Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Hadiah dari Abah


__ADS_3

Sabtu Petang.


Dewa bersama Sol juga Haji Zaenudin berjalan bersama sambil bercengkerama ringan sepulang dari masjid usai melaksanakan salat Magrib berjamaah. Hingga mereka sampai di teras kontrakan.


"Tunggu sebentar Kisanak!" seru Haji Zaenudin ketika Dewa hendak masuk ke dalam kontrakan.


Dewa menoleh kepada Haji Zainudin. "Iya, Abah Haji. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Bukan... bukan. Tunggu sebenar ya Kisanak, Abah mau kasih sesuatu," ujar Haji Zaenudin lalu berlalu untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Wah wah wah... Sepertinya Haji Zaenudin akan memberikan keris Siamang Tunggal kepada Kisanak," canda Sol dengan logat dibuat-buat menirukan dialog film kolosal.


"Keris Siamang Tunggal. Memangnya cerita Upin Ipin," balas Dewa.


"Ralat... Kisanak bersiaplah, sebentar lagi engkau akan mendapatkan keris Empu Gandring dari Prabu Haji Zaenudin. Ha ha ha ha.... Hiyaaat..." Sol hendak bercanda menendang Dewa namun Dewa terlebih dahulu menghindar sehingga mengakibatkan bokong Sol mendarat tepat di atas 'keset welcome'.


"Aduuuh... Encok deh gue!!" Sol memekik sambil meringis.


"Hahahaha... Itu namanya karma dibayar di muka. Udah sana masuk lo!"


"Iya sih yang mau dikasih keris pusaka."


"Bukan... bukan. Sepertinya Abah Haji itu mau ngasih SIM- M buat gue," ujar Dewa.


"Apaan tuh SIM-M?"


"Surat Izin Melamar Mimin. Ea... Ea... " gurau Dewa.


"Huuu... Maunya lo itu mah. Udah ah gue masuk... mau siap-siap wakuncar."


"Kayak punya pacar aja lo!"


"Punya dong. Memangnya lo... jomblo. Percuma ganteng kalau jomblo. Kegantengan lo unfaedah," gurau Sol sembari ngeloyor masuk ke dalam rumah.


"Apa katanya... Kegantengan gue unfaedah. Lihat saja nanti... jika saatnya sudah tiba." Gumam Dewa, berbicara pada dirinya sendiri.


*****


Pak Haji Zaenudin masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang akan diberikannya kepada Dewa.


"Mami... Mushaf Al-Quran itu disimpan di mana ya? Abah lupa naro," ujar Haji Zaenudin sambil mencari-cari Mushaf.


"Mushaf yang mana?" Mami menjawab dengan balas memberikan pertanyaan.


"Mushaf yang mau Abah kasih untuk Kisanak."


"Oh. Di bufet hitam Bah."


"Oh iya. Duh dasar udah tua... udah mulai pikun."


Mimin yang sedang berada di dekat Mami tergelitik untuk bertanya.


"Mih... Kisanak itu siapa?" tanya Mimin.


"Itu loh... yang ngontrak di sebelah. Anak muda yang ganteng itu. Yang mirip Adipati Dolken," jawab Mami.


"Aih Mami meni tahu Adipati Dolken segala. Teteh aja gak tahu Adipati Dolken yang mana," seloroh Mimin. Memang kenyataannya Mimin adalah seorang yang kudet. (Sama seperti authornya. Hihihihihi....)


Mata Mimin mengikuti gerak abahnya, yang setelah mengambil mushaf lalu pergi ke luar. Rasa penasaran mendorongnya untuk menguntit si Abah. Dari teras rumahnya, ia mendengar percakapan antara Abah dan Pria itu. Hanya mendengarkan, tidak melihat apalagi memperhatikan.


"Ini untuk kamu Kisanak," ujar Haji Zainudin seraya menyodorkan sebuah Mushaf Al-Quran. "Kisanak masih punya wudu, kan?" sambung Abah.

__ADS_1


Dewa mengangguk. Tangannya terulur menerima Mushaf itu dari tangan Haji Zaenudin. "Terima kasih, Bah," ucapnya.


"Sama-sama. Sering-seringlah membacanya," pesan Abah Haji.


"Insyaallah, Bah," ucap Dewa penuh haru. Bibirnya tersenyum namun matanya sungguh terasa panas dan berair. Dan ia sedang berusaha keras untuk menahan air di matanya agar tidak tumpah.


Haji Zainudin menepuk bahu Dewa seraya tersenyum. "Semoga Allah selalu meluruskan jalanmu dan memberikanmu banyak keberkahan, Nak," ucap Abah.


Dewa mengangguk. "Terima kasih, Bah," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.


"Ya sudah Abah masuk dulu ya. Assalamualaikum." Abah berpamitan. Lalu membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Dewa.


"Waalaikum salam," jawab Dewa. Ia mengedipkan matanya dan meloloskan butiran air yang tak mampu lagi ditahannya.


Aduh Abah... Orang kaya gitu kok dikasih mushaf. Mana mungkin akan dibaca. Dia juga pasti ga bisa baca Qur'an. Salat juga ga pernah. Gumam Mimin dalam hatinya.


Mimin yang sedari tadi mencuri dengar dari balik dinding, memang tidak memperhatikan apalagi mengetahui bahwa saat ini Dewa sedang mengenakan baju koko, sarung dan peci, baru pulang dari masjid.


*****


Sabtu Malam (Malam Minggu)


Dewa sedang mematut dirinya di depan cermin. Ia mengenakan celana jeans denim dipadu dengan t shirt warna kesukaannya, hitam. Penampilannya semakin keren dengan tampilan jaket denim dan sepatu sneakers.


