
Sang fajar shadiq telah menghilang pertanda subuh telah berlalu. Berganti dengan kemunculan matahari yang mulai menyapa. Dan kicau burung yang bertengger di atas dahan pohon membuka pagi dengan indah.
Mimin telah selesai menyapu halaman. Kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah dari kamar mandi, ia berpapasan dengan Opi yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi meja makan seraya mencomot pisang goreng dari piring di atas meja makan.
"Pi... kemarin ada apa nanyain nomor Ustaz Fahri?" tanya Mimin yang ikut duduk di kursi meja makan di hadapan Opi.
"Ih... Teteh kepo. Ada deeehh," sahut Opi sambil mencebikkan bibirnya.
"Terus udah dapat nomornya?"
"Udah dong," jawab Opi sambil mengunyah pisang goreng hangat buatan Mami.
"Dapat nomor Ustaz Fahri dari siapa? Atau jangan-jangan, Opi minta sendiri langsung ke Ustaz Fahri ya?" tanya Mimin kepo.
"Opi minta nomor Ka Fahri sama Ka Dewa," jawab Opi jujur.
"Oh," balas Mimin.
Kemudian ia jadi teringat sesuatu dan segera bertanya kembali kepada Opi.
"Ngomong-ngomong Opi tahu ga kenapa Ka Dewa sama Ustaz Fahri kok bisa temenan, dan kelihatannya akrab banget gitu?" Mimin memang belum tahu alasan mengapa Dewa dan Fahri begitu akrab. Padahal jika dilihat dari style, mereka sungguh berbeda, sangat bertolak belakang.
"Oh itu. Jadi, kata Ka Dewa sih mereka itu memang dulunya bersahabat, mereka dulu mondok bareng gitu," terang Opi.
"Hah... Iya kah Pi?" Mimin terkejut hingga matanya membola.
"Ga nyangka kan Teh? Opi aja kaget pas tahu ka Dewa itu dulu pernah jadi anak santri. Tampangnya itu ga meyakinkan banget kalau dia pernah jadi santri, Hihihihihi." Opi terkikih sendiri.
"Teh, coba itu Nak Dewa dikasih pisang goreng buat temen ngopi," sahut Mami yang sedang membuat kopi untuk Abah.
"Iya, Mih," ucap Mimin bersemangat.
"Harusnya mah Teteh tuh buatin kopi atau masakin makanan buat suami. Belajar jadi istri beneran mulai dari sekarang. Dan kalau bisa secepatnya atuh Teh, Nak Dewa suruh bawa orang tuanya ke sini. Biar Teteh sama Nak Dewa bisa menikah sah secara hukum agama dan negara. Dan bisa menjalani kehidupan rumah tangga normal seperti yang lainnya," tutur Mami yang telah selesai membuat kopi lalu membawanya ke meja makan.
Mami mengambil lima biji pisang goreng dan meletakkannya di atas piring yang lain. Lalu sepiring pisang goreng dan secangkir kopi itu diletakkan di atas nampan. "Teteh ga mau seperti temen-temen Teteh yang lain. Kayak si Esih yang udah punya anak dua. Atau seperti si Leha yang sekarang malah lagi hamil anak ketiga," ujarnya.
"Tuh, Teh dengerin! Opi juga kan mau punya keponakan. Pasti nanti anaknya ganteng dan cantik deh." Opi turut menyahut.
"Iya... Mami sama Abah juga pengen punya cucu," pungkas Mami sebelum berlalu membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring pisang goreng untuk Abah ke ruang TV.
Mimin tertegun sejenak mendengar ucapan Mami. Kemudian ia mengambil beberapa biji pisang goreng dan diletakkan ke sebuah piring. Lalu segera beranjak menuju kontrakan, membawa sepiring pisang goreng untuk Dewa.
Saat Mimin akan menuju kontrakan, terdengar petikan suara gitar, juga suara Dewa yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Mimin menghentikan langkahnya sejenak, dan memilih untuk duduk di kursi teras mendengarkan Dewa bernyanyi.
Apa yang harus aku lakukan
Untuk membuat kau mencintaiku
Segala upaya tlah kulakukan untukmu
Apa yang harus aku tunjukkan
Untuk membuat kau menyayangiku
Inilah aku yang memilih kau untukku
Karna aku mencintaimu
Dan hatiku hanya untukmu
Tak akan menyerah
Dan takkan berhenti mencintaimu
Ku berjuang dalam hidupku
__ADS_1
Untuk selalu memilikimu
Seumur hidupku, setulus hatiku
Hanya untukmu
Karna aku mencintaimu
Dan hatiku hanya untukmu
Tak akan menyerah
Dan takkan berhenti mencintaimu
Seumur hidupku, setulus hatiku
Ooohhhh
(Untuk Mencintaimu. Seventeen)
Setelah lagu itu selesai, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kediaman Dewa.
"Assalamualaikum," sapa Mimin tanpa mengetuk pintu sebab pintu sudah terbuka lebar.
"Waalaikum salam. Eh, Mina," sahut Dewa.
"Ini ada pisang goreng untuk menemani ngopi," ujar Mimin.
"Wah mantap. Pisang goreng adalah orang ketiga yang kini menjadi pasangan terbaik ketika ngopi," kelekar Dewa.
Mimin mendelik. "Maksudnya??"
