
PLAK...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dewa.
Mimin menatap tangannya yang terasa panas setelah menampar pipi Dewa. Sementara Dewa mengusap pipinya yang juga terasa panas karena ditampar Mimin.
Tingkah polah Dewa yang berisik menggenjrang-genjreng gitar sambil menyanyikan lagu yang menyebut nama Mimin telah membuat hati Mimin meradang. Apalagi di siang hari Jumat seperti saat ini. Yang seharusnya adalah saatnya bagi kaum laki-laki bersiap diri pergi ke masjid untuk menunaikan salat Jumat. Hingga gadis cantik berjilbab itu nekat menghampiri Dewa dan melabraknya.
Peradangan di hatinya semakin meletup-letup tatkala Dewa menarik tangannya. Hingga membuat tubuhnya terjerembab menubruk tubuh Dewa. Jatuh dalam pelukan Dewa. Membuahkan sentuhan, pegangan, bertatapan, berdekatan.
Kelakuan Dewa itu memberangsangkan hingga ia secara sadar menampar pipi pria itu.
"Sekali lagi kamu kurang ajar ... aku hajar kamu!!" hardik Mimin.
"Dan satu lagi. Jangan pernah kamu berani mendekati atau menyentuh adikku!" hardik Mimin sekali lagi.
Kemudian Mimin berlalu meninggalkan Dewa dengan perasaan kesal yang merajai hatinya. Meninggalkan Dewa yang terdiam, terpaku dan tergugu.
Dewa mengayun pelan langkahnya menuju ke dalam kamar. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya menggapai remot tv yang berada tak jauh darinya lalu menekan tombol power. Saluran Banten TV yang muncul di sana, menyayangkan video-video klip islami.
Dewa memejamkan matanya. Ingatannya melayang ke masa lalu saat ia menjadi santri. Bagaimana ia begitu bersemangat salat di masjid setiap waktu. Berlari-lari sambil tertawa riang bersama teman-temannya menuju ke masjid. Berebut mikrofon masjid karena semua santri ingin menjadi muazin.
Sebuah lagu lawas berjudul Sajadah Panjang milik Bimbo yang diaransemen ulang oleh grup band Noah mengalun syahdu dari layar televisi.
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kain buaian ....
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan lepas kering hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya
(Sajadah Panjang. Bimbo)
Butiran bening lolos dari sudut mata Dewa turun mengalir membasahi pelipisnya. Ia lalu bangun dan mengambil sebuah bungkusan plastik dari dalam lemari plastik. Ia membuka bungkusan itu. Berisi baju koko dan sarung yang tadi dibelinya bersama Sol.
Dewa tersungkur terisak. Menyadari betapa hina dirinya. Betapa sombongnya ia yang tak pernah mengingat-Nya. Betapa angkuhnya ia yang tanpa beban telah melupakan-Nya. Bertahun-tahun melalaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Dewa menatap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 11.40. Ia bergegas pergi mandi lalu berangkat ke masjid. Menunaikan salat Jumat pertama yang setelah sekian lama ditinggalkannya.
*****
__ADS_1
"Jadi nanti Abah bawakan catnya. Kamu cat kamar mandi, tempat wudu. Yang terlihat kotor dicat lagi. Nanti upahnya kamu minta sama Abah. Ngerti, Rip?" Pak Haji Zaenudin sedang memberikan instruksi kepada Sarip marbot masjid Al Mukmin kampung Cibening.
"Ngerti Pak Haji. Siap laksanakan!" sahut Sarip.
"Ya sudah kamu pulang dulu saja takut mau makan siang. Nih... buat beli makan." Pak Haji Zaenudin memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada Sarip.
"Makasih Pak Haji," ucap Sarip kegirangan.
Usai salat Jumat tadi, Haji Zaenudin yang merupakan ketua DKM sekaligus ketua RW kampung Cibening mengecek keadaan toilet dan tempat wudu masjid Al Mukmin. Setelah selesai mengecek dan memberikan beberapa instruksi kepada Sarip si marbot masjid, ia berjalan di sepanjang koridor masjid sambil melihat-lihat kondisi bangunan masjid.
Sayup-sayup terdengar suara merdu seseorang yang sedang mengaji. Ia yang penasaran mengintip dari jendela masjid untuk mengetahui siapakah gerangan yang sedang mengaji di saat jamaah lain sudah pulang ke rumah.
Ia menyunggingkan senyum tatkala melihat anak muda berambut gondrong sebahu, mengenakan baju koko warna putih dan sarung juga peci tengah duduk bersila di salah satu sudut masjid sedang mengaji. Membaca Surah Al Kahfi dengan makhraj mendekati sempurna dan tilawah yang merdu. Anak muda itu adalah Dewa.
