Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Bertemu Sahabat


__ADS_3

Dewa melemparkan sebuah senyuman. "Kaifa haaluk (Apa kabar), Fahri?" ucap Dewa dalam bahasa Arab.


Ya, pria bersarung yang disapa Dewa adalah Fahri.


"Alhamdulillah, ana bikhair (Alhamdulillah, aku baik-baik saja)," jawab Fahri.


Sesaat Fahri masih belum mengenali Dewa. Hingga kemudian Dewa berucap, "Sabar itu memang berat karena hadiahnya surga, coba kalau gampang hadiahnya paling kipas angin."


Fahri tergelak. "Hahahaha...."


Kemudian ia membalas ucapan Dewa, "Mau anak orang kaya, mau anak orang miskin semuanya sama... sarungan."


Kini gantian Dewa yang tergelak. "Hahahaha..."


"Iyan...!" seru Fahri.


Dewa mengangguk. "Na'am."


Mereka berdua lalu berpelukan dengan penuh suka cita, layaknya seorang sahabat yang lama tak bersua.


"Iyan... Masha Allah tabaraqallah," ucap Fahri sambil menepuk punggung Dewa. Mereka masih dalam posisi berpelukan.


"Wafiika barakalllah," balas Dewa.


"Sudah berapa lama kita ga bertemu ya?" tanya Fahri yang kini sudah melepaskan pelukannya.


"Tujuh atau delapan tahun lah," jawab Dewa.


"Ana benaran pangling hampir ga mengenali antum. Penampilan antum sekarang beda banget. Ana pikir kedatangan rocker loh," seloroh Fahri.


"Antum juga, dulu masih kelimis sekarang udah berjenggot," balas Dewa.


"Jenggot lima lembar doang. Yang penting memelihara sunnah. Hehehe...." ujar Fahri sambil terkekeh.


"Hahahaha..." Dewa tergelak. Emang ada jenggot lima lembar doang. Batinnya.


"Ayo Yan, masuk. Ini rumah ana... maksudnya rumah orang tua. Biarpun rombeng yang penting Baiti jannati," tutur Fahri.


Dewa pun masuk ke dalam rumah bercat hijau yang catnya sudah terkelupas di banyak bagian. Pintu utama rumah yang sudah tidak ada gagangnya. Plafon eternit yang sudah banyak bolong-bolong. Dan lantai rumah yang masih menggunakan tegel, bukan keramik apalagi marmer. Rumah yang sangat sederhana.


"Begini lah, tempat tinggal ana, Yan. Jauh banget sama rumah antum," kata Fahri yang memang pernah sekali diajak untuk menginap di rumah Dewa.


Kedua pria itu, Fahri dan Dewa dulu bersahabat erat. Saat mereka masih ABG, saat masa-masa menjelang akil balig sampai akil balig. Fahri dan Dewa dahulu mondok di pesantren modern yang sama di daerah Lebak Banten. Mereka teman sekelas, sebangku bahkan sekamar.


Ketika orang tua Dewa bercerai, Dewa ikut dengan Bu Dewi, Mamanya. Ia juga tinggal bersama nenek yang selalu menyayangi dan merawatnya ketika mamanya pergi bekerja. Namun kemudian neneknya meninggal dunia saat ia lulus SD. Karena kesibukan Bu Dewi sebagai wanita karier, membuat ia tidak bisa memberikan perhatian penuh kepada Dewa. Sehingga memutuskan untuk memasukkan Dewa ke pondok pesantren.


Fahri yang masuk pesantren dengan jalur beasiswa sebagai anak yatim merasa nyaman dan tak pernah minder bersahabat dengan Dewa yang adalah dari kalangan keluarga berada.


Dewa banyak membantu Fahri khususnya masalah keuangan. Sedangkan Fahri banyak membantu Dewa yang notabene masuk pesantren dengan dasar ilmu agama yang lemah. Karena hanya neneknya lah yang mengajarkan ilmu agama. Itu pun hanya dasar-dasarnya saja.


Mereka saling melengkapi sebagai seorang sahabat. Bagi Dewa, Fahri adalah guru terbaiknya. Karena bimbingan Fahri, dan juga kecerdasan Dewa yang terhitung lumayan meski tidak brilian, membuat Dewa mampu mengikuti pelajaran selama belajar di pesantren walau tanpa dasar ilmu agama yang kuat. Meskipun prestasi akademiknya tidak secemerlang Fahri.


Mereka berdua terhanyut dalam obrolan seru tentang kehidupan masing-masing. Saking serunya, Fahri sampai lupa untuk menanyakan tempat tinggal Dewa bahkan mereka luput dari  saling tukar nomor telepon.


Hingga kemudian terdengar dari pengeras suara masjid, suara anak-anak kecil bersalawatan pertanda magrib akan menjelang.


Dewa pun berpamitan.


"Nanti kapan-kapan main ke sini lagi, Yan," ujar Fahri. Iyan adalah nama panggilan Syadewa Argian ketika di pondok pesantren.


"Insyaallah nanti kalau ada waktu luang, aku main ke sini lagi," ujar Dewa sebelum melajukan motornya.

__ADS_1


"Barakalllah fiik, ya Akhi," ucap Fahri. (Semoga Allah memberkahi dirimu).


"Wafiika barakalllah," balas Dewa. (Semoga Allah juga membeekahi dirimu).


"Assalamualaikum," ucap Dewa.


"Waalaikum salam. Fii amaanillah, akhi." (Semoga dalam lindungan Allah, saudaraku).


*****


Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya. Sinarnya terasa meresap hangat di kulit Dewa yang sedang menjemur pakaian yang baru saja selesai dicucinya. Bersamaan dengan Mimin yang juga akan menjemur pakaian.


