
Langit senja nan indah telah tiba, menghiaskan keindahan bagi siapa saja yang melihatnya. Mimin sedang asyik menekuni kegiatan menyiram bunga dan berbagai tanaman hias yang bertengger rapi di teras dan halaman rumahnya. Sebab katanya, waktu terbaik menyiram tanaman adalah saat pagi atau sore menjelang magrib, ketika panas matahari tak terasa lagi.
Usai menjemput Mimin dan pulang bersama ke rumahnya. Dewa berbaring sejenak untuk sekedar meluruskan otot-otot yang tegang agar lebih rileks. Mengistirahatkan tubuhnya sebab aktivitas hari ini belum selesai. Ba'da magrib nanti ia harus berangkat ke Baretos Cafe untuk 'mengamen'. Jadwal mengamennya adalah empat malam dalam seminggu.
Setelah waktu magrib beberapa menit lagi akan tiba, ia membersihkan diri, mandi lalu berwudu. Mumpung sempat, ia berencana untuk berangkat ke masjid lebih awal. Mengikuti pesan Rizal saat dua hari yang lalu mereka bertemu di masjid usai menunaikan salat Subuh.
"Wa... Kamu kalau bisa datang ke masjid jangan mepet-mepet waktunya. Kalau kamu sempat, sebelum waktu udah datang ke mesjid, biar kamu yang azan,” kata Rizal saat itu.
“Siap Kang, insyaallah,” jawabnya waktu itu.
Begitulah pesan dari Rizal, pria tampan yang belakangan diketahui adalah atasan Mimin, istrinya.
Awalnya, ia merasa khawatir ketika mengetahui atasan Mimin adalah pria setampan itu. Meskipun jiwa narsisnya tetap menyatakan bahwa dirinya lebih tampan dan menawan dong dibanding Rizal. Khawatir jika Mimin jatuh cinta dengan atasannya yang tampan itu, atau atasannya justru yang jatuh cinta kepada Mimin sebab kecantikan Mimin yang tak terbantahkan.
Kemudian ia bernafas lega ketika belakangan mengetahui jika Rizal adalah pria yang sudah beristri dan beranak dua. Dan beberapa hari yang lalu ia tak sengaja bertemu Rizal beserta istri dan anaknya sedang berjalan-jalan sore di sekitar kampung Cibening.
Ia kembali bernafas lega ketika melihat Aya, istrinya Rizal yang juga berwajah cantik. Benar-benar pasangan yang serasi, sama seperti dirinya dan Mina. Begitu narsisnya.
Hatinya semakin lega ketika melihat kedua anak Rizal yang begitu menggemaskan, tampan dan cantik. Meski baru sekali melihat kebersamaan Rizal dan keluarganya, namun ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Rizal adalah tipikal pria penyayang keluarga.
Jadi, ia segera menghilangkan segera kekhawatirannya tentang hubungan kerja di antara Mimin dan Rizal. Dan berharap semoga kelak pernikahannya dengan sang pujaan hati akan mendapatkan kebahagiaan seperti itu. Amin.
Setelah mengenakan pakaian salatnya, Dewa membuka pintu rumahnya hendak pergi ke masjid. Ia melihat Mimin yang sedang menyiram tanaman dan bunga.
"Ehem... Assalamualaikum, Salihahku," sapa Dewa.
Mimin yang sedang fokus menyiram, sambil memandang kagum indahnya warna-warni bunga yang bermekaran, memalingkan wajahnya ke arah suara. Dan seketika ia terkesima menatap pria tampan dengan memakai koko modern warna navy dipadukan dengan sarung motif kotak-kotak dengan warna dasar senada dengan warna bajunya. Tak lupa memakai peci. Terlihat sangat tampan dan menawan.
"WA-waalaikum salam." Mimin sampai tergugup karena terkesima.
"Bunganya cantik-cantik ya, sama seperti yang nyiram," gombal Dewa diiringi seutas senyum nan menawan. Tapi, bukan gombal juga sih karena kenyataannya Mimin itu memang cantik. Sangat cantik.
Mimin tersenyum sekilas. "Mau ke masjid?" tanyanya.
"Iya," jawab Dewa tanpa melepas senyum.
"Sendiri aja? Sol ke mana?" tanya Mimin basa-basi sebab ia juga bingung mau berbicara apa. Masih terasa canggung untuk berbicara lepas dengan pria itu.
"Ih... Mina. Kok kamu nanyain Sol sih, aku cemburu nih.” Dewa memasang wajah cemberut.
