Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Anakmu Bukanlah Milikmu


__ADS_3

Clara tengah mengayun anggun langkahnya ke sebuah bangunan yang bertuliskan Rumah Tahanan. Setelah melewati serangkaian prosedur untuk pengunjung Rutan, Clara duduk di sebuah kursi yang telah disediakan di sana. Kedatangannya ke tempat ini adalah untuk menemui seseorang.


"Hai Honey... kamu datang ke sini juga akhirnya." Pria berperawakan tegap dengan memakai baju khas seorang tahanan menyapa dan mencubit mesra dagu Clara yang tengah duduk melamun.


Clara hanya melirik pria itu sekejap lalu dengan angkuh membuang pandangannya.


Pria berbaju tahanan itu duduk di hadapan Clara. "Gimana Honey ... gimana kabar baby kita?" tanya Pria itu sekali lagi seraya mengelus pipi glowing Clara yang segera ditampik oleh si empunya pipi.


"Jangan pernah bahas soal itu lagi!!" hardik Clara.


"Kenapa? Aku ini calon Papa yang baik untuk anak kita loh," sahut Pria itu sembari tersenyum menyeringai.


"Gimana? Apa kamu sudah bilang papamu kalau aku ini papa calon cucunya? Kapan papamu akan melepaskan aku dalam tempat busuk ini?!" Pria itu menyahut kembali.


"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Alex! Aku gak akan pernah mengatakan itu pada papa. Lebih baik kamu tetap berada di tempat ini," sarkas Clara.


"Hahahaha...." Pria yang disebut bernama Alex itu tertawa. "Kamu hamil Honey. Kamu pasti membutuhkan aku untuk bertanggung jawab, bukan?!"


"Hahahaha...." Clara balas mentertawakan Alex. "Sepertinya itu hanya anganmu saja. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Dewa."


"Dewa bukan laki-laki bodoh. Dia tidak mungkin menikahi cewek seperti kamu, apalagi kalau tahu kamu sedang hamil," tukas Alex.


"Oh... Kamu salah, Lex. Kenyataannya Dewa tahu aku hamil dan dia mengira ini adalah anak abangnya yang kabur entah ke mana. Ini adalah hari terakhir waktu yang diberikan papa untuk mencari abangnya. Dan aku yakin, Dewa tak akan bisa menemukan abangnya dalam waktu sesingkat itu. Sebentar lagi Dewa pasti akan menikahiku," tutur Clara dengan senyum licik.


Braaak...


Penuturan Clara membuat Alex geram hingga menggebrak meja di depannya, yang berada di antara mereka.


"Kamu gak bisa seperti itu, Cla! Yang di dalam perutmu itu anakku!" geram Alex.


"Sudahlah Lex. Kita ga ada hubungan apa-apa. Hubungan di antara kita hanya sekedar saling mengisi, saling membutuhkan dan saling menikmati."


"Cla... Aku cinta kamu. Kamu gak bisa mempermainkan aku seenaknya!"


"Cukup Lex! Kedatangan aku ke sini adalah untuk mengatakan bahwa kamu jangan pernah menemuiku lagi. Dan jangan coba-coba mengganggu pernikahanku dengan Dewa. Kalau tidak...."


"Kalau tidak apa, Hah! Lo pikir gue takut sama lo! Bahkan gue gak takut sama ancaman bokap lo!" balas Alex penuh emosi.


Clara bangkit dari duduknya. "Jangan coba usik hidup gue atau gue hancurin hidup lo!" ancamnya lalu dengan langkah cepat pergi meninggalkan Alex yang wajahnya sudah merah padam karena sangat marah.


Braaaak...


Alex kembali memukul meja di depannya.


"Gue gak takut sama lo Cla! Gue pastikan kalau lo dan Dewa menikah, kalian juga akan hancur Cla!" pekik Alex dengan penuh amarah.


*****


Sekitar pukul delapan malam, Dewa dan Deka tiba di rumahnya. Pak Satya dan Bu Dewi belum pulang ketika kedua pria kakak beradik itu sampai rumah. Bi Siti seperti biasa sangat antusias menyambut kedatangan kedua putra majikannya itu.


"Loh, ini beneran Den Dewa dan Den Deka pulang bareng??" Begitu reaksi Bi Siti ketika membuka pintu dan melihat Dewa dan Deka pulang. Ia semakin terkejut karena Dewa dan Deka tampak akur.

