
Pesan dari "Pria Itu."
Assalamualaikum. Salihahku, kekasih halalku. Gado-gado adalah salah satu makanan khas yang berasal dari Jakarta, Indonesia yang berupa sayur-sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu, dengan bumbu kacang atau saus dari kacang tanah dan yang dihaluskan disertai irisan telur dan pada umumnya banyak yang menambahkan kentang rebus yang sudah dihaluskan untuk dicampur bumbu kacang, kentang rebus dimasak bersama dengan bumbu kacang kemudian di atasnya ditaburi bawang goreng. Uh, lezatnya 😋😋. Biasanya dilengkapi sedikit emping goreng atau kerupuk, ada juga yang memakai kerupuk udang sebagai pelengkap. Jangan lupa untuk menambahkan nasi dan ketupat ya. Agar perutmu lebih kenyang. Dan nutrisi yang terserap tubuhmu seimbang. Jangan lupa berdoa sebelum makan. Dan pastilah akan terasa lebih nikmat rasa gado-gado itu jika kamu makan sambil membayangkan wajahku yang tampan mempesona cetar membahana ini. Selamat menikmati sebungkus gado-gado nan nikmat. Selamat makan salihahku, kekasih halalku.
Mimin melengkungkan bibirnya sembari geleng-geleng kepala setelah membaca pesan balasan dari Dewa. Dia ini nulis pesan WA apa nulis blog sih. Batinnya terkekeh.
"Jasmin...!" seru Deka.
"Iya Pak Deka," sahut Mimin.
"Ayo kita maksi!" ajak Deka.
"Maaf Pak, aku makan ini," ujar Mimin seraya menunjuk sebungkus gado-gado yang belum juga ia buka.
"Tapi kita mau memanfaatkan voucer ini loh," ujar Deka seraya menunjukkan voucer dari Belut Raos yang dulu didapatkan karena insiden kesalahpahaman Pria berkepala botak dan berperut buncit.
"Maaf Pak... Aku gak bisa ikut," ujar Mimin.
"Mimin...!"
"Mimin...!"
"Mimin...!"
Seru Devi, Susi dan Irna yang berjalan mendekat menghampiri meja kerjanya.
"Min... Yuk kita ke Belut Raos lagi... makan gratisan kita," ucap Devi semangat. Kalau untuk urusan gratisan, Devi lah yang paling semangat.
"Maaf... Aku enggak ikut ya. Aku mau makan ini aja," ujar Mimin menunjukkan piring di depannya.
"Ciye ciye... Tadi siapa Min... cowok kasep yang datang ke sini menemui kamu... Pacar kamu ya?!" goda Irna.
"Oh... yang tadi pakai baju koko dan ada jenggotnya lima lembar itu ya," sahut Susi.
"Lima lembar? Lima helai kali," ralat Devi.
"Eeee... Pake dibenerin. Biar lucu tau," seloroh Susi.
"Dia ustaz ya Min?" tanya Irna.
Mimin mengangguk.
"Ciye ciye... Mimin seleranya ustaz," goda Susi.
Mimin mengerucutkan bibirnya menanggapi gurauan teman-temannya.
"Sudah... Sudah... Ayo kita berangkat! Ayo ikut Jasmin!" seru Deka.
"Maaf aku ga bisa ikut kali ini. Lain kali aja deh. Maaf ya," ujar Mimin.
"Yaaa... Mimin ga asik," seloroh Devi.
"Beneran kamu ga ikut Jasmin?" tanya Deka lagi. Sangat berharap agar Mimin ikut bersamanya.
"Enggak Pak... Maaf lain waktu saja."
Deka mendesah kecewa. " Hufht... Ya sudah kalau begitu."
"Yaaa... Mimin ga ikut," sesal Devi dan diamini oleh yang lainnya.
"Saya sangat kecewa kamu ga ikut, Jasmin," sesal Deka.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak."
"Iya tapi lain kali kamu ikut ya, Jamsin."
"Insyaallah, Pak."
"Yuk kita berangkat!" ajak Deka pada Devi cs.
