
"Apa???” Yusril tercengang sampai matanya terbelalak.
Sementara beberapa langkah di belakang mereka. Ada seseorang yang turut tersentak terkaget-kaget mendengar pernyataan Dewa. Dialah Fahri.
"Hah... Lo suaminya Mimin?!" ujar Yusril dengan tatapan meremehkan, lalu tertawa mengejek. "Hahahaha...."
"Tampang lo tuh mirip artis yang ketangkep make narkoba terus nangis-nangis ga mau dipenjara tapi minta direhabilitasi. Terus habis direhabilitasi malah ketangkep make narkoba lagi, Hahahaha...." Yusril masih melempar olok-olakan kepada Dewa.
Dewa mengerenyot menanggapi celaan Yusril. "Lo tuh tampangnya mirip pejabat yang kena kasus korupsi terus pas ditangkap malah ambruk kena stroke, Hahahaha..." balas Dewa.
"Udah stop!! Kalian bisa ga sih ga kayak anak kecil!!" geram Mimin. Lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan para pria itu dan menutup pintu dengan keras.
Braaak....
Saat Mimin sudah masuk ke dalam rumah, Yusril yang kesal terhadap Dewa melangkah maju hendak menyerang Dewa. Yusril sudah melayangkan pukulannya.
Beruntung Dewa memiliki refleks yang bagus hingga ia bisa menangkis pukulan Yusril. Menangkap tangan Yusril lalu memelintirnya dan membalas melayangkan pukulan telak dan mengenai rahang Yusril.
Bug...
Fahri yang menyimpulkan bahwa ada potensi perkelahian yang mungkin terjadi di antara Dewa dan Yusril, segera menghampiri dan mendekati keduanya.
Pukulan Dewa sukses membuat Yusril jatuh tersungkur. Yusril bangun dan segera berdiri kemudian ia melayangkan kembali pukulannya ingin membalas kepada Dewa.
Bug...
Sejatinya pukulan itu adalah untuk Dewa namun Fahri yang tiba-tiba berdiri menghalangi dengan maksud ingin melerai perkelahian antara Dewa dan Yusril malah terkenal pukulan dan menyebabkan ia ambruk terjatuh dan pingsan.
Brug...
"Ustaz Fahri...!" seru Opi yang datang tepat ketika Yusril melayangkan pukulan salah sasaran kepada Fahri.
"Kualat lo berani mukul ustaz! Masuk neraka jahanam lo berani mukul ustaz!! seru Opi sambil jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke depan batang hidung Yusril sementara tangan yang satu lagi ditekuk di pinggang. Persis seperti emak-emak yang sedang mengomeli anaknya.
"Kalau berani lawan gue!" Kali ini Opi sudah siap dengan posisi kuda-kuda dan mengepalkan tangannya.
Dewa yang merasa geram dengan tingkah Yusril karena telah membuat sahabatnya itu terpukul dan terjatuh, sudah mengepalkan tangannya ingin membalas namun niatnya diurungkan karena melihat Opi yang sudah mewakili dirinya. Ia memilih untuk fokus kepada Fahri yang tidak sadarkan diri. Adikku yang manis hajar dia. Batinnya.
"Beraninya lawan ustaz. Kalau sama ustaz jangan adu jotos... adu tilawtil Qur'an harusnya." Opi terus mengomel masih dengan posisi kuda-kuda.
"Ayo lawan gue! Lo ga tau ya... gue itu jua...."
"Juara pencak silat PORCAM," sela Yusril sebelum Opi menuntaskan kalimatnya. Yusril memang sangat mengenal Opi karena hubungan pertemanannya dengan Mimin sudah terjalin lama.
"Nah... Itu lo tahu gue juara PORCAM!" sahut Opi
"Aku pulang aja. Salam sama Yasmin ya Pi," ujar Yusril yang memilih untuk pergi, tak mau meladeni Opi. Karena dia tahu persis, Opi si gadis tomboi manis berotot kawat dan bertulang besi itu tak main-main kalau sudah urusan pukul memukul dan tendang menendang. Bisa jungkir balik ia dibuatnya.
__ADS_1
"Huh... Cemen lo! Malah kabur!" sahut Opi.
Setelah Yusril pergi, Opi mengalihkan pandangannya kepada Fahri yang terkapar di pelukan Dewa.
"Ustaz Fahri pingsan?" tanya Opi penuh kekhawatiran.
Dewa menganggukkan kepala. "Ho oh."
"Terus gimana cara banguninnya?" tanya Opi lagi. Kini ia sudah dalam posisi berjongkok, menyejajarkan diri dengan posisi Dewa dan Fahri.
Dewa menggelengkan kepalanya. "Gak tahu... Lo punya ide ga? Tau ga gimana cara bangunin orang pingsan?" tanyanya.
Opi menggaruk kepalanya, bukan karena gatal namun karena sedang berusaha berpikir. "Gue pernah nonton film... kalau pingsan itu dibanguninnya pake nafas buatan," ujarnya.
