Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Sepenggal Kisah


__ADS_3

Mimin tengah membereskan pekerjaannya. Mencatat agenda untuk hari Senin karena esok adalah hari Sabtu, saatnya libur. Membereskan ATK ke tempatnya. Serta menyimpan file-file ke dalam loker. Ia melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 16.00. Tiga puluh menit lagi waktunya pulang. Ia tidak melaksanakan salat Asar karena sedang berhalangan, rutinitas seorang perempuan di tiap bulannya.


"Teh Mimin...." Seorang bocah laki-laki berlari menghampirinya.


"Eh... Ada Ai," sahutnya diiringi senyum yang mengembang.


"Dangan panggil aku Ai. Aku na udah besal. Udah puna adek. Dadi panggil na Aa," kata bocah berusia tiga tahun itu dengan ekspresi lucu.


"Siap ... Aa," jawabnya diikuti dengan tangan kanan membentuk sudut 90 derajat dan ditekuk 45 derajat, jari-jarinya merapat dan diletakkan di pelipis mata kanan. Ia sedang melakukan sikap hormat seperti yang dilakukan saat upacara bendera.


"Hihihihihi...." Bocah laki-laki itu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Entah, bagian mana yang lucu hingga membuatnya tertawa cekikikan.


Di belakang bocah laki-laki kecil itu ada seorang wanita cantik yang sedang menggendong putri kecil cantik berusia satu tahun. Wanita itu adalah Aya, istri Rizal, atasannya. Dan kedua bocah itu adalah anak mereka. Yang besar adalah Khayri Aulian Hafidz, biasa dipanggil Ai, namun sekarang ingin dipanggil Aa. Yang kecil adalah Ellea Shadiqah, biasa dipanggil Ea.


"Assalamualaikum," sapa Aya.


"Waalaikum salam," jawabnya.


"Ea ... Ih cantiknya. Gemes tau. Gendong yuk," Ia mengambil alih putri kecil cantik lucu itu dari gendongan Aya.


"Loh, Min ... kenapa?" kata Aya sambil menunjuk dahinya.


"Teh Mimin, kenapa kepalana?" Ai ikut bertanya.


"Itu bukan kepala Aa. Itu namanya dahi atau kening atau jidat," ujar Aya.


"Ooh...."


"Kenapa, Min?"


"Tadi ada yang nimpuk, Teh." Ia keceplosan.


"Hah...." Aya terkejut sampai mulutnya terbuka menganga. "Siapa yang nimpuk kamu?"


"Gak tahu, Teh ... gak kenal."


"Pak Rizal sudah tahu?"


"Sudah Teh."


"Kenapa kamu ga pulang aja Min. Istirahat aja di rumah."


"Ga usah Teh, ga papa kok. Lagian besok libur ini."


"Wah, kamu ini karyawan teladan. Ya sudah, Teteh masuk dulu yah."


"Biar Ea sama aku dulu ya Teh," ujarnya sambil menciumi pipi gembul menggemaskan bocah cantik lucu di gendongannya.


Aya mengangguk setuju. "Kalau nangis, bawa ke dalam yah," ujarnya.


"Siap Teh."

__ADS_1


Aya dan putranya masuk ke ruangan.


"Abi...." Ai berlari menghampiri abinya.


"Jagoan..." Rizal merentangkan kedua tangannya menyambut putra kesayangannya. Dan ayah dan anak itu pun berpelukan.


"Mana salamnya," tegur Rizal.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Nah begitu ... baru namanya anak soleh." Rizal mencium gemas putranya lalu mengacak puncak rambutnya.


"Abi ... Teh Mimin didatna ditimpuk olang, loh." Ai menjelaskan dengan ekspresi serius.


"Hah...." Rizal bereaksi pura-pura terkejut. Ia mengira Ai sedang mengarang cerita.


"Iya Bi, beneran katanya Mimin ditimpuk orang." Aya meraih tangan suaminya lalu menciumnya.


"Tadi sama Abi ga bilang begitu, sih." Rizal membalas dengan mencium lembut pipi istrinya.


Bertepatan dengan masuknya Rudi ke dalam ruangan tanpa aba-aba, dan tanpa permisi.


"Senangnya dalam hati ... Jika ditengok istri." Rudi bersenandung dengan irama lagu Madu Tiga milik Ahmad Dhani.


Rudi kini bekerja di kantor ini bersama Rizal. Saat peristiwa kecelakaan dulu, ia memilih resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Setelah penglihatannya sehat dan normal, Rizal mengajaknya bekerja di kantor ini. Rudi dan Rizal kini bersahabat bahkan hubungannya sudah seperti saudara.


"Om Alil...." seru Ai yang memang sudah akrab dengan Rudi.


"Aa ... kamu luar biasa." Rudi bergaya seperti idolanya.


