Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Belut Raos


__ADS_3

Tangan kanan Mimin memegang sebuah pulpen dan diketuk-ketuknya di meja. Sementara tangan kirinya menopang dagu dengan siku sebagai tumpuannya, bertumpu di atas meja kerjanya. Pikirannya melayang pada kejadian menggelikan saat makan siang di Rumah Makan Belut Raos bersama teman-temannya dan juga Deka siang tadi.


Mereka tengah mengobrol seru di sebuah saung sebagai tempat duduk pilihan mereka. Sesekali diselingi acara menebak tebakan yang dilempar Susi ketika dua orang pelayan Rumah Makan Belut Raos membawakan makanan yang telah mereka pesan. Nasi putih dalam bakul kecil untuk porsi lima orang. Dua porsi belut goreng, satu porsi pepes belut, tiga porsi ayam bakar bumbu ketumbar, pepes ikan nila, keredok, sop iga, sop daging, sop buntut, dan lima gelas minuman jeruk.


"Loh, De..." Seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan tiba-tiba berseru ketika melihat Deka. "Eh, bukan kayaknya," ralat pelayan tadi setelah memperhatikan Deka secara saksama.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Deka.


"Eh, enggak Ka. Kakak mirip dengan teman kami," ujar pelayan tadi. "Silakan menikmati makan siang," pungkas si Pelayan lalu pergi meninggalkan saung tempat mereka duduk.


Setelah mereka selesai menikmati makan siang yang nikmat, mereka beranjak untuk kembali ke kantor. Tidak lupa Deka membayar bill-nya di kasir. Saat Deka baru saja selesai membayar di kasir, mereka berpapasan dengan seorang Bapak berkepala botak berperut buncit.


Tak ada angin tak ada hujan, tanpa aba-aba dan permisi tiba-tiba Bapak berkepala botak dan berperut buncit itu memiting leher Deka.


"Kamu berani datang ke sini rupanya!" seru Bapak berkepala botak dan berperut buncit. Membuat mereka yang berada dekat dengan meja kasir tersentak kaget.


"Hey, apa-apaan nih!" pekik Deka dan berusaha melawan, melepaskan diri dari pitingan Pria berkepala botak dan berperut buncit itu. Namun tidak berhasil karena tubuh Pria itu lebih besar darinya.


"Hebat kamu, berani datang ke sini!" kata Pria berkepala botak dan berperut buncit.


"Lepas...! Atau saya akan laporkan Anda ke polisi!" ancam Deka.


"Hey apa-apaan Lo Botak Buncit. Lepasin Bos gue!" seru Devi.


Irna dan Susi segera meraih ponselnya. "Nih, gue rekam nih Botak Buncit, biar viral! ancam Susi. Tangannya memegang ponsel dalam mode merekam video.


"Stress ya Lo Botak Buncit!" geram Irna.


Hanya Mimin yang diam saja tak ikut mengumpat Pria berkepala botak dan berperut buncit. Ia terperangah melihat kejadian di depan matanya.


Seseorang yang bertugas sebagai kasir yang juga adalah pelayan yang tadi mengantar pesanan mereka datang untuk melerai. Berhubung rumah makan ini kekurangan karyawan, jadi karyawan di sini memang tugasnya multifungsi.


"Bos, lepaskan Kakak itu! Dia bukan De..." ujar Pelayan itu. Belum tuntas Pelayan itu mengucapkan kalimatnya, Pria berkepala botak berperut buncit itu sudah menyahut.


"Apa?!" serunya seraya melepaskan pitingan di leher Deka.

__ADS_1


Kedua tangan pria berkepala botak dan berperut buncit itu menangkup wajah Deka, dan memperhatikannya dengan teliti. "Eh, iya bukan. Cuma mirip saja ya," ujarnya.


"Kakak ini tamu di sini Bos, baru selesai makan," tutur Pelayan itu.


"Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah salah orang," kata Pria itu seraya menangkupkan tangan di dada.


Deka mendengus kesal lalu menarik kasar kerah kemeja pria berkepala botak dan berperut buncit. "Kurang ajar Lo!" umpatnya.


"Maafkan saya," jawab pria itu. Berusaha melepaskan cengkeraman tangan Deka di kerah bajunya.


