
"Loh kok, sudah pulang?" tanya Mimin yang mendapati Syad sudah berdiri di depan pintu. Padahal, waktu menunjukkan kurang dari jam sembilan malam. Masih terlalu sore untuk ukuran di bulan ramadan.
"Si Abang tadi muntah-muntah, Neng." Dewa yang berjalan di belakang Syad menjawab pertanyaan sang istri.
"Muntah-muntah kenapa?" sahut Mimin histeris1.
"Masuk angin kayaknya," sahut Dewa.
"Enggak, ngapain angin masuk ke tubuh aku. Mau cari ribut dia!" elak Syad.
"Neng, kasih dia tolak jomblo!"
"Hihihihihi, tolak angin Ayah, bukan tolak jomblo!" protes si duo kembar.
"Idih, enggak ah. Aku bukan ikan kembung yang lagi frustrasi," kata Syad.
"Eh, apa sih kok ikan kembung frustrasi?" Mimin mengerutkan kening.
"Kemarin aku baca berita, Nda. Katanya begini, diduga frustrasi karena selalu dikatakan kembung, seekor ikan kembung menenggak tolak angin."
"Hahahahaha." Semua kompak tertawa.
Dasar ya, Syad ini sebenarnya mirip siapa sih. Gantengnya mirip Dewa, sombongnya mirip Bang Deka, lucunya mirip siapa ya? Jangan bilang mirip Sol, Mimin bisa bergidik membayangkan supersol. Yang benar, lucunya mirip Onty Opi.
"Abang minum tolak angin, atau bunda enggak akan bangunkan sahur," ancam ibu muda cantik itu.
"Iya, iya, abang mau minum tolak angin," sahut Syad pasrah. Daripada tidak dibangunkan sahur.
"Habis minum tolak angin, terus tidur," kata Mimin lagi.
"Iya, Nda, tahu, paham, mengerti," sahut Syad.
Setelah beres mengurus Syad, Mimin menyediakan es sirup 'Maman' untuk sang suami. Saat bulan puasa, suami kerennya itu jarang minum kopi. Lebih memilih es sirup 'Maman' dibanding kopi.
"Kok Ayah enggak balik lagi ke masjid sih?" tanya Syakira.
"Iya, udah jam sepuluh loh, Yah," timpal Safiyaa.
"Ayah mau libur itikaf. Mau itikaf di kasur aja, soalnya lagi kangen sama Bunda," sahut Dewa. Mimin mendelikkan mata mendengar jawaban Dewa.
"Kok, kangen sih. Kan setiap hari ketemu. Kangen itu kalau setiap hari enggak ketemu," kata Syakira.
"Iya, Kalau kangen itu kayak Fiya dan Kira kangen sama Ai dan Raja dan Ratu," timpal Safiyaa.
"Eh iya, bunda lupa bilang ya. Ai sama Mema mau pindah ke sini loh, ke rumah Abah gede," ujar Mimin.
"Asyiiik, Ai sama Mema mau pindah ke sini. Jadi nanti rumahnya dekat ya, Nda. Bisa tiap hari main sama Ai."
"Iya."
"Kapan, Nda?"
"Semoga dalam waktu dekat ya. Seneng enggak nih, Teteh satu, Teteh dua?"
"Seneeeeng!" sahut duo kembar cantik itu dengan kompaknya.
"Daddy enggak ikut pindah ke sini?" timbrung Syad yang tiba-tiba nongol.
"Abang, tidur!" mata Mimin melotot memberikan perintah.
"Iya, Nda. Ini mau pipis dulu," kilah Syad.
__ADS_1
"Kalau Daddy pindah ke sini rame dong, ya," celetuk Syakira.
"Kalau Daddy tinggal di sini nanti gak jadi crazy rich lagi," sahut Dewa.
"Jadi apa dong, Yah?"
"Jadi crazy doang, rich-nya enggak ada," seloroh Dewa.
"Hihihihihi." Syakira dan Safiyaa terkikik sembari menutup mulutnya. Entah, apakah keduanya paham dengan selorohan Dewa atau tidak.
"Ayah, aku nanti di masa depan jadi apa ya? Apa akan jadi crazy rich seperti Daddy?" lontar Syad.
"Masa depan kita itu bagai sekumpulan tempe," kata Dewa.
