
Pancaran cahaya putih kemerah-merahan telah terbit di ufuk timur. Sinarnya merata, membentang dari utara hingga selatan. Lantunan salawat menjelang subuh yang terdengar dari pengeras suara beberapa masjid mulai mereda. Berganti dengan kumandang azan Subuh yang menggema.
Dewa membuka matanya perlahan lalu mengerjapkannya beberapa kali. Ia menerbitkan sebuah senyuman karena mendapati Mimin tengah memeluknya. Bahkan sebelah kaki Mimin terangkat dan menumpang di kakinya.
Mimin tampak masih terlelap dalam tidurnya, diitandai dengan mulutnya yang mangap terbuka. Melihat Mimin tertidur seperti ini menjadi keasyikan tersendiri bagi Dewa. Biar tidurnya mangap, istrinya itu tetap terlihat cantik jelita.
Beberapa hari ini Dewa selalu terbangun lebih dulu. Atau Mimin yang selalu terlambat bangun. Hal di luar kebiasaan ini membuat Dewa berpikir dan menduga jika Mimin telah berbadan dua. Dan semoga saja dugaannya itu benar.
Dewa melepaskan tangan Mimin yang tengah memeluknya dengan hati-hati. Bergerak sehalus mungkin, agar tak membangunkannya. Lagi pula, waktu Subuh masih lama. Biarlah Mimin puas dengan tidurnya. Begitu pikirnya.
Dewa beringsut bangun. Lalu, segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mandi junub dan berwudu. Setelahnya ia segera pergi ke masjid untuk menunaikan salat Subuh berjamaah.
Sepulang dari masjid, Dewa mendapati Mimin masih terlelap tidur. Meski tidak tega, ia tetap harus membangunkannya.
Cup...
Dewa mengecup lembut pipi Mimin.
"Neng, bangun. Solat subuh dulu gih. Nanti habis solat boleh tidur lagi," bisik Dewa sembari menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada cuping telinga Mimin.
"Ih, Aa." Mimin terjingkat bangun. Dewa tahu betul kelemahan Mimin adalah pada cuping telinga dan telapak kaki. Jika kedua titik itu digelitiki, Mimin pasti akan menggelinjang kegelian.
"Udah mau jam setengah enam, solat dulu gih," titah Dewa.
"Astagfirullah. Aku kesiangan lagi ya." Mimin menatap jam di dinding kamar.
"Kayaknya, Neng lagi enak tidur. Gak papa, nanti habis solat, tidur lagi aja." Dewa mengusap puncak kepala Mimin.
"Aa udah solat?" tanya Mimin sembari turun dari ranjang.
"Udah dong. Ini baru aja pulang dari masjid," sahut Dewa.
"Neng mau mandi dulu." Mimin beranjak hendak ke kamar mandi.
"Neng, jangan lupa testpack!" seru Dewa sebelum Mimin keluar pintu kamar.
"Nanti aja lah A." Mimin menoleh sebentar lalu melanjutkan langkahnya.
"Sekarang aja, Neng. Masih ada 'kan stok testpack-nya?"
"Ada, di laci lemari! seru Mimin agak berteriak karena ia sudah keluar kamar.
Dewa segera mengambil testpack di laci lemari. Lalu dengan langkah gegas menyusul Mimin ke kamar mandi.
"Neng, nih" Dewa menyerahkan testpack sebelum Mimin menutup pintu kamar mandi. "Sekarang ya, Neng," lanjutnya.
Dengan setia, Dewa menunggu di depan pintu kamar mandi. Hatinya dag dig dug menanti hasil uji kehamilan tersebut. Sesekali ia berjalan mondar-mandir untuk mengurangi rasa cemas, Berkali-kali pula ia melirik arloji di tangannya. Hingga di menit kelima belas Mimin membuka pintu kamar mandi.
"Astagfirullah." Dewa yang sedang bersandar di pintu kamar mandi, tubuhnya hampir terjengkang ke belakang ketika Mimin membuka pintu.
"Kenapa Aa di sini?!" Mimin terkejut karena tak menyadari keberadaan Dewa yang sedang menunggunya di depan pintu.
