bagi Mama, sebab Dewa mengalami kecelakaan di kota itu.
"Mama ga usah khawatir kayak gitu. Tenang aja. Deka pasti pulang kembali ke sini dengan selamat," ujar Deka menenangkan Mama.
"Iya, Mama tenang aja." Papa mengusap lembut punggung tangan Mama yang duduk di sebelahnya.
*****
Satu tahun lebih Dewa tinggal di kediaman Aki Rusli di kampung Ciherang, namun ia masih belum mengingat siapa dirinya. Beberapa kali Aki menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi Dewa menolak. Ia tak enak hati jika harus menyusahkan keluarga Aki. Biaya rumah sakit tentulah besar dan dirasa berat bagi keluarga sederhana seperti keluarga Aki.
Kegiatan sehari-hari Dewa adalah membantu Aki di ladang atau menjual hasil panen di pasar. Beberapa bulan terakhir, Aki membuka usaha bengkel tambal ban kecil-kecilan. Dewa yang dipercaya mengurus pekerjaan bengkel itu. Setiap hari Aki memberinya upah dua puluh lima ribu untuk ditabung.
__ADS_1
Ia berharap suatu hari nanti uang tabungannya bisa terkumpul sehingga bisa berobat ke rumah sakit dengan menggunakan uang itu. Ia juga ingin mengetahui tentang dirinya, keluarganya dan juga ... gadis berkerudung merah yang sering hadir dalam mimpi-mimpinya.
(Untuk selanjutnya komunikasi antara warga kampung Ciherang adalah bahasa Sunda, terkecuali berkomunikasi dengan Dewa adalah memakai bahasa Indonesia. Karena otor remahan ini ga paham bahasa Sunda, jadi aku tulis pake bahasa Indonesia aja ya, daripada salah 😁😁)
"Kang Asep."
"Hemm."
"Ke pasar, yuk!" ajak Pipit.
"Kalau kamu mau ke pasar, ya saya anterin," sahut Dewa.
"Aki lagi ada rezeki, lagi ada uang lebih. Saya disuruh membelikan baju buat Kang Asep."
"Jangan. Enggak usah. Simpan saja uangnya," tolak Dewa.
"Aki yang mau belikan. Soalnya Kang Asep ga punya baju bagus. Kaosnya udah belel semua." Pipit memandang iba kaos lusuh yang dipakai Dewa. Banyak bolong di sana-sini seperti habis tertembak dalam perang.
"Saya udah diterima dan diperlakukan baik oleh keluarga ini saja sudah senang dan sangat berterima kasih. Saya ga mau merepotkan untuk hal lainnya."
"Kalau Kang Asep nolak rezeki dari Aki, nanti Nini pundung, loh. Udah mau aja ya, ya, ya," bujuk Pipit.
Dewa mengangguk. "Iya, deh."
"Nah, gitu dong. Pamali nolak rezeki."
*****
Deka tengah meninjau proyek pemugaran pasar tradisional di daerah Subang. Ia begitu antusias melihat keramaian pasar. Maklum, ini kali pertama ia turun ke pasar tradisional. Sekali-kali ia bergidik jijik melihat kaki orang-orang pasar yang kotor terkena tanah becek.
Ya ampun, apa enaknya belanja di tempat seperti ini. Gumamnya dalam hati.
Ia masih memerhatikan interaksi antara penjual dan pembeli yang menurutnya aneh. Padahal itu harga sudah murah, kenapa pake ditawar segala. Batinnya.
Hingga kemudian tak sengaja pandangannya jatuh pada seorang pria memakai kaos putih lusuh, celana pendek murahan motif kotak-kotak, dan sandal jepit swallow.
Ia membeliakkan pandangannya, fokus pada pria itu. Pria itu seperti ... Dewa.
“I-itu Dewa.” Ia tergagap.
“A-apakah benar pria itu Dewa??”
Ia terkesima sejenak dengan hal yang sangat mengejutkan ini.
Lalu ia berteriak. “Dewa ...!” panggilnya lantang.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1