
Tak akan terganti
Setiap kenangan yang telah terukir
'Kan terendap indah dan melekat di hati
(Akhir Rasa Ini, Samsons)
*****
Bagai dejavu, peristiwa yang baru saja terjadi sejenak yang lalu. Kilatan bayangan samar melintas di kepala Dewa. Ia berusaha sekuatnya untuk mengingat, namun justru yang terasa nyeri di kepala menghantamnya.
"Awwww!" pekik Dewa. Ia meronta kesakitan sembari memegangi kepalanya.
"Kang Asep!" seru Pipit khawatir.
Seruan Pipit sontak membuat Sol dan Jejed menoleh ke arahnya.
"Mina??!" Sol dan Jejed terbelalak menatap Pipit.
"Mina siapa? Saya bukan Mina," sahut Pipit.
"Aaaaargh." Dewa meringis merasakan sakit di kepalanya.
"Wa, lo istirahat aja dulu. Besok pagi baru kita pulang," usul Sol.
Malam itu Sol dan Jejed menceritakan kisah tentang Dewa alias Asep kepada keluarga Aki Rusli. Mereka juga mengutarakan rencananya untuk membawa Dewa pulang. Tak lupa ucapan terima kasih juga mereka haturkan atas pertolongan dan kebaikan keluarga Aki yang telah merawat Dewa selama ini.
*****
Langit malam tampak gelap tiada berbintang. Laksana hati Deka yang juga hampa tanpa seseorang.
"Deka, kamu udah bilang sama Mina tentang keinginan kamu untuk menikahinya?" tanya Mama.
"Udah," sahut Deka lesu.
"Terus gimana? Mina mau 'kan?" Mama tampak antusias menunggu jawaban Deka.
Deka menggeleng. "Ditolak."
"Ih, kamu itu payah banget sih, Deka!" sahut Mama.
"Ada apa sih, Mah?" tanya Papa yang tengah duduk santai sambil menikmati secangkir kopi.
"Pah, mama tuh takut kalau Mina menikah lagi dengan orang lain. Lebih baik kita aja yang bicara sama orangtua Mina, meminta Mina untuk Deka. Mungkin kalau orangtuanya yang membujuk, Mina mau menerima Deka."
"Papa sih terserah Mama aja."
"Besok aja yuk, Pah. Kita temui orangtua Jasmin. Takut nanti ada orang yang melamar Jasmin duluan," usul Deka.
"Buru-buru amat, sih."
"Deka ga mau gagal lagi, Pah. Besok aja ya, kita ke rumah Jasmin. Deka ga mau nunggu lama-lama lagi," rengek Deka.
"Iya, iya. Besok pagi kita berangkat ke rumah Pak Haji," putus Pak Satya.
*****
Keesokan harinya. Keluarga Pak Satya berkunjung ke rumah keluarga Haji Zaenudin, berniat melamar Mimin untuk Deka. Bahkan pada hari itu, Pak Satya, Deka, dan Bu Dewi sengaja meliburkan diri dari aktivitas pekerjaan demi acara lamaran tersebut. Bukan acara lamaran formal layaknya lamaran dari keluarga mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita. Hanya lamaran kekeluargaan, dengan harapan Mimin mau menerima Deka jika kedua orangtua yang turun tangan.
__ADS_1
Pukul sepuluh pagi saat Deka beserta keluarga sampai di rumah keluarga Mimin.
"Tumben sekali ini, Bu Dewi sekeluarga datang pagi-pagi begini. Maaf, kami enggak ada persiapan sebelumnya," ujar Mami.
"Gak papa, Bu Ratna. Kami datang ke sini ingin menjenguk cucu kami Syad dan juga Mina, serta keluarga Bu Ratna," sahut Mama.
"Syad sedang dibawa jalan-jalan sama Opi."
"Mina juga?"
"Enggak, Mina lagi di dapur, lagi masak."
"Maaf kalau kedatangan kami kemari terkesan mendadak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ini karena Deka ingin secepatnya. Menunggu sampai besok pun dia tak mau, harus sekarang katanya. Tak mau menunggu lama-lama untuk mengutarakan maksud keinginannya juga keinginan kami. Dan semoga ini juga adalah yang menjadi keinginan Pak Haji dan Bu Haji," tutur Pak Satya.
