
Semua yang berada di tempat itu membeliakkan mata, terkejut dengan pernyataan Bu Dewi.
Tak terkecuali Pipit, seketika ia melemparkan pandangan pada sosok pria yang duduk di sebelah wanita yang baru saja melontarkan lamaran untuknya. Bahkan, Pipit belum mengetahui nama pria itu. Kesyahduan pertemuan pertama dengan keluarga kandungnys dua hari kemarin, membuatnya tak fokus untuk mengingat nama pria itu. Ah tidak, memang belum ada perkenalan di antara mereka. Ia hanya tahu jika pria itu adalah kakaknya Asep alias Dewa. Terlihat dari guratan wajah yang sangat mirip dengan Dewa.
Deka segera menundukkan pandangannya ketika tanpa sengaja sorot matanya beradu dengan Pipit. Rasa malu mengimpit kalbu. Ya ampun Mama, kenapa harus begini caranya. Mau ditaruh di mana mukaku yang ganteng ini, Mah. Batin Deka.
"Ini maksudnya, Ibu sama Bapak mau melamar Pipit?" lontar Nini tak percaya. Bagaimana bisa baru pertama pertemuan sudah ada lamaran.
"Iya. Pak, Bu, Pak Haji, Bu Haji, sekalian saja kami melamar Ririn untuk Deka," ujar Papa mendukung pernyataan Mama.
"Kalau kami sih setuju saja, Pak Satya," timpal Mami.
"Tapi, kita serahkan keputusannya pada Ririn," ujar Abah.
"Akang yang ini kakaknya Asep?" Aki melemparkan pandangannya pada Deka.
"Iya, Aki. Ini Deka, kakaknya Dewa. Sudah mapan dan sudah punya semuanya. Satu yang belum punya ... pasangan," seloroh Mama.
Wajah Deka sudah merah seperti kepiting rebus. Begini ya rasanya melamar wanita, kenapa rasanya memalukan seperti ini. Gumam Deka dalam hati.
"Tapi apakah Bapak, Ibu serta Akang ini sudah mengenal atau mengetahui status Pipit?" lontar Aki.
"Memangnya Pipit eh Ririn kenapa, Aki?" tanya Mama.
"Pipit ini statusnya sudah pernah menikah. Pipit ini janda ... tapi belum memiliki anak," ungkap Aki.
Pernyataan Aki sontak membuat Abah dan Mami terkejut. Mami segera merengkuh Ririn dalam pelukannya. Hatinya turut teriris ketika mengingat betapa pedihnya hidup Ririn. Di usia muda sudah menjadi janda.
Papa, Mama dan Deka saling mendekat dan mencondongkan tubuh untuk berembuk. "Ririn ternyata janda. Terus gimana, Deka?" bisik Mama.
"Kalau kata papa sih, gak masalah janda juga. Lagian kalau kemarin kamu melamar Jasmin, bukannya Jasmin juga sudah pernah menikah, artinya Jasmin juga janda," bisik Papa.
"Iya, Deka. Gak papa ya?" bisik Mama lagi.
"Terserah Mama sama Papa aja," putus Deka. Lagipula dirinya pun bukan seorang perjaka.
Papa, Mama dan Deka kembali menegakkan tubuhnya setelah tercapai kesepakatan.
Mama berdehem sebelum memulai pembicaraan. "Kami rasa gak masalah jika Ririn itu janda, yang penting dia single 'kan, bukan istri orang. Deka tak mempermasalahkan soal status janda," ujarnya.
"Kalau Aki sama Nini sih, inginnya begitu. Pipit menikah lagi agar ada seseorang yang menjaganya. Tapi, semuanya kami serahkan pada Pipit. Biar Pipit yang memutuskan," tutur Aki.
"Cig, Pit ... kumaha? Kamu terima tidak lamaran kakangnya Asep?" lontar Nini.
"Maaf, saya belum ingin menikah lagi." Tak berpikir panjang, Pipit menolak lamaran itu.
******
"Yayayayaya." Bocah kecil menggemaskan itu tengah mengoceh sambil sesekali menarik-narik rambut Dewa. Syad dan Dewa tengah bermain bersama sambil tertawa-tawa. Syad yang baru bisa berjalan, tak mau diam berjalan ke sana kemari. Sementara Dewa sibuk menjaga agar Syad tak terjatuh.
Melihat interaksi ayah dan anak itu, ada perasaan hangat terasa menjalari hati Mimin yang telah lama membeku. Meskipun ingatan Dewa belum kembali, namun tampaknya ia sangat menikmati kebersamaannya bersama Syad.
"Kenapa anak ini mirip sekali sama aku?" tanya Dewa ketika pertama kali diperkenalkan dengan Syad.
"Karena Syad itu anakmu. Syad itu si Oton. Aa inget si Oton 'kan?" Bersusah payah Mimin menjelaskan semuanya, namun belum juga Dewa mengingatnya.
Mimin masuk ke kamar dan mengambil album foto pernikahannya.
__ADS_1
"Aa lihat ini deh." Mimin menunjukkan lembar demi lembar foto pernikahan di dalam album tersebut.
"Ini ... foto pernikahan?" Dewa menatap foto pernikahannya satu per satu.
"Iya. Foto pernikahan kita."