"Apa masih ada yang kosong?" tanya Mimin. Ini adalah kali pertama Mimin membuka pembicaraan dengan Dewa.


"Eh, iya, kenapa?" Dewa tak menyangka Mimin akan berbicara padanya. Sehingga membuat indra pendengarannya tak dapat menangkap dengan sempurna kalimat yang diucapkan Mimin.


"Apa masih ada yang kosong? Apa masih ada tempat untuk menumpang menjemur?" tanya Mimin.


"Oh, ada... masih luas kok. Orang aku cuma nyuci dua stel baju doang. Hehehe..." jawab Dewa sambil cengengesan.


Jangankan tempat jemuran. Hatiku aja masih kosong. Gumam Dewa dalam hati.


"Aku boleh numpang ini ya," ucap Mimin menunjukkan cuciannya.


"Silakan," jawab Dewa dengan melemparkan sebuah senyuman pesonannya.


Mimin pun mulai menjemur sisa cuciannya. Dewa memperhatikan Mimin yang tengah menjemur beberapa kerudungnya.


"Kerudung merah itu sepertinya kerudung favorit kamu ya, Min?" tanya Dewa seraya menunjuk kerudung merah yang sangat dihafalnya. Kerudung yang dipakai Mimin saat pertama kali bertemu dengannya.


"Kerudung peninggalan almarhumah ibuku," jawab Mimin.


"Oooh..." Jawaban Dewa sangat singkat. Namun di dalam hatinya sungguh ia sedang berjingkrak kegirangan karena Mimin mau menjawab pertanyaannya. Ini tentu hal yang luar biasa baginya, mengingat  beberapa hari ini komunikasi dirinya dengan Mimin berada dalam kemunduran dan sangat buruk.


"Wa...!!" seru Sol yang sukses menyerakkan kata-kata yang sudah terangkai untuk membuat satu kalimat seindah mungkin.


"Apa sih?!" geram Dewa.


"Wa... ini CD lo kan?" Sol mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil mengibaskan celanadalam pria merek 'TG Man'.


"Kayaknya ketuker deh. Lo pake celana dalem gue tuh," sambung Sol yang berbicara tanpa dosa.


Mimin yang melihat Sol mengibaskan ce lana dalam pria langsung tertunduk dan mengayun langkah cepat masuk ke dalam rumah.


Sumpah demi apa saja, tingkah Sol membuat Dewa geram, rasanya ingin sekali menendang bokong Sol sekeras mungkin hingga ia terpental ke atas dan menyangsang di atas puncak tertinggi pohon mangga. Merusak suasana. Hadeuh.


*****


 


Sol melakukan aktivitas kesehariannya, berjualan jilbab dan kerudung di kios milik ayahnya. Dan ia sedang ditemani oleh Dewa yang kebetulan sedang libur bekerja. Dewa mendapat jatah libur hari Jumat. Untungnya hari Jumat kali ini bertepatan dengan tanggal merah.


"Sol..."


"Hemmm..."


"Itu kios yang depan jualan baju koko dan sarung ya?"


"Hemmm..." Sol yang merasa mengantuk, merebahkan kepalanya di atas meja. Dan menjawab pertanyaan dengan ber-hemm saja.


"Gue pengen beli baju koko dan sarung deh."

__ADS_1


"Buat siapa?"


"Buat gue lah!"


"Tumben amat lo mau pake baju koko dan sarung. Emangnya lo kerja mau pake koko?? Lo kerja mau sarungan??"


"Ya enggak lah. Masa iya gue kerja pake baju koko dan sarung."


"Terus buat apa?"


"Buat salat lah."


"Hah... Apa??!" Sol yang sedang mengantuk seketika merasa segar dan terbangun. Terkaget-kaget dengan ucapan Dewa.


 *****


Matahari telah merangkak naik dan berada di puncak tertinggi di hari Jumat yang cerah ini. Setelah sekitar dua jam menemani Sol berjualan jilbab dan kerudung, Dewa memilih untuk pulang. Kini ia sudah berada di kontrakannya.


Dewa yang merasa suntuk, akhirnya mengambil gitar lalu memainkannya. Ia memetik gitar sambil bernyanyi.


Mimin oh...


Mimin oh...


Mimin I love You...


Mimin oh...


Mimin oh...


Mimin I love You...


(Sepenggal lirik lagu Mimin I love You. Penyanyi: Sule)


“Kamu...!!” bentak Mimin. Yang tanpa disadari, sudah ada di depan Dewa.


Dewa yang sedang duduk di atas lantai sambil memegang gitar, di ruang tamu dengan pintu yang terbuka, seketika terperanjat dengan kedatangan Mimin. Lalu ia meletakkan gitarnya dan segera berdiri.


“Kalau kamu memang tidak mau salat Jumat ... setidaknya diam jangan berisik!! Bukannya malah genjrang-genjreng sambil nyanyi ga jelas,” hardik Mimin.


Setelah memarahi Dewa, Mimin membalikkan tubuhnya. Ia baru saja akan melangkahkan kakinya, namun Dewa malah menarik tangannya. Hingga membuat tubuh Mimin terjerembab menubruk tubuh Dewa. Untung saja Dewa bisa menahan tubuhnya dan tubuh Mimin sehingga keduanya tidak terjatuh.


Namun tubuh Mimin terlanjur jatuh dalam pelukan Dewa. Jarak mereka terlanjur berdekatan. Tubuh mereka terlanjur bersentuhan. Tangan mereka terlanjur berpegangan. Mata mereka terlanjur bertatapan.


Hingga...


PLAK...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Dewa.


.


.


.


.


.


 

__ADS_1


 


__ADS_2