"Maaf, ini keinginan tentang apa kiranya?" sahut Abah.
"Begini, Pak Haji. Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melanjutkan hubungan kekeluargaan kami dengan keluarga Pak Haji. Kami menyayangi Syad, dan juga menyayangi Jasmin tentunya. Kami ingin dan sangat berharap Jasmin bisa menikah dengan Deka. Daripada Jasmin menikah dengan orang lain, lebih baik menikah dengan Deka yang sudah pasti menyayangi Syad. Bukan begitu, Pak Haji?"
"Kalau tentang hal itu. Kami pun berkeinginan sama seperti yang baru saja diutarakan oleh Pak Satya. Namun, semuanya terserah putri kami yang memutuskan. Karena sampai detik ini sepertinya Mimin belum berniat untuk menikah lagi."
"Maka dari itu, kami meminta bantuan Pak Haji dan Bu Haji untuk turut membujuk Jasmin agar mau menikah dengan Deka. Siapa tahu, kalau Pak Haji yang bicara, Jasmin jadi luluh hatinya dan mau menerima Deka."
"Mih, coba panggil si Teteh ke sini," titah Abah.
"Iya, Bah." Mami bangkit dari duduk lalu pergi ke dapur memanggil Mimin.
Tak butuh waktu lama, Mami kembali ke ruang tamu bersama Mimin. Mimin memberi salam hangat kepada keluarga Deka.
"Teteh duduk sini," titah Abah.
"Iya, Bah," sahut Mimin patuh. Lalu mengambil posisi duduk di sebelah Abah.
"Teh, Deka bersama keluarganya datang ke sini, untuk melamar Teteh. Teteh mau ya?" lontar Mami.
"Sayang ... mama dan papa sayang sama kamu. Kami ingin kamu tetap menjadi menantu kami, menjadi anak mama dan papa. Mau ya, Sayang?" bujuk Mama.
"Iya, Jasmin. Ga ada laki-laki yang lebih layak untuk menggantikan Dewa kecuali Deka," timpal Papa.
Mimin bergeming. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Teteh, coba Teteh pikirkan Syad. Mendapatkan pengganti ayah di saat usia Syad masih kecil seperti ini jauh lebih baik. Menurut abah seperti itu, Teh."
Mimin menarik napas panjang, berharap dapat memecah segala perasaan tak nyaman yang tengah dirasakannya kini.
"Saya ...." Mimin mulai berucap.
"Saya ...."
"ASSALAMUALAIKUM." Sol berjalan setengah berlari, tergopoh-gopoh dengan napas tersengal-sengal.
"Mina, Abah. Uhuk ... uhuk ...uhuk ...." Sol sampai terbatuk-batuk karena terlalu bersemangat.
"Ada apa Soleh?" lontar Abah. "Pelan-pelan kalau ngomong!"
"Dewa. Uhuk ... Uhuk ...."
"Dewa kenapa, Kang Sol?"
"Saya dan Jejed udah menemukan Dewa."
__ADS_1
Kalimat yang diucapkan Sol berbarengan dengan masuknya Jejed bersama Dewa.
"Aa ...!"
"Dewa ...!"
Semua bereaksi histeris menyambut kedatangan Dewa. Mimin yang lebih dulu menghambur memeluk Dewa.
"Aa." Mimin tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya ingin memeluk. Merengkuh sosok yang sangat dirindukannya. Derai air mata tumpah ruah dalam haru.
Beberapa saat kemudian Mimin melepas pelukannya. Ia menatap Dewa. Begitu pun sebaliknya, Dewa juga menatap Mimin.
"Aa kenapa?" Mimin merasakan sorot berbeda yang terpancar dari mata Dewa.
"Mina, dan semuanya. Dewa ini belum dapat mengingat apa pun dan siapa pun. Dewa ini menderita amnesia," terang Sol.
"Ya, Tuhan. Dewa amnesia, Pah." Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut. Lalu menghambur memeluk Dewa.
"Sebaiknya Dewa suruh duduk dulu," usul Sol.
"Iya, bener. Mari, Ding gagah, duduk," kata Abah.
Mimin menggenggam tangan Dewa dan menuntunnya agar duduk di sebelahnya.