__ADS_1


"Iya, Bi Siti. Kita pulang bareng nih." Dewa menanggapi keheranan Bi Siti. Sementara Deka diam saja tak banyak bicara.


Setelah membersihkan diri dan sebagainya Dewa dan Deka yang merasa lapar, turun ke ruang makan untuk menyantap makan malam yang sudah disiapkan Bi Siti. Menu ayam goreng lengkuas dan sop ayam sudah tersaji di atas meja makan.


Bi Siti tersenyum sendiri saat melihat kedua putra majikannya itu duduk bersandingan seraya lahap menyantap masakannya. Apalagi keduanya tampak akur. Dewa dan Deka yang tengah menggigit ayam goreng mengingatkan pada si kembar Upin dan Ipin.


Kedua pria kakak beradik itu tengah menikmati santap malamnya ketika kemudian dikejutkan dengan seruan Pak Satya.


"Oh oh oh oh... Mah, coba lihat dua Jagoan kita sudah pulang!" seru Pak Satya.


"Rupanya Jagoan kita ini kelaparan, Mah. Lihat mereka lahap sekali makannya," sindir Pak Satya.


"Papa...!" pekik Bu Dewi yang tak suka dengan ucapan suaminya yang tak enak didengar.


Bu Dewi yang justru merasa sukacita dengan kepulangan kedua putranya segera menghambur menghampiri keduanya.


"Ya ampun... Mama senang sekali kalian pulang," ujar Bu Dewi. Ia berdiri di tengah-tengah antara tempat duduk Dewa dan Deka lalu merengkuh bahu kedua putranya untuk memeluk.


Cup... Bu Dewi mencium kepala Dewa dan Deka bergantian. "Makan yang enak, Sayang," ucapnya seraya mengelus kepala keduanya bergantian.


"Ga usah berlebihan, Mah! Mereka bukan anak kecil!" sahut Pak Satya.


Dewa dan Deka kompak menghentikan kegiatan makannya.


"Mereka itu sudah gede tapi kelakuannya kayak anak kecil!" ejek Pak Satya lagi.


"Pah...! Sudah diam!" bentak Bu Dewi tak menyukai ucapan tajam dan menusuk dari suaminya kepada kedua putranya.


Deka yang sudah muak dengan kicauan papahnya bangun berdiri dan menggebrak meja. Braaaak....


"Pah, berhenti jadi orangtua egois!" pekik Deka menatap tajam Pak Satya.


"Kamu itu sudah berani membangkang, iya! Sudah merasa hebat kamu! Papah ga pernah mengajarkan kamu jadi pengecut!" hardik Pak Satya balas menatap tajam Deka.


"Deka udah muak sama sikap Papa!" teriak Deka berang.


"Sudah berani kurang ajar kamu sekarang!" Pak Satya sudah mengangkat tinggi tangannya untuk memukul Deka. Namun drama itu urung terjadi karena keburu Dewa menangkap tangan Pak Satya.


"Pah... Kami anakmu tapi bukan berarti kami milikmu. Kami sangat berterima kasih karena berkat papa dan mama kami bisa hadir di dunia ini. Tapi bukan berarti papa dan mama bisa mengatur hidup kami. Jangan paksa kami untuk menyerupai papa. Hidup kami adalah milik kami, Pah. Bukan milik papa dan mama," ujar Dewa mengutip puisi karya Kahlil Gibran. Dewa yang masih menggenggam tangan papahnya, sontak membuat Pak Satya terdiam dan tergugu.


Anakmu bukanlah milikmu,


mereka adalah putra putri sang Hidup,


yang rindu akan dirinya sendiri


Mereka lahir lewat engkau,


tetapi bukan dari engkau,


mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

__ADS_1


Berikanlah mereka kasih sayangmu,


namun jangan sodorkan pemikiranmu,


sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.


Patut kau berikan rumah bagi raganya,


namun tidak bagi jiwanya,


sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,


yang tiada dapat kau kunjungi,


sekalipun dalam mimpimu.


Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,


namun jangan membuat mereka menyerupaimu,


sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,


ataupun tenggelam ke masa lampau.


Engkaulah busur asal anakmu,


anak panah hidup, melesat pergi


Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,


Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,


hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.


Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,


sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,


sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


(Anakmu bukanlah milikmu. Kahlil Gibran)


.


.


.


.


Terima kasih banyak dukungannya ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2