"Sudah Pak Deka, lebih baik kita laporkan saja orang ngeselin ini ke pihak berwajib. Ini sudah masuk tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan, pasal 335," gertak Irna. Yang ternyata ditanggapi serius oleh Pria berkepala botak dan berperut buncit.


Pria itu melepas cengkeraman Deka lalu berlutut di bawah kaki Deka dengan raut cemas dan ketakutan.


"Jangan laporkan saya ke kantor polisi. Saya mohon... Huuu... Huuu." Pria yang semula garang itu kini wajahnya berubah pucat dan malah menangis tersedu-sedu.


Deka dan keempat gadis itu saling berpandangan bingung sambil menahan tawa.


"Kita kerjain aja," bisik Susi.


"Tolong kita damai saja," ujar Pria itu masih dengan posisi berlutut.


“Tidak semudah itu Ferguso!” tukas Susi.


Pria itu lalu berdiri. "Bagaimana kalau untuk menebus kesalahan... saya akan memberikan dua voucer makan di rumah makan ini seharga yang Anda bayar hari ini," tawarnya.


Dengan isyarat mata, Deka meminta pendapat keempat gadis yang menemaninya. Ketika ketiga gadis itu mengajukan untuk meminta tambahan voucer makan satu lagi. Mimin justru menggeleng tidak setuju." Segitu sudah cukup, Pak Deka. Lebih baik lagi kalau dimaafkan saja," ujarnya.


"Baiklah... Anda saya maafkan," ucap Deka setelah mendapat saran dari Mimin.


"Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih," ucap Pria berkepala botak dan berperut buncit itu dengan penuh rasa syukur. Lalu meraih tangan Deka dan mencium punggung tangannya berkali-kali.


Apakah pelayan tadi mau bilang kalau Pak Deka mirip Dewa ya. Tapi kok pelayan tadi kenal sama Dewa. Sepertinya tidak mungkin. Tapi si Bapak berkepala botak dan berperut buncit pun sempat salah paham, salah orang. Apakah yang dimaksud si Bapak itu juga adalah Dewa?. Gumam Mimin dalam hati.


"Dooooorrrrr," pekik Rahma mengagetkan Mimin yang sedang bertopang dagu melamun.

__ADS_1


"Astagfirullahal adzim." Mimin terkinjat kaget. "Ih, Rahma ngagetin aja!" serunya.


"Habisnya sore-sore melamun. Btw ngelamunin apa sih? Eh, ralat... ngelamunin siapa sih?" goda Rahma.


"Aku ga lagi ngelamun kok. Orang lagi nunggu kamu balas chat, eh malah nongol di sini," elak Mimin.


"Ah, masa sih," goda Rahma lagi sambil tertawa mesem.


“Kok udah sampai sini. Sudah pulang kerja?” tanya Mimin.


“Di kantor lagi ada acara gitu. Jadi bisa pulang cepat. Kamu juga sebentar lagi pulang kan?” kata Rahma.


“Dua puluh menit lagi,” ucap Mimin.


Rahma bekerja di perusahaan besar di kota C. Pulang bekerja, ia langsung menuju kantor Mimin yang adalah sekretaris kakaknya, Rizal. Karena mereka sudah janjian untuk makan bakso sepulang kerja.


Rahma menarik kursi yang ada didekatnya lalu duduk di sebelah Mimin. Karena Mimin adalah sekretaris kakaknya, ia tidak merasa sungkan datang ke kantor tempat Mimin bekerja.


“Jasmin, Pak Rizal ada di dalam kan?” tanya Deka yang tiba-tiba sudah ada di depan meja kerjanya.


Mimin menatap Deka. “Ada, Pak. Silakan masuk saja,” sahut Mimin.


“Terima kasih, Jasmin,” ucap Deka seraya melempar senyum. Lalu masuk ke ruangan Rizal setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Siapa itu Min? Sepertinya orang baru,” tanya Rahma ketika Deka sudah masuk ruangan Rizal.


“Itu Pak Deka, kadiv yang baru,” jawab Mimin.


“Ooh.”


“Pak Deka benar-benar mirip dia ya.”


“Dia siapa Min?”


“Dewa.”

__ADS_1


“Oh... Jadi yang boncengin kamu tadi pagi itu namanya Dewa,” ucap Rahma dengan senyum menggoda.


__ADS_2