"Soleh, bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu Dewa?" Abah melemparkan pandangannya pada Sol. "Dan siapa yang merawat Dewa selama ini?" tanya Abah lagi.
"Nah, ini dia Pak Haji, yang kami juga bingung," sahut Sol.
"Pipit ke mana Sol?" Mata Sol dan Jejed mencari-cari keberadaan Pipit.
Sementara Pipit sedari tadi memilih duduk di teras. Matanya sudah berkabut menahan tangis. Sebab menyadari kini adalah saatnya berpisah dengan Asep alias Dewa. Asep telah bertemu dengan keluarganya. Kehidupannya akan kembali seperti semula, saat tak ada Asep di sisinya. Ia mengerjapkan mata, praktis membuat lolos sebutir air mata yang sedari tadi ditahannya.
"Pit, sini masuk!" Seruan Jejed membuatnya buru-buru menghapus bekas titik air mata yang mungkin tampak di pipinya.
"Ayo, Pit, masuk!" Seruan kedua Jejed membuatnya beringsut bangun. Ia mengayun lemah langkahnya masuk ke rumah Abah.
"Ya Allah, Ririn!" seru Mami seraya terbelalak menatap Pipit.
"Abah, ini pasti Ririn." Mami menghambur memeluk Pipit yang ia panggil dengan sebutan Ririn.
Semua orang yang berada di sana menatap heran, menatap Pipit dan Mimin bergantian. Dua wanita cantik bagai pinang tak terbelah.
Abah turut menghampiri Pipit alias Ririn."Kamu Ririn, anak abah," ujarnya.
Pernyataan Abah sontak membuat semua orang terkejut tak terkecuali Mimin. "Ririn??"
Ririn, nama lengkapnya Sabrina Zahra adalah kembaran Jasmina Zahra, putri Haji Zaenudin. Ririn dinyatakan hilang saat peristiwa kecelakaan yang menimpa dua puluh enam tahun silam.
Peristiwa kecelakaan yang membuat Bu Sarah (istri Abah) meninggal dunia itu membuat Mami merasa sangat bersalah dan menimbulkan trauma tersendiri di hati Mami. Jika saja, Mami tidak minta diantarkan pulang saat itu juga, jika saja Mami mau menunggu sampai besok mungkin kecelakaan bisa dihindarkan. Begitu yang menjadi penyesalan Mami. Meskipun sejatinya, semua yang terjadi adalah qadarullah. Tak ada seorang pun yang mampu menahan jika Allah telah berkehendak.
Beruntung saat peristiwa kecelakaan itu, nyawa Mimin masih bisa tertolong. Seandainya saat itu Mimin pun tak selamat, lengkap sudah rasa bersalah yang dirasakan Mami. Itulah sebabnya, Abah memilih merahasiakan kisah ini. Mimin dan Opi bahkan tak pernah tahu tentang sosok Ririn.
Karena rasa bersalahnya, Mami memilih menikah dengan Abah dan berjanji untuk mengurus dan menyayangi anak-anak mendiang Bu Sarah dan Abah dengan rasa sayang dan cinta yang tulus.
"Begitulah ceritanya. Saat kecelakaan itu, sopir, pengasuh dan ibumu meninggal di tempat. Ratna dan Mimin mengalami luka-luka parah. Sedangkan Ririn hilang," tutur Abah.
"Waktu itu ketika Mami masih sadar sesaat setelah terjadinya kecelakaan, Mami masih mendengar suara tangis Ririn. Namun, setelah Mami terbangun dari ranjang rumah sakit, kenapa Ririn malah tak dtemukan. Kami berpikir mungkin ada seseorang yang menculik Ririn dalam ketidakberdayaan kami," sesal Mami.
"Ririn, maafkan mami. Huuu ... Huuu ..." Tak henti-hentinya Mami memeluk dan menciumi Ririn.
__ADS_1
"Jadi, kalian adalah orangtuaku?" Air mata Pipit pun turut tumpah ruah. Bertahan-tahun ia memendam tanya tentang siapa sosok orangtua kandungnya. Memilih diam dan pasrah. Bukan tak ingin mencari, namun karena tak ada jejak petunjuk yang ia ketahui.