Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kamu Ngikutin Aku Ya.


__ADS_3

"Mimin ... kita bertemu lagi,” sapanya dengan senyum merekah.


Mata Mimin mencelang demi mendapati pria menyebalkan yang telah membuat kening sehalus pualamnya menjadi lecet dan harus mendapatkan beberapa jahitan. Pria itu duduk di hadapannya, dalam satu angkot yang sama, dimana penumpangnya hanya mereka berdua. Apakah ini berarti bahwa kota ini hanya seluas daun kelor, hingga harus bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi. Batinnya.


"Gimana kabar kamu, Min?" tanya Dewa, tidak lupa dengan menampilkan senyum termanisnya.


Mimin hanya menatapnya sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya, tanpa berniat menjawab pertanyaan pria di hadapannya. Lagi pula pertanyaan macam apa itu, aku sekarang bisa duduk manis di angkot ini berarti aku baik-baik saja, kan. Tidak perlu melempar pertanyaan basa-basi seperti itu. Gumamnya dalam hati.


"Tebakan aku selalu jitu ya. Waktu itu aku bilang, kalau kita pasti akan bertemu lagi, kan? Bener kan, selang sehari doang, kita bisa bertemu lagi." Dewa menaik-turunkan kedua alisnya. Sementara Mimin mencebikkan bibirnya.


"Kalau sampai sekali lagi ada kebetulan di antara kita ... aku mah yakin pasti kita ditakdirkan berjodoh," seloroh Dewa penuh percaya diri.


Mimin melotot mendengar celotehan Dewa yang menurutnya sangat ngawur. Dewa tersenyum geli melihat ekspresi Mimin yang jelas tidak setuju dengan ucapannya.


"Eh, iya Min ... kemarin bagaimana kata dokter. Kapan harus kontrol ke sana lagi?" tanya Dewa. Ia melihat perban anti air masih menempel di kening sehalus pualam milik Mimin.


"Enggak," jawab Mimin singkat.


"Enggak ... gimana maksudnya? Harus kontrol dong!" seru Dewa.


"Kalau kamu mau kontrol nanti hubungi aku ya. Nih, catat ya nomor telepon aku. Kosong delapan lima tu..." Belum selesai Dewa menyebutkan nomor ponselnya, Mimin sudah menyahut.


"Tidak perlu ... terima kasih. Kalau pun harus kontrol, saya bisa pergi sendiri tanpa bantuan kamu!" sahut Mimin.


"Ya ga bisa begitu dong. Tanggung jawab saya kan belum selesai. Mengantar kamu kontrol itu bagian dari tanggung jawab saya ... sebagai penebus kesalahan saya," tukas Dewa.


"Kalau aku bilang ga usah ya ga usah. Kalau aku bilang ga perlu ya ga perlu," tegas Mimin.


"Pak ... depan kiri ya," seru Mimin kepada Pak Supir angkot.


"Ok, siap Neng," jawab si Supir.


Pak Supir terlebih dahulu melambatkan laju mobilnya sebelum menepikan mobil ke sisi kiri jalan. Mimin turun dari angkot. Lalu membayar ongkos angkot sebesar empat ribu rupiah.


"Kang ... Akang juga turun di sini, sudah sampai. Ini kampung Cibening," ujar Supir angkot kepada Dewa.


"Oh, di sini yah Mang kampung Cibening?" tanya Dewa memastikan.


"Iya Kang, di sini."


Sebelum Dewa turun dari angkot, matanya menatap kantong kresek besar warna putih di dekat tempat yang tadi diduduki Mimin. Sudah pasti itu adalah barang belanjaan Mimin yang tertinggal. Dewa mengambil kantong kresek putih yang berisi belanjaan Mimin. Kemudian Ia turun dari angkot dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan sebagai ongkos. Pak Supir mengembalikan uang lima ribuan kepada Dewa sebagai uang kembalian.


"Terima kasih yah, Mang Supir," ucap Dewa sebelum angkot itu berlalu.


"Iya sama-sama, Kang."


Dewa berjalan persis di belakang Mimin. "Benar-benar suatu kebetulan," gumamnya.


Mimin sepertinya tidak menyadari bahwa Dewa juga ikut turun dari angkot yang tadi mereka naiki bersama.


"Min ... tunggu!" seru Dewa sambil berusaha mengejar langkah Mimin yang sudah jauh di depan.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Mimin menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. "Hmmm... Dia lagi," gumamnya dengan raut wajah kesal.


Eh, tapi kok dia bawa plastik kresek seperti belanjaan punyaku. Loh, mana belanjaanku. Astagfirullah, ketinggalan di angkot. Batinnya.


"Min...." Dewa berhasil menyusul Mimin dengan nafas terengah-engah.


"Kamu ngikutin aku?!" tuduh Mimin.


"Enggak. Ini... aku mau ngasih ini. Belanjaan kamu ketinggalan," ujar Dewa sambil menyerahkan kantong plastik kresek warna putih.


"Te-terima kasih," jawab Mimin ragu.


"Iya sama-sama." Dewa tersenyum.


Mimin kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Dewa berjalan di belakangnya. Mimin yang merasa diikuti, segera berbalik ke belakang.


"Kamu ngikutin aku?!" tuduh Mimin seperti sebelumnya.


