
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang bapak tua berkopiah sedang terbatuk-batuk.
"Batuk Pak Haji..." sapa Dewa. Tangannya menyodorkan air mineral dalam bentuk gelas untuk si Bapak berkopiah.
"Boten usah, Ding. Hatur nuhun, niki wenten," jawab Bapak Berkopiah. (Ga usah, Nak. Terima kasih, ini ada.)
"Maaf Pak Haji ... saya ga ngerti Pak Haji ngomong apa. Pak Haji ngomong pakai Bahasa Indonesia aja yah, biar saya ngerti." Tentu saja Dewa tidak mengerti apa yang diucapkan Bapak berkopiah itu yang menurut perkiraannya adalah bahasa daerah sini.
"Oh ... Kisanak bukan orang sini rupanya? Lalu dari manakah Kisanak berasal?" tanya Bapak berkopiah.
Apa?? Gua dipanggil Kisanak. Etdah busyet... berasa hidup di zaman Brama Kumbara jadinya. Dewa terkekeh geli tapi hanya di dalam hati.
"Saya bukan orang sini Pak Haji ... saya dari Jekardah," jawab Dewa.
"Apa? Jekardah itu di mana Kisanak?"
"Hehehe... maksud saya Jakarta, Pak Haji. Bahasa kerennya Jekardah," jelas Dewa.
"Oooh...." Pak Haji ber oh sambil manggut-manggut.
"Pak Haji lagi ngapain di sini?" Dewa memberanikan diri bertanya.
"Biasa, pasangan Abah mogok lagi," jawab Pak Haji. Ia menunjuk sebuah mobil sedan keluaran lama yang terparkir di depan Betamart.
"Honda City itu, Pak Haji?"
"Iya betul, Kisanak."
"Boleh saya cek mobilnya, Pak Haji." Dewa meminta izin.
"Memangnya, Kisanak paham soal mesin mobil?"
"Saya coba cek dulu Pak Haji. Siapa tahu saya kenal sama penyakitnya."
"Boleh boleh ... silakan."
Dewa menghampiri mobil itu dengan ditemani Pak Haji.
"Wah, mobil ini keluaran tahun 96 yah, Pak Haji?"
"Iya betul, Kisanak. Ini mobil pertama yang bisa Abah beli. Makanya mobil ini ga akan pernah dijual meski udah semakin tua."
Dewa tersenyum. "Pak Haji, bawa perkakas mobil?" tanyanya.
"Ada ... sebentar." Pak Haji membuka bagasi dan mengeluarkan sekotak toolkit. Karena mobilnya sering mogok, toolkit ini selalu ada di dalam bagasi mobil.
"Ini Kisanak." Pak Haji menyerahkan toolkit kepada Dewa.
Dewa mulai mengutak-atik mesin mobil. Sementara Pak Haji yang awalnya memperhatikan Dewa mengutak-atik mesin, kini memilih untuk duduk di teras Betamart. Tidak sampai setengah jam, Dewa sudah berhasil membuat mesin mobil itu kembali menyala.
"Sudah bisa jalan, Pak Haji," pekik Dewa di tengah suara deru mesin mobil.
Pak Haji menghampiri Dewa. "Wah, mantap Kisanak. Rupanya, Kisanak ini seorang montir," ucapnya sambil menepuk bahu Dewa yang memiliki tinggi badan melebihi dirinya.
"Ah, bukan kok Pak Haji. Kebetulan ini hobi saya. Dan kebetulan saja saya bisa mengatasi penyakit pasangan Pak Haji. Hehehe..."
"Terima kasih, terima kasih Kisanak. Tadi Abah mau menghubungi kawan Abah, meminta dia mengirim karyawannya ke sini untuk memperbaiki mobil Abah. Eh, berkali-kali ditelepon, nomornya ga aktif," tutur Pak Haji. "Untung, ada Kisanak. Terima kasih, ya," imbuhnya.
"Sama-sama Pak Haji," balas Dewa seraya tersenyum ramah.
Pak Haji mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. "Ini untuk Kisanak," ujarnya.
"Eh, enggak usah Pak Haji. Saya niat nolong aja Kok," tolak Dewa.
"Enggak papa, Kisanak ... ambil saja, buat beli rokok," ujar Pak Haji.
