
Tak berselang lama, mobil Honda Jazz warna putih yang dikendarai Deka berhenti di depan keempat gadis itu. Deka membuka kaca mobilnya. “Jasmin ... kamu duduk di depan yah,” titahnya.
Mimin menggelengkan kepala spontan. "Aku di belakang aja, Pak," tolaknya.
"Udah Min... kamu di depan aja," ujar Irna dan diamini oleh teman-teman yang lain.
"Ih, enggak mau ah," tolak Mimin.
"Udah, enggak apa-apa Min!" seru Susi seraya mendorong pelan tubuh Mimin ke pintu depan mobil.
Mimin bersikukuh menolak duduk di depan. Namun terlambat karena ketiga temannya sudah lebih dulu duduk manis di kursi belakang. Ia kalah cepat.
Dengan berat hati, Mimin membuka pintu depan mobil dan duduk di kursi penumpang depan, bersebelahan dengan Deka. Pria tampan itu melempar senyum kepadanya setelah Mimin akhirnya mau duduk di kursi penumpang depan.
"Jadi kita mau makan di mana?" tanya Deka sebelum melajukan mobilnya.
"Di mana aja, Pak. Kalau gratis sih makan apa aja juga enak," sahut Devi. Membuat semua yang berada dalam mobil itu tertawa, termasuk Mimin. Deka menatap Mimin yang sedang tertawa. Mimin menghentikan tawanya ketika menyadari Deka sedang menatapnya. Lalu segera menundukkan pandangannya, berpura-pura menyibukkan diri dengan ponsel.
"Bapaknya mau makan nasi atau jajanan aja?" tanya Susi.
"Emmm... Saya sih maunya nasi, karena dari pagi saya belum makan nasi," jawab Deka.
"Oh, kita ke rumah makan Bu Entin aja yuk," kata Susi.
"Tapi tiga hari yang lalu kan kita habis ke sana Sus," ujar Irna.
"Eh, ke lintong aja," saran Devi.
"Pak Deka mau nya makan nasi, Dev." Irna mengingatkan.
"Kalau ke Rumah Makan Belut Raos, gimana?" Mimin yang sedari tadi diam ikut memberi saran.
"Kamu benar Jasmin. Aku jarang makan belut. Kita ke rumah makan belut apa tadi?" Deka antusias ketika Mimin turut berpartisipasi memberi saran.
"Belut Raos," jawab Mimin.
"Belut Raos... ayo kita ke sana!" kata Deka mantap.
Deka melajukan mobilnya. Sebelumnya, ia membuka google map untuk memandunya menuju Rumah Makan Belut Raos. Walaupun tanpa memakai google map, para gadis yang duduk di belakang siap untuk memandunya. Jangankan memandunya ke Rumah Makan Belut Raos, memandunya ke KUA pun mereka siap.
Selama perjalanan menuju Rumah Makan Belut Raos tercipta obrolan seru di antara ketiga gadis yang duduk di belakang dengan Deka. Sesekali ketiga temannya itu melempar canda, membuat mereka semua tertawa. Sementara Mimin lebih banyak diam, tak banyak bicara apalagi melempar canda. Ia ikut tertawa hanya jika ada yang menurutnya lucu. Seperti tebakan yang dilempar Susi dan menurut Mimin lucu.
"Belut, belut apa yang paling berbahaya?!" kata Susi.
"Belut beracun," jawab Devi.
"Salah."
"Belut pembunuh," ujar Irna.
"Salah."
"Ih apa dong."
"Pak Deka tahu ga?" tanya Susi.
"Emmm ... Belut berbisa," jawab Deka.
"Salah, Pak."
"Mimin, tahu ga?"
"Apa yah. Enggak tahu ah," ujar Mimin.
__ADS_1
"Belut apa yang paling berbahaya. Jawabannya adalah belutang sama lentenil (berhutang sama rentenir)"
"Hahahaha." Semua kompak tertawa. Mimin pun ikut tertawa. Dan tiap kali Mimin tertawa seperti itu, Deka selalu menatapnya. Membuat Mimin salah tingkah. Lalu membuang pandangannya pada ponsel yang digenggamnya. Bertepatan dengan sebuah notifikasi muncul di ponselnya.
Ada tiga pesan WhatsApp yang masuk. Mimin membuka aplikasi WhatsApp-nya. Ia tersenyum membaca pesan dari Rahma, sahabatnya. Seperti dugaannya tadi pagi, benar saja Rahma akan menggodanya.
Rahma : Tadi pagi boncengan sama siapa tuh?? 🤔🤔
Rahma : Pria tampan berambut gondrong itu ya🤭
Rahma : Ciye ciye ciye ciye 1000x 😂😂
Ia membalas pesan Rahma.
Mimin : 🙈🙈
Mimin : Lagi pain Ma?
Tidak menunggu lama, Rahma yang sedang dalam mode online langsung menjawab pesannya.
Rahma : Maksi
Mimin : Sama dong. Lagi otw nih mau maksi.