Sejak Ai kecil, Rudi sudah melakukan pemalsuan identitas. Menyebut namanya "Ariel". Bahkan kepada Delon pun dia melakukan hal yang sama. Rudi... Rudi... Jangan sampai ketika nanti Delon sekolah, ia mengisi biodata nama ayah dengan nama "Ariel Noah" bisa bikin heboh se-Indonesia raya.


"Sumpah gue sih kasihan sama Ariel-nya kalau dimirip-miripin sama lo." Rizal menggeleng. Tangan yang satu bersidekap di dada. Dan tangan yang satu lagi mengurut keningnya seolah sedang berpikir.


"Hahahaha...." Aya tertawa terpingkal melihat gaya suaminya meledek Rudi.


"Gue juga kasihan sama Rizki Billar kalau dimirip-miripin sama lo," ujar Rudi tak mau kalah.


"Beuh ... ada juga gue yang kasihan dimiripin Rizki Billar. Gantengan gue soalnya."


"Iya Bos, kalah gue." Rudi melempar pulpen kepada Rizal. Rizal menangkapnya lalu melemparkan lagi ke Rudi. Begitu seterusnya. Kedua pria itu bermain lempar melempar pulpen. Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum," ucap Mimin yang masuk ruangan sambil menggendong Ea. Kedatangan Mimin membuat Rudi hilang konsentrasi.


"Yes." Rizal bersorak kegirangan karena Rudi gagal menangkap pulpen dan pulpen itu mengenai wajah Rudi.


"Duh, anak Ummi nangis yah." Aya mengambil alih putrinya dari gendongan Mimin.


"Haus kali, Teh," ujar Mimin.


"Mimin ... Mimin nih makin cantik aja," goda Rudi.

__ADS_1


"Mi, bilangin ke Nafa, di kantor dia suka godain Mimin gitu," gurau Rizal.


"Eh jangan jangan. Jahat lo. Enggak yah Min, aku kan ga suka godain kamu yah. Cuma becanda doang yah," kilah Rudi.


"Huh. Dasar suami takut istri." Rizal meledek


"Lo juga sama kan?"


"Enggak lah, gue kan suami sayang istri. Iya kan Mi."


"Iya Abi."


"Yes." Rizal bersorak kegirangan karena mendapatkan dukungan dari istrinya.


Mimin tersenyum melihat interaksi Rizal, Aya, dan Rudi.


"Min ... kenapa jidatnya?" tanya Rudi yang baru tersadar dengan perban yang menempel di dahi Mimin.


"Min ... katanya kamu ditimpuk orang?" Giliran Rizal yang bertanya.


"Siapa yang nimpuk kamu Min?" tanya Rizal dan Rudi berbarengan.


"....." Mimin diam karena bingung bagaimana menjelaskannya.


***


Sementara di tempat lain.


"Dewa pergi Pah... Huuu... Huuu..." Bu Dewi menangis setelah membaca surat yang dititipkan Dewa kepada Bi Siti.


"Sudah lah Mah ... biarkan dia pergi. Hitung-hitung belajar mandiri." Pak Satya, ayahnya Dewa mencoba membujuk istrinya.


"Mama sudah periksa kamarnya, Pah. Dewa pergi hanya membawa baju. Hp sama ATM ditinggalin. Mama jadi ga bisa ngirim uang untuk biaya hidupnya. Nanti Dewa makan apa Pah? Huuu... Huuu...."


Dewa pergi dengan membawa uang sebesar 18 juta, hasil menguras seluruh isi ATM. Uang itu adalah uang sisa jajan bulanan yang diberikan oleh Mama setiap bulannya. Setelah itu ia meninggalkan kartu ATM-nya dengan tujuan agar Mama tidak bisa mengiriminya uang. Bahkan ia  juga meninggalkan ponsel merek buah tergigit yang harganya fantastis, hadiah ulang tahun dari Mama beberapa bulan yang lalu.


"Sudah lah, Mah. Kalau dia tidak bisa makan pasti dia akan kembali ke rumah ini."


"Kamu sih Deka ... kamu itu keterlaluan!" Deka meringis, baru kali ini Mama membentaknya seperti itu.


"Dewa juga kenapa jadi cengeng begitu. Urusan soal perempuan saja sampai kabur segala." Mama menggelengkan kepalanya, suaminya ini benar-benar tidak peka. Lalu ia kembali menangis tersedu dengan ditemani Bi Siti yang juga ikut menangis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf yah slow update. Ga kuat lihat layar ponsel lama-lama. Kepala langsung muter. Perut terasa mual. Padahal ide di kepala lagi bagus. Ini ngetik 1000 kata juga penuh perjuangan nih.


Sebelum kembali ke kisah Mimin dan Dewa, cerita itu dulu ya tenang persahabatan pasangan Rizal dan Aya juga Rudi dan Nafa.


__ADS_2