
"Kang Ustaz kenalkan ini Hana. Hana kenalkan ini Ustaz Haqi putranya Kiayi Bahruddin." Fahri memperkenalkan Hana dan Haqi.
Hana dan Haqi saling mengangguk ramah. Merespons momen perkenalan mereka tanpa berjabat tangan.
"Fahri ini aku buat setup roti. Maaf yah aku baru sempat buat sekarang padahal udah lama sekali aku janji mau kasih kamu setup roti," tutur Hana. Ia menyodorkan rantang berisi setup roti yang sedari tadi ditentengnya.
Fahri menerima rantang itu. "Alhamdulillah. Makasih ya, Han" ucapnya.
"Sama-sama, Fahri. Itu untuk Teh Farah dan ponakanmu juga ya," pesan Hana.
"Ok, siap. Ustaz Haqi boleh icip juga 'kan?"
Hana melirik sekejap ke arah Haqi. "Boleh," ucapnya.
Haqi yang juga tengah melirik Hana tersenyum dan mengangguk ramah menanggapi ucapan Hana.
"Opi ke rumah Teteh dulu yuk. Masih ada satu rantang setup roti buat Opi dan Teh Mimin," ujar Hana.
"Asyik. Alhamdulillah kebagian setup roti juga," sahut Opi ceria.
"Tunggu sebentar, Nong. Saya ambilkan titipan untuk Mimin dulu, biar nitip ke Nong Opi aja ya," ujar Fahri.
"Boleh. Bisa," sahut Opi.
"Kamu duduk dulu, Han!" seru Fahri. Lalu ia beranjak dari duduknya untuk mengambil sesuatu di dalam rumahnya.
"Rumah Ukhti di kampung ini juga?" tanya Haqi ketika Hana telah duduk di dekat Opi.
Hana yang tengah tertunduk lalu mengangkat wajahnya menatap Haqi sekejap untuk menjawab pertanyaan Haqi. "Iya," ucapnya.
"Rumah Teh Hana dekat sini, Taz. Selang tiga rumah dari sini. Ustaz Haqi mau mampir ke rumah Teh Hana ya?" goda Opi
Godaan Opi membuat Hana dan Haqi tertunduk tersipu.
"Ga papa atuh siapa tau mau silaturahmi biar saling kenal. Tak kenal maka ta'aruf. Ustaz Baihaqi belum punya istri 'kan?" tanya Opi.
"Belum," jawab Haqi.
Opi sudah membuka mulutnya hendak berbicara banyak namun urung karena kedatangan Fahri.
"Nong, nitip ini dari Teh Farah. Katanya ini punya Mimin." Fahri menyerahkan sebuah majalah fashion kepunyaan Mimin kepada Opi.
"Oh, iya. Nanti Opi kasih ke Teteh," sahut Opi.
"Ayo Opi, kita ke rumah," ajak Hana. Ia bangkit dari posisi duduknya.
"Ayo." Opi pun turut bangkit dari duduknya.
"Aku pulang dulu ya Fahri," pamit Hana. Sementara kepada Haqi, Hana hanya mengangguk ramah untuk berpamitan.
"Opi tinggal yah, Taz," sahut Opi kepada Haqi.
"Iya. Terima kasih yah, Opi."
"Sama-sama, Taz."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Kang Ustaz tumben nyariin saya. Saya jadi merasa orang penting nih dicari sama Kang Ustaz," ujar Fahri setelah dua gadis itu pergi.
__ADS_1
Haqi adalah putra K.H Bahruddin seorang ulama di kota ini yang juga pemilik Yayasan Darul Muttaqin tempat Fahri mengajar. Sebuah lembaga yang mengedepankan basis pendidikan agama Islam. Menaungi beberapa tingkatan sekolah mulai dari Raudatul Athfal (RA), Madrasah Diniah Takmiliah Awaliah (MDTA) serta Madrasah Tsanawiyah (MTS). Dan yang terbaru adalah SDIT.
"Begini Fahri, saya 'kan saat ini sedang fokus menyusun kurikulum program pembelajaran untuk SDIT yang baru dibuka tahun ajaran ini."
"Alhamdulillah. Jadi tahun ini sudah mulai membuka PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), Kang?"
"Insyaallah. Doakan saja, Fahri."
"Insyaallah, semoga SDIT Darul Muttaqin bisa maju dan berkembang pesat. Serta mampu mewujudkan generasi Qur'ani seperti visi dan misi yayasan kita."
"Amin, insyaallah. Terus saya pun saat ini sedang dipusingkan dengan tesis yang belum kelar-kelar. Maka dari itu saya berencana mau mengundurkan diri dari jadwal rutin tausyiah di SMA X. Kira-kira antum bisa menggantikan ana ga sebagai penceramah tetap di SMA X. Kalau antum mau dan sanggup, insyaallah ana akan mengajukan nama antum sebagai pengganti ana di sekolah tersebut."
"Masya Allah ini tawaran yang luar biasa loh, Kang. Kalau memang memungkinkan, saya mau Kang."
"Alhamdulillah. Makasih ya, Fahri. Setidaknya kamu mengurangi satu beban tanggung jawab di pundak saya."
"Hehehehe... Kang Ustaz bisa aja. Memangnya ada beban yang lain, Kang?"
