
Setelah bermain-main dengan kura-kura kesayangannya. Aktivitas selanjutnya adalah sarapan. Dewa menyantap menu roti panggang selai coklat dan segelas susu yang disiapkan oleh Bi Siti. Sambil menyantap sarapan di meja makan, ia berbincang santai dengan Bi Siti yang sedang melakukan kegiatan di dapur.
"Bi, Bang Deka sejak kapan pergi dari rumah ini?" tanya Dewa sembari mengunyah roti.
"Gak lama setelah Den Dewa pergi, terus Den Deka ikutan pergi juga," terang Bi Siti.
"Kenapa dia pergi ya, Bi?" tanya Dewa lagi.
"Kalau itu sih Bibi kurang tahu Den. Kalau sama Den Deka kan Bibi jarang ngobrol seperti sama Den Dewa begini," sahut Bi Siti.
"Apa ada hubungannya sama Clara?"
"Kurang tahu Den. Bibi gak mengerti."
"Waktu aku pergi, Clara pernah datang ke sini lagi Bi?"
"Pernah, nyari Den Dewa. Tapi Den Dewa kan ga ada. Terus pernah juga ketemu Den Deka terus mereka ribut gitu. Bibi ga ngerti mereka meributkan apa," tutur Bi Siti.
Dewa telah menghabiskan dua lembar roti panggang. Lalu meneguk segelas susu hingga hampir tandas. "Makasih ya Bi, sarapannya," ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, Den," balas Bi Siti.
Kemudian Dewa beranjak menuju lantai dua tempat kamarnya dan kamar Deka berada. Tepat di depan pintu kamar Deka, ia menghentikan langkahnya. Kemudian membuka pintu kamar Deka.
Ceklek...
Dewa mengayun langkah masuk ke dalam kamar kakaknya itu. Kamar terkutuk yang pernah menorehkan luka mengiris perih. Ia menatap tempat tidur di hadapannya. Bayang-bayang kejadian buruk itu sempat melintasi benaknya. Meskipun bayang-bayang itu tak lantas membuatnya terbenam dalam kesedihan, namun cukup membuatnya kesal dan gusar. Pasalnya akibat peristiwa terkutuk itu, kini menyulitkan langkahnya untuk meraih kebahagiaan bersama gadis pujaannya.
Dewa duduk di tepi tempat tidur dan meraih sebuah pigura foto dari atas sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Ia memandang foto kakak tampannya itu.
"Bang, kenapa sih lo selalu nyusahin hidup gue?!"
"Kenapa sih lo selalu merumitkan kisah cinta gue?!"
"Di mana lo sekarang, Hah!"
"Dasar pengecut!"
Dewa bermonolog sendiri. Setelah puas mengungkapkan kekesalannya pada sebuah foto, ia meletakkan kembali pigura foto itu ke tempatnya. Lalu, tak sengaja netranya menangkap sebuah kertas putih yang ditindih oleh sebuah lampu meja. Ia mengangkat lampu meja itu untuk meraih kertas putih yang menarik perhatiannya. Lalu membuka selembar kertas putih yang dilipat menjadi dua bagian itu yang ternyata berisi deretan kalimat yang di tulis tangan oleh Deka.
Dewa bergeming setelah membaca tulisan itu. Menatap nanar setiap kata demi kata yang terangkai dalam selembar surat tulisan tangan Deka.
*****
Penunjuk waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dengan langkah cepat Dewa menuruni tangga, ia berniat pergi ke rumah Jejed. Setelah terbiasa bekerja bahkan di dua tempat yaitu bengkel dan kafe, membuatnya lekas merasa jenuh jika berlama-lama berada di rumah. Menjadi pengangguran ternyata melelahkan hati.
__ADS_1
"Bi kunci Lamborghini di mana?" tanya Dewa. (Motor kesayangannya yang dulu disebut Ferrari kini ganti nama jadi Lamborghini ya)
"Lamborghini teh naon?" Bi Siti balik bertanya.
Dewa berdecak "Ck... kunci motor maksudnya," terangnya.
"Oh, motor Den Dewa," sahut Bi Siti sambil tersenyum nyengir. "Ditempat biasa Den," sahut Bi Siti kembali.
"Oh, ok ok." Dewa manggut-manggut.
"Den Dewa mau ke mana lagi? Ga kabur lagi kan?" tanya Bi Siti khawatir.
"Enggak Bi. Mau ke rumah Jejed doang kok," sahut Dewa.
"Ok, deh Den. Hati-hati ya!"
"Iya Bi. Dewa berangkat ya. Assalamualaikum," pamit Dewa.
"Waalaikum salam," sahut Bi Siti.
Dewa berjalan menuju garasi lalu mengeluarkan Lamborghini dari kandangnya. Lamborghini yang sudah lama tak disentuhnya tampak kinclong, mungkin karena Mang Sule, suaminya Bi Siti rajin mengelapnya.
