
Mimin baru saja duduk di kursi meja kerjanya ketika ada bunyi notifikasi dari ponselnya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu membukanya. Ada tiga pesan masuk dari nomor kontak "Pria Itu".
Pria Itu : Bubur sumsum pake kuah. Assalamualaikum SOLEHAH.
Pria Itu : Sikat gigi warnanya belang. Selamat pagi menjelang SAYANG.
Pria Itu : Selamat beraktivitas kekasih halalku. Sampai ketemu nanti siang ya 💕💕💕.
Seketika garis sudut bibir Mimin tertarik ke atas menerbitkan sebuah senyuman setelah membaca pesan itu. Meskipun ia tak berniat untuk membalas pesan itu.
"Ehem..."
Suara deheman seorang sontak membuatnya mendongakkan kepala. Dilihatnya Rizal yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Assalamualaikum, selamat pagi Pak," sapa Mimin kepada Rizal yang baru datang ke kantor.
"Waalaikum salam. Kenapa senyum-senyum begitu? Dapat WA dari Ayang Beb ya?" goda Rizal yang tadi memergoki Mimin senyum-senyum sendiri.
"Eh... Eeu..." Hanya itu yang terucap untuk menjawab pertanyaan Rizal. Lalu ia tersenyum menunduk dengan semburat rona merah di pipinya.
"Min... Bilangin sama Dewa kalau ke masjid jangan mepet-mepet waktunya. Kalau bisa sebelum waktu azan dia udah ke masjid."
Hah. Dewa ke masjid?? Apa iya?? Aku belum pernah lihat dia ke masjid. Gumam Mimin dalam hati.
"Memangnya kenapa begitu, Pak?"
"Biar dia yang azan. Suaranya merdu loh. Harusnya dia aja Muazinnya, jangan si Sarip, suaranya cempreng."
"Eh... Eeu..."
"Min nanti tolong print-kan proposal untuk proyek pembangunan jalan lingkar selatan ya," titah Rizal.
"Siap Pak!" jawab Mimin.
Kemudian Rizal si bos tampannya itu masuk ke ruangannya. Meninggalkan Mimin yang masih terperangah dengan ucapan Rizal tadi. Dewa jadi Muazin?? Benarkah??. Batin Mimin bertanya-tanya.
*****
Siang hari saat jam istirahat sebentar lagi menjelang. Memet si OB kantor tengah bolak balik maju mundur sambil mendorong kain pel.
"Maju mundur syantik syantik." Ia mengepel dengan gaya maju mundur sambil bersenandung ala inces.
Ia yang tengah menundukkan pandangannya ke bawah memperhatikan sapuan antara kain pel dan lantai seketika menghentikan kegiatannya ketika sepasang matanya melihat sepasang pantofel yang hitam mengkilat. Lalu ia mendongakkan wajahnya, menatap si pemilik sepatu hitam nan mengkilat itu.
Seorang pria mengenakan kemeja batik lengan panjang warna biru dipadukan dengan celana katun warna hitam dan tentu saja dengan sepatu pantofel warna hitam yang super mengkilat. Berdiri tegak di hadapan Memet si OB. Dialah Yusril.
Penampilan seperti ini memang style Yusril. Dia begitu mencintai batik. Di  manapun dan bagaimana pun dia akan selalu memakai batik sebagai pilihannya ketika keluar rumah, dalam acara resmi maupun tak resmi. Terkecuali kalau dia sedang berada di rumah atau ketika bekerja, baru ia tak memakai batik.
"Selamat siang, Pak Lurah," sapa Memet kepada Yusril yang mengira adalah seorang lurah.
"Siang," jawab Yusril.
__ADS_1
"Sekarang sudah waktu istirahat belum?" tanya Yusril. Pandangannya memutari sekeliling ruang kantor.
Memet melihat jam tangan harga sepuluh ribu yang ia beli di salah satu aplikasi belanja online yang melingkar di tangannya. "Sebentar lagi istirahatnya, Pak."
"Bapak mau ketemu Pak Rizal, Pak Wisnu atau Pak Andi?" tanya Memet kemudian.
Yusril menjawab dengan menggelengkan kepalanya ragu.
"Kalau ga salah proyek di kelurahan itu proyeknya Pak Wisnu deh," ujar Memet. "Tapi Pak Wisnu mah sedang ga ada di tempat," sambungnya.
"Saya bukan mau ketemu Pak Wisnu, Pak Rizal atau pun yang lainnya," jelas Yusril.
"Terus mau ketemu siapa geh?" tanya Memet.
"Mau ketemu calon istri saya... Yasmin," jawabnya penuh percaya diri.
"Oh... Bapak calon suaminya Teh Mimin." Memet memandangi penampilan Yusril dari kepala hingga ujung kaki. "Wah, calon suami Teh Mimin ternyata Lurah euy," katanya sambil cengengesan.
"Mau apa Anda ke sini?!" sinis Deka yang kini berada di hadapan Yusril dengan memasukkan kedua tangannya di kantong saku celana seraya melemparkan tatapan permusuhan.
