Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Pulang


__ADS_3

Setelah mobil Haji Zaenudin yang dikendarai Sol melaju untuk mengantarkan Dewa dan Jejed, tak berselang lama sebuah mobil jenis city car warna hitam berhenti di depan halaman rumah Haji Zaenudin. Seorang pria turun dari mobil itu. Pria itu adalah Haris. Sementara Abah, Mami, Mimin dan Opi masih berdiri di depan teras usai melepaskan kepulangan Dewa ke rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum," sapa Haris.


"Waalaikum salam." Semuanya kompak menjawab salam.


"Haris bagaimana kabar kamu?" tanya Mami kepada Haris.


"Baik Bi," jawab Haris. Begitulah Haris, sejak kecil ia tak mau mengubah panggilan Bibi menjadi Mami. Bu Ratna atau Mami adalah adik sepupu mendiang ibunya Haris dan Mimin. Maka, ia memanggil dengan sebutan bibi (tante). Setelah kepergian Bu Sarah (ibunya Haris dan Mimin) yang meninggal dunia karena kecelakaan, ia memilih tinggal bersama kakek dan neneknya (orang tua Abah).


"Kamu sendirian? Istrimu ga ikut?" tanya Mami lagi.


"Enggak, Bi," jawab Haris singkat.


"Baru datang kamu Ris, Abah minta kamu datang ke sini agar kamu minta maaf sama adik ipar kamu!" tegur Abah.


"Udah Abah! Kang Haris suruh masuk dulu, ngobrol di dalam saja," sela Mimin untuk meredakan ketegangan di antara Abah dan kakaknya. Dari sorot mata yang ditunjukkan Abah, Mimin paham betul kalau Abah sedang marah.


"Ya sudah, ayo masuk Ris. Abah juga masuk!" seru Mami.


Dan mereka semua pun masuk. Haris dan Abah duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Mimin dan Opi memilih masuk ke kamarnya masing-masing.


"Haris makan dulu ya, Mami masuk sambelan tangkil kesukaan kamu," ujar Mami.


"Sebelum ke sini tadi saya udah makan, Bi."


"Oh, ya sudah Mami buatkan kopi aja ya," ujar Mami lagi. Kali ini dijawab  Haris dengan sebuah anggukan.


"Abah juga mau ngopi?" tanya Mami.


"Iya, boleh."


Kemudian Mami pergi ke dapur meninggalkan Abah dan Haris.


"Haris, kenapa kamu sampai membuat adik iparmu babak belur begitu?!" geram Abah.


"Kenapa Abah membela dia sih? Bukannya dia yang sudah merusak nama baik Mimin," sahut Haris.


"Astagfirullah Haris. Jadi, kamu mempercayai tuduhan keji orang-orang itu? Kamu percaya Mimin dan Dewa berbuat seperti yang dituduhkan orang-orang itu?" Abah menggelengkan kepalanya tak habis pikir mengapa putranya itu bisa mempercayai tuduhan orang-orang itu tentang Mimin dan Dewa.


"Kamu keterlaluan Ris, kalau sampai mempercayai mereka!" kata Abah lagi.


"Ada yang memberi tahu kalau pria yang dinikahkan dengan Mimin itu pria brengsek," ujar Haris dengan wajah tertunduk.


"Siapa orang yang mengatakan itu?" cecar Abah.


Haris yang semula tertunduk, mengangkat wajahnya menatap Abah. "Yusril, temannya Mimin," sahutnya.


Yusril ternyata biang dari masalah ini. Ia yang kecewa bahkan tak mempercayai kalau Mimin telah menikah. Lalu berinisiatif mencari tahu apa yang terjadi dengan gadis pujaannya itu. Mengorek informasi dari warga kampung Cibening yang tentu saja dengan cerita tuduhan ala mereka. Membuat Yusril meradang hingga ia menemui kakaknya Mimin yang bernama Haris dan menceritakan semuanya.


Haris telah mendengar kabar pernikahan dadakan adiknya itu dari Abah, namun ia tak mengetahui cerita di balik pernikahan dadakan itu. Kemudian ketika Yusril menceritakan semuanya, membuat Haris sangat murka. Terlebih setelah Yusril mengatakan jika yang menjadi suami Mimin adalah pria begajulan dan brengsek. Sehingga terjadilah insiden penganiayaan kepada adik iparnya itu, yang ia lakukan dengan sadar dan direncanakan.


*****


"Hey...! Jadi lo yang tiap hari ngirim bunga!" berang Dewa.