"Kok sekumpulan tempe?" lontar Mimin dengan kening mengernyit.
"Sekumpulan tempe, tidak ada yang tahu," seloroh Dewa.
"Hihihihihi." Seperti biasa si duo kembar tertawa cekikikan. Memang hobi mereka cekikikan sepertinya.
"Abang sudah besar nanti jadi apa saja boleh, yang penting soleh," timpal Mimin.
"Pake Munawar gak solehnya, Nda," celetuk Syad.
"Hihihihihi, om Soleh Munawar, dong," sahut Syakira dan Safiyaa.
"Udah, Abang pipis sana, terus tidur!" titah Mimin.
"Teteh satu dan Teteh dua juga tidur. Yang tidurnya cepat, buka puasa nanti dikasih es krim veniti."
"Yeay, mau es veniti," sahut anak-anak dengan kompaknya.
\=\=\=\=\=
"Biar apa atuh A?"
"Biar lega, biar pergerakannya bebas lepas."
'Ih, mau apa coba?"
"Kangen tau, Neng. Udah pertengahan puasa ini, belum pernah buka puasa sama sekali."
"Gak inget sama janjinya. Katanya selama sebulan penuh mau itikaf di masjid, mau libur colak-colek," lontar Mimin.
"Aa 'kan laki-laki biasa, Neng. Biasalah laki-laki kalau berjanji itu manis, cocok banget dijadikan takzil. Lagian ini juga sama-sama ibadah. Iya enggak, iya enggak," goda Dewa sembari menaikturunkan alisnya.
"Tapi, Neng lagi masa subur loh."
"Emangnya kenapa kalau lagi masa subur?"
"Shadam masih kecil."
"Dulu si Abang umur segini, udah mau punya adik. Gak papa kali punya anak satu lagi."
"Boleh. Sekali-kali Aa dong yang hamil dan melahirkan," celetuk Mimin.
Akhirnya mau dan pasti mau, suka dan pasti suka, Mimin menuruti keinginan suaminya melewati malam dengan kegiatan beribadah paling menyenangkan.
Hingga saat waktunya sahur, hampir saja kebablasan untuk bangun. Beruntung ia dibangunkan dengan tangisan Shadam.
"Ayo, udah pada niat puasa belum?" lontar Dewa pada anak-anaknya usai menyantap sahur.
__ADS_1
"Udaaaaah," sahut ketiga anaknya kompak.
"Fiya baca niatnya sepuluh kali," celetuk Safiyaa.
"Hah, kok banyak amat?"
"Biar puasanya kuat dan ga lemes, baca niatnya harus banyak."
"Kata siapa?"
"Kata abang Syad."
"Abang, ngajarin adiknya yang bener dong."
"Abang juga kata temen, Yah."
"Abang, ada telepon dari Daddy," lapor Syakira sembari menyodorkan ponsel milik Syad.
Syad menjawab panggilan telepon dari Deka dengan semangat.
"Assalamualaikum, Daddy."
"Waalaikum salam, Abang. Gimana kabarnya, Bang?"
"Daddy ... aku ... Haciw, haciw, haciw."
"Abang lagi sakit ya?"
"Iya, Dad."
"Besok Daddy jenguk ke sana. Mau dibawakan apa?"
"Gak usah repot-repot, Dad. I phone terbaru aja gak papa."
"Asiyaap."
"Abang, ih! Gak boleh begitu!" omel Mimin setelah panggilan telepon dari Deka berakhir.
"Biarlah, Nda. Aku ingin jadi Rafatar sehariiiii aja," kata Syad dengan polosnya.
.
.
.
.
Ceritanya yang ringan-ringan aja ya, seputar bulan puasa.
Oya, kalau di cerita Bang Deka, anak-anak Dewa masih kecil-kecil ya. Bang Deka dan Ririn juga masih pengantin baru dan sedang berduka.
Nah, kalau di cerita ini Syad udah umur delapan tahun. Lalu, Bang Deka dan Ririn bagaimana kabarnya nih di waktu versi GBM?
Tunggu kelanjutannya ya, dengan catatan kalau aku ... gabut.
Terima kasih yang masih setia dengan Aa Dewa dan Neng Mina.
Mampir juga dong ke kisah Bang Deka dan Ririn.
Terima kasih
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️