Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Pelukan Sepanjang Malam


__ADS_3

Dewa duduk di atas spring bed empuk dan nyaman yang terbalut bad cover motif bunga warna merah. Ia menatap menelusuri seisi kamar bernuansa pink dan putih yang "cewek banget". Di kamar ini terdapat sebuah rak kecil untuk menyimpan buku, lemari pakaian dan meja rias. Sementara di dinding terdapat jam dinding manis berwarna pink dan sebuah lukisan dengan nuansa putih dan pink.



Netra Dewa tertuju pada sebuah pigura ukuran 4R yang berdiri di atas meja rias. Pigura itu memajang sebuah foto seorang wanita cantik berkerudung merah. Dilihat dari warna foto, bisa ditebak jika itu adalah foto lawas. Dewa meraih pigura itu, lalu menatap lekat gambar wanita cantik berkerudung merah yang wajahnya sangat mirip dengan Mimin.


"Itu foto almarhumah ibuku," sahut Mimin yang baru masuk kamar dengan membawa segelas susu hangat coklat.


Dewa yang semula tertunduk menatap foto dalam pigura itu sontak mengangkat wajahnya sebab kedatangan Mimin. "Ibumu cantik sekali," ujarnya.


Mimin mengayun langkah menghampiri Dewa lalu duduk di hadapannya. "Mami yang menyimpan foto itu di situ. Kata Mami, agar aku tidak melupakan almarhumah ibuku."


"Mami, baik sekali ya. Luar biasa," sahut Dewa.


"Iya, aku beruntung memiliki Mami. Beliau begitu menyayangi aku," ujar Mimin.


Ia mengulurkan tangannya menyerahkan segelas susu coklat itu. "Minum ini dulu, biar tubuh lebih rileks dan tidur bisa nyenyak, dan bangun tidur nanti badan terasa segar," ujarnya.


"Pasti, bangun tidur nanti Aa akan merasa segar karena malam ini bisa tidur bareng Neng Mina nu geulis tea," sahut Dewa seraya mengerlingkan matanya. Membuat Mimin salah tingkah.


"Jangan mikir ke mana-mana, Aa jalan aja tertatih-tatih," sungut Mimin.


"Aih, Neng mikir apa sih? Neng nih yang mikir kemana-mana," gurau Dewa.


Gurauan Dewa membuat Mimin merasa jengah hingga tak sadar memukul lengan Dewa yang memar akibat tendangan Haris.


"Adaaww... Aduuhhh..." pekik Dewa sambil meringis.


"Eh... Ma-maaf, aku ga sengaja. Mana yang sakit?" tanya Mimin khawatir.


"Yang ini nih." Dewa menunjuk lengan kirinya yang terdapat Memar.


"Neng, usap-usap yah A, sambil ditiupin," ujar Mimin.


"Wah ide bagus tuh Neng," ujar Dewa.


Sementara usap-usap yang ini dulu ya Neng, nanti usap-usap yang lain. Gumamnya dalam hati, sambil tersenyum menyeringai.


"Kenapa Aa senyum-senyum sendiri begitu?" cecar Mimin.


"Eh, enggak Neng. Enggak apa-apa, hanya sedang menyesali kenapa aa ga bonyok dari dulu, biar bisa tidur bareng sama Neng Mina dari dulu, ," seloroh Dewa.


"Udah, diminum dulu susunya, terus tidur!" titah Mimin yang merasa jengah karena suaminya itu terus menggodanya.


Dewa menyodorkan gelas berisi susu coklat itu ke mulut Mimin. "Neng, dulu yang minum. Habis itu Aa," ujarnya.


Mimin menuruti kemauan Dewa, ia meminum susu itu, setelahnya Dewa meminum susu itu di bagian gelas bekas mulut Mimin. "Nah, kan rasa manisnya jadi berlipat-lipat kalau begini," guraunya.


Setelah menghabiskan segelas susu hangat, kini keduanya telah berbaring di atas kasur.


Jangan ditanya perasaan Mimin bagaimana, tentu saja hatinya berdegap-degap, jantungnya bertabuh-tabuh membentuk sebuah simfoni kegugupan. Untuk pertama kali tidur berdua bersama seorang pria. Dan ia memilih untuk memejamkan mata meski rasa kantuk tiba-tiba pergi menjauh entah ke mana. Lebih baik berpura-pura tidur. Begitu pikirnya.


Sementara Dewa, ia terpaksa mengekang hasratnya dalam-dalam akibat rasa sakit yang merajai sekujur tubuhnya. Jangankan untuk melakukan kegiatan mewujudkan mimpi-mimpinya selama ini. Untuk menggeser tubuhnya pun ia mengaduh kesakitan. Tidak selamanya keberuntungan berujung pada kenikmatan. Tubuhnya sedang tidak berdaya. S*i*a*l.