Pria berpakaian batik yang berdiri membelakangi Dewa sontak memutar tubuhnya ketika mendengar seruan Dewa yang menggelegar. "Iya, memang gue. Mau apa lo!" salak pria yang tak lain adalah Yusril. 


Ya, Yusril lah yang selama dua hari ini mengirimi bunga. Ia yang sudah berkawan akrab dengan Mimin saat duduk di bangku SMA dulu, sangat mengenal kesukaan Mimin. Ia tahu betul tentang Mimin yang sangat menyukai bunga. Maka ia berusaha untuk mengambil hati gadis pujaannya dengan bunga.


Dewa sangat geram sampai-sampai menggemeretakkan giginya, dan tangannya terkepal hendak menyerang maju, namun ia malah mengaduh kesakitan sebab tubuhnya masih terasa sakit akibat penganiayaan oleh kakak iparnya kemarin malam.


"Jadi ini orangnya! Biar gue wakili Wa, gue udah lama ga gebukin orang!" seru Jejed sambil menggulung lengan kemejanya menyiratkan siap untuk bertarung.


"Heh, Jerawat Sekebon! Gua ga takut sama lo!" salak Yusril.


"Wah sensasinya bakalan beda nih kalau bisa gebukin Pak Lurah," seloroh Sol. Satu tangannya terkepal lalu memukul pelan di telapak tangan satunya.


"Ini lagi, si Pipi Cabi ikut-ikutan!" seru Yusril.


"Maaf, tolong jangan buat keributan di sini!" seru Ibu penjual bunga. "Silakan kalian keluar kalau hanya mau membuat keributan di sini!" hardik si Ibu lagi.


"Awas kalau lo berani kirim bunga lagi buat istri gue!" ancam Dewa.


"Percuma lo mau kirim bunga sampai sekebon juga, ga akan mempan. Karena Mina udah kelepek-kelepek sama gue. Tau loh!" seru Dewa penuh percaya diri. Setelah mengatakan itu, Dewa dan kedua sahabatnya berlalu dan melanjutkan tujuannya, pulang kembali ke rumah orang tuanya.


*****


Dewa dan Jejed sampai di Terminal Rambutan saat waktu magrib. Saat akan turun dari bus, seseorang menabrak mereka hingga membuat tubuh mereka terhuyung ke depan.


"Woy, hati-hati dong!" tegur Dewa.


"Sori Bang, buru-buru," sahut Pria yang menabrak mereka lalu berjalan cepat melewati keduanya.


"Jed, salat dulu yuk," ajak Dewa setelah turun dari bus.


"Hayu," sahut Jejed.


Lalu mereka pun mencari masjid terdekat untuk melaksanakan salat Magrib. Selepas salat, Dewa berniat menghubungi Mimin untuk memberi kabar bahwa ia telah sampai di Jakarta namun ia tak mendapati ponselnya.


"Jed, hape gue ga ada," kata Dewa sambil terus mencari-cari ponselnya.

__ADS_1


"Masa sih, Wa?"


"Iya, ga ada. Duh, ke mana ya? Apa ketinggalan di kontrakan ya?" Dewa mengggaruk kepalanya berusaha untuk mengingat.


"Coba Jed, pinjam hape lo. Gue mau hubungi Mina," ujar Dewa.


"Gue kan ga punya nomor Mina, Wa," sahut Jejed.


"Ih, kan bisa tanya ke Sol."


"Oh, iya ya." Jejed merogoh tas, kantong baju dan kantong celana. "Wa, hape gue juga ga ada!" serunya.


"Lah, kok sama-sama ga ada hape?"


 "Jangan-jangan, diambil cowok yang nabrak kita di bus tadi."


"Astaga. Jadi, kita dicopet. Terus bagaimana gue hubungi Mina," keluh Dewa.


"Nanti aja hubungi Mina kalau udah pulang ke rumah," saran Dewa.


"Masalahnya gue ga hapal nomor Mina,” sesal Dewa.


“Ya udah nanti lo telepon Sol dulu, tanya nomor Mina,” ujar Jejed.


“Bener Jed. Lo hapal kan nomor Sol?”


“Enggak. Sol kan ganti nomor baru, jadi gue ga hapal nomornya."


“Omegos.”


Setelah itu mereka memesan taksi untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Alhamdulillah," ucap Dewa sesaat setelah turun dari taksi.



Ia memandang rindu rumah mewah orang tuanya yang selama dua bulan ini ditinggalkannya. Dengan senyum terkembang dan segenap rasa rindu terutama kepada Mama, ia mengayun langkahnya. Sesampainya di depan pintu, ia menekan bel rumah. Selama beberapa menit menunggu, sampai akhirnya pintu rumah dibuka oleh Bi Siti.


