Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Test DNA


__ADS_3

Hari ini Dewa dan Deka mendatangi kediaman Soeharto Darwin. Setelah diinterogasi oleh satpam berkumis lebat yang mirip Adam Suseno, Dewa dan Deka mengayun langkah tegap ke dalam rumah megah nan mewah di kawasan elite Jakarta tersebut. Mereka masuk ke rumah itu dikawal oleh dua orang pengawal Pak Harto.


Raut wajah Deka terlihat tegang saat melangkahkan kaki masuk ke dalam. Terlalu banyak hal yang memenuhi isi kepalanya. Bagaimana jika Pak Harto memaksanya untuk menikahi Clara dan tidak memberi kesempatan untuk membela diri? Seperti apa nasib pernikahannya nanti? Begitu keresahan yang menggelayuti relung hatinya.


Ada pernyataan yang menyatakan bahwa senakal-nakalnya pria pasti akan memilih wanita yang baik untuk jadi istrinya. Karena pria wajib memilih calon ibu yang baik bagi anaknya. Begitu pun dengan Deka, meski hidupnya tidak berjalan di jalan yang benar, ia ingin mendapatkan wanita baik-baik yang akan menjadi istrinya nanti.


Sementara raut wajah Dewa terlihat lebih cerah. Kegelisahan dan keruwetan yang dirasakan beberapa hari lalu kini telah sirna. Berganti dengan senyum cerah untuk menyongsong kehidupan bahagianya.


Sebentar lagi ia akan terbebas dari masalah tentang Clara. Tinggal satu langkah lagi menuju bahagianya yaitu mendapatkan restu mami. Abaikan tentang papa yang keras kepala itu. Ia juga tak peduli papanya setuju atau tidak dengan pernikahannya.


"De-Dewa... Deka...." Clara terperangah bukan main ketika mendapati Dewa dan Deka datang bersama. Sampai ia tergagap dibuatnya.


Kehadiran kedua pria tampan itu telah memelesetkan prediksinya, mematahkan keyakinannya dan menghancurkan mimpinya. Jika harus memilih, dengan mantap ia akan memilih Dewa yang akan menikahinya. Maka kemarin ia sudah terlanjur bahagia, mengira pernikahan dengan Dewa pasti adanya. Mengingat Dewa tak akan mudah menemukan kakaknya.


Dan jika pilihannya harus menyertakan nama Alex, ia lebih memilih Deka ketimbang Alex. Hubungannya bersama Alex hanyalah sekedar hubungan hasrat kedua orang dewasa pria dan wanita. Tanpa rasa, tanpa cinta.


Semula dirinya meyakini Dewa tak akan mungkin berhasil menemukan Deka dalam waktu singkat yang diberikan papahnya. Mana mungkin dalam waktu lima hari Dewa bisa menemukan Deka. Sementara ia sudah dua bulan mencari tapi tak berhasil menemukan keberadaan Deka.


Dewa dan Deka digiring ke ruangan kerja Pak Harto. Tempat yang sama saat Dewa dicecar pertanyaan seputar kehamilan Clara lima hari yang lalu. Dan ditodong untuk bertanggung jawab atas kehamilan Clara.


Dewa dan Deka duduk berdampingan di sebuah sofa ukiran mewah model klasik dengan ornamen warna gold mengkilau. Clara dan ayahnya pun ada di ruangan itu. Clara duduk di samping ayahnya.


"Jadi, ini kakakmu?" Pak Harto menatap Dewa sekejap lalu mengalihkan pandangannya kepada Deka.


"Betul, Pak." Dewa yang menjawab pertanyaan Pak Harto.


Pak Harto menatap Deka dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas membuat Deka menjadi semakin gelisah. "Kamu yang menghamili putri saya?!" tukasnya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Deka.


"Saya tidak yakin janin yang dikandung Clara adalah anak saya," sahut Deka yang memberanikan diri balas menatap Pak Harto.


Braaaak....


Pak Harto menggebrak meja di hadapannya.


"Berani sekali kamu mengatakan itu! Kamu tahu siapa saya, Hah!" hardik Pak Harto.


"Saya hanya mengatakan apa yang saya yakini," jawab Deka.


"Ucapan kamu itu adalah penghinaan untuk anak saya! Saya bisa melakukan apa saja kepada orang yang berani menghina bahkan menyakiti keluarga saya!" ancam Pak Harto sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Deka.

__ADS_1


"Mengapa tidak Anda tanyakan saja langsung kepada putri Anda. Dia yang lebih tahu. Dan seharusnya dia tidak melakukan kecurangan untuk masalah seserius ini," sahut Deka.


Kemudian Deka mengalihkan pandangannya kepada Clara. "Ayo, Cla...! Katakan yang sebenarnya dan sejujur-jujurnya!"


"Kamu... berani main-main dengan Soeharto Darwin rupanya!" Pak Harto sudah berdiri untuk menghampiri Deka. Entah apa yang akan dilakukannya.


"Namanya Alex," sahut Dewa sebelum Pak Harto sampai di hadapan Deka.


Sahutan Dewa apalagi saat menyebutkan sebuah nama yang tak asing di telinganya sontak membuat Pak Harto beralih menatapnya.


"Alex... mantan tangan kanan Anda yang telah mengkhianati kepercayaan Anda. Alex yang telah melakukan korupsi hingga miliaran di salah satu perusahaan Anda. Alex yang kini sedang ditahan karena kasus narkoba. Alex adalah ayah dari calon bayi yang dikandung Clara," tukas Dewa berbicara setenang mungkin.


