Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
125. GBM S3


__ADS_3

"Gugatan cerai saya sudah dikabulkan oleh pengadilan agama. Surat cerainya pun sudah turun dari dua tahun yang lalu saat kamu masih dibui. Kita sudah resmi bercerai. Saya sudah bukan istrimu lagi. Jadi, lepasin saya!!" Pipit terus meronta, berusaha melepaskan diri.


"Saya ga akan pernah melepaskan kamu sampai kapan pun!"


"Lepas!!" Pipit melawan dengan menggigit tangan Jefri.


"Awwww." Jefri memekik kesakitan dan melepas cengkeraman tangannya pada lengan Pipit.


Kesempatan itu dimanfaatkan Pipit untuk berlari. Sayang, Jefri kembali dapat merengkuhnya. Kali ini ia menarik paksa Pipit.


"Ayo, ikut!"


"Enggak mau!"


"Ikut, pulang ke rumah kita!"


"Enggak sudi!"


Jefri yang geram dengan jawaban Pipit, sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap memukul Pipit.


"Hey, lepaskan Pipit!" teriak Dewa. Ia yang terlambat menjemput Pipit, malah menemukan Pipit tengah menghadapi situasi mencekam. Kendatipun ia belum memahami apa yang sedang terjadi, dan tak mengenal pria yang mengasari Pipit.


"Saha maneh?!" lontar Jefri. (Kamu siapa?)


"Maneh saha!!" balas Dewa. Setahun tinggal di kampung Ciherang, hanya dua kata itu yang baru bisa dipahaminya.


"Saya ditugaskan Aki Rusli untuk menjaga Pipit!" seru Dewa lantang.


Dengan mata yang memerah karena amarah, Jefri melepas cengkeraman tangan Pipit dan segera menghampiri Dewa. Perkelahian dua pria itu pun tak bisa dihindarkan.


Bag ... Bug ... Bag ... Bug ...


Perkelahian yang lebih didominasi oleh pukulan dari Dewa ke Jefri, sontak membuat Jefri menyerah mundur.


"Awas yah, kamu!!!" ancam Jefri sebelum akhirnya kabur meninggalkan Pipit dan Dewa.


"Kamu gak papa, Pit?" tanya Dewa ketika Jefri sudah pergi.


"Enggak papa," lirih Pipit.


"Laki-laki tadi itu siapa?"


"Jefri, mantan suamiku."


Dewa terperengah mendengar jawaban Pipit. Selama ini ia memang tidak mengetahui tentang kehidupan pribadi Pipit. Tak ada yang pernah menceritakan kehidupan Pipit kepadanya. Pipit sendiri memang memilih menutup diri untuk tak bercerita.


"Maaf saya terlambat jemput kamu. Kita pulang sekarang, ya," ucap Dewa. Yang dibalas sebuah anggukan dari pemilik paras cantik yang kini parasnya tampak sendu.


Dewa tak berniat untuk bertanya lebih lanjut tentang hal yang baru saja diketahuinya. Ia merasa tak enak hati untuk menanyakannya.


 


*****


Pipit, wanita dengan sejuta luka. Sejak kecil ia sudah menyaksikan bagaimana sang ayah berperilaku kasar terhadap ibu dan juga dirinya. Selepas tamat SMA, ia dipaksa menikah dengan Jefri, putra juragan dari kampung tetangga. Sang ayah yang tidak tahu diri itu menjodohkan Pipit dengan Jefri demi materi. Sedangkan ibunya telah meninggal dunia sewaktu Pipit duduk di bangku SMP karena sakit-sakitan menahan batin luka atas sikap sang suami.


Saat pernikahan itu, terungkap fakta bahwa ia  bukan putri kandung ayah dan ibunya. Rupanya itulah alasan penyebab kasarnya perangai sang ayah. Tak menerima kenyataan bahwa sang istri tak dapat memberikan keturunan, juga karena tak mau menerima kehadiran Pipit yang jelas bukan anak kandungnya.


Pipit remaja yang belum mengenal cinta, mau saja menerima perjodohan itu sebab secara fisik, Jefri terhitung pria tampan dalam penilaiannya. Sayang, perangai Jefri tak sebagus penampilannya. Pipit kerap kali mendapat kekerasan fisik dari Jefri.


Di usia tiga bulan pernikahan, Jefri tersandung kasus narkoba dan harus menjalani hukuman penjara selama dua tahun. Ayah Jefri sengaja tak berusaha mengeluarkannya agar Jefri jera dan bisa berubah menjadi lebih baik.


Setelah Jefri bebas, Pipit kembali melanjutkan hubungan pernikahannya. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Perilaku Jefri tetap tak berubah, selalu kasar terhadapnya. Dan lagi-lagi Jefri terjerat kasus narkoba, kali ini ia juga didakwa sebagai pengedar. Hukuman pidana yang diterima lebih lama dari kasus yang pertama. Saat Jefri mendekam di penjara untuk kedua kali, Pipit memutuskan untuk menggugat cerai Jefri.

__ADS_1


"Jadi itu alasan kamu selama ini menolak beberapa pria yang berusaha mendekatimu bahkan melamarmu?" lontar Dewa setelah mendengar cerita Pipit. Selama Dewa tinggal di rumah Aki, beberapa kali ada pria yang mencoba mendekati Pipit bahkan ada yang pernah sampai datang melamarnya.


Pipit mengangguk.


"Gak semua laki-laki itu sama. Cukup ayahmu dan mantan suamimu saja yang buruk. Banyak laki-laki baik di dunia ini," tutur Dewa.