"Eh... Eng-enggak. Bu-bukan begitu maksud aku," sanggah Mimin yang merasa tak enak hati. Khawatir kalimat yang tercetus dari bibirnya adalah sebuah kesalahan.
"Hehehee... Bercanda Mina. Sol belum pulang, pekerja keras dia mah. Mau buat modal bikin kartu undangan pernikahan katanya." Dewa terkekeh sendiri membayangkan wajah Sol.
"Oh... Sol mau menikah?"
"Mau dong... masa ga mau. Makanya dia mau bikin undangan. Kalau orang 'kan dapat calonnya dulu baru bikin undangan. Nah, kalau dia mah beda. Bikin undangan dulu lalu calonnya menyusul. Nama calon istrinya belum diisi masih titik-titik. Hahahahaha...." Dewa tergelak mengingat ucapan Sol sama seperti yang diucapkannya barusan.
Mimin hampir saja ikut tergelak karena guyonan Dewa, namun ia menahannya. Hanya sebuah senyuman tipis yang ditampilkannya.
"Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamit Dewa. Meski ia masih ingin berlama-lama berbincang dengan kekasih halalnya, namun terpaksa mengubur keinginannya dalam-dalam sebab langit jingga mulai meredup, pertanda Magrib akan segera tiba.
Sepeninggalnya Dewa, Mimin melanjutkan kegiatan menyiramnya. Lalu dilanjutkan dengan mengelap daun-daun tanaman hias agar debu tidak mengganggu proses fotosintesisnya. Juga memangkas daun-daun yang tumbuh berantakan agar tanaman tampak indah dan sedap dipandang mata.
Mimin baru saja menyelesaikan kegiatan merawat tanamannya ketika gema suara azan terdengar syahdu di telinganya. Ia kembali memfokuskan indra pendengarannya untuk mendengar kumandang suara azan itu dengan saksama. Suara Muazin itu terdengar asing di telinganya. Seperti bukan suara Sarip si marbot masjid yang biasa meng-azani.
Ia mengingat lagi ucapan Rizal saat di kantor.
“Min... Bilangin sama Dewa kalau ke masjid jangan mepet-mepet waktunya. Kalau bisa sebelum waktu azan dia udah ke masjid."
“Biar dia yang azan. Suaranya merdu loh. Harusnya dia aja Muazinnya, jangan si Sarip, suaranya cempreng."
Apakah yang azan itu Dewa? Batinnya bertanya-tanya.
*****
Mimin baru saja selesai mengaji, rutinitas yang dilakukannya tiap sehabis salat fardu terutama salat Magrib. Sayup-sayup terdengar deru motor yang dia yakini adalah suara motor milik Dewa. Rupanya kebersamaan mereka saat pergi dan pulang kerja beberapa hari ini, telah membuatnya hafal dengan suara deru motor itu.
Mimin segera membuka mukena yang masih dipakainya. Lalu keluar kamar, mengayun langkah menuju ruang tamu. Ia menyibakkan gorden dengan hati-hati dan mengintip dari balik tirai gorden. Dilihatnya Dewa sudah duduk di atas motornya dengan tampilan andalannya, celana jeans denim dan t-shirt warna hitam dan jaket denim. Tampilan khas anak band. Membuat pria tampan itu terlihat semakin memukau.
Mau ke mana dia malam-malam begini. Batinnya mendesah.
"Dooorrrr!!"
"Astagfirullahal adzim!”
__ADS_1
Opi yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya sengaja mengagetkan sebab melihat Mimin yang kepergok sedang mengintai seseorang.
“Opi bikin Teteh kaget aja. Untung jantung Teteh ga sampai copot loh,” keluh Mimin.
“Kalau jantung Teteh sampai copot, tenang ada Abang Dewa yang masangin,” seloroh Opi. Matanya mengerjap-ngerjap menggoda Mimin.
"Ciye... Lagi ngintipin siapa sih? Ngintipin suami ya?" Opi terus-terusan menggoda Mimin.
"Ih... Siapa juga yang lagi ngintip. Orang Teteh lagi ngebenerin gorden nih... belum tertutup sempurna," kilah Mimin. Tangannya menyentuh gorden, berpura-pura merapikannya.
"Iya... PER-CA-YA," kata Opi dengan menekankan kata percaya, dengan maksud menggoda tetehnya.
"Opi... Teteh beneran, ga lagi ngintip!"
