
“Ini motongnya gimana, Neng?” tanya Dewa yang tengah membantu istri tercinta memasak. Tangan kanannya memegang pisau, sementara tangan kirinya memegang sebatang wortel.
Wanita cantik yang tengah mencuci daging ayam itu menoleh sekejap untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang suami.
“Gimana aja lah, sesuka hati Aa aja. Tapi kalau bisa sih potong serong,” sahutnya.
“Oke.” Dewa mulai mengiris wortel setelah sebelumnya mengupas kulit dan memotong pangkal dan akarnya.
Jika ada waktu luang, sebisa mungkin Dewa ikut terjun ke dapur membantu sang istri. Menurut ayah empat orang anak itu, romantisme sesungguhnya adalah kala suami menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan sang istri.
“Ini mau masak sayur sop ya, Neng?” lontar Dewa sembari memotong wortel di atas talenan.
“Iya, kesukaan Aa ‘kan?” Mimin masih mencuci daging ayam di wastafel dapur.
“Iya dong. Aa lebih suka sayur sop daripada bayam. Soalnya kalau bayam bikin enggak bisa tidur.”
Kening Mimin mengerut mendengar pernyataan sang suami yang menurutnya janggal. "Masa bayam bikin enggak bisa tidur? Perasaan baru denger deh."
“Serius, aa kalau makan bayam jadi enggak bisa tidur karena ... terbayam-bayam wajahmu.”
Mimin tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Suaminya itu memang paling jago soal pergombalan.
“Daripada bayam mending toge deh. Biar bisa together with you. Hihihihi.” Dewa cekikikan sendiri setelah menggombal.
Mimin yang sudah kebal dengan gombalan suaminya memilih tidak menyahut. Hanya senyum-senyum saja sembari melakukan aktivitasnya. Ayam yang sudah dicuci bersih, ia masukkan ke dalam wajan untuk diungkep bersama bumbu yang sudah dibuat sebelumnya. Sementara yang dua potong ia sisihkan untuk dimasak bersama sayur sop.
Sembari menunggu ayam matang, Mimin duduk menemani sang suami di meja dapur.
“Kemarin Aa ngomongin apa sih sama Abah? Kok kayaknya serius banget?” Kemarin ba'da isya, Abah memang datang ke rumah dan mengobrol lama bersama Dewa. Mimin menduga perbincangan Abah dan suaminya itu pasti sangat serius. Pasalnya, Abah sampai melewatkan kegiatan bermain bersama anak-anaknya.
“Oh, itu.” Dewa menghela napas panjang seraya melirik pada Mimin yang tampak antusias menunggu jawaban.
“Nunggu, ya?” gurau Dewa setelah terdiam beberapa saat.
“Ih, Aa mah, bercanda aja.” Mimin mendorong pelan bahu suaminya. Sementara Dewa tergelak dalam tawa.
“Kemarin itu, Abah ngomong supaya Aa nyariin jodoh buat Opi,” ungkap Dewa.
“Ngapain dicariin jodoh. Perempuan kayak Opi mah enggak usah dicariin. Dia bisa cari sendiri.” Tentu saja adiknya itu sangat luar biasa. Bahkan, Mimin sangat mengagumi Opi. Selain karena karakternya yang supel dan suka ceplas-ceplos, Opi juga pintar, kuat dan berani. Menurut Mimin, adiknya itu adalah refleksi dari superhero wanita idolanya saat kecil dulu, yaitu Xena. Malahan menurutnya, Opi lebih baik dari Xena karena penampilannya kini. Opi adalah Xena dalam penampilan syar’i.
"Iya sih. Tapi Abah khawatir kalau enggak dicariin, Opi enggak mau nikah lagi.”
__ADS_1
“Terus Aa udah dapet kira-kira siapa laki-laki yang mau dijodohin sama Opi?”
“Udah.”
“Siapa?”
“Fahri.”
“Kenapa Fahri?”
“Loh, enggak papa dong. Dua-duanya kan sekarang singel.”
“Aa lupa, dulu Opi pernah nolak khitbahnya Fahri.”
“Aa yakin waktu itu Opi nolak Fahri karena terpaksa, karena enggak enak sama Bilqis. Begitu pun dengan Fahri, dia juga merasa enggak enak sama keluarga Haqi, maka akhirnya dia menikah dengan Bilqis.” Dewa seolah paham betul dengan situasi beberapa tahun silam. Kisah drama percintaan Opi dan Fahri yang menurutnya seperti drama film India.
“Memangnya menurut Aa mereka bakal cocok? Mereka ‘kan beda banget sifat dan karakternya. Lagian Fahri itu anak pesantren sedangkan Opi bukan.”
“Justru perbedaan loh yang membuat kehidupan pernikahan itu lebih berwarna dan tidak membosankan. Agar saling mengisi dan melengkapi. Terus kalau masalah pesantren, ya enggak masalah. Lagian belajar agama itu bisa di mana saja, enggak harus di pesantren. Karena di akhirat kelak, Allah enggak akan nanya dari mana kita belajar agama. Enggak akan ditulis di jidat nya ‘saya lulusan pesantren'. Karena yang terpenting adalah niat dan amal solehnya.”