Mimin membuka kembali lembaran berikutnya dimana ada fotonya dan Dewa saat naik becak usai ijab kabul. "Coba Aa lihat ini," katanya sambil menunjuk foto tersebut.
"Kok naik becak?"
"Hemmm. Aa inget?"
"Enggak."
"Memori naik becak sya la la la la la." Mimin berdendang sambil menggoyangkan tangannya ke kiri dan kanan. Harus dengan cara apa lagi agar Dewa bisa mengingatnya.
"Gek ... Gek ... Gek ... Gek ...." Syad tergelak sampai liurnya menetes melihat tingkah Mimin.
"Anak kamu ketawa liat kamu," kata Dewa.
"Anak kamu juga itu. Anak kita!!" Kepala Mimin rasanya sudah ngebul karena geregetan dengan tingkah Dewa.
"Minggir, Teh!" Opi datang dengan sebuah gitar di tangannya.
"Kakak ipar, ingat ini?" Opi menunjukkan gitar yang adalah pemberian Dewa saat baru menikah dengan Mimin.
"Gitar??"
"Iya. Lo inget kalau benda ini namanya gitar. Berarti lo ingat gitar ini?" Opi tampak antusias.
Dewa menatap gitar itu. "Ini gitar siapa?"
"Ini gitar kakak ipar lah! Ingat?"
"Enggak."
"Enggak." Dewa menggeleng. "Masa sih kalau kamu main gitar bisa bikin aku nangis?"
"Iya. Kalau gue main gitarnya sambil nyolokin gitar ini ke mata lo!" geram Opi.
"Opi!" tegur Mimin.
"Habisnya Opi kesel, Teh ... sama dia." Sudah dua hari Opi juga turut berusaha membuka ingatan Dewa. Mulai dari membawanya ke kontrakan hingga menyuruh Dewa untuk memanjat pohon. Namun, kemajuan ingatan Dewa belum tampak juga hasilnya.
"Mending sekarang Opi main gitar deh. Bisa 'kan?"
"Bisa dong. Kuncinya apa?" tanya Opi.
"Kuncinya sabar dan saling setia," seloroh Mimin.
"Hahahahaha."
Opi mulai bermain gitar dan menyanyikan lagu.
🎶Kalau ada makanan di meja
🎶Mejanya ... aku makan
Dewa tersenyum mendengar lirik pelesetan sebuah lagu dangdut yang baru saja dinyanyikan Opi.
"Itu lagu dangdut, Opi! A Dewa ga kenal lagu dangdut. Coba lagu yang lain," titah Mimin.
__ADS_1
"Oke, lagu anak-anak aja ya."
🎶Mana dimana anak kambing saya
🎶Anak kambing saya ternyata anak saya
Sampai jari-jari Opi kapalan karena bermain gitar, dan suara Opi serak karena bernyanyi tetap saja Dewa belum mengingat apa pun.
"Teh, rasanya gitar ini harusnya jangan dimainin biar dia inget," kata Opi.
"Terus diapain dong?"
"Dipukulin ke kepalanya biar ingatannya ga konslet lagi."
*****
Keluarga Abah dan keluarga Pak Satya baru saja selesai menyantap makan siang sederhana nan nikmat yang dihidangkan Nini. Pipit tengah mencuci piring kotor bekas makan para tamu.
"Pit, nanti setelah cuci piring kamu ke kebun ya. Minta tolong sama Mang Didi untuk mengambil hasil kebun yang bisa dibawakan untuk oleh-oleh buat keluargamu dan keluarganya Asep," titah Nini.
"Iya, Ni."
Seusai mencuci piring, Pipit pun pergi ke kebun seperti yang dititahkan Nini. Belum juga sampai kebun, Pipit dihadang oleh Jefri.
"Minggir kamu! Atau saya teriak!" ancam Pipit.
"Jangan begitu, Pit. Saya ini suamimu dan sampai kapan pun ga akan melepaskan kamu!"
"Jangan ganggu saya lagi! Atau saya akan ...."
"Akan apa, Pit? Ga usah mengancam! Saya tahu si Asep itu udah pergi. Baguslah si Asep itu pergi, jadi ga akan ada yang ngerecokin saya."
Pipit berpikir, tak mungkin rasanya jika terus meneruskan perjalanan ke kebun, hingga ia memilih untuk membatalkan pergi ke kebun. Ia berbalik badan, berniat kembali ke rumah. Namun, tangan kasar Jefri mencekal lengannya.
"Lepasin saya!" bentak Pipit.
"Ga akan! Ayo kamu ikut!" sentak Jefri.
"Lepas!"
"Pit, saya mau kita hidup bersama lagi. Saya janji akan berubah."
"Enggak! Saya udah enggak percaya kamu lagi!"
"Ikut saya!"
"Enggak! Lepasin saya!"
"Hey lepaskan dia!" pekik Deka saat melihat Pipit dan Jefri tengah saling tarik menarik, Pipit berusaha melepaskan diri sedangkan Jefri memaksa Pipit untuk ikut.
Pipit segera berlari ke arah Deka lalu menggamit lengannya. "Jefri, jangan ganggu saya lagi! Ini calon suami saya. Sebentar lagi saya akan menikah dengannya," ujarnya.
Kalimat yang diucapkan Pipit sontak membuat mulut Deka menganga. "Apa??"
.
.
.
Terima kasih dukungannya
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️