"Den Dewa...!" seru Bi Siti terkejut sampai-sampai matanya bulat membola dan mulutnya terbuka menganga. "Beneran ini Den Dewa?!" serunya histeris.


"Iya, Bi." Dewa melemparkan senyumnya.


Bi Siti yang sudah menganggap Dewa seperti anaknya langsung menghambur memeluk Dewa. "Ya Gusti, alhamdulilah Den Dewa sudah pulang," ucap Bi Siti diiringi isak tangis kebahagiaan.


"Bi Siti gimana kabarnya?" tanya Dewa di tengah pelukan Bi Siti.


"Alhamdulillah Bibi mah sehat Den," jawab Bi Siti setelah melepaskan pelukannya.


"Ah, biasa. Namanya juga cowok," sahut Dewa.


"Ayo, Den, masuk! Kita lanjut di dalam ngobrolnya," ujar Bi Siti. Dan mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi? Mama dan Papa ke mana, Bi?" tanya Dewa sembari mengayun langkahnya masuk ke dalam rumah, berjalan beriringan bersama Bi Siti.


"Mama sama Papa lagi keluar, Den. Sebentar lagi juga pulang," sahut Bi Siti.


"Mama sehat kan Bi?"


"Alhamdulillah sehat, Den. Tapi, Mama sedih terus sejak Den Dewa pergi," tutur Bi Siti.


Dewa menghempaskan tubuhnya di atas sofa mewah, meresapi kenyamanannya. Ia tersenyum mengingat selama dua bulan ini tak pernah merasakan duduk di sofa mewah. Biasanya duduk di ubin lantai kontrakan. Atau pernah duduk di sofa rumah Mimin. Dan sofa di ruang tamu rumah Mimin tak semewah sofa di rumahnya.


“Den Dewa mau makan?” tanya Bi Siti.


“Boleh, Bi. Kebetulan sudah lapar banget nih,” sahut Dewa.


“Siap Den, Bibi siapkan dulu makannya.” Bi Siti segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Dewa menyantap makanan, sambil ditemani Bi Siti. Mengobrol seru layaknya orang yang sudah lama tak berjumpa. Bi Siti yang lebih banyak bercerita tentang keadaan rumah pasca kepergiannya. Bercerita tentang betapa rindunya Bu Dewi, mamanya Dewa. Tentang Pak Satya, papanya Dewa. Tentang Michael Angelo si kura-kura kesayangan Dewa. Hingga kemudian bercerita tentang Deka, kakaknya yang juga pergi dari rumah ini.


Setelah selesai makan, Dewa pergi menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sebelum membuka pintu kamarnya, ia sempat berhenti lalu mengalihkan pandangannya pada pintu kamar di depannya, yang adalah pintu kamar Deka. Bayangan kejadian dua bulan silam tentang penghianatan Clara dan Deka, seketika kembali melintas di dalam ingatannya.


Ia baru menyadari jika kini, bayangan kejadian itu sama sekali tak membuatnya sesak nafas. Bahkan telah mengikhlaskan dan mensyukurinya. Sebab kejadian itu menjadi sebuah awal dari cara Penulis untuk mempertemukan dengan jodohnya, si Gadis Berkerudung Merah yang cantik jelita.


“Bu, Den Dewa sudah pulang,” terang Bi Siti sesaat setelah membukakan pintu untuk Bu Dewi dan Pak Satya yang baru tiba.


“Hah, benaran Bi?” sahut Bu Dewi antusias.


“Iya, Bu. Den Dewa ada di kamarnya.”


Dengan penuh semangat, Bu Dewi mengayun cepat langkahnya menuju kamar Dewa. Saat membuka pintu kamar Dewa, dilihatnya Dewa sedang salat. Bu Dewi masuk ke dalam, lalu duduk di atas tempat tidur menunggu Dewa menyelesaikan salatnya.


Dewa menolehkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri seraya mengucap salam, sebagai pertanda salatnya telah usai. Selanjutnya menutup dengan doa setelah salat.


“Dewa...!” Bu Dewi menghambur memeluk Dewa.


“Mama...!” Dewa balas memeluk mamanya.


“Mama kangen kamu Sayang.”


“Dewa juga kangen Mama.”

__ADS_1


Setelah cukup lama berpelukan untuk meluapkan rasa rindu antara ibu dan anak, kemudian Bu Dewi melepaskan pelukannya. Dan ia terkejut ketika mendapati wajah putra kesayangannya babak belur.


“Sayang kenapa wajah kamu babak belur begini, Hah?!” Bu Dewi menatap cemas wajah Dewa.


