Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Kejadian Itu


__ADS_3

Flashback On.


Sore itu Deka pulang lebih cepat. Bukan karena pekerjaannya yang telah rampung namun karena omelan papahnya yang membuatnya muak. Kalah tender dalam proyek pembangunan Rusunawa yang diselenggarakan Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman membuat papanya berang.


"Ga becus kamu! Proyek kecil seperti itu aja perusahaan kita kalah!" kicauan Pak Satya memekakkan telinga Deka.


"Saingannya banyak, Pah. Hampir semua kontraktor di kota ini ikut tender itu," kilah Deka.


"Alah... dasar kamu saja yang ga becus!"


"Pah, proyek itu bukan ranah kita. Kita ga terbiasa ikut tender proyek pemerintah. Ini pertama kalinya kita ikut, wajar kalau kita kalah."


"Yang begini ini nih, yang merusak mental. Wajar kalau kalah. Hanya orang-orang lemah yang bicara seperti itu. Orang-orang yang ga akan pernah bisa maju!" Pak Satya terus mengomeli Deka.


Deka yang kesal dengan omelan Pak Satya memilih untuk pergi dari hadapan papa-nya itu.


"Hey...! Mau ke mana kamu Deka?! Papa belum selesai bicara!" seru Pak Satya yang sama sekali tak diindahkan oleh Deka.


Deka memutuskan untuk pulang kantor saat itu juga karena kesal dengan sikap papahnya.


Sekitar tiga puluh menit, ia baru sampai ke rumahnya. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah. Tampak sebuah mobil mewah telah terparkir juga di depan rumahnya. Mungkin itu mobil geng sosialita mama. Begitu dugaannya.


Bi Siti yang mendengar suara mobil anak sulung majikannya segera membuka pintu untuk menyambut kedatangannya.


"Den Deka tumben pulang sore," sapa Bi Siti ketika langkahnya sampai pintu utama.


"Hemm." Deka yang memang jarang bicara banyak dengan Bi Siti hanya menyahut 'Hemm'.


Ia masuk ke dalam rumah. Tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah tas wanita yang tergeletak di sofa. "Itu tas punya siapa, Bi?" tanyanya.


"Itu tas punya non Clara, Den" jawab Bi Siti.


"Clara pacarnya Dewa?"


"Betul, Den."


"Terus mereka ke mana?" Deka mengira Clara sedang bersama Dewa.


"Non Clara ada di kamar Den Dewa."


"Oh."


Tumben sekali si Dewa ngajak pacarnya ke kamar. Udah jadi anak liar rupanya. Gumam Deka dalam hati.


Ia melanjutkan langkah menuju kamarnya di lantai dua. Dan menghentikan langkah saat sampai di depan pintu kamar Dewa.


Perhatiannya terjatuh pada pintu kamar adiknya yang tak tertutup sempurna. Ketidakbiasaan Dewa mengajak perempuan ke dalam kamar telah menyita rasa penasarannya. Dengan langkah mengendap ia mendekati pintu kamar Dewa dan mengintip dari celah pintu yang tak tertutup sempurna itu.

__ADS_1


Di atas tempat tidur Dewa, Clara tengah terbaring dengan posisi kaki terangkat ke atas. Mini dress Korea yang ia kenakan otomatis turun hingga pangkal pahanya. Memperlihatkan kaki jenjang dan paha putih mulus miliknya.


Netra Deka terbelalak melihat pemandangan menyegarkan bak oase di tengah kekesalan hatinya. Deka sampai menelan liur dibuatnya. Hingga tak sadar tubuhnya mendorong pintu kamar itu.


Suara decit pintu yang terbuka karena dorongan tubuh Deka sontak membuat Clara tersentak bangun dari posisinya. Dan menolehkan kepalanya ke arah pintu. "Bang Deka," sapanya.


"Hai Cla. Dewa mana?" tanya Deka setenang mungkin.


Clara mengedikkan bahu. "Gak tahu Dewa ke mana. Ngelayab aja dia," sahutnya.


"Oh. Kamu sendirian?" Deka masih berdiri di gawang pintu dan tak berniat untuk masuk ke dalam kamar adiknya itu.


"Iya, Bang."


"Oh, ya sudah lanjutkan. Aku ke kamar dulu." Deka berlalu meninggalkan kamar itu. Tanpa ia sadari, Clara mengekor di belakangnya. Ia hendak menutup pintu kamarnya namun Clara malah menahannya.


"Bang Deka temenin aku ngobrol dong. Bete ih datang ke sini malah Dewa ga ada," ujar Clara dengan wajah cemberut.


"Kamu ga telepon Dewa suruh cepet pulang," sahut Deka. Ia kembali membuka pintu kamarnya karena meladeni Clara.


"Dia sih nyebelin, ditelepon ga suka diangkat, di-chat ga suka dibalas. Terus apa gunanya punya ponsel coba. Nyebelin," sungut Clara.