Clara terkesiap dengan penuturan Dewa. Sungguh tak menyangka Dewa mengetahui hal itu. Dari mana Dewa mengetahui fakta itu. Batinnya bergumam.


"Dewa... Jangan asal bicara kamu!" hardik Clara yang tak terima dengan ucapan Dewa.


"Sebaiknya kamu jujur Cla!" balas Dewa.


"Kamu....!!!" Pak Harto kini menghampiri Dewa dan mencengkeram lehernya. "Seenaknya saja kamu bicara!" Ucapan Dewa membuat Pak Harto sangat murka.


Uhuk... Uhuk... Uhuk... Dewa sampai terbatuk-batuk karena cengkeraman kuat dari tangan kekar Pak Harto membuat lehernya tercekik.


Pak Harto melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Dewa. Dan menatap tajam kedua pria tampan itu bergantian. Sesungguhnya Pak Harto adalah orang yang bijaksana meskipun pemberitaan di luar menyematkan dirinya sebagai orang yang kejam. Padahal ia kejam hanya kepada orang-orang yang salah di matanya dan kepada orang yang berani mengusik keluarganya.


"Udin...!!" teriak Pak Harto memanggil salah satu pengawalnya.


"Siap, Bos!" seru pengawal yang bernama Udin.


"Temui Alex!"


"Alex? Alex sekarang ditahan di Rutan, Bos."


"Saya sudah tahu! Temui dia dan ambil sampel darahnya!" 


"Siap, Bos. Laksanakan!"


"Dan ambil juga sampel darah kedua pria ini!"


"Siap, Bos. Laksanakan!"

__ADS_1


Pak Harto kembali menatap tajam Dewa dan Deka. "Saya akan melakukan tes DNA. Kalau sampai tuduhan kalian tidak terbukti, saya pastikan kalian akan menyesali ucapan dari mulut lancang kalian. Saya tak segan-segan menghancurkan hidup kalian!!" ancam Pak Harto.


Ya Allah, Jed semoga gibahan lo sama Jono itu benar adanya, bukan dugaan semata. Doa Dewa dalam hati.


 *****


Di area parkir motor RSU Drajat Prawiranegara, Hana memarkirkan motornya. Ia hendak menjenguk Mimin. Semula ia dan Rahma sudah janjian akan menjenguk Mimin di sore nanti sepulang ia mengajar. Namun pagi menjelang siang ini, mendadak Rahma meneleponnya dan mengatakan kalau sedang on the way menuju Rumah Sakit. Jadilah kini ia berjalan terburu-buru menuju Rumah Sakit.


Hana yang tak mau melewatkan momen ngumpul bertiga dengan dua sahabat karibnya itu segera berangkat ke Rumah Sakit. Maklum, sejak kejadian cinta segitiga antara dirinya, Mimin dan Iyan, mereka belum pernah ngumpul bertiga lagi. Ini adalah saatnya untuk mencairkan atmosfer persahabatan mereka yang sempat membeku dan kaku. Dan beruntung saat ini ia sedang tak ada kelas.


"Assalamualaikum, Ma. Di mana? Ruangan apa?" Sambil berjalan terburu-buru ia menelepon Rahma untuk menanyakan ruangan tempat Mimin dirawat.


"Ruang VIP nomor satu? Oke... Oke. Aku udah di tempat parkir, sekarang mau jalan ke sana ya." Hana masih fokus dengan panggilan teleponnya sambil berjalan keluar area parkir motor ketika kemudian ada sebuah motor melaju cepat dan hampir menyerempetnya.


"Awas...!!" pekik seorang pria yang berada tak jauh dari sisi Hana berjalan.


Untung saja pria itu berhasil menarik tangan Hana, sehingga Hana selamat dari insiden terserempet motor. Jantung Hana hampir copot karena kaget hampir terserempet motor. Kemudian matanya menatap tangan si pria yang mencengkeram lengan Hana yang tertutup pakaian gamis.


"Astagfirullah," ucap pria itu kemudian melepas cengkeraman tangannya.


"Maaf, Ukhti." Pria Itu mengapitkan kedua tangannya di dada layaknya gestur orang yang meminta maaf.


"Ga papa. Terima kasih, sudah menolong saya," ucap Hana. Biar bagaimanapun ia merasa berterima kasih kepada pria itu. Apa jadinya kalau pria itu tak menolongnya. Mungkin ia sudah terserempet motor. Bisa jadi, niatnya menjenguk Mimin malah berakhir ia yang dirawat di Rumah Sakit ini.


"Sama-sama, Ukhti. Lain kali lebih hati-hati, jangan bertelepon sambil berjalan seperti tadi," ujar pria itu menasihati Hana.


"Iya, mohon maaf itu kesalahan saya. Sekali lagi terima kasih," ucap Hana kembali berterima kasih.


"Sama-sama. Saya permisi, Ukhti." Pria Itu melanjutkan langkahnya. Sepertinya pria itu pun terburu-buru, langkahnya juga menuju gedung Rumah Sakit. Sama seperti tujuan Hana.


.


.


.


.


Sambil menunggu tes DNA keluar. Mari kita menengok kehidupan teman-teman Dewa dan Mimin.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️


__ADS_2