Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Hana Amelia Hendra


__ADS_3

"Iyan...!” seru wanita itu.


Dewa terdiam sejenak memperhatikan wanita berjilbab itu.


"Kamu Iyan kan?" tanya wanita itu kemudian.


Dewa menganggukkan kepalanya.


"Maaf... siapa ya?" tanyanya. Sebab dia sama sekali tak mampu mengingat sosok wanita berjilbab itu.


"Kamu ga inget sama aku? Lupa sama aku?" keluh wanita berjilbab itu kecewa.


Dewa mencoba berpikir kembali. Kalau wanita berjilbab ini memanggilnya dengan nama "Iyan" artinya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama wanita itu adalah teman semasa ia duduk di bangku MTS, mungkin salah satu santriwati di tempat ia mondok dahulu. Atau kemungkinan kedua adalah wanita itu tetangga Nenek Mira. Karena saat kelas 4 hingga kelas 6 SD, ia tinggal bersama neneknya. Dan Neneknya yang bernama Mira juga memanggilnya dengan nama "Iyan".


"Emmm... sebentar. Maaf soalnya ingatan aku memang buruk nih, hehehehe," katanya diselingi canda agar lebih mencairkan suasana. Ingatannya memang buruk jika mengenai wanita terkecuali tentang Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin tentunya.


"Kita dulu bertetangga, teman SD juga, dan teman satu pondok juga di.... (menyebutkan nama pondok pesantren modern tempat mereka menuntut ilmu)." Wanita berjilbab itu mencoba mengingatkan Dewa.


Dewa menatap wanita itu sekejap, berusaha untuk mengingat kembali.


"Kamu yang dulu suka membela aku, kalau aku dibully sama si... Emmm... lupa namanya. Anaknya Pak Felix yang kumisnya lebat itu loh. Inget ga?" Wanita itu berbicara lagi, mengenang masa kecilnya bersama Dewa.


"Oh iya... aku ingat. Kamu anaknya Pak Hendra kan?" tebak Dewa sebab ingatannya tentang wanita di hadapannya ini masih samar.


Wanita berjilbab itu mengangguk mengiyakan tebakan Dewa.


"Namanya... Emmm...." Dewa ternyata masih belum bisa mengingat namanya.


"Hana... aku Hana," ucap wanita berjilbab yang ternyata bernama Hana.


"Masha Allah... Hana. Iya bener Hana. Maaf ya Han... aku inget tapi rada-rada lupa," kilahnya.


Hana Amelia Hendra adalah tetangga sekaligus teman masa kecil Dewa dulu ketika diasuh oleh neneknya. Mereka juga bersekolah di SD yang sama. Meskipun Hana adalah murid pindahan, baru masuk di tempat Dewa bersekolah saat kelas 5 SD.


Hubungan mereka dulu sangat dekat, karena tempat tinggal mereka bersebelahan. Ketika Nenek Mira meninggal, dan Dewa dimasukkan ke pondok pesantren oleh mamanya. Hana pun merengek pada ayahnya agar memasukkannya ke pondok pesantren sama seperti Dewa.


"Kamu gak apa-apa Han? Yuk kita minggir dulu," ujar Dewa seraya bangun lalu berdiri.


"Enggak apa-apa," jawab Hana yang juga berusaha berdiri.


"Duduk dulu di warung itu aja Han," saran Dewa. Ia membangunkan motor milik Hana yang jatuh dan mendorongnya ke tepi trotoar di dekat sebuah warung.


Hana sudah mengambil posisi duduk di bangku panjang di depan warung kecil. Setelah menepikan motor Hana dan juga menepikan motor miliknya yang tadi terparkir di sembarang tempat, Dewa melangkah menghampiri Hana.


"Minum dulu ya Han," tawarnya.


Hana mengangguk mengiyakan tawarannya. Dewa mengambil dua botol minuman dingin "Teh Puncak Harum"  dari lemari pendingin minuman di warung itu.


"Ini minum dulu Han," katanya seraya menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Hana.


"Terima kasih Yan," ucap Hana tersenyum lembut.


Dewa turut mendudukkan dirinya di bangku panjang tempat Hana duduk. Mereka duduk bersebelahan namun berjarak.


"Sini aku bukain," ujar Dewa ketika melihat Hana kesulitan membuka seal tutup minumannya.