"Yuuuk....!!"
"Daaaah... Mimin!" seru Devi cs.
Deka berlalu meninggalkan Mimin dengan hati kecewa diekori oleh ketiga wanita yang berjalan di belakangnya.
*****
__ADS_1
Dewa berdiri di pintu keluar SMA. Memperhatikan secara saksama para anak sekolah yang berhamburan pulang. Ia sedang menunggu Opi.
"Opi...!!" seru Dewa ketika matanya berhasil menemukan sosok gadis SMA yang mengenakan tas gemblok warna hitam dan berjalan dengan cara gaya berjalan khas Opi. Hanya itu yang bisa membedakan Opi dengan kerumunan para gadis SMA yang lainnya yang mengenakan seragam yang sama, kemeja lengan panjang warna putih dan rok abu-abu panjang serta kerudung putih.
Opi tampak terkejut dengan seruan Dewa. Tak menyangka Dewa akan datang ke sekolahnya.
"Gue jemput lo pulang," ujar Dewa.
Opi menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau pulang!"
"Gak langsung pulang... Kita makan dulu... ngobrol dulu. Mau di mana Mek Di atau Ke ef si?" tawar Dewa.
Opi menggelengkan kepalanya kembali lalu melengos dan berlalu pergi meninggalkan Dewa. Dewa meraih tangan Opi, menggenggamnya erat-erat, lalu menariknya, menyeret untuk ikut." Ayo ikut gue!"
Tingkah polah Dewa ini mengundang reaksi dari para sahabat Opi. "Eh... Siapa lo! Mau ngapain Opi lo. Kok maksa gitu!" tuduh Bayu.
Bayu cs sudah bersiap akan menyerang Dewa. Mereka sudah mengepalkan tangan akan memukul Dewa namun urung terjadi karena teriakan Opi. "Jangan!!!"
"Siapa dia Pi?" tanya Jojo.
"Dia... A-abang gue," ujar Opi.
"Loh... Bukannya abang lo kan Bang Haris ya," kata Dimas.
"Dia... suaminya Teh Mimin."
*****
Opi memandang deretan menu makanan yang telah dihidangkan di atas meja. Triple burger with cheese, chicken snack wrape, dan Orange drink menu pilihannya. Dan nasi+ayam crispy, sebotol air mineral dan iced coffe float adalah menu pilihan Dewa. Opi memilih untuk makan siang di restoran cepat saji asal Amerika Mek Di.
"Ayo dimakan Pi," ujar Dewa.
"Iya lah gue laper banget soalnya. Tadi pagi ga sarapan," balas Opi. Seraya melahap burger yang sudah berada di tangannya.
"Kita makan sambil ngobrol ya."
"Ho oh."
"Lo kenapa kemaren ga pulang?" tanya Dewa.
"Ga pengen pulang aja," jawab Opi singkat.
"Alasannya ya karena ga mau pulang!" sewot Opi.
"Apa karena pernikahan gue sama Mimin?"
"..." Opi diam tak menjawab.
"Pi lo tau ga waktu pertama kali gue kenal lo... gue udah sayang sama lo," tutur Dewa.
Opi membelalakkan mata dan menghentikan kegiatan mengunyahnya.
"Sayang sebagai adik," sambung Dewa.
Opi menormalkan kembali bola mata yang tadi bulat membola dan kembali melanjutkan kembali kegiatan mengunyah burger.
"Dulu gue pengen banget punya adik cewek. Dan gue tuh pernah bermimpi kalau sampai punya adik cewek bakalan gue dandanin dengan gaya ala gue... rocker Man. Sayangnya gue ga punya adik cewek. Gue cuma punya abang cowok udah gitu ga akur lagi," tutur Dewa.
"Dan ketika akhirnya gue menikah dengan teteh lo. Gua merasa Allah baik amat sama gue. Mengabulkan dua keinginan sekaligus. Menikahi wanita impian gue plus punya adik cewek kaya lo yang gayanya gue banget. Rocker Man."