"Hahahaha...." Opi tertawa melihat reaksi Mimin yang terlihat lucu karena pura-pura merapihkan gorden.
"Teteh... Opi...! Ayo sini bantuin Mami siapin makan malam!" teriak Mami dari dapur.
"Iya Mih...!!" sahut kedua kakak beradik itu berbarengan. Lalu keduanya berjalan sambil bercanda menuju dapur.
"Teh... Coba Nak Dewa dikasih soto semangkok mah buat makan malam,” kata Mami yang baru saja selesai memasak soto sebagai menu makan malam ini.
"Orangnya juga ga ada Mih," jawab Mimin. Ia membantu Mami menyiapkan makan malam.
"Loh, memang Nak Dewa ke mana?" tanya Mami lagi.
Mimin mengedikkan bahunya. "Gak tahu."
"Ditanya atuh Teh. Teteh kan istrinya. Opi perhatikan nih... Suami Teteh itu sering keluar malam, baru pulang tuh jam sebelas, kadang jam dua belas kalau malam minggu mah," sahut Opi yang duduk anteng di meja makan.
"Ding Gagah itu pernah cerita sama Abah kalau malam dia kerja sampingan," sambar Abah yang baru nimbrung dan langsung duduk di kursi meja makan.
"Kerja sampingan apa Bah, malam-malam begini?" tanya Mimin.
"Kerjanya...." Belum tuntas Abah berbicara keburu dipotong Opi.
"Atuh Teteh tanya sendiri dong sama Ka Dewa. Teteh kan istrinya," potong Opi.
"Nah bener kata Opi. Sebaiknya Teteh tanya langsung sama Ding Gagah." Abah mendukung ucapan Opi.
"Sering-sering lah ngobrol sama Ding Gagah Teh... biar hati Teteh bisa lebih mudah menerima Ding Gagah. Dia itu udah sah sebagai suami Teteh loh di mata Allah," lanjut Abah.
Mimin juga ikut mendudukkan bokongnya di bangku sebelah Opi. Ia terdiam merenungi ucapan Abah.
"Abah kenapa sih kayaknya Abah itu suka banget sama Ka Dewa?" tanya Opi. Sebab ia teringat dulu Abah memanggil Dewa dengan sebutan Kisanak, sekarang memanggil dengan sebutan Ding Gagah. Dan belum pernah Abah melakukan hal itu kepada orang lain.
"Jadi begini... Abah boleh bercerita?" Abah menatap ketiga wajah wanita berparas cantik itu bergantian.
"Boleh... Ayo cerita Bah!” sahut Opi antusias.
“Mami sama Teteh juga mau dengerin cerita Abah?” Abah memandang Mimin dan Mami bergantian.
“Iya... Abah,” sahut Mami.
Sedangkan Mimin menyengguk menjawab pertanyaan Abah.
“Jadi begini... Saat Abah pertama kali melihat Dewa, Abah tuh seperti sedang bercermin. Abah tuh seperti melihat diri Abah sendiri. Dia tuh mirip banget sama Abah,” tutur Abah.
“Hahahaha... “ Semuanya tergelak mendengar penuturan Abah.
“Gimana bisa, Abah lihat Ka Dewa seperti lihat diri Abah sendiri. Dari umur aja udah beda. Abah lucu ih, Hahahaha....” kata Opi dengan tawa terpingkal.
“Abah nih heureuy wae,” sahut Mami.
“Maksud Abah. Dewa itu mirip Abah waktu masih muda.”
“Hahahaha... “ Opi terus tertawa.
“Abah waktu muda itu ganteng loh kaya Dewa. Kalau Abah ga ganteng, mana mungkin anak-anak Abah cantik-cantik begini.” Abah berdalih.
“Iya, Teteh mah percaya Abah itu dulu ganteng,” sahut Mimin.
“Iya lah kalau ga ganteng, Mami ga akan mau menikah sama Abah,” kata Abah sambil mengerlingkan matanya melirik Mami.
“Waktu muda dulu, cita-cita Abah itu jadi rocker,” tutur Abah melanjutkan cerita.
__ADS_1
“Hah beneran Bah? Lalu lalu... ” Opi terlihat yang paling antusias.
“Tapi orang tua Abah ga pernah setuju Abah jadi rocker. Mereka terus mendesak Abah untuk meneruskan usaha Kakek, karena Abah kan anak satu-satunya. Jadinya ya Abah gagal jadi rocker deh.”
“Wah keren-keren,” sahut Opi.