"Kamar Bang Deka keren banget." Clara melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Melewati Deka yang masih berdiri di gawang pintu.


"Aku lebih suka kamar ini deh. Rapi dan elegant." Clara menghempaskan bokongnya di atas kasur. Sorot matanya menelisik seisi kamar.


"Aku boleh duduk di sini ya, Bang?"


Deka menatap Clara sekejap lalu menganggukkan kepalanya. "Boleh."


Lalu Deka pergi ke kamar mandi. Kamar Dewa dan Deka memang tidak dilengkapi kamar mandi di dalamnya. Kamar mandi untuk keduanya disediakan di lantai dua ini.


Lebih dari tiga puluh menit, Deka menghabiskan waktunya di kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia kembali ke kamar dan menutup pintunya. Ia yang tak mengingat akan keberadaan Clara di kamarnya sejenak terkesiap ketika mendapati wanita cantik itu tengah berbaring dengan posisi miring di atas kasur miliknya dengan mata terpejam. Mungkin Clara tertidur. Begitu pikirnya.


Sebagai lelaki normal apalagi "player" seperti dirinya, tentu saja ia merasa resah melihat seorang wanita cantik dengan rok tersingkap hingga pangkal paha tidur di atas kasurnya.


Jiwa player-nya ingin menerkam tanpa ampun mangsa cantik itu. Namun jiwa baiknya seolah menahannya kuat-kuat agar tak melakukannya. Karena wanita cantik penggoda iman itu adalah kekasih adiknya. Ia tak mungkin melakukan itu.


Dengan tubuh yang hanya dililit handuk sampai ke pinggang, Deka mendekati tempat tidurnya. Ia yang melihat Clara terpejam, lalu berinisiatif untuk menyelimuti wanita cantik itu. Belum juga tubuh Clara tertutup sempurna dengan selimut, wanita itu malah terbangun.


"Deka," Clara menangkap tangan Deka yang tengah menyelimutinya.


Deka yang terlonjak kaget terjerembab jatuh di atas tubuh Clara. Tubuh bagian atasnya menin*dih tubuh Clara, namun kakinya masih berpijak di lantai.


Posisi mereka sangat dekat. Sorot mata keduanya saling bertautan selama beberapa saat. Hingga kemudian Deka kembali menegakkan tubuhnya berniat menjauhi wanita itu dalam kewarasannya. Jangan sampai mode kewarasannya ternoda dan menyeretnya dalam pusaran hasrat seperti yang sering dilakukannya bersama teman kencan-nya.


Namun, Clara malah menarik tangannya lagi. Clara yang dalam posisi rebahan kemudian bangun lalu duduk. Dan menarik tangan Deka agar turut duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Andai Dewa seperti kamu," ujar Clara tanpa melepaskan tangannya yang masih menggenggam tangan Deka.


"Penuh perhatian...." Clara menarik tangan Deka dan menyentuhkannya di pipi mulus miliknya.


"Penyayang wanita...." Clara mengecup tangan Deka yang berada dalam genggamannya.


"Hangat...." Clara semakin meresapi kecupannya.


"Lembut...." Deka mulai terbawa suasana penuh hasrat yang diciptakan oleh Clara. Ia turut mendekatkan tubuhnya pada Clara.


"Mempesona...." Deka balas mengecup lembut tangan Clara seraya menatap mesra wanita kekasih adiknya itu.


"Penuh cinta...." Sorot mata keduanya saling beradu.


"Meng*gairahkan." Kata terakhir yang diucapkan Clara. Bertepatan dengan luapan hasrat Deka yang tak dapat dibendung lagi. Menggugah kelaki-lakiannya. Merobohkan dinding pertahanan yang telah dibangun sebelumnya. Mengacaukan kewarasannya. Mengabaikan tentang status wanita itu yang adalah kekasih adiknya.


Entah siapa yang memulai bibir keduanya kini saling bertaut. Keduanya sama-sama lihai dan ulung dalam mengecap dan menyesap. Saling memagut satu sama lain dalam gelora naf*su.


Hingga keduanya terhanyut lalu tenggelam dalam lautan hasrat yang membara. Saling menginginkan.


Flashback Off.


Deka mengacak rambutnya frustrasi saat mengingat kejadian dua bulan itu yang sungguh disesalinya. Hingga ia melempar sebuah asbak dan mengenai pintu ruang kerjanya.


Bruuuuk....


"Pak Deka kenapa?" tanya Devi yang segera membuka pintu ruang kerja Deka karena mendengar suara gaduh.


"Eh... Enggak. Enggak ada apa-apa."


"Pak Deka dipanggil Pak Bambang ke ruangannya."


"Ok. Makasih, Dev."


.


.


.


.


.


Memang pada pinisirin ya siapa yang menghamili Clara?


Nanti aja disebutkannya ya kalau saatnya ketemu Clara. Karena kalau disebutkan sekarang juga percuma ga kenal. Aku pun ga kenal sama dia 😂😂

__ADS_1


__ADS_2