"Tapi ... ketika lo kabur dari rumah, kok gue merasa apa yang gue rasakan berbeda sama yang lo rasakan," sambungnya.
"Dewa menghembuskan nafas berat." Terus gue harus gimana coba? Apa gue harus nikahin lo juga? Gue poligami aja lah, dapat dua-duanya kan dapet teteh lo dan lo... Asseeekk," kelakar Dewa.
Opi melotot lalu memukul lengan Dewa hingga Dewa terbatuk-batuk tersedak karena kaget tak siap dengan serangan Opi.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."
"Lo mau bunuh gue ya Pi!" seru Dewa setelah berhasil mengatasi batuk dan tersedaknya.
"Iya gue mau bunuh lo kalau lo sampai poligami! Gue bakal bunuh lo kalau lo menyakiti hati Teh Mimin!" ancam Opi.
"Widih... Ini baru Opi yang gue suka."
"Kalau lo sampai menyakiti hati Teh Mimin... gue kubur lo idup-idup!" ancam Opi.
"Wadidaw... Ampun Bang Jago."
__ADS_1
Dewa tersenyum. "Terima kasih ya Opi. Kamu sudah jadi adik manis aku. Jadi Opi mau pulang ke rumah kan?"
Opi mengangguk. "Gue mau pulang tapi ada syaratnya," kata Opi.
"Apa syaratnya? Bilang aja?"
"Gue boleh nambah pesenan lagi ga?"
"Boleh. Lo mau apa boleh pesan aja."
"Gue mau French fries, chocolate sundae, sama beef burger. Terus pulangnya mampir dulu ke Sop duren... gue pengen sop duren."
"Siap. Syarat yang ringan. Yang penting gue bisa bawa adik gue yang manis dan sangar ini pulang."
"Terima kasih kaka ipar," ucap Opi dengan melemparkan senyum.
Ok. Beli aja yang lo mau. Mumpung kantong gue masih tebel saat ini... Entah di akhir bulan nanti. Gumam Dewa dalam hati.
******
Selasa sore.
Para karyawan semuanya berhamburan keluar karena saatnya pulang kerja. Termasuk Mimin.
“Min... gua pulang duluan ya,” ujar Devi yang sudah duduk di atas motor dan memakai helm. Berboncengan dengan Susi karena rumah mereka satu arah.
“Iya hati-hati...!” sahut Mimin dan Irna yang masih berdiri di depan halaman kantor.
“Lo mau pulang naik apa Min?” tanya Irna.
“Paling naik angkot."
"Ustaz berjenggot lima lembar itu ga jemput?” goda Irna.
“Enggak lah... dia itu teman aku.”
“Iya percaya Mimin... Teman tapi cinta kan?” goda Irna lagi.
Belum sempat Mimin membalas pernyataan Irna keburu pacar Irna datang menjemput.
“Eh... Tuh... Cowok gue dah jemput. Gue duluan ya Min. Daaahhhh...! Irna menghampiri seorang pria yang sedang melambaikan tangan di atas motor N-Max.
“Hati-hati ya Ir... “
“Ok.”
Baru Mimin hendak melangkah menuju trotoar untuk menghentikan angkot, Deka datang menghampiri Mimin.
“Jasmin... pulang bareng aku yuk.”
“Maaf Pak... saya pulang sendiri aja,” tolak Mimin.
“Ayo lah Jasmin. Tadi kamu menolak ajakan makan siang. Sekarang kamu jangan menolak tawaran aku, please,” Mohon Deka.
“Mohon maaf sekali lagi... Saya ga bisa. Saya pulang sendiri saja.”
“Ayo lah Jasmin.”
“Maaf Pak... saya benar-benar ga bisa.”
“Ok. Aku ga akan memaksa kamu jika ada alasan yang tepat kamu menolak tawaranku," ujar Deka.
“Karena saya... “
“Yas... Yasmin!!” seru seorang pria yang berjalan mendekat menghampiri keduanya.
.
.
.
.
.
Siapakah pria yang datang menghampiri??
__ADS_1
Bersambung....