Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Tidak Akan Pernah Menyesal


__ADS_3

"Teteh cemburu ya lihat Opi dekat-dekat Ka Dewa??!”


Mimin tersentak. Ia tak mengira Opi akan berpikir seperti itu.


Mimin menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Kini ia dalam posisi berdiri dan berhadapan dengan Opi.


"Kenapa Opi berpikir seperti itu? Kenapa Teteh harus cemburu sama dia," ujar Mimin seraya menatap Opi. "Opi tentu sangat mengenal Teteh kan?" sambungnya.


Opi bergeming. Ia memahami maksud perkataan Mimin. Bahwa Dewa bukanlah pria idaman kakaknya. Ia sangat mengenali kakak perempuan satu-satunya itu tentang kesukaannya, phobia-nya juga pria idamannya.


"Itu karena Teteh sayang Opi. Teteh ga mau adik Teteh yang manis ini mengalami nasib seperti Sri, Mila, Asih atau siapa lagi di kampung ini yang bernasib seperti itu," tutur Mimin.


"Teteh terlalu berlebihan. Opi bukan gadis seperti itu Teh," sahut Opi.


Nama-nama yang disebutkan Mimin adalah gadis-gadis di kampungnya yang salah pergaulan lalu hamil di usia belia bahkan ada di antaranya yang tidak dinikahi oleh pria yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Teteh percaya Opi gadis baik. Tapi Teteh belum percaya dengan laki-laki itu. Kita belum lama mengenalnya. Teteh takut kalau..."


"Teh... Opi percaya Ka Dewa adalah laki-laki yang baik. Lagi pula Teteh ga usah khwatir, karena Opi bisa menjaga diri. Teteh lupa kalau Opi ini juara pencak silat PORCAM (Pekan Olahraga Kecamatan)."


Mimin tersenyum menatap adiknya. "Iya Teteh percaya."


Opi balas tersenyum. Lalu Mimin memeluk Opi dan mereka berpelukan dengan hangat. Kemudian mereka melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah.


"Opi tetap harus ingat bahwa sungguh tidak baik rasanya kalau seorang wanita sering berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Opi paham kan?" ujar Mimin sebelum Opi masuk ke dalam kamarnya.


"Iya. Opi tahu itu Teh. Insyaallah Opi tahu batasannya," sahut Opi.


"Ya udah tidur gih, besok kan kamu sekolah."


"Iya Teh. Tapi mau genjreng-genjreng dulu bentar," kata Opi sambil menunjukkan gitar milik Dewa yang sedang dibawanya.


Mimin membalas dengan sebuah anggukan dan senyuman.


 


*****


 


"Si Opi itu kelihatannya ngebet banget sama lo, Wa," ucap Sol yang sedang berbaring di atas kasur busa merek "Inoca" tanpa ranjang di dalam kamar mereka.


"Gua ngejar Tetehnya ... yang lengket malah adiknya," keluh Dewa. Ia sedang duduk di atas kasur busa yang sama sambil membuka amplop putih berisi uang gajiannya.


"Ya udah, lo sama Opi aja. Biar gue yang ngejar Mimin," ujar Sol. Matanya fokus pada layar tv tabung 21 inch yang dua minggu lalu dibeli Dewa. Meski tv bekas, tapi gambarnya masih bagus. Lumayan untuk menghilangkan rasa suntuk.


"Sok aja kalau bisa. Mimin itu seperti belut tidak mudah ditangkap dan dipegang," kata Dewa.


Sol yang berniat meledek Dewa tiba-tiba mengurungkan niatnya karena melihat Dewa sedang menghitung uang. "Lo udah gajian, Wa?" tanyanya.


"Udah."


"Dapat berapa?" tanya Sol kepo.


"Gajinya dua juta. Tiap hari dapat uang makan goban (lima puluh ribu rupiah) kecuali hari libur. Tapi kalau gue, uang makannya diambil mingguan," terang Dewa.


"Masih gedean uang jajan yang dikasih nyokap lo, kan?"


"Ho oh."

__ADS_1


"Dewa Dewa... padahal lo enak bokap nyokap lo tajir. Tiap bulan dikasih uang jajan gede. Malah pake kabur dan hidup seadanya seperti ini. Ga nyesel lo kabur dari rumah?" kata Sol.


"Seumur hidup gue ga akan pernah menyesal Sol. Karena kaburnya gue dari rumah telah memperjumpakan gue dengan Mimin," ucap Dewa dengan tatapan menerawang lalu senyum-senyum sendiri karena mengingat awal pertemuannya dengan Mimin.


"Berjumpa doang tanpa memiliki sama dengan patah hati," seloroh Sol.


"Ga ada kata patah hati sebelum Mimin ada yang memiliki," balas Dewa mantap.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Sol terisak.


"Sol gue tahu, lo soulmate gue. Tapi ga usah nangisin gue kayak gitu juga," ujar Dewa.


