
"Deka, bagaimana proyek yang di Bekasi? Sudah berapa persen rampung?" tanya Pak Satya yang mengunjungi Deka di ruangannya.
"Sudah sekitar delapan puluh persen. Bulan ini ditargetkan selesai, Pah," sahut Deka.
"Itu ponsel kamu dari tadi berdering, kenapa gak diangkat?" Sejak masuk ke ruangan Deka, ponsel itu beberapa kali berdering lalu mati, terus berdering lagi.
"Nomor gak dikenal, Pah."
"Kalau berdering sampai beberapa kali, angkat aja ... mungkin penting," kata Pak Satya.
Deka meraih ponsel dan menjawab panggilan telepon dari nomor tak dikenal yang beberapa kali menghubunginya sejak tadi.
"Halo."
"Selamat siang. Betul ini dengan Saudara Radeka Bastian?"
"Betul, saya sendiri."
"Apakah mobil dengan nopol B 1111 DK, benar milik saudara Radeka Bastian?"
"Iya, benar. Mobil itu atas kepemilikan saya, ada apa ya?"
"Kami dari Satlantas Polres Subang mau mengabarkan bahwa mobil itu mengalami kecelakaan di jalan raya Subang. Di dalam mobil itu terdapat satu korban berjenis kelamin pria ...."
"Apa??" potong Deka cepat. Ia tergemap mendengar kabar tersebut lalu bangun dari posisi duduknya.
"Ba-bagaimana keadaannya?" tanya Deka terbata.
"Deka ada apa?!" sela Pak Satya yang melihat perubahan raut muka Deka.
"Mobil tersebut mengalami kecelakaan parah hingga terbakar. Ada satu jasad pria yang ditemukan hangus terbakar di dalam mobil itu. Tim laboratorium forensik telah memeriksa kartu identitas yang ditemukan di dalam mobil tersebut. Dari kartu identitas yang ditemukan, korban bernama Syadewa Argian."
Tubuh Deka mendadak lemas, ponselnya bahkan terjatuh dari genggaman. Ia duduk berjongkok di atas lantai dengan kedua kaki ditekuk. Kepalanya tertunduk, dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Ada apa, Deka?!" Pak Satya mengguncang-guncang tubuh Deka. Beberapa jenak Deka hanya terdiam dengan kepala tertunduk.
"Siapa yang tadi menelepon?" tanya Pak Satya dengan gusar.
Pelan-pelan Deka mengangkat wajahnya. "Polisi, Pah," sahutnya dengan mata yang sudah memerah.
"Polisi?? Apa ada yang salah dengan proyekmu, Hah?! Sampai-sampai bersentuhan dengan polisi!" geram Pak Satya.
"Bukan tentang proyek, Pah," sahut Deka. "Dewa kecelakaan, Pah. Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Ia tak mampu menahan isak tangis.
Meskipun hubungannya dengan Dewa tidak bisa dibilang dekat, tapi juga tidak bisa dibilang jauh. Hingga seusianya kini, ia tak pernah merasakan kehilangan anggota keluarga inti. Ini adalah kali pertama merasakan kehilangan karena kematian dan sungguh membuatnya syok.
"Ngaco kamu, Deka!" tukas Pak Satya.
Baru saja ia berucap, terdengar suara News Anchor membacakan berita di televisi. Pak Satya mengalihkan pandangannya pada televisi yang tergantung di dinding ruangan itu.
"Sebuah mobil mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Subang Km. 18 siang ini. Mobil Honda Jazz dengan nomor kendaraan B 1111 DK itu melaju dari arah Jakarta menuju Subang. Diduga kecelakaan terjadi disebabkan pengendara yang mengantuk sehingga tak dapat mengendalikan laju kendaraannya. Naas kecelakaan itu menyebabkan mobil hangus terbakar. Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran yang diduga karena terjadinya arus pendek atau korsleting listrik pada mobil. Dilaporkan pengendara yang berjenis kelamin pria tersebut tewas di tempat kejadian. Demikian sekilas info. Kita bertemu kembali satu jam ke depan. Selamat siang. Terima kasih. Salam SSTV."
"De-Dewa. A-apa De-Dewa ...." ucap Pak Satya terbata. Ia bahkan tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Iya, Pah. Dewa ... Dewa ..." Deka kembali terisak.
Pak Satya menghempaskan bokongnya di sofa. Ia yang selalu kuat menjadi lemah seketika. Meski Dewa belum menjadi seperti yang diinginkannya, namun sebagai orangtua, ia tetaplah menyayangi Dewa. Orangtua mana yang tak terpukul mendengar kabar duka tentang anaknya.
Beberapa jenak mereka terlarut dalam kesedihan.