__ADS_1
"Saya ga merokok, Pak Haji." Sejak melangkahkan kaki keluar dari rumah orang tuanya, tekadnya hanya satu. Hidup mandiri. Usahanya dimulai dengan cara berhenti merokok. Yang terpenting adalah ia bisa makan dengan uang hasil keringat sendiri. Daripada uang habis untuk membeli rokok, lebih baik uangnya ditabung. Begitu pikirnya.
"Luar biasa, Kisanak ga merokok," ucap Pak Haji dengan penuh kekaguman. Dewa hanya tersenyum menanggapinya.
"Jadi Kisanak dari Jakarta, kalau boleh tahu ada keperluan apa Kisanak di sini ... siapa tahu Abah bisa bantu?" tanya Pak Haji.
"Saya lagi cari kontrakan, Abah Haji. Dan lagi cari kerja juga ... tapi... saya ga bawa ijazah."
"Wah kebetulan, Abah punya kontrakan. Ada yang kosong satu. Kisanak mau?" tawar Pak Haji.
"Wah boleh tuh, Bah Haji. Nanti saya lihat dan semoga cocok," ujar Dewa sumringah. Semakin cepat Ia mendapat kontrakan semakin baik, agar tidak merepotkan keluarga Sol.
"Kalau masalah pekerjaan ... emmm... kalau kerja di bengkel mau?"
"Mau ... saya mau Bah Haji," jawab Dewa antusias.
"Nanti Abah kenalkan dengan kawan Abah yang punya bengkel itu ... yang biasa memperbaiki mobil Abah ini."
"Makasih banyak, Abah Haji." Dewa menarik tangan Pak Haji dan menciumi punggung tangannya berkali-kali.
"Sudah cukup ... jangan berlebihan Kisanak," elak Pak Haji.
"Oya Bah Haji, nama saya Dewa. Abah Haji panggil saya Dewa aja ... jangan panggil Kisanak," pinta Dewa.
"Oh ya ya ... saya Haji Zaenudin. Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Pak Haji Zaenudin.
"Berangkat ke mana, Abah Haji?" tanya Dewa bingung.
"Ke bengkel kawan saya. Katanya Kisanak mau kerja?"
"Dewa, Bah ... jangan panggil Kisanak," sungut Dewa. "Saya merasa ada di zaman Raden Kian Santang kalau Abah Haji panggil Kisanak."
"Ah, iya Dewa ... Nama Kisanak bagus sekali," ujar Pak Haji Zaenudin.
Dewa menepuk jidatnya. Tetap, Kisanak selalu disebut. Batinnya.
"Ya sudah ... ayo kita berangkat sekarang."
"Ayo..."
Pak Haji Zaenudin masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Dewa pun turut masuk mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah Pak Haji Zaenudin.
Selama dalam perjalanan, mereka asyik berbincang-bincang terutama obrolan seputar otomotif. Pak Haji Zaenudin yang tidak terlalu mengenal tentang otomotif merasa suka cita dan antusias dengan hal yang dibicarakan oleh Dewa. Kemudian topik berganti, Pak Haji Zaenudin yang asli Banten mulai bercerita tentang kota ini. Kali ini Dewa hanya mendengarkan Pak Haji bercerita.
Tidak berselang lama, mereka pun sampai di bengkel milik kawan Haji Zainudin.
"Assalamualaikum," sapa Haji Zainudin kepada seorang Bapak yang juga memakai kopiah.
"Waalaikum salam," jawab Bapak berkopiah.
"Kisanak ... kenalin ini Haji Hamid, kawan Abah," ucap Haji Zainudin memperkenalkan mereka berdua. Dewa menyalami Bapak berkopiah yang bernama Haji Hamid itu.
"Ji ... seperti biasa tadi mobil ana mogok lagi. Nah, anak ini yang memperbaiki mobil ana. Ga sampai setengah jam, sudah jalan lagi mobilnya," tutur Haji Zaenudin.
"Wah, hebat dong," puji Haji Hamid.
"Nah, makanya ente lagi butuh karyawan montir ga? Anak ini lagi cari kerja. Kasihlah kerjaan buat anak ini."
"Emmm... kebetulan ana lagi kekurangan montir nih Ji. Tapi... harus di tes dulu lah," ujar Haji Hamid.
"Coba aja di tes dulu anaknya," saran Haji Zaenudin.
"Siapa nama kamu?" tanya Haji Hamid.
"Dewa, Pak Haji."
"Dewa ... coba kamu perbaiki motor matic itu. Dari kemarin belum kepegang karena si Ipul dan Mail sibuk ngurusin mobil itu tuh, belum kelar-kelar."
