Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Namanya Mimin


__ADS_3

Dewa dan gadis berkerudung merah itu tengah duduk di kursi panjang dekat apotek. Mereka sedang menunggu obat dalam keheningan. Tanpa ada obrolan.


"Ehem." Dewa berdehem mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka.


"Aku minta maaf yah. Karena aku ... kamu jadi terluka," ujar Dewa.


Gadis itu diam saja tidak menjawab, bahkan sejak tadi tak pernah sekejap pun menatap pria yang duduk di sebelahnya itu. Ia hanya menunduk, menjalin jari jemari di atas pangkuannya.


"Nona Mala...." seru petugas apotek yang berjaga.


"Iya," sahut Dewa. Ia berjalan menuju meja counter apotek. Gadis itu menatap punggung tegap Dewa yang berjalan menuju apotek dengan ekspresi keheranan.


"Ini obatnya. Semoga lekas sembuh," ujar petugas apotek sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih." Dewa membalas dengan tersenyum ramah juga.


Setelah menerima kantong plastik berisi obat-obatan, ia kembali menghampiri gadis berkerudung merah.


"Ini obatnya." Tangan Dewa terulur menyerahkan kantong plastik berisi obat-obatan kepada gadis itu.


Gadis itu menatap Dewa dengan ekspresi bingung. Dewa seolah mengerti apa yang ada di pikiran gadis cantik itu.


"Maaf yah ... aku kan belum tahu nama kamu ... jadi aku kasih nama Mala aja...." Dewa tersenyum. "Mala ... Malaikat tak bersayap," sambungnya.


Gadis itu melotot, raut wajahnya jelas kelihatan tak menyukai pria di hadapannya itu. Walau ia belum mengenal pria itu. Namun, ia sudah bisa menyimpulkan tentang pria itu.


Ada dua kesimpulan yang ia yakini. Pertama, bahwa pria itu berbeda keyakinan dengannya. Atau kedua, pria itu memiliki keyakinan yang sama dengannya tapi dia bukan pria yang taat beragama. Pasalnya, ini adalah hari Jumat siang. Bukankah seharusnya ia ada di masjid menunaikan ibadah salat Jumat yang hukumnya fardu 'ain bagi tiap-tiap orang muslim laki-laki. Pria yang berdiri di hadapannya ini jelas bukan pria idamannya.


Trik... Dewa menjentikkan jari tengah dan ibu jari di depan wajah si gadis.


"Kenapa? Lihat aku sampai segitunya ... aku keren banget ya," godanya dengan senyum menyeringai.


Gadis itu tak menanggapi, dengan cepat ia mengambil kantong plastik obat dari tangan Dewa.


"Namaku Dewa. Nama kamu siapa?" tanya Dewa.


Gadis itu melengos tak menanggapi. Ia segera beranjak berjalan menuju pintu keluar klinik. Dewa turut beranjak, mensejajari langkah gadis itu.


"Mau aku anterin pulang?" tawar Dewa. Meskipun ia juga tak yakin karena tak mengenali kota ini. Ini memang bukan kali pertama ia menginjakkan kaki di kota Serang. Sudah beberapa kali ia mengunjungi kota ini menemani Soul pulang kampung. Namun, tetap saja ia merasa asing. Untuk sampai ke rumah sahabatnya saja, ia tidak hafal kalau tidak dijemput.


"Ga usah ... makasih," jawab gadis cantik itu cepat.


Dewa melongo mendengar gadis cantik itu menjawab tawarannya. "Alhamdulillah," ucapnya. Pasalnya, sejak pertama bertemu tadi, tak pernah sekalipun terdengar gadis itu berbicara barang sepatah dua patah kata. Ia hanya berekspresi lewat mimik wajah, mengangguk atau menggeleng. Sehingga sempat terlintas di benak Dewa bahwa gadis cantik itu seorang tuna wicara.


"Kenapa kamu bilang alhamdulillah?" tanya gadis itu dengan raut masam.

__ADS_1


Pasti tadi dia nawarinnya ga tulus hanya basa-basi, makanya pas aku nolak dia bilang alhamdulillah. Eh, tadi di bilang alhamdulillah kan? Berarti dia muslim kan? Pria muslim kok ga salat Jumat. Gumam si gadis dalam hati.


"Alhamdulillah ... karena akhirnya kamu mau bicara dan menjawab pertanyaan aku," jelas Dewa.


"Seriusan nih ga mau ngasih tahu nama kamu?" Dewa tersenyum menyeringai. "Aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Dan sebentar lagi nih ... aku yakin akan tahu nama kamu," katanya dengan penuh keyakinan.