"Neng."


"Hemmm."


"Udah tidur?"


"Udah."


"Udah tidur kok ngomong?"


"Keceplosan."


Dengan hati-hati Dewa menggeser tubuhnya, bermaksud untuk memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri menghadap Mimin.


"Awww..." Ia memekik kesakitan sebab lengan kirinya merasa sakit. Membuat Mimin sontak terbangun.


"Kenapa A?" tanya Mimin cemas.


"Aa mau miring kiri tidurnya, biar bisa puas melihat Neng Mina," jawab Dewa sembari meringis menahan sakit. "Rasanya, Aa pengen jadi sayur sisa kemarin," lanjutnya.


"Eh, kenapa?"

__ADS_1


"Biar dihangatkan sama Neng Mina."


Mimin berdecak menanggapi gombalan suaminya itu.


"Kalau sakit, Aa tidurnya telentang aja." Mimin menggeser tubuhnya mendekati Dewa, dan  memiringkan tubuhnya ke kanan menghadap Dewa. Lalu tangan kirinya ia letakkan di atas dada suaminya itu. "Kalau begini, sudah hangat belum?" ujarnya.


Dewa tersenyum sumringah. "Peluk Aa sampai pagi ya Neng," pintanya. 


Dewa pun dapat tidur pulas dengan pelukan Mimin sepanjang malam. Berkelana menuju alam mimpi nan indah.


*****


Keesokan harinya.


Saat matahari pagi telah hadir menyapa. Dan mereka telah melaksanakan sarapan. Mereka kembali dikejutkan dengan kiriman buket bunga seperti pagi kemarin. Jika kemarin yang dikirim adalah buket bunga mawar merah, kali ini adalah bunga mawar putih. Dan tentu saja membuat Dewa sangat geram.


"Teh, ini serius bunganya dikasih ke orang aja?" tanya Opi ketika mendapatkan titah untuk membuang atau memberikan bunga itu kepada orang lain.


"Iya, kasih saja ke orang, atau buang aja!" seru Mimin.


"Tumben, padahal si Teteh kan suka bunga," sahut Opi sembari ngeloyor pergi membawa buket bunga itu.


"Mina, siapa sih yang mengirimi kamu bunga setiap hari?" tanya Dewa dengan penuh kekesalan.


"Aku kan ga tahu, A. Ga ada nama pengirimnya," jawab Mimin lugas.


"Tapi kamu bisa menduga kira-kira siapa... mungkin ada cowok yang sedang mendekati kamu, menyukai kamu, atau mungkin pernah mengirimi bunga sama kamu sebelumnya," tutur Dewa.


"Abaikan aja A, yang penting aku ga terima bunganya," sahut Mimin.


"Tapi aku penasaran Neng, dan kesel sama dia!" sungut Dewa.


"Emmm... Aku gak tahu yang mengirim bunga itu siapa. Tapi... Ada teman kerja aku yang pernah kasih bunga juga." Mimin menjeda ucapannya sejenak.


"Siapa??" Dewa rupanya benar-benar merasa kesal sehingga tak sabar untuk mengetahui siapa pengirimnya.


"Namanya Pak Deka. Dia kadiv di tempat kerja aku," jelas Mimin.


"Nanti aku akan samperin yang namanya Pak Deka itu. Aku mau tegur dia!" ujar Dewa berapi-api.


"Eh, jangan A. Kan belum tentu Pak Deka juga yang mengirim bunganya. Ini hanya dugaanku aja," sahut Mimin tak setuju dengan rencana suaminya untuk menemui Deka.


"Aa, jadi mau pulang?"


"Insyaallah. Karena Pak Haji Hamid hanya memberi izin tiga hari."


"Tapi, keadaan Aa babak belur begini?"


"Gak apa-apa. Gak masalah. Biar kita bisa segera melaksanakan resepsi. Biar kita bisa segera... Emm..."


"Udah jangan dilanjutkan," ujar Mimin dengan raut tersipu malu.


*****


"Woy para jomblo, nih gue kasih sarapan!" seru Opi. Ia melemparkan buket bunga itu dan ditangkap sempurna oleh Jejed.


"Idih, Opi. Memangnya kita makhluk astral, sarapannya bunga," gerutu Sol.


"Biasanya kalau cewek melempar bunga terus ditangkap sempurna sama cowok, katanya cewek dan cowok itu bakalan berjodoh loh," sahut Jejed.


"Gue jodoh sama lo. Ih, ogah!" sungut Opi.


Jejed menyeruput kopi di hadapannya. "Tadi, kopi ini rasanya pahit. Setelah lihat Neng Opi, kopinya jadi manis loh," gombalnya.


"Hemmm... Gue mah ga mempan digombalin. Emang gue cewek apaan," sahut Opi.


