
"Mimiiiiiin....!” seru seorang wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Hanaaaa.....!” balas Mimin menyerukan nama sahabatnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Kemudian kedua gadis berjilbab itu berpelukan dalam euforia kegembiraan. Setelah beberapa saat berpelukan, mereka melepas pelukan dan saling mencubit pipi.
"Kangeeeenn..."
"Sama kangeeeen juga. Peluk lagi..." Mereka berpelukan kembali.
"Sini... sini. Kita duduk, ngobrol dulu," kata Mimin setelah melepas pelukannya. Ia membimbing Hana untuk duduk di tepi tempat tidurnya. Mimin pun turut naik dan duduk di atas tempat tidur menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Mimin... kamu makin cantik banget sih," puji Hana seraya mencubit gemas pipi Mimin.
"Jangan begitu ah, nanti bisa jebol nih langit-langit kamarku, kalau kamu puji kayak gitu." Mimin balas mencubit gemas pipi Hana.
"Jadi... bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kabar kamu bagaimana Han?"
"Alhamdulillah sehat sentosa."
"Alhamdulillah. Terus dari kapan kamu di sini? Kok ga bilang-bilang sih kalau mau datang ke sini."
"Kan biar surprise."
"Rahma juga ga tahu kalau kamu ada di sini?"
Hana menggelengkan kepalanya. "Enggak."
Hana, Mimin dan Rahma sudah bersahabat sejak kecil. Mereka dulu sekolah di SD yang sama. Saat kelas 5 SD, Hana pindah sekolah karena mengikuti ayahnya. Orang tua Hana bercerai sejak ia berumur 5 tahun. Dari umur 5 tahun hingga kelas 4 SD, ia ikut bersama ibunya yang tinggal di kampung Cibening. Baru setelah kelas 5 SD ia ikut bersama ayahnya.
Meskipun Hana tidak tinggal di kampung Cibening, sama sekali tak mengikis eratnya persahabatan mereka. Setiap liburan panjang sekolah tiba, Hana selalu pulang ke rumah ibunya di kampung Cibening.
Apalagi dengan teknologi komunikasi saat ini, jarak tak lagi menjadi masalah dalam hubungan persahabatan mereka. Bahkan mereka membuat grup chat WhatsApp dengan nama "Trio Akhwat" yang beranggotakan mereka bertiga. Definisi dari jauh di mata dekat di WA.
"Teteh... Hana diajak sarapan gih!" seru Mami yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar.
Hana menoleh ke arah Mami. "Ga usah Mih. Lain kali aja soalnya tadi Hana udah sarapan," sahutnya.
"Mumpung ada di sini atuh Han. Yuk... Sarapan!" seru Mami lagi.
"Iya Mih... Hana juga kangen nih sama masakan Mami yang mantul, mantap betul. Insyaallah deh, nanti kalau ke sini lagi. Soalnya sekarang mah masih kenyang," sahut Hana.
"Ya udah kalau begitu. Mami tinggal ke belakang dulu ya," kata Mami lalu pergi ke dapur.
"Iya Mami geulis."
Setelah Mami pergi ke dapur, Hana kembali mengalihkan pandangannya kepada Mimin.
"Jadi... sejak kapan kamu datang ke kota ini?" Mimin melanjutkan kembali kegiatan tanya jawab dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Biasanya Hana akan memberi kabar lewat chat grup jika mau pulang ke kampung Cibening. Namun ini, tanpa memberi kabar, ujug-ujug Hana datang ke rumahnya.
"Aku sampai sini kemarin siang sekitar jam sebelas," jawab Hana.
Hana menggeser posisi duduknya, lalu mengangkat kakinya ke atas dan duduk bersila di atas kasur sehingga posisi mereka saling berhadapan. Sementara Mimin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Min... Aku lagi bahagia nih. Karena doaku selama bertahun-tahun akhirnya dikabulkan Allah," tutur Hana antusias.
"Oya... Doa yang mana, Han?" tanya Mimin.
"Kemarin sore aku ketemu sama Iyan," sahut Hana. Kedua tangannya menangkup pipi mengekspresikan kegirangan.
Mimin yang semula duduk menyandar, kemudian mencondongkan badannya ke depan, sebab merasa antusias dengan cerita Hana.
"Iyan... calon imam sepanjang masa kamu itu, Han?" Sejak kecil Hana sering menceritakan tentang Iyan sebagai "Superhero" yang selalu membela dan membantunya ketika mengalami perundungan. Dan ketika mereka semakin tumbuh Dewasa, Hana kerap menyebut Iyan sebagai calon imam impiannya.
"Iya," sahut Hana antusias.
"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga sama Iyan. Terus terus... Kalian ketemu di mana?" Mimin pun ikut antusias mendengar cerita Hana.
"Tadi sore. Ketemu karena insiden kecelakaan gitu," tutur Hana.
"Insiden kecelakaan bagaimana?"
"Jadi ceritanya, motorku ditabrak gitu, sampai aku terjatuh dari motor. Eh, ternyata yang menabrak adalah Iyan."