Gadis itu tak merespons, ia sibuk mengutak-atik ponselnya, memesan ojek online. Karena ini hari Jumat siang, cukup kesulitan ia mendapatkan driver yang mungkin kebanyakan dari mereka sedang melaksanakan salat Jumat. Setelah menunggu lumayan lama, seorang berjaket hijau berlogo ojek online datang menghampirinya.


"Dengan Mbak Mimin?" tanya sang driver ojek online. Gadis itu mengangguk.


Dewa tersenyum karena seperti tebakannya, dia kini sudah mengetahui nama gadis itu. Oh, namanya Mimin. Gumamnya.


Mimin segera duduk di jok belakang motor ojek online, tanpa menoleh, tanpa senyum sapa, apalagi salam perpisahan kepada pria menyebalkan yang bernama Dewa.


"Diantar sesuai titik ya Mbak?" tanya driver.


"Iya Pak, sesuai titik."


"Baik, Mbak."


"Hati-hati yah Pak ... jangan sampai bikin gadis cantik ini lecet," ujar Dewa. Padahal barusan dirinya yang sudah membuat gadis cantik itu lecet.


"Mimin ... maafin aku yah. Kita ketemu lagi nanti," ujar Dewa sebelum driver melajukan motornya. Mata Dewa mengikuti gerak motor yang membawa Mimin hingga bayangannya menghilang.


"Wa ... di mana Lo? Gue udah di depan kampus."


"Lo nyebrang gih ... gue ada di depan klinik Ikhlas Medika."


"Hah... Lo lagi ngapain di klinik?"


"Habis ketemu bidadari."


"Apa??"


"Gila lo Soul ... udah berapa lama lo salat. Doa lo makbul, Men."


"Ngomong apa sih lo. Ya udah tunggu sebentar ... gue ke sana sekarang."


*****


Mimin sampai di sebuah kantor berlantai tiga. Ia turun dari motor dan membayar ongkos ojek.


"Min ... kenapa jidat lo?" tanya teman-teman kantornya. Setiap bertemu rekan kerjanya, mereka akan bertanya tentang luka di dahinya. Dan ia akan menjawab dengan jawaban yang sama. "Tadi habis kecelakaan."


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Mimin mengetuk pintu ruangan atasannya.


Mimin sudah setahun bekerja di kantor ini, ia adalah sekretaris Rizal. Ia bekerja di sini atas rekomendasi Rahma adiknya Rizal, sahabatnya sejak kecil. Saat itu Rizal kelimpungan karena Yuli sekretarisnya yang dulu mengajukan resign karena ingin fokus mengurus anaknya. Kemudian Rahma mengajukan Mimin. Dan Aya, istrinya Rizal juga menyetujui jika Mimin yang menggantikan Yuli. Karena Aya juga sudah mengenal Mimin, ia adalah gadis yang baik.


"Iya masuk," sahut seseorang di dalam sana yang tak lain adalah Rizal, atasannya.


Mimin masuk ke ruangan itu.


"Loh, Min ... kening kamu kenapa?" tanya Rizal.


"Emmm ... tadi ada sedikit kecelakaan kecil, Pak."


"Wah, saya jadi ga enak nih. Tadi saya yang sudah nyuruh kamu mengantarkan proposal ke Bu Silvi." 


Tadi, Rizal menyuruhnya mengantarkan proposal kepada Bu Silvi, seorang dosen di kampus Untirta. Ia baru keluar pintu gerbang kampus saat sebuah kaleng minuman bersoda mengenai dahinya dengan sangat keras. Ia yakin kaleng itu dilempar dengan kekuatan super power. Sehingga membuat dahinya terluka parah dan harus mendapatkan beberapa jahitan. Seketika wajah pria menyebalkan itu muncul di lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya. Sial banget aku ketemu pria itu. Batinnya.


"Min ... kenapa?" Pertanyaan Rizal membuyarkan lamunannya.


"Eh ... enggak papa ko, Pak."


"Min ... kamu boleh pulang sekarang, takutnya kamu pusing."


"Enggak Pak. Enggak usah ... saya baik-baik aja kok."


"Beneran kamu gak papa?"


"Iya Pak, saya gak papa kok. Oya Pak, tadi Bu Silvi menitipkan ini." Ia menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Oh, iya. Makasih yah, Min."


"Iya sama-sama, Pak. Saya permisi."


"Iya. Kalau kamu pusing ... kamu boleh pulang yah." Ia mengangguk. Lalu keluar ruangan, kembali ke meja kerjanya.


.


.


.


.


.


Ayo, siapa yang kangen sama Rizal. Mimin ini sekretarisnya Rizal ternyata.

__ADS_1


__ADS_2