__ADS_1
"Ayo, Kisanak tunjukkan kemampuanmu." Haji Zainudin menyemangati Dewa.
"Apa? Kisanak? Emangnya ini film Angling Dharma, Ji." Haji Hamid tertawa. Dewa ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Walaupun ia sudah memperkenalkan namanya, tetap saja Pak Haji Zainudin memanggilnya dengan sebutan "Kisanak".
Kemudian Dewa mulai mengutak-atik motor matic yang ditunjuk Haji Hamid. Sementara dua orang Pak Haji itu asyik bercengkerama. Kurang dari satu jam, Dewa berhasil membuat motor matic itu kembali menyala.
"Wah... bagus, mantap... kamu saya terima bekerja di sini," ujar Haji Hamid dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak, Pak Haji. Saya senang sekali bisa diterima bekerja di sini," ucap Dewa sumringah.
"Tapi di sini gajinya kecil," kata Haji Hamid.
"Ga masalah buat saya, yang terpenting ada kegiatan dan cukup untuk makan sehari-hari," jawabnya jujur.
"Tapi percobaan dulu selama seminggu, kalau kerja kamu bagus, bisa lanjut sampai sebulan dan bisa jadi karyawan tetap di sini," tutur Haji Hamid.
"Terima kasih, Pak Haji ... terima kasih." Dewa menarik tangan Haji Hamid lalu mencium punggung tangannya. Haji Hamid tersenyum melihat ekspresi kegembiraan Dewa.
"Abah Haji, terima kasih ya." Ia juga meraih tangan Haji Zaenudin lalu menciumnya.
“Iya sama-sama. Kalau begitu, Abah mau pulang dulu yah. Ji, nitip anak ini yah. Dia anak baik, ana percaya.”
Haji Hamid menganggukkan kepala. “Iya, tenang aja Ji,”ucapnya.
“Abah Haji maaf, tentang kontrakan itu bagaimana? Di mana alamatnya? Kalau bisa, pulang kerja saya mau langsung ke sana.” Dewa mengingatkan hal yang hampir terlupa.
“Oh, iya. Ini kartu nama Abah. Kisanak datang saja langsung.” Haji Zaenudin menyerahkan sebuah kartu nama.
“Terima kasih, Abah Haji.”
“Iya sama-sama.”
“Ya sudah, permisi ya. Assalamualaikum.” Haji Zaenudin berpamitan.
“Waalaikum salam,” jawab Dewa dan Haji Hamid.
“Dewa ... kamu bisa langsung kerja sekarang. Nanti Ipul yang akan mengarahkan kamu.”
“Terima kasih, Pak Haji.”
“Iya sama-sama.”
******
Tidak terasa waktu sore sudah tiba. Karena ini hari minggu, bengkel tutup lebih awal yaitu pukul 16.00. Setelah membereskan pekerjaannya. Dewa berpamitan pulang.
Ia menaiki angkot, menuju alamat yang tertera di kartu nama yang tadi diberikan oleh Haji Zaenudin. Tentu saja sebelumnya, ia menanyakan dahulu kepada Haji Hamid agar tidak tersesat.
Ternyata naik angkot di kota ini sama seperti naik taksi. Dia jadi penumpang satu-satunya di angkot itu. Entah karena jumlah angkot yang terlalu banyak, atau jumlah penduduk yang terlalu sedikit, atau karena semua penduduk di kota ini menggunakan kendaraan pribadi baik motor ataupun mobil, sehingga angkot terancam sepi.
Ketika angkot melintas di depan sebuah Mall, seorang wanita menghentikan angkot dan naik ke angkot itu. Angkot kembali melaju setelah wanita itu berhasil duduk.
Dewa duduk di kursi panjang tepat di belakang supir. Sementara wanita itu duduk di dekat pintu belakang angkot, berseberangan dengan tempat duduk Dewa. Dewa semula tidak menyadari kehadiran wanita itu karena ia sedang berkirim pesan dengan Sol. Wanita itu juga tidak menyadari karena selalu menundukkan pandangannya.
Setelah kegiatan berkirim pesan dengan Sol selesai, Dewa mengangkat wajahnya. Ia terperangah. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Seketika, angkot ini terasa ditaburi bunga-bunga.
“Mimin ... kita bertemu lagi,” sapanya dengan senyum merekah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo... siapa yang inget sama Haji Zaenudin? Namanya pernah disebut di novel pertamaku.