Hana menyodorkan botol minuman dingin itu kepada Dewa. Lalu Dewa membukanya dan menyerahkan kembali kepada Hana.


"Makasih," ucap Hana lalu meneguk minumannya.


"Maaf yah Han... aku tadi ga bisa refleks menghindar. Kamu tadi nyalain sen kanan loh, malah belok ke kiri," tutur Dewa setelah meneguk minumannya.


"Hah... Masa sih?"


"Makanya aku mah ngeri kalau lihat cewek apalagi emak-emak naik motor, suka gak puguh bawa motornya," keluh Dewa.

__ADS_1


"Iya iya maaf aku yang salah," balas Hana. Lalu tersenyum simpul dan menatap Dewa sekejap.


"Eh iya kamu ga papa? Ada yang lecet ga?"


Hana meraba tangan dan kakinya dalam balutan baju gamis syari-nya. Untuk mengetahui sekiranya ada yang terasa sakit.


"Kayaknya sih ga ada yang lecet sih," simpulnya. Meskipun sesungguhnya dia merasa ada yang terasa sakit, yaitu bokongnya yang terasa sakit dan linu. Namun tak mungkin ia mengungkapkannya kepada Dewa, bukan?.


"Syukurlah kalau tidak ada yang lecet. Terus kamu mau periksa ke klinik ga?" tawar Dewa. Sebab biar bagaimana pun ia tetap merasa bersalah karena telah menabrak Hana hingga  menyebabkannya terjatuh dari motor. Meskipun kecelakaan ini bukan kesalahan Dewa sepenuhnya.


Hana menggeleng. "Ga usah. Aku gak apa-apa," ucapnya.


"Yakin gak apa-apa?"


"Iya insyaallah."


"Yan... udah berapa lama yah kita ga ketemu?" tanya Hana.


"Emmm... berapa ya?" Dewa mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu berpura-pura sedang berpikir. "Gak tahu... aku ga ngitungin soalnya, hehehehe."


"Lama banget loh Yan. Aku sampai berdoa supaya ketemu kamu. Dan akhirnya alhamdulillah di sore yang cerah ini doaku dikabulkan," ucap Hana. Lalu tersenyum lembut menatap Dewa.


"Hah... Kamu doa'in aku? Ngapain kamu doa'in aku Han?"


"Ee... Bercanda Yan," kilah Hana untuk menutupi rasa malu karena sudah keceplosan. "Hehehehehe..." Ia tertawa untuk menyempurnakan usahanya menutupi rasa malu.


"Kamu tinggal di kota ini Han?" tanya Dewa. Sementara tangannya sibuk mengetik beberapa pesan untuk kekasih halalnya. Sebab khawatir Mimin sudah menunggunya.


"Baru tadi pagi aku sampai di kota ini," jelas Hana.


"Oh ya," ucapnya seraya menekan tanda panah di aplikasi WhatsApp mengirimkan pesan kepada Mimin.


"Iya. Sebelumnya aku tinggal di Bandung."


"Oh." Dewa menjawab sambil fokus menatap ponselnya, mengirimkan pesan-pesan lebay dan gombalnya kepada Mimin.


"Eh... Enggak kok. Gak sibuk." Dewa mengalihkan pandangannya kepada Hana dan segera menyimpan ponselnya ke dalam sling bag. Pertanyaan Hana membuatnya merasa tak enak hati. Khawatir Hana merasa dianggurin.


"Kalau kamu... Kok bisa tinggal di kota ini? Bukannya kamu tinggal di Jakarta Yan?"


"Aku juga belum dua bulan tinggal di sini sih."


"Oooh. Ga nyangka bisa ketemu kamu di sini... di kota ini."


"Hehehehe... Iya ya ga nyangka."


"Aku juga di sini karena ada panggilan untuk mengajar," terang Hana.


"Oya. Ngajar di mana?"


"Di Universitas....." Hana menyebutkan nama satu  universitas islam di kota ini.


"Wah... Udah jadi Bu Dosen nih."


Hana tersenyum. "Iya, alhamdulillah. Walaupun belum jadi dosen tetap sih."


"Wah hebat kamu Han," puji Dewa.


"Kalau kamu Yan?"


"Aku... Kalau aku yah begini-begini aja. Hehehehe...."


Hana menatap Dewa lalu mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu. "Emmm... Kalau dari penampilan sih. Sepertinya kamu seorang musisi ya?" tebak Hana.


