Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Extra part 5


__ADS_3

"A, maafin Neng, ya." Mimin yang telah terbaring di ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Dewa.


"Neng, ngomongnya jangan gitu, ah! Aa ga suka!" seru Dewa balas menggenggam erat tangan Mimin.


"Neng 'kan cuma minta maaf," ujar Mimin seraya  meringis menahan sakit di perutnya.


"Jangan minta maaf, karena Neng ga pernah salah. Pokoknya Neng sama si kembar harus selamat dan sehat walafiat." Dewa mengecup tangan Mimin. "Yang kuat ya, Sayang. Dulu Neng bisa melahirkan Syad tanpa aa. Sekarang ada aa di sini, Neng harus lebih kuat."


Mimin tersenyum menatap Dewa. "Makasih yah, A. Udah ada di sini menemani, Neng."


Dewa mengecup lembut kening Mimin. "I love you, Sayang."


"Love you too."


"Aduh kalian jangan gitu ah. Mama jadi takut. Mending kita berdoa aja. Kamu udah solat belum, Wa. Solat dulu sana!"


"Ya udah, Dewa mau solat dulu. Titip Mina, Mah."


Saat Dewa keluar ruangan ia berpapasan dengan dokter yang akan menangani proses persalinan Mimin.


"Dok, tolong istri saya," mohon Dewa pada dokter.


"Kami akan berusaha. Tenang ya, Pak. Percayakan pada kami." Dokter itu menepuk pundak Dewa. "Insyaallah kami akan melakukan yang terbaik."


"Oya, untuk antisipasi siapkan golongan darah yang cocok untuk pasien. Sekedar antisipasi saja, berjaga-jaga jika ada kondisi darurat yang membutuhkan transfusi darah," lanjut dokter itu.


"Golongan darah ibu Jasmina Zahra AB Rhesus positif. Jika ada yang sama dengan golongan darah tersebut, boleh mendonorkan darahnya. Sebagai antisipasi kosongnya golongan darah tersebut. Sebab ini hari libur jadi kantor PMI juga libur," terang perawat yang mendampingi dokter.


Dewa mendengarkan dengan saksama penjelasan perawat. Ia kemudian teringat pada Ririn dan Deka. Kemungkinan golongan darah Ririn sama dengan Mimin karena mereka saudara kembar. Seingatnya Deka juga memiliki golongan darah AB sama seperti Mimin.


"Berapa jam lagi jadwal operasinya, Dok?"


"Kira-kira satu jam lagi ya, Pak."


"Baik, Dok. Terima kasih infonya."


"Iya, sama-sama, Pak. Kami permisi dulu." Dokter dan perawat berlalu meninggalkan Dewa.


Dewa segera menghubungi nomor Deka. Deka dan Ririn tidak ikut ke rumah sakit karena menjaga Syad di rumah.


"Halo, Wa. Bagaimana keadaan Mimin? Bayinya udah lahir? Selamat dan sehat semuanya 'kan?" Ririn yang menjawab panggilan telepon dari Dewa langsung memberikan berondongan pertanyaan.


"Belum. Satu jam lagi operasinya. Oya, Rin ... golongan darah kamu sama ga ya sama Mina? Kita perlu donor darah AB untuk antisipasi jika ada keadaan darurat."

__ADS_1


"Aku ga pernah cek golongan darah. Tapi mungkin saja sama karena kami 'kan kembar."


"Mau ya Rin, kamu mendonorkan darah untuk Mina?"


"Ya ampun Wa, ga usah diminta juga pasti aku bersedia. Terus gimana? Aku harus ke rumah sakit sekarang?"


"Syad, lagi apa?"


"Baru bangun tidur, tuh lagi digendong sama Abang."


"Ya sudah kalau Syad udah dimandiin, nanti kamu ke sini ya. Kalau bisa Syad ga usah diajak ke rumah sakit. Kalau Opi ga ada kegiatan kampus, Syad titipin ke Opi aja."


"Iya, sebaiknya gitu."


"Ya udah gitu aja ya, Rin. Makasih ya."


"Sama-sama. Semoga persalinannya lancar, Mimin dan bayinya sehat dan selamat."


"Amin Allahumma Amin. Makasih ya, Rin. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


*****


POV Dewa.


Alhamdulillah, lega rasanya. Tak henti-hentinya kuucap syukur pada-Nya atas lancarnya proses persalinan Mina istriku. Meskipun sempat ada drama mendebarkan karena tak mendapatkan pendonor darah.