"Ba-bagaimana dengan Jasmin? Apa dia sudah tahu berita ini?" lontar Pak Satya.
"Pah, Jasmin jangan diberi tahu dulu soal ini," ujar Deka.
"Kamu gimana sih. Jasmin 'kan istrinya. Dia harus tahu kabar ini."
"Deka ga bisa membayangkan reaksi Jasmin kayak gimana. Deka ga tega liatnya. Apalagi Jasmin sedang hamil besar, Pah," lirih Deka.
"Kita pikirkan bagaimana cara memberitahunya. Coba kamu hubungi keluarganya, agar bisa membantu menenangkan Jasmin.
Kamu juga hubungi pihak kepolisian yang tadi menelepon untuk menanyakan bagaimana pengurusan jenazahnya.
Papa akan hubungi mama. Papa juga ga tahu harus bilang apa sama mamahmu. Pasti mamahmu syok dengar berita ini."
*****
Selepas salat Zuhur, Mama mengajak Mimin untuk makan siang di salah satu restoran di pusat perbelanjaan tersebut.
Berkali-kali Mimin meraih ponsel untuk mengecek pesannya kepada Dewa. Status pesannya belum berubah, masih centang dua abu, pertanda pesan tersebut belum dibaca.
Menu makan siang yang dipesan telah terhidang di atas meja. Mimin mengambil gambar hidangan tersebut dengan kamera ponsel lalu mengirimkannya kepada Dewa dengan menuliskan sebuah kalimat pesan: Neng makan nih. Aa jangan lupa makan ya.
"Lagi ngirim pesan untuk Dewa ya?" tanya Mama ketika melihat Mimin sibuk dengan ponsel.
"Iya, Mah. Tapi pesannya belum dibaca."
"Ya sudah nanti lagi, sekarang kita makan dulu aja."
"Iya, Mah." Mimin menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Selanjutnya mereka menikmati makan siang.
Sehabis makan siang, Mama kembali mengajak Mimin berburu barang-barang incaran Mama. Mereka tengah asyik menjelajah dari satu toko ke toko lainnya ketika ponsel Mama berdering.
"Papa telepon, Sayang. Tumben amat, papa jam segini menelepon," kata Mama sebelum menjawab panggilan telepon.
"Halo. Iya, Pah."
"Mama lagi di mana?"
__ADS_1
"Lagi di mall. Ada apa, Pah?"
"Jasmin di mana?"
"Mina ada di sini, sedang sama Mama. Kenapa, Pah?"
"Pulang sekarang ya, Mah! Papa juga sekarang pulang, sebentar lagi papa sampai rumah."
"Kenapa, Pah? Ada apa?"
"Mama pulang aja! Sekarang!"
"Iya, iya," pungkas Mama mengakhiri panggilan teleponnya.
"Sayang, kita pulang sekarang ya," ujar Mama kepada Mimin. "Papa nyuruh kita pulang sekarang," lanjutnya.
"Memangnya ada apa, Mah?" Pasalnya, baru kali ini ketika sedang shopping, papah mertuanya itu menelepon dan menyuruh pulang.
"Mama juga gak tahu. Kita turutin aja, yuk!" Mama menggandeng tangan Mimin meninggalkan pusat perbelanjaan.
Mobil yang ditumpangi Mama dan Mimin sudah melewati pos satpam perumahan ketika untuk ke sekian kalinya ponsel Mama berdering. Lagi-lagi panggilan dari Papa. Mama segera menjawab telepon itu.
"Iya, Pah. Ini udah dekat kok. Udah sampai pos satpam," jelas Mama pada panggilan telepon yang singkat itu.
"Leman, kamu tahu ga, kira-kira di rumah ada apa? Nada bicaranya Bapak kok seperti orang kalut," lontar Mama pada sopir.
"Saya gak tahu, Bu," sahut Leman.
Tak sampai lima menit, mobil sampai di depan rumah. Mama dan Mimin turun dari mobil dengan raut kebingungan. Keduanya tergemap memandang bendera kuning yang terpasang di pagar halaman rumah. Beberapa orang juga tampak berdatangan, kebanyakan dari mereka datang dengan mengenakan pakaian warna hitam.
"Ya Tuhan, siapa yang meninggal??" Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut. "Apakah ... Papa? Huaaaa ... Papa ...!"
Mimin mengusap punggung Mama untuk menenangkannya. "Mah ... Papa 'kan tadi baru aja telepon," ujarnya mengingatkan.
"Oh iya, ya." Jawaban Mimin sedikit menenangkan mama. "Apakah ... Suleman?" terka Mama kembali.