“Iya juga sih.” Mimin menopang dagu dengan tangan kanan yang sikunya bertumpu pada meja. Kemudian keningnya mengerut saat melihat sang suami tiba-tiba tergelak dalam tawa. “Aa kenapa ketawa sendiri?”
“Aa tuh kalau ngomongin Fahri, suka inget masa-masa dulu. Aa kalau inget Fahri main bola, pasti ketawa," ujar Dewa usai tawanya terhenti.
“Dulu waktu masih di pesantren ‘kan ada extra kulikuler main bola. Fahri itu kalau main bola nyebelin. Harusnya ‘kan kalau wasit niup peluit, pemain bola itu berhenti. Eh, dia mah enggak. Wasit niup peluit sampe peluitnya ketelen juga enggak akan berhenti, bodo amat. Dia berhentinya kalau dengar suara azan. Hahahaha.” Dewa dan Mimin tergelak dalam tawa.
"Terus dia mah kalau main bola nomor punggungnya pasti 99," ujar Dewa lagi.
"Kok kenapa 99?” tanya Mimin dengan kening mengerut.
“Karena kalau 69 bahaya, takut pada traveling otaknya,” sahut Dewa dengan berbisik di telinga sang istri.
“Ih, Aa!” Mimin memukul pelan lengan Dewa. Meskipun ia tidak mengerti maksud angka 69 itu apa, tetapi tubuhnya mendadak meremang karena ujung hidung Dewa menyentuh daun telinganya saat berbisik.
“Kenapa 99, karena kalau 88 salep kutu air namanya. Hahaha.” Pasangan suami istri itu kembali terbahak.
“Kata Fahri, 99 itu angka Asmaul Husna. Dan yang paling beda nih, kaos bolanya enggak ditulis nama Fahri, tapi ... Hamba Allah.”
"Hahahaha.” Dewa tertawa sembari memukul-mukul meja persis anak SD. Sementara Mimin tertawa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Memangnya Aa kalau main bola biasanya pakai nomor punggung berapa?” tanya Mimin.
__ADS_1
"Aa ‘kan skill main bolanya tingkat interlokal."
"Internasional, A!"
"Eh, iya internasional. Jadi, Aa pake nomor punggung 7 dong, biar kayak CR 7.”
"Oh, Christian Ronaldo?”
"Bukan, Caca Randika.”
“Itu Caca Handika, penyanyi dangdut.” Mimin meringis menahan tawa.
“Terus kalau Aa nge-golin kan langsung selebrasi. Itu sama Fahri enggak boleh. Iyan, jangan pake selebrasi! Enggak baik, itu namanya sombong. Kalau mau, selebrasinya jangan kayak gitu. Yang bener itu selebrasinya sholat sunah dua rakaat.” Dewa tertawa sembari menggelengkan kepalanya berulang. “Pokoknya susah main bola sama ustaz mah.”
“Memangnya kalau nge golin, Aa biasanya selebrasi kayak gimana?”
“Aa mah kalau habis nge golin itu biasanya langsung selebrasi ia salto tujuh hari tujuh malam.”
"Hah?”
“Salto tujuh kali maksudnya,” ralat Dewa.
Iya kali salto tujuh hari tujuh malam, bisa jadi ninja Hatori nanti.
“Makanya pas kemarin ada turnamen kambing cup di kampung Cibening, aa mengusulkan supaya Fahri jadi komentator aja, enggak usah jadi pemain. Alhamdulillah, para pemuda kampung Cibening setuju sama usul aa. Kata mereka, iya biar adem didengarnya kalau Ustaz Fahri yang jadi komentator.”
“Jadi penasaran deh, kalau Ustaz Fahri jadi komentator bola kayak gimana?” lontar Mimin sembari menahan senyum.
“Pastinya diawali dengan bismilah, diakhiri dengan alhamdulilah. Pokoknya mah komentator bola rasa tausyiah karena disisipi kalimat-kalimat toyibah.”
“Udah kebayang ademnya,” sahut Mimin.
“Beuh, adem banget. Pas Fahri jadi komentator, habis Aa nge-golin, malah narasinya begini, subhanallah hamba Allah dengan nomor punggung 7 akhirnya bisa membobol gawang lawan. Terus, aa 'kan protes minta disebut aja nama Dewa biar warga kampung Cibening tahu kalau selain ganteng , aa juga jago main bola. Fahri jawab begini ‘astagfirulloh nggak boleh Dewa, itu namanya riya’. Lagian kamu nge-golin juga atas izin Allah’”
Bahu Mimin berguncang-guncang karena tergelak dalam tawa. Dewa pun turut larut dalam tawa.
“Neng,” panggil Dewa sembari menatap Mimin.
“Hemm," sahut Mimin setelah berhenti tertawa.
"Yang barusan itu kita ngegibah bukan sih?”
__ADS_1
Dewa dan Mimin saling berpandangan lalu keduanya kompak berucap, “astagfirulloh.”