******
Sabtu pagi.
Mimin tengah menyetrika beberapa stel baju kerja ketika ponselnya menggelepar di atas meja rias. Ia lalu bangun dan mengambil ponselnya. D
081298765xxx memanggil.
Ada panggilan dari sebuah nomor yang tak masuk daftar kontaknya. Ia mengerutkan kening ketika menyadari foto profil si penelepon. Deka.
Mimin melanjutkan kembali kegiatan menyetrikanya, tak berniat untuk menjawab panggilan telepon dari Deka.
Dari mana Pak Deka tahu nomor telepon aku. Pasti Devi nih yang ngasih nomor aku ke Pak Deka. Batinnya.
Ia merasa lega ketika panggilan telepon itu berhenti. Dan kembali mengerutkan keningnya ketika ponselnya menggelepar kembali dan begitu seterusnya. Membuat dirinya mau tak mau mengangkat panggilan telepon dari Deka, khawatir ada hal penting yang akan dibicarakannya.
"Assalamualaikum."
"Jasmin...."
"Iya Pak."
"Sedang menyetrika, Pak."
"Wah, aku mengganggu kamu dong ya."
"Tidak apa-apa kok. Ada apa Pak?"
"Jasmin... di sebelah rumah kamu itu kan ada kontrakan. Apakah ada yang kosong?"
"Emmm... Sepertinya kemarin ada satu yang pindah. Kalau saya tidak salah, ada yang kosong satu. Kenapa begitu Pak?"
"Bagus. Aku ingin pindah ke sana."
"Hah... Kenapa Pak??"
"Jarak kantor dengan tempat tinggal aku yang sekarang lumayan jauh. Kurasa kalau aku tinggal di sana jaraknya lebih dekat dengan kantor, akan lebih efisien."
"Iya, Pak."
"Jadi kapan aku bisa pindah ke sana?"
"Tapi maaf Pak, kontrakan di sini kecil dan tidak ada garasi. Lalu bagaimana dengan mobil Bapak?"
"Emmm... Halaman rumah kamu kan luas. Apa boleh aku memarkirkan mobilku di sana? Nanti bisa dihitung juga biaya parkirnya."
"Saya harus bilang Abah saya dulu, Pak."
"Apa itu kontrakan milik Ayahmu?"
"Iya Pak."
__ADS_1
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan ayahmu."
"Maaf kalau sekarang sepertinya tidak bisa. Sebentar lagi Abah mau berangkat. Mungkin nanti malam saja, Abah ada di rumah."
"Ok. Nanti malam saja aku datang ke sana bertemu ayahmu."
"Iya, Pak."
"Bagus. Aku ingin secepatnya tinggal di sana."
"Iya, Pak."
"Nanti malam... malam minggu kan Min?"
"Iya, Pak."
"Bisa sekalian malam mingguan dong kita."
"Emmm...."
"Sudah Jasmin. Tak usah dipikirkan. Sampai ketemu nanti malam. Silakan lanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih Jasmin."
"Sama-sama, Pak"
Mimin melanjutkan kegiatan menyetrika yang tersisa satu pakaian lagi. Setelah rampung, ia membereskan pakaian yang sudah rapi dan memasukkannya ke dalam lemari.
Tok... Tok... Tok...
"Teh..." Terdengar suara Abah memanggilnya.
Mimin segera membuka pintu kamarnya. "Iya, Bah."
"Teteh punya Al-Qur'an berapa?" tanya Haji Zaenudin.
"Ada tiga. Kenapa Bah?"
"Abah boleh minta satu."
"Boleh atuh. Sini... Abah masuk aja. Abah mau yang mana." Mimin membimbing ayahnya menuju rak buku yang ada di dalam kamarnya.
"Kalau yang Mushaf Al-Quran ada dua, yang satu lagi Al-Quran terjemahan," terang Mimin.
"Kalau begitu yang Mushaf Al-Quran aja. Yang ini saja, yang masih bagus. Boleh kan?" tanya Haji Zaenudin.
"Boleh atuh, Bah," jawab Mimin seraya tersenyum.
"Memangnya Al-Quran punya Abah udah ada yang robek ya?"
"Enggak, Al-Quran punya Abah masih bagus. Baru seminggu beli yang baru."
"Oh..."
"Abah mau ngasih Mushaf Al-Quran ini untuk seseorang," ujar Haji Zaenudin.
"Oya. Untuk siapa Bah??"
.
.
.
.
.
__ADS_1