"Hah kecelakaan!" Raut wajah Mimin terkejut.
"Terus kamu gak apa-apa Han?" tanya Mimin khawatir.
"Alhamdulillah gak apa-apa."
"Alhamdulillah gak ada. Lecet sedikit aja nih." Hana menunjukkan tangannya yang sedikit lecet. "Tapi... gak masalah sih," sambungnya.
"Alhamdulillah... untung ga sampai ada luka yang serius ya," ujar Mimin.
"Terus gimana kelanjutan cerita tentang pertemuan dengan Iyan itu?" Mimin lanjut bertanya kembali.
"Justru itu... aku ga sempat ngobrol banyak sama dia. Bahkan belum sempat tanya tempat tinggalnya di mana. Soalnya dia kelihatan buru-buru gitu... entah mau ke mana," keluh Hana.
"Yaaaah..." Mimin turut mendesah kecewa.
"Tapi aku udah punya nomor ponselnya sih," lanjut Hana.
"Oya..." Mimin turut berbinar gembira.
"Tapi gimana ya, masa aku yang menelepon dia sih. Malu ga?"
"Emmm... Memang tidak lazim sih kalau perempuan yang lebih dahulu menghubungi laki-laki. Tapi kalau mendesak gak apa lah. Daripada nanti calon imam sepanjang masa kamu itu hilang ditelan bumi lagi, ya kan?"
"Iya juga sih."
"Tapi kamu yakin kan kalau Iyan itu belum menikah?!"
"Eh, aku gak tahu. Aku belum tanya sampai ke sana."
"Mungkin kalau nanti kamu ketemu dia lagi, yang pertama kamu tanya adalah statusnya. Khawatir dia sudah menikah," saran Mimin.
__ADS_1
"Kalau sampai ternyata dia sudah menikah. Rasanya aku gak sanggup lagi unyuk menatap matahari, Min," tutur Hana dengan tatapan menerawang. Baginya Dewa adalah satu-satunya pria yang diimpikannya sebagai calon imam. Bahkan, ia beberapa kali menolak tawaran ta'aruf dari beberapa ikhwan yang berniat untuk menjalin hubungan pernikahan dengannya.
"Semoga gak seperti itu ya Han. Aku turut mendoakanmu Han," ucap Mimin dengan menyunggingkan senyum tulus.
"Terima kasih, Mimin." Hana memajukan tubuhnya memeluk Mimin. Dan keduanya berpelukan.
"Sekarang giliran kamu dong yang bercerita," kata Hana setelah melepas pelukannya
"Aku cerita apa... gak ada yang menarik untuk diceritakan," sahut Mimin.
"Tentang suami kamu?"
"Emmm...."
Hana menggenggam tangan Mimin. "Maaf ya Min, aku gak sengaja mendengar tentang..." Hana tak melanjutkan kalimatnya.
"Tentang desas-desus pernikahan aku?!" tebak Mimin seakan sudah paham jika Hana akan menanyakan hal itu.
Hana mengangguk ragu. Kemarin ia sempat mengobrol dengan ibunya. Dan ibu menceritakan tentang kejadian yang menimpa Mimin.
Mimin tersenyum menatap Hana. "Kamu percaya Han, kalau aku...."
"Enggak lah Min. Aku yakin kamu gak seperti itu," ujar Hana sebelum Mimin menuntaskan kalimatnya.
Kini gantian Mimin yang mencondongkan tubuhnya ke depan memeluk Hana. "Makasih ya Han... kamu udah percaya aku," ucapnya.
"Tentu... Kita kan bersahabat," balas Hana masih dengan posisi berpelukan.
Saat keduanya sedang berpelukan, mata Mimin menatap jam di dinding. "Astagfirullah... udah mau jam delapan, Han. Aku harus berangkat kerja," ujarnya kemudian melepaskan pelukan.
"Berangkat sama aku aja ya, Min. Kebetulan aku juga mau ke kampus. Nanti aku anter kamu sampai kantor deh."
"Emmm... Boleh," sahut Mimin.
Kemudian Mimin turun dari tempat tidur dan segera mempersiapkan tas kerjanya. Hana juga ikut turun dari tempat tidur dan meraih tasnya.
"Berangkat sekarang?"
"Iya dong."
"Hayu... Aku pamitan dulu sama Mami ya."
"Siap. Eh, Abah ke mana Min? Belum lihat Abah."
"Udah berangkat subuh tadi."
Kemudian keduanya pergi ke dapur untuk berpamitan kepada Mami. Setelah berpamitan, Mimin dan Hana berjalan beriringan keluar rumah. Ketika Mimin membuka pintu rumahnya, didapatinya Dewa tengah duduk di kursi teras seperti biasanya. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Menunggu Mimin untuk berangkat bersama ke tempat kerja.
Dewa segera bangun dari duduknya begitu mendengar suara pintu terbuka.
"Assalamualaikum, Sa..."
"Iyan....!!" seru Hana sebelum Dewa menyempurnakan sapaan kepada kekasih halalnya.
.
.
__ADS_1
.
.