
"Min... kamu beli ayam juga?" tanya Dewa.
"Iya, pesanan Mami," jawab Mimin. Pandangannya tertuju pada plastik yang ditenteng oleh Dewa.
"Aku juga beli kebutuhan dapur nih. Ada ikan, ayam, tempe, tahu, sama bumbu dapur," tutur Dewa seraya menunjukkan kantong plastik yang ditentengnya.
"Buat stok di kulkas ... biar lebih hemat. Namanya juga hidup bagai angka satu," sambungnya.
Padahal Ia tinggal berdua dengan Sol, kenapa malah hidupnya terasa bagai angka satu. Lantas, Sol dianggap apa. Baginya Sol adalah soulmate. Soulmate tentu berbeda dengan pasangan hidup. Soulmate adalah teman atau sahabat yang selalu datang untuk membantu, menjadi teman dalam suka maupun duka. Sedangkan pasangan hidup adalah seseorang yang kelak suatu hari nanti akan menjadi pendamping dan menjalani hubungan penuh cinta seumur hidup dengannya. Begitu pendapatnya.
Mimin tersenyum geli meski samar. Tidak, sesungguhnya Ia sedang tergelak namun hanya dalam hati. Dan hanya sebuah senyuman yang akhirnya terbit dari bibirnya. Kalau tidak salah "angka satu" adalah judul lagu dangdut yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Caca Handika. Memangnya pria berpenampilan Rocker itu mengenal lagu angka satu. Baginya hal itu sangat menggelikan membuat ia terkekeh sendiri. Dalam hati sendiri.
"Siapa yang masak?" tanya Mimin. Ia menerima sekantong daging ayam dari penjual ayam lalu memberikan selembar uang seratus ribuan kepada penjual ayam sebagai pembayarannya. "Ini Mang ... uangnya," ucapnya.
"Dua kilo jadi enam puluh empat ribu... kembalinya tiga puluh enam ribu ya Neng geulis," sahut Penjual daging ayam. Lalu memberikan uang kembalian kepada Mimin.
"Terima kasih, Mang," ucap Mimin lalu meninggalkan meja penjual daging ayam.
"Sama-sama Neng geulis," balas Penjual ayam.
"Yang masak kadang aku, kadang Sol. Masak juga yang gampang aja, paling ngungkep ayam biar nanti tinggal digoreng. Makan dengan ayam goreng dan sambal udah nikmat banget kok," jawab Dewa. Ia menyejajarkan langkahnya berjalan di samping Mimin.
"Wah itu sawi segar-segar amat." Pandangan mata Dewa menunjuk ke pedagang sawi hijau segar yang sedang menggelar dagangannya beralaskan material sejenis terpal.
"Mau ah ... buat bikin mi instan, nanti tinggal beli baksonya." Ia menghampiri penjual sawi dan mulai memilih sawi yang paling bagus dan segar. "Kamu mau juga, Min?" tanyanya.
"Iya," jawab Mimin singkat. Namun sesungguhnya Ia sedang terpukau pada pria tampan bergaya urakan yang terlihat begitu antusias memilih sawi hijau yang segar di antara yang segar-segar. Bukan seperti pria kebanyakan.
Mimin ikut berjongkok di samping Dewa. Memilih sawi hijau segar yang juga tercatat di daftar catatan belanjaan. Mami berencana membuat mi goreng telur sawi hijau.
Dua insan itu melakukan kegiatan berbelanja bersama di pasar tradisional. Lebih tepatnya, Dewa yang sudah selesai membeli segala kebutuhan dapurnya menemani Mimin berbelanja. Membeli semua yang ada di daftar catatan belanja. Hingga yakin tak ada satu pun yang terlewatkan dari catatan belanjaan itu lalu bergegas untuk pulang.
"Aku bantu bawakan belanjaannya, ya," tawar Dewa. Mereka telah menyelesaikan misi berbelanja di pasar.
"Ga usah ... terima kasih," tolak Mimin. Padahal sesungguhnya ia merasa kerepotan dengan beberapa kantong plastik yang ditentengnya. Banyak dan berat. Namun rasa gengsi dalam dirinya terasa lebih berat dibanding kantong plastik belanjaannya. Membuatnya enggan untuk menerima tawaran pria yang juga sedang menenteng beberapa kantong plastik itu.
Mimin berjalan agak terburu-buru. Karena setelah kegiatan berbelanja ini, ia harus pergi bekerja. Juga karena pria yang berjalan di sisinya telah membuat jantungnya berdetak lebih cepat dua kali lipat. Membuat fokusnya ambyar. Hingga kakinya tanpa sengaja menginjak ujung gamisnya sendiri. Lalu tubuhnya terhuyung ke depan dan pasti terjatuh jika saja pria yang sedang berjalan di sisinya itu terlambat menangkapnya.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap Dewa ketika kedua tangannya refleks menangkap gadis cantik berkerudung merah. Kerudung yang sama dipakainya ketika insiden pertemuan pertama mereka.