"Yup. That's right."

__ADS_1


"Dari kecil kan kamu ingin jadi rocker ya? Terus apa udah tercapai?" Hana ingat betul sejak kecil Dewa sudah hobi mendengar musik rock dan bahkan gaya pakaian yang dipakainya pun terkadang bergaya rocker.


"Emmm... Belum. Hehehehehe...." Dewa mentertawai dirinya sendiri sebagai rocker gagal.


"Oya... Berarti dulu kamu lanjut mondok bareng Fahri ya?" tanya Dewa lagi.


Sebab mereka bertiga dulu mondok di pesantren yang sama. Jika Dewa hanya mondok selama 3 tahun dan kemudian di jenjang menengah atas memilih bersekolah di SMK (STM), sementara Fahri terus melanjutkan mondok di pesantren itu. Sedangkan Hana, ia tak mengetahui kabar beritanya.


"Enggak... kalau aku, meneruskan mondok ke Malang. Lalu menempuh studi S-1 di Mesir. Kalau pascasarjana sih di Jakarta. Tapi kok waktu di Jakarta malah kita ga pernah ketemu ya... malah kita ketemu di sini," tutur Hana.


"Kamu sungguh luar biasa Han," puji Dewa.


Pujian Dewa menerbitkan senyum simpul di bibir Hana.


"Terus kamu sekarang tinggal di mana Yan?" tanya Hana.


Drrrrt... Drrrt... Drrrrt...


Pertanyaan Hana bertepatan dengan getaran yang terasa menggelitiki pahanya. Getaran itu berasal dari ponsel dalam sling bag yang berada dalam pangkuannya. Dewa segera merogoh sling bag dan meraih ponselnya. Dilihatnya ada notifikasi pesan dari Kekasih Halalku. Seketika sudut bibirnya tertarik ke atas mengembangkan sebuah senyuman ketika membaca pesan itu.


“Hana... Kamu gak apa-apa kan?”


“Iya. Insyaallah aku gak apa-apa.”


Dewa bangun dari duduknya. Lalu berjalan menghampiri pemilik warung. “Teh Puncak Harum dua, jadi berapa Pak?” tanyanya kepada pemilik warung.


“Sepuluh ribu aja,” jawab pemilik warung.


“Ini yah Pak.” Dewa menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. “Makasih,” pungkasnya pada pemilik warung.


“Iya sama-sama.”


Kemudian Dewa menghampiri Hana.


“Han... Maaf aku ada keperluan penting. Aku duluan ya,” ujar Dewa lalu melenggang pergi menuju motornya.


“Tunggu Yan...! Berapa nomor hape kamu?” tanya Hana sebelum Dewa benar-benar pergi meninggalkannya.


Dewa menyebutkan deretan angka nomor ponselnya pelan-pelan agar Hana bisa mencatatnya dalam ponsel.


“Ok. Makasih Yan,” ucap Hana.


“Kalau karena jatuh tadi kamu lecet atau apa hubungi aku aja, Han,” pesan Dewa.


Hana mengangguk.


“Aku duluan ya. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam,” ucap Hana, tanpa sedetik pun memutuskan pandangannya kepada Dewa yang sudah melajukan motornya.


.


.


.


.


Maaf yah kalau terkadang di akhir suka ngegantung karena emang sengaja. Biar pada pinisirin dan pada nungguin kelanjutannya kan. Trik author nya itu mah. Hihihihihi...


Seperti kemarin, saking ingin pertemuan Dewa dengan Hana itu ngegantung, aku jadi menyelipkan cerita lain. Semula mau aku selipkan cerita Sol, tapi Sol belum ada pasangannya jadi ga seru kan. Akhirnya aku selipkan cerita Opi and The gank serta tausyiah Ustaz Fahri, eh ternyata panjang banget sampai dapet dua bab.


Btw makasih banyak tak terhingga yang udah kasih vote, kasih hadiah, selalu komen, selalu Like, makasih banyak ya. Karena author remahan bubuk sagon ini tak ada apa-apa nya tanpa dukungan kalian.


Untuk yang baca dan ga pernah kasih Like, ayo lah jangan pelit Like. Minimal kasih Like sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras author remahan bubuk sagon ini. Biar dapet seneng aja dulu authornya.

__ADS_1


Love U.


__ADS_2