"Maaf ya. Gara-gara saya, Kang Asep jadi kena tonjok si Jefri," sesalnya.


"Ga papa. Dia yang lebih banyak kena tonjok saya," sahut Dewa.


"Tahan ya, Kang Asep. Mungkin agak sakit rasanya." Pipit mengompres lebam di wajah Dewa dengan batu es.


Dewa merenung sebab teringat janjinya dengan Sol dan Jejed. Tadi sore, ia tak dapat menemui mereka di rumah Mang Entis karena insiden perkelahiannya dengan Jefri. Dewa juga belum sempat mengutarakan rencananya untuk ikut pulang bersama Sol dan Jejed.


Ketika Dewa masih merenung. Dan Pipit masih sibuk dengan aktivitas mengobati lebam di wajah Dewa. Tiba-tiba terdengar kericuhan di halaman depan rumah Aki.


"Aki. Buka pintunya!"


"Pipit, keluar kamu!"


"Asep, keluar kamu!"


Aki dan Nini menghampiri Pipit dan Dewa di ruang tamu.


"Di luar ada apa, Pit?" tanya Nini.


"Gak tahu, Ni."


Dug ... Dug ... Dug ... Terdengar suara gedoran pintu dari luar.


"Keluar kamu, Pit!" Suara teriakan dari luar pintu.


Aki, Nini, Pipit dan Dewa saling berpandangan tak mengerti. Beberapa jenak kemudian, Aki melangkah untuk membukakan pintu.


"Iya, Ni." Dewa mengikuti Aki berjalan di belakangnya.


"Ada apa ini?" tanya Aki setelah membuka pintu.


Aki dan Dewa terkejut ketika mendapati banyaknya orang yang berkumpul di depan rumah Aki.


"Aki ini membiarkan pasangan kumpul kebo di rumah Aki!" tukas seorang warga.


"Kumpul kebo bagaimana? Ada apa ini? Aki ga mengerti!" sahut Aki.


"Si Pipit sama si Asep itu bukan mahram malah tinggal serumah!"


"Tinggal serumah bagaimana? Mereka tidak tinggal berdua. Ada saya sama istri saya juga di rumah ini. Mereka juga tidur di kamar terpisah. Kalian jangan asal sembarangan menuduh!"


"Tapi mereka bukan mahram. Apalagi si Pipit janda. Udah gitu si Asep juga laki-laki. Bisa aja di belakang Aki, mereka berbuat mesum."


"Iya!"


"Iya!"


"Usir Asep!


"Usir Pipit!


Teriak para warga.


"Saya tidak seperti yang kalian tuduhkan!" pekik Dewa lantang.


"Cucu saya tidak seperti itu!" Nini ikut turun tangan menjawab tuduhan warga.

__ADS_1


"Apa Pipit selama ini pernah berbuat yang macam-macam, Hah! Apa Pipit pernah berlaku tidak sopan? Ayo jawab!" bentak Nini.


Sementara di ruang tamu, Pipit sudah berurai air mata mendengar tuduhan keji para warga.


"Udah lah, Ki. Mending si Pipit dikawinin aja sama si Asep!" teriak seorang warga.


"Iya. Kawinin aja Asep sama Pipit!"


"Setuju!"


"Setuju!"


Di belakang kumpulan para warga itu ada Jefri yang adalah provokator kegaduhan ini. Ia sengaja menghasut warga agar mengusir Asep alias Dewa. Namun yang terjadi malah warga menyuruh Asep dan Pipit menikah.


"Mereka jangan dikawinin. Usir Asep aja," ujar Jefri yang kini ikut merangsek maju.


"Kawinin aja Asep sama Pipit!" teriak seorang warga.


"Setuju!"


"Setuju!"


"Setuju!"


"JANGAAAAAAN!!" teriak Sol dan Jejed.


Saat suasana semakin panas, dan warga semakin mendesak Pipit dan Asep untuk menikah. Beruntung, sang penyelamat datang. Sol dan Jejed yang sejak sore menunggu kedatangan Dewa, namun tak kunjung datang, akhirnya memutuskan datang ke rumah Aki Rusli.


"Asep ini adalah Dewa sahabat kami. Dia sudah punya anak istri. Keluarganya sudah kehilangan dia selama berbulan-bulan. Kami akan membawa Asep alias Dewa ini pulang bersama kami," tutur Sol di hadapan warga.


Jejed merangsek maju, turut bersuara. "Kalau Bapak-bapak sekalian menuduh sahabat kami ini tanpa ada bukti yang jelas. Kami akan laporkan Anda semua ke pihak yang berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik. Iya 'kan Sol?"


"Betul," sahut Sol.


"Bapak-bapak semua belum tahu bagaimana rasanya berurusan sama polisi 'kan?" lontar Sol.


Para warga itu kompak menggelengkan kepalanya.


"Beuh ... Urusannya ribet! Apalagi kalau sampai dipenjara semakin ribet." Sol menggidikkan bahunya.


"Emang lo pernah berurusan sama polisi, Sol?" bisik Jejed.


"Enggak, Jed. Cuma nakutin mereka doang," balas Sol.


“Sekarang sebaiknya bubar!” seru Jejed.


“Bubar semuanya atau kita lanjut ke kantor polisi!” ancam Sol.


Pada akhirnya semua warga memilih untuk membubarkan diri daripada harus berurusan dengan kantor polisi.


.


.


.


.


Udah ah, sampai sini dulu. Kepanjangan.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2