"Kalau dulu nih waktu aku masih perokok berat. Kalau ngopi itu hanya mau ditemani oleh rokok, jangan sampai pisang goreng jadi orang ketiga di antara kami. Hehehehe..." Dewa tertawa, sementara Mimin tersenyum menanggapi kelakar Dewa.
Mimin menghampiri Dewa yang sedang duduk di lantai sambil memeluk gitar. Ia turut duduk di lantai dan meletakkan sepiring pisang goreng itu di hadapan Dewa. "Kita bisa bicara sebentar?" tanyanya.
Dewa tersenyum lebar hampir tertawa hingga tampak deretan gigi putihnya dan menambah pesona ketampanannya. "Bisa lah. Jangankan sebentar, lama pun aku siap. Seharian pun aku mampu," selorohnya.
Sementara Mimin tengah siap berbicara, dari dalam kamar mandi terdengar Sol bersenandung agak berteriak menyanyikan lagu yang tadi dinyanyikan Dewa namun dengan versi rock.
Apa yang harus aku lakukan
Untuk membuat kau mencintaiku
Segala upaya tlah kulakukan untukmu
Apa yang harus aku tunjukkan
Untuk membuat kau menyayangiku
Inilah aku yang memilih kau untukku.
"Semoga kamu gak sakit perut ya dengerin si Sol nyanyi," gurau Dewa.
Mimin tersenyum mendengar gurauan Dewa, juga karena mendengar cara bernyanyi Sol yang tak karuan. Seandainya Sol ini ikut ajang AFI, pasti Tri Utami akan bilang “Pitch control-mu berantakan, Sol!”
“Mina, apa kamu sudah sakit perut beneran mendengar Sol bernyanyi?” Kalimat pertanyaan dari Dewa berhasil memfokuskan kembali tujuannya, membicarakan masalah Hana.
"Aku mau bicara tentang Hana." Mimin memulai perbincangan di antara mereka.
"Ada apa dengan Hana?"
"Hana menyukaimu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Dia mencintaimu."
"Lalu?"
"Kamu adalah calon imam impiannya."
"Lalu?"
Mimin mendesah sebal karena reaksi Dewa yang santai seolah tanpa beban. "Aku serius!" serunya.
"Aku juga serius. Emm... lebih tepatnya bingung. Semua yang kamu katakan itu apa hubungannya sama aku... sama kita."
"Tentu ada... Dia sangat mencintaimu."
"Tapi aku kan tidak mencintainya. Beres kan... ga ada masalah."
"Tentu ada... Dia itu sahabatku!" Nada bicara Mimin mulai meninggi sebab reaksi Dewa yang terlalu santai berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa terbebani dengan masalah ini.
"Tunggu tunggu. Ini kamu bukan sedang menjodohkan sahabatmu dengan aku dan kamu rela dipoligami kayak cerita di novel 'kan?! Dan nanti novelnya diberi judul Sahabatku Maduku atau Kurelakan Suamiku Berpoligami. Atau seperti novel yang difilmkan judulnya Madu yang Tak Dirindukan," ujar Dewa.
Ia menatap Mimin, dan Mimin balas menatapnya. "Aku ga mau berpoligami!" Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Satu aja ga habis-habis. Ah, ralat... satu aja belum dimakan," selorohnya.
Selorohan Dewa membuat Mimin bereaksi dengan memberikan sebuah cubitan lembut di lengannya.
"Ciye ciye udah berani cubit-cubit aku niye," goda Dewa. Membuat Mimin mendelikkan matanya dengan pipi yang bersemu merah.
"Aku mohon tolong tutupi status kita di depan Hana. Jangan pernah katakan kepada Hana kalau kita sudah menikah, atau jangan pernah katakan kalau kamu suami aku," pinta Mimin.
"Jadi kamu mau aku berbohong gitu?!"
"Tidak, bukan berbohong. Hanya, jangan pernah ceritakan status kita di depan Hana. Itu saja."
"Itu sama aja kita membohongi Hana."
"Aku gak mau membuat Hana terluka."
"Dan cepat atau lambat Hana pasti akan tahu."
"Aku akan memberitahunya nanti. Tidak sekarang, karena aku belum siap melihat reaksi Hana kalau tahu bahwa Iyan, calon imam impiannya itu telah menikah dengan... aku," ujar Mimin lirih.
Sorot mata mereka saling bertautan, berusaha menyelami pikiran masing-masing.
"Ok. Kalau itu mau kamu. Aku ikut aja," ujar Dewa pasrah. Meskipun ia tak setuju dengan keinginan Mimin yang ingin menyembunyikan status pernikahannya. "Apapun akan kulakukan untukmu," lanjutnya kemudian.
"Terima kasih," ucap Mimin. Lalu bangun dari duduknya. "Aku pulang," ucapnya berpamitan.
"Mina!" seru Dewa ketika Mimin hampir sampai pintu.
Mimin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dewa.
"Terima kasih pisang gorengnya. Sering-sering ya, kalau bisa sama kopinya sekalian," ujar Dewa seraya melemparkan senyum.
Mimin balas melemparkan seutas senyum tipis dan singkat, lalu berlalu meninggalkan kontrakan.
.
.
.
.
Sabar ya sabar, pelan-pelan aja alurnya. Semua akan indah pada waktunya.
Makasih untuk yang selalu nungguin GBM up. Makasih juga yg udah kasih dukungan vote, hadiah, komen dan Like. Love U.
__ADS_1