Rahma : Sama siapa?
Mimin : Sama teman-teman.
Rahma : Ooo... Kirain mau maksi sama cowok yang tadi pagi 🤭
Hah, bagaimana bisa Rahma mengira aku mau makan siang bersama pria itu. Padahal aku kan mau makan sama teman-teman dan ditraktir oleh.... Gumam Mimin dalam hati.
Oleh.... Seketika dia tersentak karena teringat sesuatu.
Dengan pria itu. Batinnya.
Apakah mereka bersaudara? Atau hanya kebetulan mirip saja?. Pertanyaan dalam benaknya.
Deka menoleh ke samping memandang Mimin yang sedang menatapnya. Dan ia tersenyum. Mimin membalas kaku senyuman Deka. Lalu kembali menundukkan pandangannya pada ponsel yang digenggam di pangkuan. Kembali membalas pesan Rahma.
Mimin : 🙈
Rahma : Nanti sore ngebakso yuk.
Mimin : Yuk
Rahma : Mas Bakar
Mimin : Mantap
Rahma : Pulang kerja nanti aku jemput ya.
Mimin : Ok
Rahma : Dilanjut nanti ya, Min. Aku belum salat nih.
Mimin : Ya salat dulu gih. Jangan lupa berdoa biar cepat nikah wkwwkwkw.
Rahma : 🤲🤲
Mimin mengakhiri kegiatan chatingan bersama Rahma.
“Ehem... Chatingan sama pacar ya?” Tiba-tiba Deka bertanya padanya.
__ADS_1
“Emmm... Bukan... teman.”
“Oooh.” Deka ber oh ria dan manggut-manggut. Bertepatan dengan mobil berbelok dan masuk ke parkiran Rumah Makan Belut Raos.
*****
Dewa telah selesai membereskan pekerjaannya. Tangannya pun sudah dicuci bersih.
“Wa... udah diambil uang gajian?” tanya Ipul, rekan kerjanya.
“Belum... nyuci ini dulu nih.” Dewa menunjuk kotak wadah makan miliknya yang sedang ia pegang.
“Saya duluan yah, Wa,” ujar Ipul.
“Ya, duluan aja, Pul,”
Dewa beranjak ke wastafel pencuci piring di dapur lalu mencuci kotak wadah makannya yang belum sempat dicuci saat selesai makan siang tadi. Karena hari ini bengkel ramai sekali. Ia pun tadi hanya dapat istirahat sebentar. Lalu kembali bekerja melayani customer yang mengantri.
Setelah mencuci wadah makannya. Dewa menemui Mida di meja kasir. Dan bertemu dengan teman-temannya yang baru saja menerima amplop putih berisi uang gajian.
“Saya pulang duluan ya,” ucap Ipul seraya menepuk bahu Dewa.
“Oh, iya.”
“Wa... Kita pulang duluan ya,” sahut teman-teman yang lainnya.
“Iya.” Dewa melambaikan tangan kepada teman-temannya.
“Ini uang gajian kamu, Wa. Dan ini uang makan kamu minggu ini,” ujar Mida sambil menyerahkan sebuah amplop putih yang berisi uang gajiannya.
Dewa menerima amplop putih itu. “Terima kasih, Mida,” ucapnya diiringi seulas senyum.
“Sama-sama. Oya, kamu jadi, mau beli motor?” tanya Mida.
“Iya, Mida. Kalau ada motor bekas yang masih bagus... aku mau,” jawab Dewa.
“Teman aku ada yang mau jual motor. Katanya dia mau ganti motor baru gitu.”
“Wah boleh tuh.”
“Besok aku suruh ke sini yah anaknya. Nanti kamu cek dulu kondisi motornya masih bagus ga?”
“Iya. Ok.” Dewa antusias karena sudah lama ia ingin membeli motor untuk membantu mobilitas sehari-hari. Namun karena keterbatasan dana, ia memilih untuk membeli motor bekas. Tidak mudah ternyata untuk membeli motor bekas. Beberapa kali ada yang menawarkan motor bekas tapi tanpa kelengkapan surat-surat alias motor bodong. Dewa tidak mau mengambil risiko dengan membeli motor bodong.
“Semoga jodoh ya,” ucap Mida. Dewa terkejut mendengar ucapan Mida.
“Maksud aku, yang namanya beli barang second kan ga seperti beli barang baru, jodoh-jodohan,” jelas Mida.
“Iya, kamu benar Mida. Semoga kali ini cocok,”ucap Dewa.
“Ya udah Mida. Aku permisi pulang ya,” sambungnya.
“Iya, aku juga mau pulang. Ayo!” Mida meraih tasnya.
Dewa dan Mida berjalan bersama keluar. Dan di luar sudah berdiri gadis berseragam kemeja putih lengan panjang dengan rok panjang abu-abu serta kerudung warna putih. Gadis itu adalah Opi yang masih mengenakan seragam sekolah.
__ADS_1