"Gue ga nangisin lo. Gue nangisin itu." Sol menunjuk layar tv yang menayangkan sinetron "Kumenangis  Membayangkan".


"Padahal cantikan istrinya daripada pelakor, tapi malah milih pelakor," ujarnya.


"Heuu... Kirain nangis kenapa. Kayak emak-emak aje lo." Dewa menoyor kepala Sol.


 


******


 


Mimin sedang duduk di teras menunggu driver ojek online datang ketika seorang pria berpeci  menyapanya.


"Assalamualaikum," sapa pria berpeci itu.


"Waalaikum salam." Mimin yang semula sedang menunduk fokus pada permainan Worm Zone di ponselnya kemudian mengangkat wajahnya. "Ustaz Fahri," gumamnya.


Pria yang bernama Fahri itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Mimin. "Apa kabar, Min?" sapanya seraya mengatupkan kedua tangannya sebagai pengganti berjabat tangan.


"Alhamdulillah." Fahri tersenyum. "Oya aku datang ke sini mau menyampaikan jadwal pengajian bulanan," jelasnya.


"Oh, iya kapan itu?" tanya Mimin.


"Insyaallah nanti hari minggu besok," jawab Fahri.


"Sekarang kan hari kamis, berarti minggu besok ini?"


"Betul." Fahri mengangguk.


"Baik. Insyaallah nanti akan datang kalau tidak ada halangan."


"Tolong sampaikan pada akhwat yang lainnya ya."


"Insyaallah, Ustaz."


"Kalau di luar kegiatan pengajian, ga usah panggil Ustaz... panggil Fahri aja. Kita kan teman sekelas waktu di SD dulu," protes Fahri.


Mimin tersenyum. "Iya Usatz. Eh... Fahri."


Fahri balas tersenyum. "Nah, begitu lebih enak didengar. Cukup panggil Fahri saja," ujarnya.


Tak berselang lama sebuah motor yang dikendarai oleh pria berjaket hijau tiba dan berhenti di halaman rumah Mimin. "Atas nama Mimin??" tanya si Driver.


"Iya, Pak. Tunggu sebentar ya Pak," jawab Mimin.


"Kamu mau berangkat kerja, Min?" tanya Fahri.

__ADS_1


"Iya," jawab Mimin lembut.


"Naik ojek online?" Mata Fahri tertuju pada driver ojek online yang sedang menunggu Mimin.


"Iya. Aku ga bisa bawa motor sendiri," ujar Mimin.


"Sebaiknya sih yang mengantar itu mahram kamu. Bisa berangkat sama Opi atau Abah," saran Fahri.


"Opi sudah berangkat ke sekolah. Kalau Abah berangkatnya siang," tutur Mimin.


"Atau cari driver yang wanita."


"Agak sulit untuk mendapatkan driver wanita."


"Wah kalau begitu semoga ada yang segera menghalalkan kamu agar bisa mengantar kamu kemana-mana tanpa harus naik ojol bersama driver pria," ujar Fahri.


Mimin tersenyum simpul. "Amin. Terima kasih atas doanya Ustaz," ucap Mimin.


"Loh kok panggil Ustaz lagi," protes Fahri.


"Bukannya Ustaz sedang memberikan tausyiah ya?"


Fahri terkekeh. "Bukan sedang tausyiah. Hanya sedang mengkhawatirkan kamu," ucapnya.


Mimin tersenyum menunduk. Sungguh ucapan Fahri bagai harmoni indah yang menyentuh kesyahduan hatinya.


"Kalau begitu saya pamit ya, Min. Hati-hati ya berangkat kerjanya," ucap Fahri.


"Iya, terima kasih Fahri," balas Mimin.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Tunggu Fahri!" seru Mimin karena baru menyadari satu hal. "Kamu mau ke madrasah kan? Ga bawa motor?" tanyanya.


Fahri adalah seorang pengajar di yayasan pondok pesantren Darul Muttaqin yang terletak di kampung sebelah, yaitu kampung Cihejo.


Fahri menggeleng. "Enggak. Motornya lagi ngadat," ucapnya lalu tertawa sumbang. "Maklum motor bobon, hehehe."


"Mau aku pesankan ojek online," tawar Mimin.


"Tidak usah, Min. Terima kasih. Jalan aja ... deket ini. Sekalian olahraga pagi," jawab Fahri diiringi senyum. Padahal jarak antara kampung Cibening dan Kampung Cihejo terhitung lumayan kalau ditempuh dengan berjalan kaki.


"Ya sudah Min. Saya duluan ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah Fahri pergi, Mimin menghampiri driver ojek yang sudah menunggunya. Lalu naik dan duduk di jok belakang. Dan motor pun melaju.


Dari dalam kontrakan, melalui tirai jendela yang dibuka sedikit, Dewa memperhatikan Mimin dan Fahri sejak tadi.


"Itu kan...." Keningnya mengernyit pertanda ia sedang berpikir. "Fahri. Ya, dia Fahri," ucapnya yakin.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2