Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kaifa Haaluk


__ADS_3

"Ini seperti gitar milik ... Dewa.” Gumam Deka.


Ingatannya terbang pada masa beberapa tahun silam. Dimana Dewa merengek minta ditemani menonton konser Green Day di Singapura. Ia yang tidak begitu menyukai musik rock akhirnya mengabulkan keinginan adik satu-satunya itu.


"Tapi Bang Deka yang beli tiketnya ya. Yang VVIP. Gue kan ga punya duit, Bang.”


Dan ia yang tidak begitu menyukai musik rock pada akhirnya terlarut dalam ingar-bingar bisingnya melodi musik rock yang menggempar. Dan ikut berjingkrak-jingkrak mengikuti sang adik.


Adiknya itu tak henti-hentinya berterima kasih kepadanya sepulang menonton konser. Apalagi setelah berkesempatan untuk bertemu dengan Billie Joe Amstrong untuk berfoto bersama. Dan mendapatkan sebuah tanda tangan sang idola yang dibubuhkan di atas gitar kesayangannya.


"Jadi, promotornya adalah teman kuliah Bang Deka. Wah, Bang Deka keren, gue jadi bisa dapat tanda-tangan si Billie Joe Amstrong. Makasih makasih Bang."


"Hey... Ngapain Lo! Mau nyolong gitar gue ya!!" tukas Opi yang tiba-tiba datang entah dari mana. Dan membuat Deka tersontak kaget karenanya hingga membuyarkan lamunannya.


"Ini, gitar punya kamu?" tanya Deka.


"Iya....!!" Opi merebut gitar dari tangan Deka. "Sini! Gitar gue ini!!" serunya.


Mata Deka merayap mengamati penampilan Opi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Heh...!! Lo jangan kaya gitu lihatnya! Gue colok nih mata lo!! geram Opi.


"Kamu siapa??" tanya Deka.


"Ada juga gue yang nanya. Lo siapa?!" balas Opi.


Bertepatan dengan datangnya Mimin yang membawa segelas es sirop rasa jeruk di atas sebuah nampan.


"Opi...! Yang sopan ngomongnya. Ini atasan Teteh," omel Mimin.


"Oooh..." sahut Opi sambil melenggang masuk ke dalam rumah dan membawa gitar milik Dewa.


"Maafkan atas sikap adik saya yang tidak sopan,” ucap Mimin.


"Ooh... Itu adik kamu?"


Mimin mengangguk. Lalu meletakkan minuman es sirop rasa jeruk di atas meja.


"Silakan diminum, Pak."


Deka duduk kembali ke tempatnya dan meminum es sirop rasa jeruk hingga habis setengahnya.


"Pak..."


"Ya..."


"Mohon maaf sebelumnya. Emmm... saya bukannya tidak sopan dan bukannya mau mengus... Eh, maksud saya ... saya belum salat Asar," ujar Mimin seraya meremas ujung kerudungnya. Meski ragu akhirnya Mimin mengucapkannya dan meralat kata 'mengusir' yang hampir terucap.


Jasmin, kamu memang bukannya tidak sopan. Tapi kamu sedang mengusir aku dengan cara yang sopan. Gumam Deka dalam hati.


"Lagi pula sudah sore," ucap Deka sambil melihat jam di  tangannya.


"Kalau begitu aku permisi pulang ya." Lalu Deka berdiri. "Lain waktu boleh main ke sini lagi kan?" Terdengar bukan seperti pertanyaan melainkan permohonan yang sedikit memaksa.


Mimin mengangguk meski ragu.

__ADS_1


Sebelum pulang, Deka kembali meraih minumannya dan meneguknya hingga tandas sambil berdiri. Kemudian ia berpamitan pulang.


Mobil Honda Jazz warna putih yang dikendarai Deka baru saja berlalu saat pintu kontrakan nomor satu terbuka. Dan Dewa keluar dari sana. Ia baru saja mandi ditandai dengan tubuhnya yang terlihat lebih segar dan juga lebih tampan tentunya. Serta semerbak aroma wangi sabun mandi dan sampo yang tercium hingga oleh indra penciuman Mimin.


"Mimin..." sapa Dewa sambil tersenyum.


Mimin menatapnya sekejap lalu masuk ke dalam rumah tanpa terucap kata. Berbarengan dengan Opi yang justru hendak keluar.


Sabar Dewa. Kamu pasti bisa menaklukkan hatinya. Gumam Dewa menyemangati diri sendiri.


"Ka Dewa...!" seru Opi.


"Hai Opi," sahut Dewa.


"Ka, tadi gitarnya ada yang mau ngambil loh," lapor Opi tentang kejadian tadi.


"Eh, jangan sampai. Lo jaga baik-baik dong gitar gue," kata Dewa. Ia mendekati Opi dan mengambil alih gitar dari tangan Opi.


"Ini gitar bersejarah. Tuh, lihat ada tanda tangan Billie Joe Amstrong," kata Dewa dengan bangga, sambil menunjukkan tanda tangan yang tertera pada gitarnya.