Yusril mengalihkan pandangannya kepada Deka. "Kantor ini bukan milik Anda, bukan?" Yusril balas menatap tajam Deka.
"Saya rasa Anda juga hanya karyawan di sini, bukan? Anda bukan seorang CEO kayak di novel-novel itu kan?" sambungnya diiringi seutas senyum sinis.
"Saya atasan Jasmin di sini. Jadi, saya berhak mengusir kedatangan orang yang bisa mengganggu kinerja karyawan di sini!"
"Oya..." Yusril berseringai. "Setahu saya... atasan Yasmin Itu Pak Rizal. Anda jangan ngaku-ngaku!" geramnya.
*****
Lima menit menjelang waktu istirahat, Mimin sudah merapihkan pekerjaannya. Kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Ia meraih ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk.
Yusril : Yas, aku ke kantor kamu sekarang.
Yusril : Kita makan siang bareng ya.
Yusril : Tunggu aku. Sebentar lagi aku sampai.
Pria Itu : Assalamualaikum, salihahku. Kekasih halalku. Seandainya engkau tahu betapa bersemangatnya diriku menanti saat siang hari tiba. Dan alhamdulillah, waktu istirahat sudah tiba. Hore... Hore... Hore...
Pria Itu : Tak sabar rasanya untuk memandang wajahmu yang meneduhkan hatiku, menentramkan segala gelisahku. Jangankan melihat wajahmu dan mendengar suaramu. Mendengar kentut kamu pun aku sudah bahagia tiada tara.
Mimin tersenyum lalu terkekeh tanpa suara. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara bahunya berguncang-guncang karena menahan tawa.
"Teh Mimin lagi nangis apa lagi ketawa sih?" tanya Memet yang tiba-tiba datang dan melihat Mimin menutup mulutnya dengan bahu berguncang-guncang.
Mimin melepaskan kedua tangan dari mulutnya. "Ketawa Met," jawabnya.
"Teh... kalau ketawa itu lepasin aja jangan ditahan-tahan takut malah jadi ambeien," ujar Memet dengan raut serius.
"Ih kamu ada-ada aja Met. Apa hubungannya ketawa sama ambeien?"
__ADS_1
"Apa ya?? Emmm... Pokoknya tertawalah sebelum tertawa itu dilarang! Hehehehe...." katanya sambil cengengesan.
Mimin mengerutkan kening karena cengengesan Memet membuatnya geli. "Kamu mau apa ke sini?" tanyanya.
"Di depan ada keributan antara Pak Lurah dan Pak Deka, Teh." Memet melaporkan kejadian yang disaksikannya.
"Pak Deka ribut sama Pak Lurah kok kamu malah bilang saya, Met. Lapor sama satpam sana!"
"Tapi Pak Lurah itu kan...."
"Lagian ngapain Pak Lurah datang ke sini?" Pertanyaan Mimin memotong ucapan Memet.
"Kan Pak Lurah itu calon suami Teh Mimin," jawab Memet lugu.
"Eh... Apa? Saya ga punya teman Lurah apalagi calon suami."
"Coba geh... Teteh lihat aja."
Mimin segera beringsut bangun lalu mengayun cepat langkahnya menuju lobi. Sesampainya di lobi ia melihat Deka dan Yusril yang masih berdebat.
Mimin memutuskan untuk tak mengindahkan keduanya. Dan berjalan melewati kedua pria yang sedang berdebat itu.
"Yasmin...!" seru Yusril.
"Jasmin...!" seru Deka.
Deka segera mengejar Mimin.
"Jasmin... kita makan siang bareng yuk!" ajak Deka.
"Mohon maaf Pak, aku ga bisa. Permisi," jawab Mimin. Lalu melanjutkan langkahnya keluar kantor.
"Yasmin gak mau diajak makan siang dengan Anda. Jadi jangan pernah dekati Yasmin lagi. Dia calon istriku!" hardik Yusril kepada Deka. Lalu berlari mengejar Mimin dan meninggalkan Deka.
"Yas... tunggu!!" pekik Yusril sambil berlari mengejar Mimin.
"Apa sih Yus!" seru Mimin ketika Yusril sudah berhasil menyejajari langkahnya.
"Aku mau ngajak kamu makan siang," ujar Yusril yang berjalan beriringan di samping Mimin.
"Maaf aku ga bisa, Yus!" tegas Mimin tanpa menghentikan langkahnya.
"Iya tapi kenapa? Ayo lah Yas... aku cuma sebulan di sini. Habis itu aku akan kembali lagi ke Qatar. Dan aku inginnya sebelum aku berangkat ke Qatar, aku udah melamar kamu. Jadi tiga bulan kemudian saat aku kembali ke sini, kita bisa menikah."
Mimin menghentikan langkahnya lalu hadap kiri menghadap Yusril dan menatapnya tajam."Yus, aku udah bilang kan... maaf aku ga bisa. Aku sudah menikah. Aku sudah bersuami!" tegasnya.
.
.
.
__ADS_1
Dobel up