
Sang mentari telah berlalu menuju peraduannya. Langit senja nan cantik semakin menghitam dan tenggelam, berganti dengan hadirnya langit malam nan indah, kian semarak dengan taburan kerlap kerlip bintang menghiasinya. Langit malam nan cantik di malam minggu yang indah.
Mimin tampil cantik dengan memakai sweater model oversized warna hitam dengan gambar animasi wanita muslimah, dipadukan dengan rok bermotif plaid warna abu-abu. Ia sengaja memilih memakai atasan sweater agar tak kedinginan, sebab tak terbiasa keluar malam. Penmapilannya semakin keren dengan sepatu boots model terbaru dan tote bag sebagai pelengkap penampilan. Tak lupa dengan polesan make up tipis nan sederhana khas dirinya.
"Idih... Teteh keren banget, tumben," celetuk Opi. Sebab teteh perempuannya itu adalah tipikal gadis rumahan yang hampir tak pernah keluar malam, atau pun menghabiskan waktu malam mingguan. Kalau pun pernah keluar malam, biasanya pergi ke toko buku bersama gank-nya. Siapa lagi kalau bukan Rahma dan Hana.
"Teteh mau ke mana, udah cantik gitu?" tanya Mami yang sedang duduk di depan televisi bersama Abah dan Opi.
"Mau ada acara sama teman-teman kerja, Mih. Sama Devi, Susi dan Irna," jawab Mimin jujur.
"Teteh kalau mau pergi, minta izin dulu sana sama Dewa," titah Abah.
"Iya, Bah. Ini juga Teteh mau ke sebelah dulu." Mimin mengayun langkahnya keluar rumah menuju kontrakan.
Sampai di depan kontrakan, ia mengetuk pintu. Tok... Tok... Tok...
"Neng Mimin, nyari Dewa ya?" sahut ibu yang tinggal di pintu kontrakan nomor dua.
"Iya, Bu."
"Dewa dan Sol tadi udah pergi kayaknya."
"Oh, begitu yah. Terima kasih Bu informasinya."
"Ya sama-sama Neng."
Ketika Mimin hendak kembali masuk rumah, sebuah mobil sedan warna hitam berhenti tepat di halaman luar pagar rumahnya. Ia mengenali mobil itu, mobil milik Susi. Di antara empat gadis itu, hanya Susi yang sudah memiliki mobil sendiri sebab ia adalah seorang arsitek di kantor tempat Mimin bekerja, sehingga gajinya pun yang paling tinggi di antara keempat gadis itu.
"Min, yuk langsung berangkat aja!" sahut Susi dari dalam mobil. Dan kedua temannya yang lain pun sudah ada di dalam mobil itu.
"Sebentar yah, pamitan sama Abah dan Mami dulu!" sahut Mimin. Lalu ia masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dengan Abah dan Mami.
"Jangan ragu untuk memecahkan masalah, kecuali ada tulisan "Memecahkan berarti membeli.”
"Hahahahaha..." Abah, Mami dan Opi yang sedang menonton acara stand up comedy tertawa-tawa mendengar petikan kalimat dari sang komika.
"Mih, Bah... Teteh jalan dulu ya, udah dijemput sama teman-teman." Mimin menyalami, mencium punggung tangan Abah dan Mami.
"Pulangnya jangan malam-malam yah Teh," pesan Mami.
"Ciye... Teteh mau malmingan, hati-hati ya Teh," kata Opi.
"Iya. Teteh berangkat yah. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab semuanya kompak.
"Opi tumben gak malam mingguan," celetuk Mami setelah Mimin berlalu pergi.
"Opi mau berubah lebih baik Mih. Mau jadi gadis baik-baik, jadi gadis rumahan, jadi gadis solehah... biar berjodoh sama pria soleh," tutur Opi dengan raut wajah serius namun justru terlihat lucu.
"Bagus... Kalau Opi udah insyaf begitu nanti Abah jodohkan sama Ustaz...."
"Ustaz siapa Bah?" Opi terlalu antusias mendengar kata 'Ustaz' sampai-sampai memotong kalimat Abah.
"Ustaz Mahmud, anaknya Ustaz Sulaeman."
__ADS_1
"Ih... Gak mau Bah. Gak mau sama Ustaz yang itu." Opi mendesah kecewa dan mengerucutkan bibirnya.
"Memang Opi lagi jatuh cinta sama Ustaz siapa??" tanya Mami yang menyadari perubahan perangai anak gadisnya.
Opi tersenyum simpul. "Emmm... Ada deh."
*****
Mobil yang dikendarai Susi terparkir di area parkir Baretos Cafe. Keempat gadis itu turun lalu masuk ke dalam kafe yang mengusung tema Panganan Tradisional Jajanan Kekinian. Suasana kafe dengan etnik tradisional modern itu tampak ramai dipenuhi muda-mudi berpasangan atau pun orang-orang yang sekedar ingin menikmati jajanan di kafe ini.
Mimin melangkah mengekor di belakang teman-temannya, ini adalah kali pertama baginya datang ke Baretos Cafe.
Keempat gadis itu akhirnya mendapat tempat duduk di dekat panggung. Dan Mimin duduk membelakangi panggung.
"Min, lo belum pernah ke sini ya?" tanya Irna, dan Mimin mengangguk menjawab pertanyaan Irna.
"Mimin mah biasanya ke majelis, ikut pengajian," seloroh Devi.
"Ih, enggak begitu juga kok," kilah Mimin.