"Kan nungguin Neng," dalih Dewa.
"Dont touch me, Aa!" seru Mimin, dengan rambut yang terurai basah, serta handuk yang diliit sampai dada. "Neng, punya wudu," lanjutnya.
"Iya, Sayang. Aa ga akan touch touch Neng," sahut Dewa.
"Minggir A, Neng mau lewat!"
"Terus gimana hasilnya?" tanya Dewa.
"Hasil apa?" Mimin balik bertanya.
"Loh, testpack-nya?"
"Neng belum lihat, A. Udah ah, mau solat dulu, takut kesiangan." Mimin mengayun langkahnya menuju kamar.
Dewa segera masuk ke kamar mandi. Matanya tertuju pada sebuah cup bekas air mineral berisi cairan berwarna kekuningan di atas kloset duduk yang tertutup. Ia meraih benda pipih kecil yang berada di samping cup. Ada dua garis berwarna merah di alat penguji kehamilan tersebut. Garis pertama berwarna merah, sedangkan garis kedua berwarna merah samar.
__ADS_1
"Neng...! Kalau garisnya dua warna merah itu positif apa negatif?!" pekik Dewa dari dalam kamar mandi.
Mimin yang belum jauh melangkah, mendengar seruan Dewa. Ia segera berbalik arah, kembali ke kamar mandi. "Apa A?" tanyanya seraya melongokkan kepalanya di kamar mandi.
"Garisnya dua, Neng." Dewa menunjukkan testpack itu.
Mimin terbelalak melihat dua garis pada testpack. "Ya Allah A, positif kali, ya," ucapnya lalu menutup mulut sebagai ekspresi keterkejutannya.
"Ini berarti positif, Neng? Artinya Neng hamil 'kan?" Raut wajah Dewa begitu sumringah.
"Iya, A. Neng hamil." Mimin menghambur memeluk Dewa.
"Alhamdulillah, ya Allah." Dewa balas memeluk erat Mimin.
"Kita bakal punya anak A," ucap Mimin. Matanya sudah berkaca-kaca hendak menumpahkan air mata bahagia.
"Masya Allah, aku mau jadi ayah." Dewa melonggarkan pelukannya. Lalu mengecup kening Mimin bertubi-tubi. "Mmuach ... Mmuach ... Mmuach."
"Tapi, garis keduanya masih samar A." Mimin menajamkan penglihatannya pada garis kedua di testpack itu. "Hamil ga ya?!" tanyanya bimbang.
"Biasanya gimana, Neng?"
"Biasanya ya cuma garis satu aja."
"Ya udah kalau begitu. Biar yakin, nanti kita periksa ke dokter," usul Dewa. Yang dijawab sebuah anggukan dari Mimin.
"Ya Allah A. Neng belum solat. Mana harus wudu lagi," ujarnya lalu bergegas pergi ke pangkalan untuk mengambil wudu.
*****
Sore harinya Mimin, Dewa serta Rahma, Diev berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Hana.
Hana dengan didampingi Haqi sedang menceritakan detik-detik proses persalinan putri pertamanya. Mimin dan Dewa tampak begitu antusias mendengar cerita Hana.
"Alhamdulillah prosesnya gak lama. Pagi mules, jam tiga udah merojol," papar Hana yang tak berhenti mengukir senyum.
"Untung ada suami siaga. Yah, Kang," lanjut Hana seraya melirik Haqi yang duduk di sampingnya.
"Mulesnya itu kayak gimana rasanya, Han?" tanya Mimin antusias.
"Aduh mulesnya itu beneran, ga bisa diungkapkan. Tapi, walaupun rasa sakitnya ga tertahan, insyaallah setiap wanita pasti akan mampu melewatinya," ujar Hana.
"Suami juga sama loh, Nong. Walaupun ga merasakan sakit, tapi ikut cemas lihat istri kesakitan karena melahirkan," timpal Haqi.
"Iya iya, Kang. Percaya."
"Tapi si Nong mah luar biasa loh. Pas mau merojol, disuruh ngeden 'kan sama dokternya. Si Nong teriak-teriak ALLAHU AKBAR, persis kayak orang mau jihad," tutur Haqi.