Sebenarnya ini bukanlah motor keinginannya. Motor idamannya adalah Ninja H2R. Namun papa menolak untuk membelikan motor keinginannya dan kemudian membelikan Y Nmax. Dengan berlapang dada dan penuh rasa syukur serta sedikit rasa dongkol ia menerimanya. Diiringi dengan ocehan Papa.
"Kamu itu belum memberikan kontribusi apapun di keluarga, apalagi di perusahaan Papa. Jadi, jangan minta yang aneh-aneh!"
"Kerjaanmu ga jelas. Daripada nge-band mending kerja di kantor Papa!"
Begitu beberapa ocehan papa kala itu.
Dewa menyalakan mesin motor dan memanaskannya selama beberapa menit. Ia hendak memakai helm ketika kemudian dua orang pria bertubuh kekar dengan berpakaian hitam menghampirinya.
"Ayo, ikut!" seru salah seorang di antara mereka.
"Ih, siapa kalian?!" salak Dewa.
Kedua orang bertubuh kekar itu memegangi Dewa. Dengan sekuat tanaga Dewa mengelak dan berusaha melepaskan diri. Hingga kemudian pandangannya tiba-tiba menggelap ketika sebuah pukulan terasa di punggungnya.
Ternyata ada seorang lagi pria berpakaian hitam di belakang Dewa yang memukul punggungnya dengan sebuah balok kayu.
Membuat tubuh Dewa ambruk jatuh tersungkur.
*****
Dewa mengerjapkan matanya ketika kesadarannya baru saja kembali. Ia meringis sebab merasa kesakitan di punggungnya. Belum juga hilang rasa sakit usai dihajar oleh kakak iparnya, malah kini sakitnya bertambah. Untuk sesaat ia masih belum menyadari apa yang terjadi. Hingga setelah nyawanya terkumpul, ia memandang sekitarnya. "Di mana aku?" gumamnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian ia baru dapat mengingat kejadian tadi pagi. Tentang beberapa orang pria bertubuh kekar dan berpakaian hitam yang datang menghampirinya.
Dewa berada di sebuah kamar dengan pintu yang tertutup rapat dan tak ada jendela. Hanya ada lubang angin di atas pintu. Ia beringsut bangun dari tempat tidur. Sepertinya tadi seseorang telah membaringkannya di atas tempat tidur ini.
Dengan langkah tertatih sebab merasa sakit di sekujur badan, ia mendekati pintu lalu menggedornya berulang kali.
Dug... Dug... Dug...
"Woy buka pintunya!" teriak Dewa.
Setelah menggedor pintu dan berteriak berkali-kali, terdengar derap suara langkah seseorang menghampiri ke arah kamar tempatnya berada.
Dewa mundur beberapa langkah, untuk mengantisipasi jika saja ada bahaya yang mengancamnya.
Suara derap langkah seseorang itu berhenti ketika mencapai pintu. Lalu terdengar seperti suara seorang membuka kunci. Dan...
Ceklek...
Seseorang itu membuka pintu kamar.
Dewa menatap seorang wanita yang berdiri di hadapannya dengan memakai mini dress warna merah dengan panjang di atas lutut. Hingga memperlihatkan kaki jenjang, putih dan mulus miliknya.
"Clara...!" seru Dewa tercengang. Ya, wanita itu adalah Clara.
"Lama banget kita ga ketemu." Clara mengayun langkah ala model catwalk mendekati Dewa. "Aku kangen kamu, Beb," bisiknya di telinga Dewa.
"Lo mau apa, Clara?!" sentak Dewa.
"Aku hamil, Wa!" seru Clara
"Lalu... Apa hubungannya sama gue, Hah?!"
"Semua itu karena lo!" bentak Clara.
"Gue sayang sama lo tapi lo cuekin gue. Lo ga punya waktu buat gue. Lo lebih memilih menghabiskan waktu sama dua sahabat lo yang idiot itu!"
"Heh... Lo jangan menghina sahabat gue! Mereka itu jauh lebih baik dari lo, ngerti!" geram Dewa tak terima dengan penghinaan Clara terhadap sahabatnya.
"Dan lo juga selalu jual mahal, sok suci. No s*e*x before marriage lah, dosa lah, ga mau lah! Jadinya gue lari ke pelukan cowok lain. Padahal gue cintanya sama lo!" pekik Clara.
"Terserah lo. Sekarang gue mau pulang!" seru Dewa.
"Hahahaha... Ga semudah itu Dewa! Apa lo pikir, gue yang bawa lo ke sini, Hah?!" Clara tersenyum menyeringai.
"Bokap gue yang bawa lo ke sini. Dan lo tau kan, bagaimana kalau sudah berhubungan sama Bapak Soeharto Darwin??" tutur Clara.
__ADS_1
Dewa terkesiap mendengar penuturan Clara. Soeharto Darwin bukanlah orang sembarangan. Siapa pun dia jika sudah tersentuh masalah dengan Soeharto Darwin, bersiaplah untuk segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Apa ini masalah yang dimaksud papa malam itu. Batin Dewa menciut seketika. Kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan menyeruak di relung hatinya. Oh, Neng Mina doakan Aa ya. Gumamnya lirih.