“Jadi tadi Abah Haji ngasih lo Qur’an?” tanya Sol.


“Ho oh.” Dewa mengangguk.


“Apa maksudnya yah Abah Haji ngasih Lo Qur’an?” tanya Sol. Ibu jari dan telunjuknya diletakkan di bawah dagu layaknya orang yang sedang berpikir.


“Ga ada maksud apa-apa kali Sol. Mungkin beliau tahu kalau kita ga punya Qur’an makanya dikasih Qur’an deh biar dibaca,” jawab Dewa.


“Gue ngerti kalau sampai situ. Intinya Abah Haji ingin lo jadi orang saleh Wa.” Sol menatap Dewa melalui pantulan cermin di depan Dewa. “Tapi kenapa dia ingin banget lo jadi orang soleh?” tanyanya lagi.


“Wah... benar Wa. Cerdas lo, Men. Abah Haji itu pasti menginginkan lo jadi suaminya Opi,” kelakar Sol.


Bug...


Dewa meninju pelan lengan Sol. “Jadi suaminya Mimin lah... masa Opi!!” gerutu Dewa.


“Hahahaha... “ Sol tertawa terbahak-bahak.


"Kafenya di mana Wa?" tanya Sol setelah berhasil menghentikan tawanya.


"Baretos Cafe," jawab Dewa.


"Oooh...."


"Lo ikut ya."


"Nanti dulu... gue tuh mau ngapelin cewek gue soalnya."


"Alah... masa iya sih lo punya cewek," cibir Dewa.


"Nanti gue ajak cewek gue ke sana, ke kafe Baretos biar lo percaya," kata Sol ga mau kalah.


"Iya iya deh... gue percaya. Bawa ya cewek lo. Kan gue pengen lihat seperti apa cewek bernasib tragis yang jadi pacar lo. A hahahaha...." gurau Dewa.


Bug...


Sol membalas dengan meninju pelan perut Dewa.

__ADS_1


"Aduuuuhhh...." Dewa berpura-pura meringis kesakitan.


"Oya Wa gue baru ingat. Mau ngomong sama lo lupa aja," ujar Sol.


"Mau ngomong apa?" tanya Dewa.


"Waktu itu gue pernah lihat mobil Honda Jazz warna putih nomor polisi mobil itu ujungnya DK... mobil abang lo kan?"


Dewa mengangguk. "Yang punya Honda Jazz warna putih kan banyak, Sol. Mungkin punya orang lain. Yang punya nopol DK juga bukan dia doang kan."


"Awalnya gue juga mikir gitu. Eh, terus gue beneran ketemu abang lo di indoapril. Gue lihat dia tapi dia ga lihat gue," tutur Sol.


Dewa yang semula sedang berdiri di depan cermin membalikkan tubuhnya menatap Sol yang sedang duduk di atas kasur. "Serius lo?"


"Serius, Wa. Mata gue masih normal... jadi ga mungkin salah," ucap Sol dengan penuh keyakinan.


"Udah ah ga usah dibahas. Berangkat sekarang yuk!" seru Dewa.


"Ok."


Dewa dan Sol berangkat menaiki motor mereka masing-masing. Dewa berangkat menuju Baretos Cafe. Sudah dua malam dia "mengamen" di kafe itu. Sedangkan Sol berangkat menuju rumah pacarnya. "Mau ngapel." Begitu kata Sol.


Saat motor Dewa dan Sol baru saja berbelok menuju jalan utama, mobil warna putih milik Deka justru masuk ke dalam jalan perkampungan menuju kampung Cibening. Mereka berselisihan jalan.


Mimin sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya sambil membaca novel lewat aplikasi noveltoon di ponselnya ketika suara deru mobil berhenti di depan rumah. Dan beberapa menit kemudian suara ketukan pintu terdengar di depan pintu rumah utama.


Mimin beringsut bangun dari tempat duduknya lalu membuka pintu.


"Pak Deka...."


"Selamat malam, Jasmin," ucap Deka dan tak lupa melempar senyuman penuh pesona miliknya.


"Se-selamat malam, Pak Deka," ucap Mimin sedikit ragu. Pasalnya ia tidak terbiasa mengucapkan kalimat salam seperti itu. Karena biasanya orang yang bertamu ke rumahnya mengucap assalamualaikum.


"Saya boleh masuk, Jasmin?" tanya Deka karena Mimin terus saja berdiri tak mempersilakannya masuk.


"Ee... Iya... Silakan masuk, Pak. Silakan duduk," ucap Mimin akhirnya.


"Terima kasih, Jasmin," jawab Deka. Lalu mendudukkan bokongnya di atas sofa.


Mimin turut duduk di sofa di hadapan Deka yang disekat sebuah meja kaca kecil.


"Aku datang ke sini mau melanjutkan obrolan kita tadi pagi via telepon... tentang kontrakan," tutur Deka.


"Oh, iya. Kebetulan abah sekarang ada di rumah. Sebentar saya panggilkan abah dulu," ujar Mimin lalu bangun dari posisi duduknya.


"Oya Bapak mau minum apa?" tanya Mimin.


"Jasmin... saya boleh request sesuatu?" tanya Deka.


"Boleh... Tapi yang ada di sini saja. Seperti air putih, teh manis, kopi, es si...." Belum tuntas Mimin berbicara, Deka sudah memotongnya."


"Bukan... bukan itu Jasmin." Deka menatap Mimin. "Tolong jangan panggil saya Bapak. Cukup panggil Deka saja," pintanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2