"Enggak. Aku memang sedang mencari alamat di kampung ini. Ini kampung Cibening kan?" tanya Dewa.


"Min, kamu orang kampung sini yah. Kalau begitu sekalian aku tanya sama kamu aja yah. Kamu tahu ga rumahnya Pak Haji...." Dewa belum menyelesaikan kalimatnya.


"Min...." seru seorang wanita dengan mengendarai motor.


"Rahma...." Ternyata yang memanggil adalah Rahma, sahabatnya.


"Dari mana Min? Mau pulang kan? Bareng yuk," ajak Rahma.


"Ok." Mimin naik ke atas motor duduk di jok belakang dibonceng oleh Rahma. Motor pun mulai melaju.


"Siapa? Yang mana?" tanya Mimin pura-pura tidak paham.


"Cowok yang tadi ngobrol sama kamu," kata Rahma.


"Bukan siapa-siapa ... aku juga ga kenal," jawab Rahma.


"Ciye... Ciye... Yakin, ga kenal?" goda Rahma.


"Ih Rahma ... aku ga kenal sama cowok menyebalkan itu," tukas Mimin.


"Ciye... Katanya ga kenal ... tapi kok tahu kalau itu cowok menyebalkan." Rahma menggodanya lagi.


"Ih, udah udah .... ga usah ngebahas cowok itu," sungut Mimin.


"Ehem... Iya deh ga usah dibahas. Nanti lihat endingnya aja gimana. Hahahaha...."


"Rahma...." Mimin mencubit pelan pinggang sahabatnya itu. Membuat Rahma tersenyum-senyum sendiri.


Sementara Dewa yang jauh tertinggal di belakang, memutuskan berhenti di sebuah warung untuk membeli sebotol air mineral. Sekalian bertanya kepada pemilik warung.


"Bu, maaf mau tanya. Kalau rumah atau kontrakan Haji Zaenudin di mana ya?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Oh, Pak Haji Zaenudin. Abang jalan lurus aja sampai nanti ketemu perempatan. Nah, Abang nanti ambil kiri. Nanti di sana kalau ada warung tanya lagi aja di mana rumah Pak Haji. Semua orang kenal kok sama Pak Haji Zaenudin," tutur pemilik warung.


"Oh, begitu. Makasih yah Bu informasinya. Eh iya ini habisnya berapa Bu, air mineral sama roti."


"Jadi habisnya tujuh ribu Bang."


"Kalau begitu rotinya satu lagi deh Bu, biar pas sepuluh ribu."


"Oh, iya. Ini rotinya Bang."


"Terima kasih, Bu."


"Iya sama-sama."


Dewa melanjutkan perjalanannya. Setelah bertanya kembali kepada seorang pemilik warung, ia sampai di rumah besar bercat hijau. Di depan halaman rumah tersebut ada pohon mangga dan pohon jambu. Di sebelah rumah, ada kontrakan berjumlah delapan pintu.


Kalau ditempuh dengan berjalan kaki ternyata cukup lumayan jarak yang ditempuh dari depan gang saat turun angkot tadi hingga ke rumah ini, menghabiskan waktu hampir lima belas menit. Sepertinya ia harus segera membeli motor, untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Tentu saja motor bekas yang murah dan masih bagus yang akan menjadi pilihannya.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum." Sudah sepuluh kali Dewa mengetuk pintu dan mengucap salam, namun pemilik rumah belum membukakan pintu untuknya.


"Mas, mau cari siapa?" tanya seorang ibu muda yang sedang duduk di teras kontrakan.


"Mau ketemu Pak Haji Zaenudin," jawabnya.


"Pak Haji sih kayaknya belum pulang, coba tekan aja belnya," saran Ibu muda itu.


"Terima kasih, Bu."


Dewa menekan bel yang ada di dinding dekat pintu rumah Pak Haji Zaenudin. Tidak lama seorang ibu berusia sekitar empat puluh tahunan membukakan pintu untuknya.


"Iya cari siapa?" tanya Ibu itu yang menurut tebakannya adalah istri dari Pak Haji Zaenudin.


"Pak Haji ada, Bu?" tanya Dewa.


"Wah belum pulang tuh."


"Saya mau cari kontrakan. Tadi pagi saya sudah ngobrol dengan Pak Haji. Saya disuruh langsung datang ke sini."


"Oh... Silakan masuk," ujar ibu itu.


"Ga usah Bu, terima kasih saya duduk di luar saja," tolaknya.


"Silakan duduk dulu, Dek. Maaf saya tinggal ke dapur dulu, saya sedang masak takut gosong."


"Iya Bu, silakan."


Setelah ibu pemilik rumah pergi. Dewa duduk kembali di kursi teras. Cukup lama Ia menunggu, hingga tak dapat menahan kantuknya. Lalu ia tertidur dengan posisi duduk di kursi.


Seorang gadis remaja yang mengenakan celana jeans dengan sobekan di bagian lutut, dipadukan dengan kaos oblong warna hitam bertuliskan We Will Rock You, juga mengenakan topi.

__ADS_1


Gadis remaja itu memandangi Dewa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia memandangi Dewa yang tengah terlelap tertidur. Karena penasaran gadis itu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Dewa. Embusan nafasnya terasa menyapu wajah Dewa sehingga membuatnya terbangun.


“Hey... Lo mau cium gue!!” pekik Dewa terperanjat.


__ADS_2