Mimin menatap kedua tangan Dewa yang masih menyentuh lengan kanan dan lengan kirinya.
"Maaf," ucap Dewa yang selalu memahami arti sorot mata Mimin yang seolah berkata, "Lepas tanganmu!"
"Sini, makanya aku bawakan." Dewa mengambil paksa sebagian kantong plastik yang ditenteng Mimin.
"Nah, kalau begini 'kan lebih ringan. Kamu jadi tidak kerepotan," imbuhnya seraya tersenyum.
"Terima kasih." Akhirnya Mimin menyetujui pria itu membantunya membawa sebagian kantong plastik belanjaannya.
"Sama-sama," balas Dewa, juga diiringi sebuah senyuman yang pastinya menawan.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Melewati hiruk pikuk aktivitas jual beli. Mendengar seruan pedagang dalam menawarkan dagangannya. Mendengar percakapan tawar menawar antara penjual dan pembeli. Menikmati keramaian pasar. Hingga sampai pintu keluar pasar.
"Kamu tadi sama siapa ke sini?" tanya Dewa. Mereka sedang berjalan menuju tempat parkir.
"Tadi naik angkot," jawab Mimin. Ia merogoh tas kecil warna hitam milik Mami. Tas kecil usang yang biasa dibawa Mami jika pergi ke pasar. Untuk menyimpan ponsel dan dompet.
"Kita pulang bareng aja yah. Aku bawa motor Sol," sambungnya dengan memberikan penawaran dan sungguh akan terasa menakjubkan jika sampai Mimin menerima tawarannya.
Mimin menggelengkan kepalanya, "Tidak usah ... terima kasih. Nanti mau dijemput Opi," jawabnya.
Dewa menghembuskan nafas pelan. Merasa kecewa. Kecewa beberapa saat untuk kemudian tersenyum gembira karena alam semesta hari ini serasa mendukungnya.
Mimin mengutak-atik ponselnya mencari nomor kontak Opi. Hingga ia menemukan kontak "Adikku yang manis" lalu segera melakukan panggilan suara. Tidak sampai bunyi panggilannya berdering berkali-kali, Opi sudah menjawab teleponnya.
"Assalam...." Belum selesai Mimin mengucapkan salam. Di ujung telepon Opi sudah menyahutnya.
"Teh, Opi ga bisa jemput. Ban motornya bocor, harus ditambal dulu."
"Lama ga Pi, nambalnya?"
"Memangnya Teteh mau nunggu?"
"Emm...." Mimin sedang berpikir. Tentu saja ia merasa ragu jika harus menunggu, khawatir terlambat masuk kantor.
__ADS_1
"Ga usah nunggu, takut lama. Ini juga bengkelnya belum ada yang buka. Masih pagi soalnya.”
"Jemput pakai mobil Abah aja."
"Ogah. Mobil bobon gitu sering ngadat. Males bawanya. Kalau mogok di tengah jalan gimana. Opi yang repot."
"Terus Teteh bagaimana pulangnya?"
"Ya Teteh pulang sendiri lah. Naik angkot aja atau naik ojek juga bisa."
"Emm...."
"Dari pada telat masuk kerja."
"Iya udah. Mau gimana lagi."
"Ya udah Teteh hati-hati yah pulangnya. Daaah...."
"Opi... Halo... Halo...."
Tut tut tut tut... Belum selesai Mimin bicara, Opi sudah memutuskan sambungan teleponnya. Ih Opi kebiasaan. Sungutnya dalam hati.
"Ehem...." Dewa berdehem. Sejak tadi ia mendengarkan percakapan Mimin di telepon dengan seseorang yang diduga kuat adalah Opi. Dan ia berusaha menerka isi percakapan tadi, bahwa Opi tidak bisa menjemput Mimin. Tebakannya tentu benar. Dan ini adalah peluang emas untuk kembali melontarkan penawarannya.
"Opi ga bisa jemput ya? Pulang bareng aku aja ya?" tawar Dewa untuk kedua kalinya.
"Engga usah, makasih. Aku na...." Belum selesai Mimin berbicara, Dewa sudah memotong ucapannya.
"Kalau naik angkot waktunya lama, bisa ngetem dulu, muter-muter dulu cari penumpang. Naik ojek online juga kamu harus nunggu dulu. Iya kalau lancar. Kalau ternyata driver-nya ada halangan ban kempes lah, ban bocor lah."
"Ya sudah, aku pulang bareng kamu aja ... kalau tidak merepotkan." Demi mengingat ia harus segera pulang karena waktu jam masuk kantor sudah semakin dekat. Mau tidak mau ia menerima tawaran pria menyebalkan yang kadar menyebalkannya semakin berkurang bahkan mendadak menghilang untuk saat ini. Dan semoga untuk selamanya.
"Tentu tidak merepotkan...." Dewa tersenyum. "Malah senang banget," ujarnya.
Mimin membalas senyum. "Terima kasih."
Sungguh senyuman Mimin yang bagai matahari membuat hati Dewa yang bagai es krim meleleh, lumer, meluber.
__ADS_1