“Siapa orang yang berani mukulin kamu seperti ini?!” geram Bu Dewi.


“Enggak apa-apa Mah. Namanya juga cowok, udah biasa seperti ini,” sahut Dewa.


“Terus selama ini kamu pergi ke mana Wa? Terus gimana kamu makan? Kamu kan gak dapat uang jajan dari Mama,” cecar Bu Dewi.


“Dewa baik-baik saja, Ma. Malah Dewa senang, sekarang Dewa sudah bisa cari uang sendiri. Dewa sekarang udah kerja Ma, sudah bisa hidup mandiri, ga jadi anak manja lagi,” tutur Dewa bangga.


Itulah hal yang ia rasakan saat ini. Ia yang terbiasa hidup di rumah mewah, awalnya merasa kesulitan ketika pindah ke rumah kontrakan yang kecil dan sederhana, panas karena tak ada AC dan banyak nyamuk. Namun, kini ia malah menikmati kehidupan sederhananya. Sederhana tapi bahagia.


“Kamu kerja apa? Kerja di mana?” tanya Bu Dewi.


“Kerja di bengkel, Ma. Sama nyanyi juga,” terang Dewa.


“Kerja di bengkel itu gajinya berapa paling juga lebih kecil dari uang jajan yang Mama kasih,” cibir Bu Dewi.


“Justru di situ lekat kenikmatannya. Membagi uang yang sedikit itu agar bisa cukup untuk biaya hidup sebulan. Seperti tantangan hidup untuk menghidupi kehidupan,” tutur Dewa.


“Sesederhana itu hidup anak Mama ini?”


“Sebab sejatinya hidup memang sangat sederhana. Hanya saja kita terbiasa untuk membuatnya rumit.”


“Kamu bahagia Wa?”


“Bahagia banget Ma. Alhamdulillah Dewa dikelilingi orang-orang baik. Dan di sana Dewa menemukan cinta sejati, Ma. Dewa sekarang sudah menikah,” tutur Dewa.


“Apa? Menikah? Kamu menikah dengan siapa?”


“Dengan gadis impian Dewa lah Ma.”


“Siapa?”


“Namanya Jasmina Zahra.”


“Jasmina Zahra, namanya cantik. Orangnya cantik ga?”


“Beuh, cantik banget Ma.”


“Terus mana istrimu? Kenapa gak kamu bawa ke sini?”


“Makanya Dewa pulang itu karena Dewa mau mengajak Mama sama Papa untuk ketemu sama keluarganya Mina, dan secara resmi melamar Mina untuk Dewa.”


“Loh, katanya kalian udah menikah?”


“Iya, udah. Tapi baru nikah siri.”


“Hah, nikah siri??”


“Jadi ceritanya begini Ma. Terjadi kesalahpahaman hingga akhirnya membuat kita menikah. Kami difitnah, digerebek sama orang kampung.”


“Astaga, kamu digerebek?!”


“Iya Ma. Tapi gak apa-apa, Dewa malah senang. Karena akhirnya Dewa bisa menikah sama Mina. Cantik banget Ma, orangnya. Cantik dan salihah.”


“Ih, kamu mah aneh Wa. Digerebek malah senang.”


Ibu dan anak itu terus mengobrol dan saling bercerita. Menceritakan segala hal selama mereka berpisah. Sampai kemudian Pak Satya masuk ke dalam kamar.


“Wah, jagoanmu itu Ma. Udah babak belur seperti itu, baru ingat pulang,” sinis Pak Satya.


“Papa!!!” seru Bu Dewi yang tidak suka dengan sambutan suaminya kepada Dewa.


“Baguslah kamu pulang. Kamu bisa menyelesaikan kerumitan masalah Papa,” sahut Pak Satya.


“Papa! Tolong jangan bahas masalah itu dulu!” Mama semakin geram dengan sikap suaminya.


“Tapi Ma, masalah ini bisa mempengaruhi perusahaan Papa. Perusahaan Papa bisa....”


“Cukup Pah!” hardik Bu Dewi.


“Ini sebenarnya ada masalah apa Mah, Pah??” tanya Dewa. Setitik rasa cemas menggelayuti hatinya.


.


.


.


.


Beuh, 2k kata nih. Panjang sangat.


Ayo tebakannya betul apa salah? Ternyata Pak Lurah yang menggemaskan yang mengirimi bunga kepada Mimin.


Btw, makasih ya semuanya yang sudah setia menunggu up bab GBM dari othor remahan ini. Terima kasih yang sudah Like, komen, kasih hadiah, vote bahkan koin. Aku terhura😭😭.


Love U all. ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2