"Ada. Ummi tuh ga ada lelahnya mendesak untuk bawa calon ke rumah. Iya kalau udah ada, nah kalau belum ada 'kan repot."
"Masa pria berkualitas tinggi seperti Kang Ustaz belum punya calon."
"Belum, Fahri."
"Mau saya carikan, Kang?"
"Memangnya kamu bisa."
"Bagaimana kalau sama Hana. Dia cocok sekali sama Kang Ustaz. Haqul yakin, sangat cocok."
"Hana itu gadis yang tadi?"
"Dia bukan calon kamu, Fahri?"
"Bukan, Kang. Dia sahabat saya dan juga tetangga saya."
"Tunggu, kamu juga jomblo 'kan Fahri?"
"Single, Kang ... bukan jomblo."
"Padahal ada gadis solehah di dekatmu malah kamu milih jadi single. Kenapa Fahri?"
"Maksud Kang Ustaz saya sama Hana, begitu?"
"Iya."
"Saya sama Hana itu teman sejak kecil jadi kayaknya ga mungkin. Karena kami sama-sama tahu saat kecil dulu ... sama-sama umbelan."
"Hahahahaha...." Fahri dan Haqi tergelak bersama.
"Fahri, kamu ngegibahin aku?!" Tak diduga Hana sudah berdiri di gawang pintu. Ia kembali lagi datang ke rumah Fahri karena hendak mengantarkan kain untuk dijahit kepada Teh Farah.
"Hana...?!?!" seru Fahri terkejut.
"Fahri, yang umbelan itu perasaan kamu deh," kelakar Hana.
"Astagfirullah. Ka Fahri dulu umbelan???" sahut Opi tercengang.
*****
Satu minggu telah berlalu. Kondisi kesehatan Mimin telah pulih, sehat seperti sedia kala. Ia pun kini sudah memulai aktivitasnya bekerja. Namun yang membuat Dewa menyesalkan keadaan ini adalah sikap Mami yang seolah menjauhkan dirinya dengan Mimin. Membuat jarak selebar-lebarnya antara dirinya dan Mimin. Bahkan Mami mempekerjakan seseorang untuk mengantar dan menjemput Mimin bekerja.
__ADS_1
Hal tersebut praktis membuat hubungan Dewa dan Mimin terasa jauh meskipun sesungguhnya mereka berdekatan.
Sore ini, Mimin baru saja pulang bekerja dengan dijemput oleh Teh Esih orang yang ditugaskan Mami untuk mengantar dan menjemput Mimin bekerja.
"Makasih Teh Esih," ucap Mimin setelah turun dari motor.
"Iya, Neng Mimin. Besok pagi nanti Esih jemput lagi di jam biasa ya," sahut Teh Esih.
"Iya, Teh Esih."
"Esih pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Mimin hendak masuk ke dalam rumah ketika pandangannya terjatuh pada motor Dewa. Ia jadi teringat sesuatu. Ingin memberikan kemeja kepada Dewa. Kemeja couple yang sudah ia siapkan untuk menghadiri acara pernikahan Rahma dan Diev. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemui Dewa.
"Kang Soleh mau ke mana?" tanya Mimin ketika melihat Sol tengah duduk di atas motornya.
"Saya mau pulang dulu sebentar," sahut Sol.
"Aa eh Dewa ada, Kang?"
"Ada di dalam. Masuk aja, Min."
"Emmm...."
"Ga usah sungkan. Lagian udah suami istri ini," sahut Sol masih dari atas motornya. "Saya jalan dulu ya, Min. Assalamualaikum," pamit Sol.
"Waalaikum salam. Hati-hati, Kang!"
Setelah Sol berlalu, Mimin masuk ke dalam kontrakan.
"Assalamualaikum A... Aa...!"
Ia yang tak menemukan Dewa di ruang tamu, akhirnya mencari Dewa ke dalam kamar. Ia melongokkan kepalanya di pintu kamar yang tidak tertutup lalu masuk ke dalamnya. Ternyata Dewa tak ada di dalam kamar itu.
Ia baru saja hendak membalik tubuhnya berniat keluar kamar ketika sesaat kemudian terasa embusan napas hangat meniup-niup pipinya.
"Waalaikum salam, Neng Mina," sahut Dewa yang berdiri di belakang Mimin. Kedua tangannya menyentuh lengan Mimin kanan dan kiri. Kepalanya ia condongkan ke samping dekat pipi Mimin sehingga embusan napasnya terasa hangat menerpa pipi halus nan mulus Mimin.
Dewa yang merasakan rindu teramat rindu memeluk Mimin dari belakang. Tangannya melingkar mendekap tubuh Mimin.
Perlakuan Dewa ini membuat Mimin seketika tergugu. Pasalnya lengan Dewa yang melingkar di atas perut Mimin tampak basah. Mimin berpikir pasti Dewa baru saja mandi. Lalu kalau Dewa baru mandi berarti....
"Aa kangen, Neng," ucap Dewa masih memeluk Mimin dari belakang.
Ini adalah kali pertama mereka berada dalam posisi seperti ini. Membuat Mimin menahan napas karena merasakan senyar-senyar aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.
Dewa membalikkan tubuh Mimin sehingga posisi mereka berhadapan dan dalam jarak yang sangat dekat. Mimin terkesima melihat Dewa yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Persis seperti dugaannya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1