Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
141. Dibuang sayang 2


__ADS_3

Selepas salat Subuh, ternyata aku dikerjain sama Mama. Niatnya mau tidur lagi, malah aku disuruh bantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti nyapu dan ngepel karena ART yang bekerja di rumah kami sedang pulang kampung. Sementara Mama sibuk buat sarapan. Kalau Papa, enggak tahu deh lagi ngapain di kamar.


Meskipun awalnya ada rasa jengkel, namun sebagai anak yang berbakti dan berdikari, aku tetap melakukan titah mamaku tercintah dengan segenap jiwa raga, lahir batin, juga keihklasan. Aku menyapu enggak asal-asalan. Semuanya harus bersih, jangan sampai nanti aku dapat istri yang brewokan gara-gara nyapu enggak bersih. Ih, ngeri kan ngebayanginnya.


Ketika sedang menyapu dekat kamar orangtuaku, aku dengar Papa seperti tengah mengobrol. Saat menyadari bahwa di kamar itu Papa sendirian, aku jadi tahu bahwa Papa sedang berbincang lewat telepon bersama seseorang.


“Iya, Kang. Insyaallah hari ini saya dan istri saya akan ke sana sekalian bawa Ardan.”


Wih, kok namaku disebut-sebut. Aku kan jadinya pinisirin dong, jadi aku tempelin telingaku ke daun muda eh daun pintu maksudnya, agar bisa mendengar dengan jelas obrolan Papa bersama seseorang yang aku enggak tahu siapa, melalui telepon.


“Insyaallah Ardan cocok untuk Siti. Saya yakin Ardan mampu menjaga Siti. Dan saya yakin Siti juga mampu menuntun Ardan ke jalan yang lurus.”


Ih, si Papa. Memangnya selama ini aku kalau jalan enggak lurus apa. Aku lurus kok kalau jalan, sumpah!. Enggak ada tuh aku kalau jalan menyamping kayak kepiting apalagi zig zag. Lantas, apa maksudnya si Papa bilang Ardan cocok untuk Siti. Siapa sih Siti?


“Semoga Ardan dan Siti bisa berjodoh dan kita bisa besanan.” Suara Papa terdengar lagi.


Mendengar Papa ngomong begitu, aku shock dong ya. Kayaknya Siti ini nama cewek yang mau dijodohkan sama aku. Seketika bayangan emaknya si Doni sahabatku melintas begitu saja di benakku. Sebab emaknya si Doni ini namanya juga Siti, lengkapnya Siti Maimunah. Habis itu ganti bayangan emaknya si Anto yang melintas di kepala. Emaknya si Anto yang montok itu juga namanya Siti. Kalau enggak salah nama lengkapnya Siti Mariah Keri.


Kalau begini alur ceritanya, aku mau kabur aja deh. Masa iya Ardan yang gantengnya minta ampun ini mau dijodohkan sama yang namanya Siti.

__ADS_1


Setelah menguping obrolan Papa, aku lanjutin nyapu. Kali ini nyapu nya asal-asalan. Biarlah kalau nanti istriku brewokan. Dari pada aku dijodohkan sama Siti.


“Udah selesai nyapu ngepelnya?” tanya Mama saat aku meletakkan sapu dan pengepel di pojokan. Persis seperti aku yang merasa terpojok dengan rencana Papa menjodohkanku dengan perempuan yang bernama Siti


“Udah, Mah. Beres. Semuanya udah bersih,” jawabku sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Aku baru merasakan bahwa nyapu ngepel seisi rumah bisa membuatku kekotos keringatan begini. Keringatku merembes keluar dari mana-mana. Dari jidat hingga pantat. Dari rambut atas hingga rambut bawah.


“Sekarang aku mau mandi ya, Mah,” kataku lagi yang udah siap beranjak dari tempatku berdiri.


“Ish, jangan langsung mandi, nanti panuan loh,” larang perempuan yang telah melahirkanku ke dunia. “Sekarang lanjut jemurin cucian ya. Tuh, cuciannya ada di bak dekat mesin cuci. Udah diperas tinggal dijemur aja,” lanjut Mama tanpa dosa. Memang enggak dosa sih si Mama kalau nyuruh-nyuruh aku begitu. Namanya juga orang tua ke anak.