"Mah, Mang Suleman 'kan yang menyopiri kita barusan. Tuh lagi berdiri di belakang kita." Mimin menunjuk sang sopir dengan ekor matanya.
"Oh iya, ya."
"Apakah ... Deka?"
"Itu mobil Bang Deka, Mah." Mimin menunjuk mobil Deka yang telah terparkir di sana.
"Kalau begitu ... apakah Siti?"
"Itu ... Bi Siti, Mah," tunjuk Mimin pada Bi Siti yang muncul dari balik pintu.
Bi Siti yang melihat kedatangan Mimin segera menghampiri Mimin dan langsung memeluknya.
"Siti, ada apa?!" sentak Mama.
"Huuu ... Huaaa ... Huaaa." Bi Siti terus meraung.
Tingkah Bi Siti membuat Mimin dan Mama terperangah, keduanya masih belum memahami atas situasi yang terjadi. Isak tangis Bi Siti menciptakan berbagai pertanyaan dalam hati.
Belum juga terjawab kebingungannya, Mimin kembali dikejutkan dengan kedatangan keluarganya.
Deka langsung menghubungi keluarga Mimin setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Dewa. Kebetulan, Abah dan Mami masih berada di Jakarta. Mereka menginap di tempat kost Opi usai menghadiri acara syukuran tujuh bulan kehamilan Mimin kemarin.
Abah, Mami dan Opi turun dari mobil dengan raut sendu. Mereka menghampiri dan menghambur ke pelukan Mimin.
"Teteh ... Huuu ... Huuu ..." Mami dan Opi menangis tersedu memeluk Mimin.
"A-ada apa, Mih?" tanya Mimin terbata. Hatinya mulai menerka-nerka.
"Ini ada apa sih?! Siti, ada apa?!" sentak Mama kepada Siti.
Deka yang mendengar keributan di luar rumah, segera beranjak keluar. "Mah, Jasmin, ayo masuk dulu!" serunya sembari memeluk Mama.
"Ada apa ini, Deka?!" cecar Mama.
"Masuk dulu aja, Mah," ujar Deka setenang mungkin seraya menggiring Mama dan Mimin serta keluarganya masuk ke rumah.
"Jasmin, kamu yang sabar ya," ujar Pak Satya begitu Mimin masuk rumah. "Kami semua juga merasa sangat kehilangan. Dewa masih muda ... kenapa secepat ini," lanjutnya.
"Dewa kenapa, Pah?"
"A Dewa kenapa, Pah?" tanya Mimin dan Mama berbarengan.
"Dewa kecelakaan, Mah. Dewa meninggal dalam kecelakaan itu," ungkap Pak Satya tanpa basa-basi. Raut wajahnya tetap terlihat sendu meski tak ada bekas titik air mata.
"Enggak mungkin!" sahut Mimin dan Mama bersamaan.
Pak Satya gegas memeluk istrinya. Sementara Mami dan Opi memeluk Mimin untuk menenangkan.
"Teteh, yang sabar ya. Teteh harus kuat," ujar Mami yang tak dapat menahan tangis.
"Enggak, Mih. Gak mungkin Aa meninggal. Ini pasti salah."
"Abah, ini ga benar 'kan? Ini bohong 'kan?" Mimin menggelengkan kepalanya seraya menatap Abah. Hatinya belum sepenuhnya percaya.
"Teteh sabar ya, istighfar, Teh. Istighfar ...
astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim." Abah menuntun Mimin beristighfar.
Mimin bergeming dalam kegamangannya.
__ADS_1
Enggak mungkin. A Dewa gak mungkin meninggal. Aa udah janji untuk cepat pulang. Aa udah janji besok akan belanja perlengkapan bayi. Gumam Mimin dalam hati.
"Jasmin, polisi mengabarkan bahwa mobil yang dikendarai Dewa mengalami kecelakaan di daerah Subang. Dewa dikabarkan meninggal di lokasi kejadian," ungkap Deka.
Mimin tercekat tak bersuara. Dunia beserta isinya seakan runtuh menimpa. Kiamat kecil ini melemparkannya ke hamparan duka. Isak tangis tak mampu tertahan lagi. Derai air mata mengalir tak terbendung. Tubuhnya lemah seakan tak bertulang.
Berpasang-pasang mata menatapnya iba. Abah, Mami dan Opi semakin mengeratkan pelukan. Berusaha memeluk duka yang teramat dalam. Seraya melafalkan kalam mulia untuk mengingatkan, serta beberapa kalimat penyemangat lainnya.
"Istighfar, Teh. Inget Allah. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan hamba-Nya."
"Teteh harus kuat. Ada si Dede dalam perut yang harus Teteh jaga."
"Istighfar, Teh. Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim."