"Loh, wanita yang melahirkan itu 'kan sama kayak orang jihad ya," timpal Hana.
"Kalau proses persalinan cesar, masuk jihad juga ga ya? Aku anak yang pertama cesar, yang kedua pasti harus cesar karena jaraknya dekat," tutur Rahma.
"Sama aja, Ma. Cesar ataupun normal tetaplah berpahala. Karena toh keduanya sama-sama memiliki risiko. Apalagi persalinan cesar itu juga terpaksa dilakukan karena ada kendala, demi keselamatan kamu dan anakmu," papar Hana.
"Betul. Ada sebuah riwayat yang menyatakan. Salamah, wanita yang merawat Ibrahim, putra Rasulullah pernah bertanya,
Ya Rasulullah, Anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi Anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?
Kemudian Rasulullah memberi motivasi kepadanya,
Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah," tutur Haqi.
"Masya Allah luar biasa ya keutamaan wanita. Dan kita ini kaum wanita loh," timpal Hana.
"Wanita memang luar biasa. Sesibuk apapun wanita, dia tak akan pernah lupa ... kapan suaminya gajian," kelakar Dewa.
"Hahahaha...." Semuanya tertawa mendengar kelakaran Dewa.
"Dewa kalau ngomong suka bener ih," timpal Rahma.
__ADS_1
"Kang Haqi udah jadi abi, gue udah jadi papi. Anak gue malah udah mau dua. Lo kapan, Bocah Tengil?" ledek Diev pada Dewa.
Persahabatan Mimin, Hana dan Rahma juga berimbas pada suami-suami mereka. Hubungan Dewa, Haqi dan Diev juga menjadi sangat dekat layaknya saudara. Terutama Diev dan Dewa, hubungan keduanya sangat dekat. Diev memanggil Dewa dengan sebutan "Bocah Tengil" sementara Dewa memanggil Diev dengan sebutan "Pakde Tua". Kedekatan mereka itu layaknya Tom n Jerry, meskipun terkesan saling menyakiti, sesungguhnya mereka saling sayang.
"Berisik Pakde Tua nih! Tunggu aja tanggal mainnya. Nanti akan ada waktunya gue punya anak setengah lusin, Pakde masih dua aja. Hahahaha ... Karena Pakde udah tua. Hahahaha...."
"Halah, satu aja belum," cibir Diev.
"Biar tua tapi gue ganteng," ujar Diev penuh percaya diri.
"Gantengan gue kalee," balas Dewa tak mau kalah.
"Ganteng gue!"
"Gue lebih ganteng!"
"Gue!"
"Gue!"
"Aa...!" Mimin menegur Dewa.
"Mas...!" Rahma juga menegur Diev.
"Neng, masa katanya gantengan dia. Gantengan Aa ya?" lontar Dewa pada Mimin.
"Iya, gantengan Aa."
"Dek, masa katanya gantengan dia. Gantengan Mas ya?" lontar Diev pada Rahma.
"Iya, gantengan Mas."
"Gantengan A Dewa sih, Ma."
"Enggak lah, Min. Gantengan Mas Diev."
"Aa Dewa lebih ganteng."
"Mas Diev lebih ganteng." Kini gantian Rahma dan Mimin yang berdebat. Berdebat bercanda.
"Rahma, Mimin! Kenapa kalian jadi berdebat sih!" tegur Hana.
"Iya nih Mimin, orang gantengan Mas Diev," kata Rahma.
"Enggak ah, gantengan Aa Dewa," kilah Mimin.
"Dua-duanya salah. Yang bener, gantengan ... Kang Haqi," putus Hana.
"Setuju!"
"Setuju!"
Mimin dan Rahma kompak menyetujui pernyataan Hana. Sontak membuat Dewa dan Diev kompak memelototi istri mereka masing-masing.
Catatan : Mimin dan Rahma hanya bercanda.
.
.
.
.
.
Maaf yah kalau ceritanya membosankan. Mau aku loncat langsung ke konflik, khawatir readers protes. Jadi, nikmati dulu ya. Sebelum nanti masuk ke bab bawang.
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Terima kasih dukungannya.
Love U. ❤️❤️❤️❤️❤️