"Di kafe ini, apalagi kalau malam minggu begini... biasanya ada live music gitu. Penyanyinya itu loh... ganteng bingit, keren pokoknya," kata Susi dengan penuh semangat.
"Uch... Ganteng gila pokoknya." Devi mengamini pernyataan Susi.
Kemudian pelayan datang membawakan daftar menu. Mereka memesan makanan mulia dari panganan tradisional yang diinovasi menjadi resep kekinian, juga menu modern khas kafe yang juga tersedia di kafe ini.
"Sus, Pak Deka juga lo ajak ke sini kan?" tanya Irna.
"Iya. Tadi pagi udah gue telepon untuk ikut gabung sama kita," jelas Susi si empunya hajat yang memang telah mengundang Deka untuk bergabung bersama di malam minggu ini.
"Atau jangan-jangan, Pak Deka belum tahu lagi kafe ini," duga Devi.
"Coba gih lo sharelock Dev ke Pak Deka," titah Susi.
"Iya, soalnya ga mungkin kan kalau Pak Deka ga datang mah... ada Mimin soalnya," goda Irna.
"Ih, apaan sih," balas Mimin.
"Iya Min. Pak. Deka itu suka banget sama kamu loh." Devi ikut mengompori.
"Min... Udah terima aja Pak Deka, daripada lo ngejomblo." Susi pun turut mengompori.
"Udah dong jangan pada ngeledekin aku. Ga usah bahas Pak Deka," ujar Mimin.
"Ya udah kita bahas yang lain yuk. Markibah... mari kita ngegibah," seloroh Devi.
"Hahahaha..." semuanya tertawa.
Ketika keempat gadis itu sedang mengobrol, penyanyi di atas panggung kafe yang tak lain adalah Dewa mulai memetik gitar sambil menyapa pengunjung kafe.
"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam pengunjung sekalian di manapun Anda duduk. Hehehehe...
Untuk Anda yang datang dengan keluarga tersayang , atau yang datang dengan teman, atau yang datang dengan pasangan, atau yang datang dengan kejombloan, hehehehe...
Selamat datang dan selamat menikmati kenyamanan Anda di Baretos Cafe.
__ADS_1
Saya akan menyanyikan sebuah lagu yang merupakan tujuan hidup kita di dunia ini. Begitu kata Bang Haji Rhoma, hehehehe...
Sebuah lagu lawas yang dinyanyikan oleh Bryan Adams... berjudul Heaven."
Dewa mulai memainkan gitar dan menyanyikan lagu Heaven.
"Eh, tuh lihat keren kan penyanyinya," kata Susi sambil menunjuk ke arah panggung.
"Mana mana?" Irna yang juga baru pertama datang ke sini sama seperti Mimin, merasa penasaran dengan penyanyi kafe yang sering diceritakan oleh Susi.
"Tuh, lagi nyanyi. Ganteng, keren, suaranya bagus lagi," ujar Devi.
"Wah, iya ganteng, keren. Sayang gue udah punya pacar," keluh Irna.
"Yang udah punya pacar mundur... yang masih jomblo boleh maju," seloroh Susi.
"Hahahahaha..."
Mimin yang memang memiliki karakter pendiam hanya senyum-senyum saja mendengarkan obrolan dan candaan ketiga temannya itu.
Sejujurnya Mimin terpukau mendengar suara penyanyi itu, apalagi saat ini penyanyi itu sedang menyanyikan lagu favoritnya 'Heaven' dengan versi akustik. Petikan gitarnya sungguh luar biasa.
"Min... Kamu mau ikutan daftar ngegebet penyanyi itu ga," seloroh Devi.
Mimin menggelengkan kepalanya. "Enggak."
"Lo mah Dev, Mimin kan pria idamannya yang berjenggot lima lembar. Seperti Ustaz yang waktu itu datang ke kantor," kata Irna.
"Ah, iya. Mimin kan calon istri Ustaz ganteng itu ya," timpal Susi.
"Eh, bukan... itu mah teman aku," kilah Mimin.
"Ciye... Teman apa teman??" goda teman-temannya.
"Pantas saja ga mau sama Pak Deka. Mimin udah punya calon sih," ujar Irna.
"Min meski udah punya calon bukan berarti ga boleh lihat cogan kan?" Pertanyaan konyol Devi membuat Mimin tersenyum lebar.
"Boleh lah, masa lihat cogan ga boleh."
"Min, coba lihat cowok yang sedang menyanyi di panggung itu. Kira-kira cocok ga sama gue," kata Susi.
Mimin yang duduk membelakangi panggung akhirnya menoleh untuk melihat penyanyi itu. Dan seketika ia membeliakkan mata, mengiringi rasa terkejutnya. "Dewa..." lirihnya.
*****
Sementara di tempat lain.
Pria kelimis dan tampan, mengenakan kemeja tangan panjang warna hitam dengan lengan digulung hingga sampai siku. Kemeja yang dipakai begitu ngepas membalut tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana bahan warna hitam dan aksesori gesper branded, semakin menambah pesona ketampanannya. Dialah Deka.
Deka yang sedang duduk di belakang kemudi mobil, mengetuk-ngetukan jarinya di setir mobil. Sedang berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan datang ke Baretos Cafe memenuhi undangan Susi atau tidak, sebab ia tahu benar ada Dewa di sana.
"Pak Deka datang ya, Mimin juga ikut loh!"
Kalimat Susi yang membuatnya kian semangat untuk memenuhi undangan untuk bergabung bersama Susi cs di Baretos Cafe. Tentu saja karena wanita yang diincarnya, ada di sana.
__ADS_1