Ririn yang memiliki golongan darah sama dengan Mina, namun tak dapat mendonorkan darahnya sebab memiliki tekanan darah rendah. Bang Deka yang jelas-jelas memiliki golongan darah yang sama, namun menolak untuk mendonorkan darahnya. Beruntung proses persalinan lancar dan pada akhirnya tak membutuhkan transfusi darah.


Entah, ada apa dengan Bang Deka. Dia tak mengungkapkan alasan tak mau mendonorkan darahnya. Yang terjadi selanjutnya malah keributan antara Ririn dan Bang Deka dikarenakan menolak menjadi pendonor darah untuk Mina. Biarlah, mungkin karena mereka masih pengantin baru. Keributan kecil seperti itu biasa.


Kukecup kening wanita hebat luar biasa yang telah mengantarkan anak-anakku lahir ke dunia. Deru haru sempat menyambangi kalbu kala mengingat bagaimana perjuangan Mina saat melahirkan Syad tanpa aku berada di sisinya.


Bagaimana Mina begitu kuat dan tegar melahirkan dan merawat Syad tanpaku. Betapa besar keyakinannya bahwa aku akan kembali. Dan begitu setianya ia menunggu di saat dunia telah menganggapku tiada.


Ya Allah terima kasih karena telah memberikan wanita terbaik untukku.


"Cantik banget ini, mirip bundanya," kata Mama yang tak henti tersenyum sembari menggendong salah satu dari si Kembar. Akhirnya keinginannya untuk memiliki cucu perempuan terwujud. Malah langsung dapat dua.


"Syad mana A?" tanya Mina padaku. Raut keletihan tampak di wajah cantiknya meskipun binar bahagia juga terlukis di sana.


"Sebentar lagi Syad ke sini sama Opi, Abah dan Mami," sahutku.

__ADS_1


"Min, maaf ya soal ...." ujar Ririn namun langsung kupotong saja ucapannya.


"Ssst, udah jangan dibahas!" Aku memberi isyarat agar Ririn tak membahas soal drama donor darah tadi.


Lagipula Mina memang tak mengetahui hal itu. Sengaja aku tak menceritakan soal dokter yang menyuruh untuk mempersiapkan donor darah


Aku tak mau membebani pikirannya sebelum masuk ruang operasi tadi.


"Sekarang Deka ke mana?" lontar Mama yang juga mengetahui soal penolakan Bang Deka menjadi pendonor darah untuk Mina.


"Gak tahu," sahut Ririn.


"Ya, sudahlah. Biarkan saja nanti mama akan bicara sama dia." Mama berucap kesal.


"Jangan, Mah. Jangan ikut campur urusan rumah tangga anak, ga baik. Dewa yakin Bang Deka lagi punya masalah tapi dia ga mau cerita. Biarlah, tunggu sampai dia mau cerita sendiri. Mama ga usah maksa-maksa Bang Deka buat ngomong," kataku.


Sesaat kemudian Abah, Mami, Opi dan Syad datang. Membuat suasana ruang kamar perawatan ini semakin ramai. Obrolan Mama dan Mami yang heboh ditambah celoteh si sulungku. Begitu datang, Syad langsung minta rebahan di dekapan bundanya. Maafkan ayah ya, Nak. Karena sudah memberikan dua orang adik di usiamu yang masih kecil.


"Aduh, Syad jangan ganggu bunda. Bundanya masih auh perutnya," cegahku saat Syad memaksa merangsek mendekati bundanya.


"Sini, Syad gendong sama Mom aja," bujuk Ririn. Karena Syad memanggil Bang Deka dengan sebutan Daddy, maka sejak awal Mina mengajarkan Syad memanggil Ririn dengan sebutan Mommy.


"Cama ayah ada, boyeh?" (Sama ayah aja, boleh?)


"Yuk, gendong sama ayah aja." Aku meraih Syad dalam gendongan.


"Udah diazani bayinya, Ding?" tanya Abah.


"Udah, Bah." Sedih rasanya saat mengingat dulu aku tak bisa mengazani Syad.


"Siapa namanya si duo cantik ini?" tanya Opi.


"Syakira Azzahra dan Safiyaa Azzahra."


.


.


.


.


Tes, masih ada yang kangen ga ya sama Dewa dan Mina?

__ADS_1


Ada yang nungguin cerita Bang Deka, ga ya?


Insyaallah nanti ada ya judul baru cerita Bang Deka.


__ADS_2