"Sabar, ikhlas. Ingat, Allah adalah pemilik segalanya. Teteh harus ikhlas. Teteh pasti kuat."
Air mata Mimin yang terus mengalir tanpa henti menjadikan pandangannya buram dan berkabut. Dadanya semakin sesak seperti terimpit.
"Astagfirullah. Aku gak kuat ya Allah. Ga kuat ya Allah," lirihnya dalam isak tangis. Sebelum akhirnya melemah lalu jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Abah dan Mami.
Sementara di sudut lain, Pak Satya dan Deka tengah sibuk menenangkan Mama yang menangis histeris. Raung tangisan Mama juga menjadi pusat perhatian para pelayat yang datang.
Setengah jam berselang, suara tangis mulai mereda. Mimin sudah terjaga kesadarannya. Mata sembab dan hidung yang memerah menghias wajah pucatnya. Ia merebahkan tubuhnya di pelukan Mami.
Pandangannya nanar menatap sebuah foto keluarga yang tergantung di ruangan itu. Sorot matanya fokus pada foto Dewa yang berdiri di tengah, antara dirinya dan Deka. Sementara mama dan papa duduk di depan mereka. Foto keluarga terbaru yang diambil sebulan setelah pernikahannya.
"Pah, ada telepon dari kepolisian dan rumah sakit," lapor Deka pada Pak Satya. "Katanya, jenazahnya mau diurus pihak keluarga atau rumah sakit," lanjutnya.
"Diurus pihak rumah sakit saja. Biar nanti kita tinggal menguburkannya," sahut Pak Satya.
"Terus, jenazahnya mau dijemput pihak keluarga atau mau di antar ke sini?"
Mimin yang mendengar percakapan tersebut beringsut bangun lalu menghampiri Deka.
"Bang Deka, aku mau lihat A Dewa untuk terakhir kalinya," pinta Mimin.
"Sebaiknya jangan, Jasmin," larang Deka.
"Kenapa? Aku istrinya."
"Pihak kepolisian dan rumah sakit menjelaskan keadaan Dewa yang ...." Deka tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Aku mau melihat suamiku untuk terakhir kali bagaimanapun keadaannya," tegas Mimin.
"Sebaiknya ga usah ya, Teh. Teteh cukup mendoakan saja," ujar Abah.
"Iya, Teh. Takut Teteh ga kuat lihatnya. Ingat, Teteh lagi hamil. Harus memperhatikan kesehatan si Dede yang di perut juga," timbrung Mami.
"Teteh kuat, Bah. Teteh kuat, Mih. Teteh mau lihat jasadnya bagaimanapun keadaannya."
*****
Sekitar pukul tiga sore, Mimin dengan ditemani Abah, Pak Satya dan Deka mendatangi rumah sakit tempat jenazah yang diduga Dewa berada. Ia bersikeras pada keinginannya untuk melihat Dewa terakhir kali. Meskipun semua orang membujuk agar mengurungkan niatnya karena mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan dirinya dan bayi dalam kandungan.
"Ibu yakin akan kuat melihat jenazahnya?" tanya salah seorang staf rumah sakit.
"Tentu saja saya kuat, saya istrinya," sahut Mimin yakin.
Petugas rumah sakit tersebut membawa Mimin ke ruang jenazah. Mimin dengan ditemani Abah mengikuti langkah pegawai tersebut. Sementara Pak Satya dan Deka memilih untuk menunggu di luar dengan alasan tak sanggup dan tak tega melihat keadaan Dewa.
"Ini, Bu ... jenazahnya," ujar petugas rumah sakit yang telah berdiri di sebuah ranjang dengan jenazah di atasnya.
"Teh, abah nunggu di sini aja ya. Abah khawatir ga kuat melihatnya. Ga papa 'kan?"
"Iya, ga apa-apa, Bah. Lagi pula khawatir penyakit jantung Abah kambuh." Mimin mencemaskan kesehatan Abah yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Dengan mengumpulkan segenap kekuatan serta melafalkan zikir dalam hati, Mimin mengayun langkahnya mendekati jenazah yang terbujur kaku dengan ditutup kain putih. Meninggalkan Abah yang berdiri tiga meter di belakangnya.
"Ibu yakin kuat ya?" tanya petugas itu lagi.
Mimin mengangguk.
"Ibu udah siap untuk melihatnya?"
Mimin kembali mengangguk.
Petugas itu membuka kain putih yang menutupi bagian wajah jenazah perlahan.
Mimin tergemap menatap jasad di hadapannya.
Itu bukan A Dewa. Batinnya lirih. Sebelum kemudian tubuhnya kembali lunglai lalu jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
Terima kasih dukungannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1