Hah... Film apaan yang kalau pingsan dibangunin pake nafas buatan. Gumam Dewa dalam hati.
"Ya udah... Lo coba aja!" kata Dewa asal-asalan. Padahal ia pun baru mendengar kali ini kalau menangani pingsan dengan nafas buatan. Malahan dari film yang pernah ditontonnya, kalau orang pingsan itu dibangunkan dengan memberikan bau-bauan seperti kaos kaki kalau di film komedi.
"Ya udah cepetan... lo aja kasih nafas buatan sama Ustaz Fahri!" seru Opi.
"Ih, kok gue... orang gue juga ga ngerti gimana caranya. Udah lo aja gih!" balas Dewa.
Opi menggaruk lagi kepalanya yang tak gatal. "Ya udah deh... gue coba," "ujarnya.
Dengan ragu Opi mendekatkan wajahnya ke wajah Fahri.
Opi pun sama kagetnya. Lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya, serta mendongakkan kepalanya seperti orang yang sedang berdoa." Astagfirullahal adzim wa atuubu ilaih," ucapnya. Lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Adegan yang sama persis saat peristiwa naas di malam kelam waktu itu.
Dewa mengulum senyum menahan tawa melihat tingkah Opi yang terlihat lucu.
"Fahri... kamu gak apa-apa?" tanya Dewa ketika melihat Fahri sedang memegangi rahangnya dengan raut wajah kesakitan.
"Aduh...." Fahri mengaduh karena kesakitan. "Gak apa-apa hanya rasanya kok sakit banget," keluhnya dengan masih memegangi rahangnya.
"Yuk... kita ke rumah dulu!" seru Dewa. Lalu beringsut bangun seraya membimbing Fahri untuk bangun dan membimbingnya masuk ke rumah kontrakan Dewa ditemani oleh Opi.
Sesampainya di rumah Dewa, Fahri didudukkan di atas karpet hambal.
"Wajah antum ada lebam," kata Dewa sambil mengamati wajah Fahri.
"Kurang ajar tuh si Payus... entar bakalan gue bales dia," ujar Opi geram.
"Tidak usah Opi. Jangan memelihara dendam. Al afwu atau memaafkan itu jauh lebih mulia di mata Allah. Rasul pernah berkata 'Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, tetap memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu."(HR. Thabrani)
"Iya... Ustaz Fahri," ucap Dewa dan Opi serempak.
"Haish... Jangan panggil ustaz," protes Fahri.
__ADS_1
"Tapi... tadi Ka Fahri sedang memberikan tausyiah. Kalau sedang memberikan tausyiah kita akan panggil Ustaz aja," tutur Opi lalu mengalihkan pandangannya ke Dewa. "Iya kan Kakak ipar?"
"Iya. Emmmm... Pi, mending lo ambil apa kek di rumah lo buat ngobatin lebam di wajah Fahri," titah Dewa.
“Obat apa?”
“Obat apa aja,” jawab Dewa. Lalu bangun dan beranjak menuju dapur untuk mengambilkan minum untuk Fahri.
Opi menatap Fahri sejenak memperhatikan lebam di wajah Fahri. "Ok deh... Opi cari obat dulu," ucapnya lalu bangun dan beranjak menuju rumahnya.
"Ini ... diminum dulu," kata Dewa setelah kembali dari dapur. Ia menyodorkan sebotol air putih dalam botol beserta satu gelas kosong. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Fahri.
"Makasih ya Yan," ucap Fahri usai meneguk setengah gelas air putih untuk menetralisir keterkejutannya di sore ini.
"Yan..."
"Hemm..."
"Jadi... antum suaminya Mimin?" tanya Fahri menatap Dewa.
Dewa mengangguk ragu. Bukan karena ragu mengakui pernikahannya, melainkan ragu karena khawatir membuat hati Fahri terluka.
"Apa antum juga mendengar cerita di balik pernikahan ini?" Dewa balik bertanya dan balas menatap Fahri.
"Iya... Ana mendengarnya... tak sengaja mendengar dari mulut orang-orang sini."
"Lalu... Antum percaya??"
Fahri menghela nafas sejenak dan menghembuskannya pelan. "Aku percaya Mimin tak akan seperti itu. Jujur... sebelum sore ini, aku belum percaya sama laki-laki itu." Fahri menjeda ucapannya sejenak.
"Tapi setelah sore ini... setelah tahu laki-laki itu adalah sahabatku Iyan. Aku sangat percaya dengan laki-laki itu juga," sambungnya.
"Ana percaya antum. Tolong jaga Mimin. Bahagiakan dia. Aku mendukungmu... insyaallah," pungkasnya diiringi seutas senyuman bersahabat.
Dewa menatap Fahri. "Terima kasih Fahri. Aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Insyaallah."
.
.
.
.
Satu bab dulu ya, mau dua bab yang bab berikutnya belum rampung. Mudah2an entar malam ya.
Btw makasih semuanya atas dukungannya. 😘😘😘
__ADS_1