"Wih, keren. Serius ini tanda tangan si Billie vokalis Green Day?!" Opi memperhatikan gitar dengan saksama.


"Iya dong. Masa gue bohong," ujar Dewa.


"Memangnya, tadi siapa yang mau ambil gitar gue?"


"Temen Teh Mimin tuh."


"Cowok??"


"Fahri??"


"Bukan lah."


"Yusril??"


"Bukan."


"Terus siapa?"


"Gak tahu, gak kenal. Tapi orangnya ganteng sih."


"Gantengan mana sama gue?"


"Emmm... Coba Opi lihat dulu." Opi memperhatikan wajah Dewa. "Agak mirip Ka Dewa deh. Tapi lebih keren Ka Dewa sih," sambungnya diiringi seulas senyum.


"Asal aja bilang mirip. Masa iya wajah tampan gue ini ada KW-nya," sungut Dewa. Karena tidak pernah terpikir oleh Dewa bahwa yang dimaksud adalah Deka, kakak kandungnya.


"Ka... gitarnya buat Opi ya," pinta Opi.


"Enggak bisa lah."


"Gue beli deh. Berapa harganya?"


"Enggak bisa kebeli dengan apapun."

__ADS_1


"Masa sih??"


"Iya lah karena gitar ini sangat berharga buat gue. Kecuali...."


"Kecuali apa Ka?"


"Kecuali gue mendapatkan yang lebih berharga dari gitar ini," ujar Dewa dengan tatapan menerawang. Menatap bunga matahari yang menguning indah bermekaran di halaman rumah Haji Zainudin.  Seindah senyuman Mimin yang selalu diharapkannya. Semekar perasaan cinta kepada Mimin yang selalu didambakannya.


"Ka Dewa... Kita belajar gitar lagi yuk!" seru Opi.


Seruan Opi seketika menghapus gambar wajah Mimin yang sedang dilukis oleh hatinya.


"Jangan sekarang ya Pi. Gue mau keliling jalan-jalan dulu," ujar Dewa seraya berjalan menuju motornya lalu duduk di atasnya.


"Wah motor baru ya."


"Motor baru tapi bekas. Motor bekas tapi baru," seloroh Dewa. Lalu ia menstater motornya.


"Gitarnya Opi pinjam lagi ya, Ka."


"Boleh.  Tapi jaga baik-baik gitarnya. Awas jangan sampai hilang!"


"Asiyaap....!!"


"Gue jalan dulu ya, Pi."


"Iya hati-hati yah Ka."


Dewa pun melajukan motornya mengelilingi kampung Cibening. Hal yang belum pernah dilakukannya selama tinggal di kampung ini. Melewati hijaunya persawahan yang menyejukkan mata. Melihat sebuah bangunan Sekolah Dasar yang berdiri sendiri. Bersanding dengan tanah pekuburan. Ya ampun seram amat ini sekolahan. Depan, samping dan belakangnya adalah kuburan. Apa anak-anak ga takut sekolah di sini. Batinnya.


Dewa membaca tulisan besar yang ada di sana. SDN Banjar Agung. Ternyata bangunan SD ini adalah tempat terujung dari kampung Cibening. Sebagai perbatasan dengan kampung tetangga.


Dewa memutar arah dan kembali melajukan motornya. Ia berniat menuju lapangan sepak bola untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antar anak-anak kampung Cibening seperti yang pernah ditontonnya bersama Sol tiga hari yang lalu. Namun di tengah perjalanan, ia bertemu seorang pria yang sedang mengutak-atik motor.


Dewa menghentikan motornya lalu turun dan menghampiri pria itu. Pria yang mengenakan kaos oblong warna abu-abu dan sarung berwarna dasar hitam dengan motif salur itu mengalihkan pandangannya kepada Dewa yang sedang berjalan mendekatinya.


Dewa melemparkan senyum kepada pria itu dan terus berjalan mendekatinya. Pria itu mengerutkan keningnya mencoba mengingat. Hingga keduanya berdiri berhadapan.


"Assalamualaikum," sapa Dewa.


"Waalaikum salam," balas pria itu. Matanya masih mengamati pria tampan berambut gondrong sebahu dengan aksesori metal di lengan dan lehernya. Masih berusaha keras untuk mengingat wajah yang terasa familier itu.


Dewa melemparkan sebuah senyuman. "Kaifa haaluk (Bagaimana kabarmu?, Fahri?"


.


.


.


.


Ketemu Deka mah nanti aja, ketemu Fahri aja dulu. 😁😁.


Kaifa haaluk, ini klu untuk sosok Dewa. Jadi sebenarnya Dewa ini siapa ya??

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan sahabat semua. Alhamdulillah pembacanya semakin banyak. Terus dukung cerita ini ya dari karya author remahan remukan astor ini. Dengan selalu me-Like. Minimal kasih Like ya. Lebih bagus lagi kalau mau komen, atau kasih hadiah n vote😅 agar othor semangat.


__ADS_2