"Ini bunganya buat gue aja deh," kata Sol.


"Buat apa Sol?" tanya Jejed.


"Buat cewek gue yang belum kelihatan hilalnya."


"Nah, bener. Kalau mau deketin cewek itu katakan dengan bunga... bunga bank," sahut Opi


"Karena hati cewek itu bagaikan rekening bank. Gak bakal berbunga kalau ga ada saldonya. Hahahaha..." sambung Opi, kemudian berlalu pergi meninggalkan duo jomblo.

__ADS_1


*****


Sore hari.


"Kita jadi pulang sekarang Wa?" tanya Jejed.


"Sebenarnya gue ingin besok saja pulangnya. Gue penasaran sama cowok yang mengirim bunga untuk Mina. Sayangnya sekarang hari minggu jadi ga bisa nyamperin cowok itu sekarang," ujar Dewa.


"Memangnya siapa Wa yang mengirim bunga untuk Mimin?" tanya Sol.


"Katanya sih teman kerjanya. Makanya gue ingin temui cowok itu dulu. Mau gue labrak dia," geram Dewa.


"Memang udah pasti dia yang ngirim bunga? Secara, yang suka sama Mimin itu banyak. Jangan-jangan bukan dia, ya 'kan," sahut Sol.


"Wa, mending lo samperin aja florist-nya terus lo cari informasi deh, siapa yang mengirim bunga untuk Mimin," sahut Jejed.


"Eh, bener juga. Tumben lo cerdas Jed," puji Dewa.


"Ya udah yuk, kita berangkat sekarang aja. Sebelum ke terminal kita mampir ke florist dulu," kata Dewa semangat.


Sebelum berangkat, Dewa berpamitan kepada Mimin dan keluarganya.


"Neng Mina gak mau ikut Aa pulang?" tanya Dewa ketika berpamitan pada istrinya.


"Enggak lah A. Nanti aja. Lagi pula besok kan aku harus bekerja."


"Abah, saya pamit ya Bah. Terima kasih banyak ya, selama ini Abah sudah banyak membantu saya," pamit Dewa seraya memeluk Abah.


"Sama-sama Ding. Abah juga minta maaf atas perlakuan Haris," sahut Abah setelah melepaskan pelukannya.


"Ah, enggak apa-apa Bah. Mungkin itu cara kakak ipar menunjukkan rasa sayang sama saya, Bah," sahut Dewa.


"Mami, Dewa pulang dulu ya. Nanti insyaallah saya segera kembali lagi ke sini bersama orang tua." Dewa berpamitan, mencium punggung tangan Mami.


"Iya. Mami doakan semoga semuanya lancar. Hati-hati dalam perjalanannya," sahut Mami.


"Opi, Ka Dewa pamit yah. Juara pencak silat PORCAM bisa diandalkan dong untuk jagain teteh selama Ka Dewa pulang," pesan Dewa kepada Opi.


"Siap, tenang. Opi kan juara PORCAM, kalau sampai ada yang ganggu Teteh, siap tak sikat," seloroh Opi.


"Mantap adik ipar."


"Aa kalau sudah sampai nanti kasih kabar ya," pesan Mimin kepada Dewa.


"Siap, Neng!" sahut Dewa. Padahal di dalam hatinya ia sedang kecewa karena tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar memberikan kecupan mesra di kening istri cantiknya sebagai salam perpisahan. Malu karena ada Abah, Mami dan Opi. Maka istri cantiknya itu hanya mencium takzim punggung tangannya sebagai salam perpisahan.


"Sol, kamu ga ikut ke Jakarta kan?" tanya Abah.


"Enggak Pak Haji, tokonya ga ada yang jaga," sahut Sol.


"Kalau begitu kamu antarkan Ding gagah sama Jejed sampai terminal pake mobil Abah," titah Abah.


"Siap, Bah."


Setelah Dewa dan Jejed berpamitan, mereka pun berangkat menggunakan mobil Haji Zaenudin. Sebelum ke terminal mereka mampir dulu ke Dinda Florist untuk mengorek informasi tentang siapa sosok pengirim bunga.


Saat Dewa hendak masuk ke dalam toko bunga, sayup-sayup terdengar obrolan seorang customer dengan penjual bunga.


"Kemarin bunga mawar merah, hari ini mawar putih, nanti besok mau bunga apa Mas?" tanya penjual bunga.


"Bagusnya bunga apa yah Bu?"


"Bunga matahari juga bagus," sahut penjual bunga.


"Boleh, Bu. Tolong dikirimkan ke alamat yang sama ya."


"Ke alamat kampung Cibening kan? Untuk Jasmina Zahra."


"Iya, Bu."


Di belakang mereka, Dewa sudah mengepalkan tangannya karena geram.


"Hey...! Jadi lo yang tiap hari ngirim bunga!" berang Dewa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2