“Capek tahu, Mah.” Aku yang merasa titah Mama ini bagai kerja rodi, mengeluh manja.


“Laki-laki itu memang harus cape, Ardan! Lah kamu kerjaannya makan, tidur, ngelayab.” Tanduk Mama mulai keluar kala berbicara begitu. “Dulu suruh bantu kerja di tempat Papa enggak mau, katanya masih kuliah. Sedangkan kamu kuliah enggak bener, lama banget lulusnya, sibuk pacaran mulu. Sekarang udah lulus, masih enggak mau kerja juga. Belum siap lah, mau rehat sejedag lah!”


“Mama sengaja mengizinkan Bi Darmi yang mau menikahkan anaknya untuk pulang dan beristirahat lama. Mulai hari ini Mama mau kamu bantuin Mama mengerjakan pekerjaan rumah. Biar hidup kamu itu ada gunanya.”


“Dih masa aku ngerjain pekerjaan rumah. Aku kan anak cowoknya Mama. Bukan anak perawan," sahutku enggak terima dengan ucapan Mama barusan.


“Makanya Papa mau kawinin kamu ....” Tiba-tiba aja Papa ikut nimbrung. Aku sedikit kaget karena tadi enggak dengar suara pintu kamar Papa kebuka.

__ADS_1


“Nikah, Pah! Bukan kawin.” Mamaku yang cantik itu meralat ucapan Papa.


“Iya nikah. Papa mau nikahin kamu sama anaknya teman Papa saat zaman mondok dulu,” terang Papa yang sukses membuatku ketar-ketir.


“Enggak usah dijodoh-jodohkan deh, Pah. Soal jodoh, Ardan bisa nyari sendiri,” sahutku enggak terima lagi.


“Tapi kamu enggak becus milih pasangan. Memangnya Papa enggak tahu model kayak gimana perempuan-perempuan yang kamu pacari itu. Kalau cari pasangan itu, apalagi untuk istri, cari yang benar. Bukan asal cantik, tapi juga berkualitas. Karena dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak.”


Duh si Papa malah ceramah. Aku memang belum pernah sekalipun membawa seorang perempuan ke rumah dan memperkenalkannya pada Mama dan Papa. Karena seperti yang udah aku bilang, cewek yang mau sama aku itu bukan cuma satu, tapi banyak. Berhubung aku ini pemuda yang berkeadilan sosial, jadi mendingan aku pacari semuanya kan. Cuma pacar-pacaran aja, kalau untuk yang serius sih belum ada.


“Iya, Dan. Kalau cari istri yang modelnya kayak mama nih. Udah cantik, baik hati, ramah tamah, tidak sombong dan gemar menabung,” timpal Mama. Aku baru sadar, narsisnya aku ini turunan dari Mama ternyata.


“Iya, iya,” sahutku biar cepat beres. Dahlah mending aku jemur cucian aja daripada mendapatkan siraman rohani pagi-pagi begini. Aku langsung aja tuh mengangkat bak berisi pakaian yang udah dicuci oleh Mama menuju teras depan rumah.


Sambil menjemur aku bersenandung ria menyanyikan lagu favorit aku. “Malu aku malu, makan semut merah. Yang berbaris di ding ding, menatapku dung dung dung ....”


Sepanjang aku menjemur baju, beberapa gadis yang tengah joging pagi, lewat depan rumahku. Di antara mereka ada yang menyapa, ada yang senyum-senyum doang, ada yang juga terang-terangan memujiku. “Uh, calon suami idaman.”


Aku sih enggak nyahutin pujian mereka semua. Cukup pasang senyum penuh percaya diri sembari mengedipkan sebelah mataku biar mereka jedag jedug hatinya.

__ADS_1


Sekali aku senyum dan mengedipkan mata, lima gadis terpesona, dua janda terpikat, dan satu bencong teriak, “Abang Ardan, ay lope yuuuuu ...!”


Wew, ketampananku memang berbahaya, pemirsahhh!!!


__ADS_2