“Kok Mami ga tahu sih Bah,” sahut Mami.
“Mami kan ketemu Abah pas Abah udah punya anak tiga. Jadi Mami kan gak tahu gimana Abah waktu muda.”
“Pantesan itu si Opi gayanya metal kitu, geningan nurun ti si Abah.”
“Hahahahaha...”
Setelah mendengar cerita Abah, keluarga Haji Zaenudin menikmati santap makan malam diselingi obrolan ringan.
******
Langit kini sudah menggelap dan semakin pekat. Meskipun pekatnya tak mampu memudarkan keindahan. Sebab bulan dan bintang yang dengan setia menghias langit begitu cantiknya.
Mimin masih belum dapat memejamkan matanya ketika terdengar suara deru motor yang kini mulai dihafal dengan baik oleh indra pendengarannya. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 23.15.
Ia beringsut bangun lalu membuka pintu kamarnya dengan hati-hati agar tak membangunkan penghuni rumah lainnya. Seperti saat magrib tadi, ia berjalan menuju ruang tamu lalu menyibakkan gorden. Benar seperti dugaannya, deru motor itu memang suara motor Dewa.
Dilihatnya Dewa sudah turun dari motor. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam rumah, justru Dewa terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, seperti sedang mengetik pesan untuk seseorang..
Ia masih memperhatikan gerak-gerik Dewa melalui tirai jendela ketika ponsel dalam genggamannya bergetar sebab ada notifikasi pesan. Ia menggigit bibir bawahnya lantaran tersipu membaca pesan yang masuk.
Pria Itu : Assalamualaikum, Salihahku. Makasih yah udah nungguin aku pulang. Dari pada ngintip suami tampanmu dari tirai jendela, mending sini deh keluar, lihat langsung aja.
Ia segera menutup gorden dan mengayun langkah cepat masuk kembali ke kamarnya. Sementara di luar Dewa tertawa-tawa melihat tingkah istrinya.
*****
Sang fajar shadiq telah terbit menandakan waktu subuh telah tiba. Suara azan menggema berkumandang membangunkan para insan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Usai menunaikan salat Subuh dan mengaji, Mimin bersiap untuk menyapu halaman rumahnya. Rutinitas subuh yang belakangan ini tak pernah dilakukan lagi setelah peristiwa kesalahpahaman malam itu.
Baru saja ia akan mulai menyapu ketika pandangannya menangkap bayangan ketiga orang pria yang mengenakan baju koko dan sarung serta peci, berjalan mendekat ke arah rumahnya. Mereka adalah Abah, Sol, dan yang paling tampil memukau tidak lain dan tak bukan adalah Dewa.
Ketiga pria itu sudah sampai di depan teras kontrakan. Mimin segera menghampiri Abah lalu meraih tangan dan mencium punggung tangannya.
“Teteh ga salim juga sama suami,” tegur Abah ketika Mimin sudah berbalik badan hendak melanjutkan kegiatannya.
Mimin yang tertegun dengan ucapan Abah lalu menghampiri Dewa dan meraih tangan dan mencium punggung tangannya. Untuk pertama kalinya. Membuat senyum Dewa seketika mengembang selebar-lebarnya.
“Sama gue ga salim, Min,” celetuk Sol.
“Enak aja... Bisa rabies istri gue kalau cium tangan lo!” sewot Dewa. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Mimin.
“Makasih Mina. Nanti kita berangkat kerja bareng lagi ya,” ujar Dewa. Yang dijawab oleh Mimin dengan anggukan kepala.
*****
Waktu menunjukkan pukul 07.20 ketika Mimin sudah rapih mengenakan pakaian kerjanya. Ia memoles wajahnya dengan bedak tipis lalu memoles bibir ranumnya dengan lipstik warna nude.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, namun tak disertai sahutan suara seseorang.
Mimin yang sedang duduk di depan meja rias segera bangun lalu membuka pintu kamarnya.
“Mimiiiiiin....!” seru seorang wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Hanaaaa.....!” balas Mimin menyerukan nama sahabatnya.
.
.
.
Satu bab nih, tapi 2k kata loh. Bab terpanjang kurasa.
Untuk kisah bos tampan Mimin yang bernama Rizal, bisa baca kisahnya di novel pertamaku judulnya Suami Bayaran.
__ADS_1
Bisa baca Suami Bayaran dulu sambil menunggu up. Ceritanya juga seru dan menghibur pastinya.
Terima kasih dukungannya 🙏🙏🙏😘😘😘